Setiawan as-Sasaki

Home » KUTIPAN PENGGUGAH » Rancang Kehidupan Anda, Pastikan Tujuan Hidup Anda!

Rancang Kehidupan Anda, Pastikan Tujuan Hidup Anda!


Sumber: hilmanmuchsin.blogspot.com

Sumber: hilmanmuchsin.blogspot.com

Siapa pun yang sempat merenungkan lembaran-lembaran hidup orang-orang yang telah wafat, akan mendapatkan gaya hidup yang begitu mudah dan sederhana. Kebutuhan hidup mereka terjangkau. Kelapangan dada adalah rahasia hidup mereka. Rumah, kendaraan dan istri, tidak menjadikan hidup mereka bermasalah. Kadang, rumah yang kecil mampu menampung keluarga besar. Sebab, hati mereka saling bertautan. Jiwa mereka bersih.

Berbeda dengan kehidupan orang dewasa ini. Semuanya serba susah dan menjerat. Kebutuhan yang dahulu sekunder, berubah menjadi kebutuhan primer. Rumah dan perabotannya menjadi keharusan sehingga menyebabkan banyak anak muda yang pesimis menjalani hidup.

Walau telah Nampak kesulitan-kesulitan hidup, namun masih banyak remaja yang lalai. Mereka bersenang-senang dengan pendapatan bulanan yang ia miliki, lalu mengabaikan pemikiran akan hari esoknya serta konsekuensinya. Seakan hidupnya cuma untuk saat itu saja. Mereka larut dengan kesenangan hidup sesaat, berfoya-foya, tidak punya prinsip hidup kecuali slogan untuk penghambur-hamburan harta, yang sama sekali tidak menguntungkan. Seperti slogan yang berbunyi, “Habiskan isi kantongmu, akan datang padamu apa yang masih dalam alam ghaib.”

Dia tidak merasakan adanya yang hilang kecuali setelah menoleh ke kiri dan ke kanan dan menemukan remaja sebayanya ternyata telah melangkah lebih jauh dalam meraih cita-cita. Sebuah pepatah mengatakan:

Jika Anda tidak menabur benih
sementara Anda melihat orang telah panen

Anda baru menyesali sikap meremehkan
pada masa menabur benih

Saat itu, tak ada lagi sikap dalam menghadapi kecerobohan dan kelalaian kecuali hanya menyesali masa lalu, keadaan susah, hilangnya kesempatan, tak adanya untuk melakukan aktivitas tambahan, dan berbagai alasan lainnya. Sebuah pepatah menyatakan:

Orang yang berpikiran sempit akan membiarkan
kesempatan terbuang percuma

Sampai ketika kesempatan telah lenyap
Takdir pun dia salahkan

Sayangnya, mayoritas orang yang tidak beruntung dalam kehidupan materialnya memandang langkah semacam ini sebagai dongeng atau sebuah kemustahilan. Akibatnya, mereka terserang penyakit pesimis dan putus asa. Hingga akhirnya, mereka berpikir tentang pengalaman. Karena itu, hendaknya mereka merancang kehidupan dan memastikan tujuan hidupnya.

Itu sebabnya, fase paling sulit dalam menentukan kesuksesan materi dalam kehidupan manusia adalah  kemampuan membangun kesan yang benar dalam rangka penetapan langkah menuju sebuah tujuan. Itulah langkah pertama untuk kesuksesan. Jika semua itu terbangun dengan baik, maka langkah selanjutnya akan tertata rapi, upaya kerja lebih terfokus, dan kerja akan membuahkan hasil dengan izin Allah. Adapun penentuan tujuan tanpa perencanaan matang, maka hal itu tak lebih dari angan-angan di atas angan-angan.

Untuk menentukan pentingnya, tentukanlah target-target kedepan untuk mencapai kesuksesan materi. Perhatikanlah riset yang dilakukan oleh sekelompok peneliti terhadap alumni jurusan manajemen kerja di salah satu perguruan tinggi di Barat. Riset ini mereka lakukan setelah alumnus tersebut mengarungi hidup pasca perguruan tinggi sekitar 10 tahun. Pertanyaan yang mereka ajukan adalah: Apakah Anda telah menemukan peningkatan dan kesuksesan dalam meraih target materi yang telah ditentukan?

Peneliti itu menyimpulkan, ternyata 83% responden dari mereka sama sekali tidak punya target hidup, meski kenyataannya setiap hari mereka sibuk dengan pekerjaan. Lalu sebanyak 14% responden mengaku memiliki target tapi hanya sebatas pikiran dan tidak tertuang dalam sebuah konsep. Hanya 3% dari mereka mengaku mempunyai target tertulis.

Hasil riset itu membuktikan, penghasilan kelompok kedua (14%) jauh lebih besar hingga tiga kali lipat dari penghasilan kelompok pertama (83%). Adapun penghasilan kelompok ketiga mencapai 10 kali lipat dari penghasilan kelompok pertama yang sama sekali tidak punya target hidup.

Renungkanlah!

*Hal. 134-137*

Sumber:
Abdul Aziz bin Abdullah al Husaini, 2007, Jangan Takut Menatap Masa Depan: Bagaimana Mengumpulkan Percaya Diri yang Hilang, Jakarta: Pustaka At-Tazkia
Judul Asli: Limadza al Khauf minal Mustaqbal
Penerjemah: Ibnu Hasanuddin.
Cetakan ke-1, September 2005; Cetakan ke-3, Desember 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: