Setiawan as-Sasaki

Home » KUTIPAN PENGGUGAH » Segalanya Adalah Cermin

Segalanya Adalah Cermin


Segalanya adalah cermin. Kemampuan kita untuk mengaca, melihat hal-hal baik dan keunggulan pada siapapun yang ada di sekeliling, baik dia adalah sahabat ataupun musuh, akan memberi nilai kebajikan pada tiap hubungan yang kita jalin dengan mereka. Kita bercermin, melihat bahwa ada selisih nilai antara kita dan sang bayang-bayang. Lalu kita menghargai kelebihannya. Memujinya, sehingga kebaikan itu makin bercahaya.

Pada hal-hal yang sebaliknya, kebencian misalnya, segalanya juga adalah cermin.

“Jika Anda membenci seseorang,” demikian ditulis oleh penyair besar  Jerman Herman Hesse,  “Anda  sebenarnya membenci sesuatu dalam  dirinya  yang  merupakan  bagian  dari  diri  Anda.  Apa  yang bukan merupakan bagian dari diri Anda  sendiri  sama  sekali  takkan mengganggu Anda.”

Maka saat kita berkaca, menemukan aib pada kawan perjalanan itu  sungguh  sama  artinya  dengan  menemukan  aib  kita. Setiap saudara  adalah  tempat  kita  bercermin untuk  melihat  bayang-bayang  kita.  Seperti  sabda  Sang  Nabi, “Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang  lain.” Dalam hening kita mematut  diri  di  depannya,  lalu  kita  sempatkan  untuk bertanya, “Adakah retak-retak di sana?”

Seringkali memang  ada  retak menghiasi  bayangan  kita  dalam kaca. Kita diajarkan bahwa retak itu bukan terletak  pada  sang  kaca.  Retak  itu justru  mungkin  terdapat  pada sekujur  diri  kita  yang  sedang  berdiri  di  depannya.  Lalu  kita  pun merapikan  diri  lagi,  menata  jiwa,  merekatkan  retakan-retakan  itu hingga sang bayangan turut menjadi utuh.

Satu lagi. Bahkan jikapun sang cermin buram, barangkali noda itu  disebabkan  hembusan  nafas  kita  yang  terlalu  banyak mengandung asam arang dosa.

Kita  menginsyafi  bahwa  diri  kita adalah orang yang paling memungkinkan untuk diubah agar segala hubungan menjadi  indah.  Kita  sadar  bahwa  diri  kitalah  yang  ada dalam  genggaman  untuk  diperbaiki  dan  dibenahi.  Kita  mafhum, bahwa jiwa kitalah yang harus dijelitakan agar segala bayang-bayang yang menghuni  para  cermin menjadi memesona.

*Hal. 83-91*

Sumber:
Salim A. Fillah, 2012, Dalam Dekapan Ukhuwah, Yogyakarta: Pro-U Media
Cetakan ke-5, Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: