Setiawan as-Sasaki

Home » KUTIPAN PENGGUGAH » Menghibur Jiwa

Menghibur Jiwa


Sumber: kasih-suria.blogspot.com

Sumber: kasih-suria.blogspot.com

Suatu hari aku melihat dua orang kuli tengah beristirahat di bawah sebatang pohon kurma yang besar sambil menyenandungkan lagu-lagu yang menenangkan dan mendamaikan. Bila salah seorang dari mereka berdendang, rekannya mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menirukannya atau menjawabnya dengan lagu yang sama, dan begitu pula sebaliknya.

Aku pun kemudian paham bahwa keletihan mereka akan kian bertambah dan beban mereka akan makin berat andai saja mereka tak melakukannya. Berbeda bila mereka melakukan yang sebaliknya, beban mereka tentu akan terasa lebih ringan. Aku lantas berusaha mencari tahu tentang penyebabnya. Ternyata ini berkaitan dengan konsentrasi pikiran seseorang pada perkataan rekannya. Kebahagiaannya karena mendengarnya dan menggunakan akalnya untuk memberikan jawaban yang sama dengannya. Dengan demikian, perjalanan bisa diselesaikan dan beratnya beban dapat dilupakan.

Melalui peristiwa ini aku berhasil memperoleh sebuah pengetahuan yang mengagumkan dan mengetahui bahwa manusia telah dibebani dengan beban-beban yang memberatkan. Salah satunya adalah menghibur jiwa dan menyuruhnya menahan diri kala menginginkan sesuatu yang dicintainya dan menjauhi sesuatu yang dibencinya.

Karena itulah aku menyimpulkan bahwa tindakan yang benar adalah menempuh jalan kesabaran dengan berbekal usaha menghibur jiwa, seperti yang dikatakan seorang penyair:

Kalau ia mengeluh hiburlah ia dengan cahaya pagi
Dan berilah janji akan waktu yang menyenangkan

Tindakan menghibur jiwa pernah dilakukan Bisyr al Hafi rahimahullâh. Pada suatu hari ia berjalan di suatu jalan bersama seorang muridnya. Si murid kehausan dan bertanya, “Apakah kita akan minum dari sumur ini?”

Bisyr menjawab, “Tahanlah hingga sampai sumur berikutnya!”

Ketika mereka sampai pada sebuah sumur, Bysir kembali mengatakan, “Tahanlah hingga sampai sumur berikutnya!”

Bisyr terus-menerus menghiburnya, lalu dia menjelaskan, “Begitulah dunia berlalu, orang yang memahami hal ini pasti akan menghibur jiwanya, berlemah-lembut kepadanya dan memberinya janji tentang sesuatu yang menyenangkan, supaya ia punya kemampuan menahan beban yang menjadi tanggungannya.”

Perkataan yang semakna pernah dikatakan oleh seorang ulama salaf, “Demi Allah, tujuanku tak menuruti keinginanmu hanyalah berbelas kasih padamu”

Abu Yazid rahimahullâh mengatakan: “Saya terus-menerus melatih jiwaku berjalan menuju Allah dengan menangis, hingga akhirnya saya pun berhasil mengajaknya berjalan ke arahNya dengan tertawa.”

Menghibur jiwa dan berlaku lemah-lembut kepadanya adalah sesuatu yang wajib, dan hanya dengan cara seperti inilah perjalanan akan dapat diselesaikan.

*Hal. 145-146*

Sumber:
Ibnu al Jauzi, 2010, Shaid al-Khâtir Nasihat Bijak Penyegar Iman, Yogyakarta: Darul Uswah
Judul Asli: Shaid al-Khâtir
Penerjemah: Abdul Majid, Lc.
Cetakan ke-1, September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: