Setiawan as-Sasaki

Home » MUTIARA KATA ISLAMI » Salim A. Fillah

Salim A. Fillah


www.facebook.com

Sumber: Facebook (Salim A. Fillah)

Alangkah syahdu menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktu untuk jadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari; melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia.

Alangkah damai menjadi bebijian; bersembunyi di kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri; bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi.

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini kita terlalu akrab bagai awan dan hujan merasa menghias langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai.

Iman adalah mata yang terbuka mendahului datangnya cahaya tapi jika terlalu silau, pejamkan saja lalu rasakan hangatnya keajaiban.

Iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh. Dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun. Selalu tumbuh, dan menuntut akarnya menggali kian dalam. Juga merindukan cahaya mentari, embun, dan udara pagi.

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan, setiap orang adalah guru bagi kita. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.

Sebagaimana kemampuan memimpin kekuatan untuk menjalin hubungan adalah kecenderungan, sekaligus pembelajaran

Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak. Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu. Mungkin itu asap dari amal sholihmu yang hangus dibakar riya’.

Menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah. Terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri. Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita, tidakkah kita curiga bahwa diri kita inilah masalahnya?

Ada banyak hal yang tak pernah kita minta tapi Allah tiada alpa menyediakannya untuk kita seperti nafas sejuk, air segar, hangat mentari, dan kicau burung yang mendamai hati. Jika demikian, atas do’a-do’a yang kita panjatkan bersiaplah untuk diijabah lebih dari apa yang kita mohonkan.

Hidup tidak dihitung dari jumlah nafas yang kita hirup. Hidup, ternilai dari berapa kali nafas terhenti karena takjub dan anehnya. Keajaiban justru hanya memberi kejutan, pada mereka yang percaya.

Mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang akan menarik keluar yang terbaik dari mereka. Berbagi  senyum  kecil  dan pujian  sederhana mungkin  saja  mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa atau membuat sekeping hati kembali percaya bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik.

Jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan dibanding apa yang Allah tutupi dari kesejatian kita. Maka bukankah ia adalah sebait sanjungan?

Dalam dekapan ukhuwah kita tersambung bukan untuk saling terikat membebani melainkan untuk saling tersenyum memahami dan saling mengerti dengan kelembutan nurani.

Sebab pikiran punya jalan nalarnya masing-masing maka terkadang mereka bertemu atau berpapasan. Sesekali bersilangan, berhimpitan, bahkan bertabrakan. Syukurlah kita punya ruh-ruh, yang diakrabkan iman.

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti. Memaksakan kasut besar untuk tapak mungil akan merepotkan. Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi.

Kita semua, anak Adam, pernah melakukan kesalahan. Dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya. Di keping uang itu, satu sisi bertuliskan “akuilah kesalahanmu”. Sisi lain berukir kalimat, “maafkanlah saudaramu yang bersalah”.

Tak mudah untuk mengatakan hal yang benar di waktu yang tepat. Namun agaknya yang lebih sulit adalah, tidak menyampaikan hal yang salah ketika tiba saat yang paling menggoda untuk mengatakannya.

Tak pernah sama sekali, ada kekata dan perilaku orang yang bisa menjadi penentu kemuliaan dan kehinaan kita. Dan tak seorang pun bisa menyakiti, tanpa kita mengizininya. Maka bercahayalah dalam gelora untuk meraih semua pahala.

Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, maka berkilaulah!

Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai. Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil. Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping.

Sumber:
Salim A. Fillah, 2012, Dalam Dekapan Ukhuwah, Yogyakarta: Pro-U Media
Cetakan ke-5, Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: