Setiawan as-Sasaki

Home » DAKWAH » Hijrah, Sebuah Inspirasi & Semangat Perjuangan

Hijrah, Sebuah Inspirasi & Semangat Perjuangan


Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
(Q.s. Al-Hasyr [59]: 18)

Hijrah merupakan perpindahan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pengikutnya dari Makkah ke Yastrib -Madinah-. Berjarak 320 kilometer -200 mil- utara Makkah.1 Hijrah ini terjadi karena ada skenario pembunuhan terhadap Sang Nabi dari kaum Quraisy. Untuk menghindari hal tersebut maka turunlah perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada Rasulullah untuk melakukan hijrah.

Berikut adalah cuplikan sejarah singkat disepakatinya peristiwa hijrah Nabi sebagai titik awal dimulainya tahun hijriah bagi umat Islam. Suatu ketika Abu Musa al Asyari sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah ‘Umar bin al Khaththab Radhiyallaahu ‘Anhu menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Karena hal tersebut, khalifah ‘Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka; Utsman bin Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiyallaahu ‘Anhu. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Sang Nabi menjadi Rasul. Dan yang diterima; usul dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah dari Makkah ke Yatstrib -Madinah-. Maka semuanya setuju dengan usulan Ali dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah -pada tahun 638 M (17 H)-. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Itulah bukti awal peradaban sejarah Islam yang ditorehkan oleh Khalifah ‘Umar, beliau ingin sekali bahwa umat Islam harus maju dengan mempunyai kalender -penanggalan- tersendiri. Lalu bagaimana seharusnya umat Islam saat ini menyikapi datangnya tahun baru hijriah? Apakah seperti memperingati datangnya tahun baru masehi? Ataukah datangnya kita sikapi biasa-biasa saja -acuh tak acuh-. Bagi saya pribadi datangnya tahun ini merupakan hal yang patut kita syukuri. Karena syarat makna dan penuh hikmah untuk sebuah perubahan.

Kaitannya dengan muhasabah diri tentu merupakan sebuah keharusan. Bukankah kita sering mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Kenapa tidak momentum tahun baru hijriah kita gunakan sebagai titik tolak perubahan bagi diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan sekitar. Terlepas dari skenario rencana pembunuhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, hikmah dari hijrahnya nabi dari Makkah ke Madinah adalah bukan hanya sekedar menyelamatkan diri dari fitnah dan penyiksaan semata. Tapi dampak setelah beliau berhijrah adalah pengikutnya semakin bertambah dan tampaklah cikal bakal akan berkembangnya sebuah peradaban Islam dengan dibangunnya masjid pertama, Masjid Quba. Begitu pun dengan kita saat ini seharusnya mempunyai visi dan misi perubahan yang jelas dalam setiap kedatangannya. Terlebih kita sebagai Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang notabenenya bergelut di bidang pelayanan keummatan, tentu muhasabah diri itu sangat diperlukan untuk menilai sejauh mana kinerja kita selama ini dan salah satu momentumnya adalah pergantian tahun hijriah ini.

Pengertian muhasabah ialah melihat keadaan modal, keadaan keuntungan dan kerugian, agar dapat mengenal pasti sebarang penambahan dan pengurangan. Modalnya dalam konteks agama ialah perkara yang difardhukan, keuntungan ialah perkara sunat dan kerugiannya pula ialah maksiat.

-Ibnu Qudamah-

Muhasabah Pertama, Sebuah Inspirasi

Sesiapa yang tidak memuhasabah dirinya di dunia, maka dia berada di dalam kelalaian.

-Ibnul Qayyim al Jauziyah-

Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam adalah inspirasi. Kedatangannya di Madinah merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Sambutan yang disuguhkan begitu meriah dengan alunan rebana dan syahdunya lantunan Tahmid dan Taqdis (penyucian).

Dan terlihat antusiasme yang begitu tinggi dari penduduk Madinah. Semuanya berebut ingin sang Nabi berkenan singgah di rumah salah satu dari mereka, karena merupakan sebuah kehormatan dan kebagaiaan tersendiri tentunya.

Karena tentangmu Ya Rasulullah, ialah sebaik-baik kisah, seindah-indah cermin, semulia-mulia jalan, semurni-murni teladan.

Karena pada dirimu Ya Rasulullah; sebening-bening hati, sejernih-jernih jiwa, sedalam-dalam ilmu, setepat-tepat fahaman.

Karena dalam tindakmu Ya Rasulullah; seikhlas-ikhlas niat, seihsan-ihsan amal, seteguh-teguh prinsip, sejelas-jelas ikutan.

Karena di tiap langkahmu Ya Rasulullah; seagung agung akhlaq, seluhur-luhur budi, segenap-genap syukur, seutuh-utuh sabar.

Karena pada senarai hela nafasmu Ya Rasulullah; ada sederu-deru dzikir, sesyahdu-syahdu khusyu’, setunduk-tunduk tawadhu’.

Karena ucapanmu Ya Rasulullah; sefasih-fasih kata, sedalam-dalam makna, sekokoh-kokoh hujjah, setampak-tampak pembuktian.

Karena pribadimulah Ya Rasulullah; semesra-mesra suami, segagah-gagah ayah, semantap-mantap kakek, seakrab-akrab sahabat.

Karena engkaulah Ya Rasulullah; setaat-taat hamba, serajin-rajin guru, seberani-berani panglima, sepuncak-puncak pemimpin.

-Salim A. Fillah, Karenamu Ya Rasulullah

Hijrahnya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam ke Madinah, Ia adalah inspirasi. Kita…? Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menjadikan momentum hijrah sebagai sebuah inspirasi? Bisakah? Menurut saya ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan inspirasi ketika datangnya tahun hijriah dalam konteks muhasabah diri: 1) Berbuat kekhilafan adalah fitrah manusia. Tidak bisa dihilangkan tapi bisa dikurangi/minimalisir. Oleh karena itu mari kita hijrahkan diri ini dari banyak melakukan kekhilafan di tahun sebelumnya menjadi lebih banyak melakukan kebaikan di tahun berikutnya. 2) Jangan meremehkan amalan-amalan kecil seperti sholat sunnah, puasa sunnah, tilawah, infaq dan shadaqah. Karena bisa jadi itulah amalan yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak. Oleh karena itu hijrahkan hati ini dengan berbuat “sedikit-dikit lama-lama jadi terbiasa.” InsyaAllah amalan kecil ketika kita istiqamah menjalankannya maka amalan tersebut akan menjadi luar biasa. 3) Jin dan manusia diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla hanya untuk beribadah kepadaNya. Berarti segala sesuatu yang kita lakukan -apapun itu- harus diniatkan semata-mata ibadah kepadaNya. Oleh karena itu mari kita hijrahkan niat ikhlas ini hanya kepadaNya.

Muhasabah Kedua, Semangat Perjuangan

Muhasabah ialah membedakan antara apa yang diperolehinya dan apa yang perlu ditanggungnya. Setelah mengetahui yang demikian, maka dia hendaklah membawa apa yang diperolehinya dan melunaskan apa yang ditanggungnya. Dia seolah-olah seorang musafir yang tidak akan kembali.

-Ibnul Qayyim al Jauziyah-

Bagi aktivis dakwah semangat perjuangan dalam menapaki lika-liku, onak dan duri serta segala romantika di jalanNya haruslah stabil dan konsisten. Agar hati ini selalu istiqamah meniti jalanNya. Karena akan sangat berpengaruh terhadap hasil-hasil kerja dakwah yang dilakukan. Tanpa semangat perjuangan agenda dakwah yang kita laksanakan akan kurang berkesan dan terlihat biasa-biasa saja.

Abu Bakar ash-Shiddiq ketika menemani perjalanan hijrah Rasulullah ke Madinah begitu banyak hal yang harus ia lakukan dan korbankan. Mulai dari menggendong Rasulullah karena kedua kaki beliau lecet -tanpa alas- setelah sampi bukit Tsur, sebuah bukit yang tinggi, jalannya terjal, sulit didaki dan banyak bebatuan. Pun ketika tiba di pintu Gua Tsur, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, engkau jangan masuk dulu sebelum aku masuk; jika ada sesuatu di dalamnya, maka biarlah hanya aku yang mengalaminya. Kemudian ia masuk untuk menyapunya. Dan didapatinya di sisi gua tersebut ada beberapa lubang, maka diapun menyobek kainnya dan menyumbatnya tetapi masih tinggal dua lubang lagi, lantas ditutupnya dengan kedua kakinya. Kemudian dia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, “Masuklah.” Rasulullah pun masuk dan merebahkan kepalanya di pangkuannya lalu tertidur. Sementara kaki Abu Bakar yang dipergunakan untuk menyumbat lubang disengat (binatang berbisa) namun dia tidak bergeming sedikit pun karena khawatir membangunkan Rasulullah.” Kemudian setelah tiga malam di gua Tsur -karena dirasa aman- mereka pun meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan. Jarak Madinah yang masih jauh membuat mereka harus banyak istirahat. Dan ketika Rasulullah istirahat -tidur- karena kecapean, beliau Abu Bakar rela tidak tidur demi mengawasi kondisi sekeliling Rasulullah.

Ya itulah pengorbanan. Ia butuh kerja nyata dan ikhlas, sekecil apapun. Dan hal tersebut tidak akan bisa ada tanpa diawali dengan sebuah semangat perjuangan. Semangat yang didasari iman karena Allah ‘Azza wa Jalla.

Hitunglah diri kamu sebelum kamu dihitung dan perhatikan amalan shaleh yang kamu simpan untuk dirimu pada hari yang dijanjikan dan ketika kamu dihadapkan di hadapan Tuhan kamu.

 -Ibnu Katshir, Tafsir Q.s. Al-Hasyr [59]: 18

Oleh: R. Setiawan
Lomba Mengarang Memperingati Tahun Baru Islam 1434 H yang diadakan oleh Bidang Sosmas PK KAMMI UNRAM dengan tema “Hijrah Sebagai Momentum Muhasabah Diri”

 

Kolom Pendapat Anda…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: