Setiawan as-Sasaki

Home » KEMBANGKAN DIRIMU! » Membudayakan Kebiasaan Menulis

Membudayakan Kebiasaan Menulis


Sumber: Awan's Collections

Sumber: Awan’s Collections

Menulislah, agar nafas-nafas dakwah kita lebih panjang.
-M. Anwar Djaelani, Pengantar buku ‘Tersebab Cinta Indahlah Ukhuwah & Dakwah’-

Menulis itu kita berbagi. Tentang asa, pengalaman, ilmu dan pengetahuan. Beruntunglah bagi orang yang sudah terbiasa. Karena akan lebih mudah dan lebih banyak memberi manfaat lewat tulisan-tulisannya. Yang berisi ide, cerita, inspirasi dan semangat.

Menulis itu tugas iman. Yang telah tersirat dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq [96] ayat ke-4; “Yang mengajar (manusia) dengan pena”. Dan tercantum dalam hadits riwayat Imam Ahmad yang selanjutnya ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluk pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhlukKu sejak awal zaman hingga akhir waktu.

Kata Ustadz Salim A. Fillah dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Menulis, dari Makna hingga Daya” beliau mengungkapkan, “Menulis adalah menyusun kata kunci untuk membuka khazanah akal; sekata menunjukkan sealinea, satu kalimat untuk satu bab, sebuah paragraf mewakili berangkai kitab”. Karena itu maka menulis butuh banyak ide. Agar kata-kata yang tersusun penuh gizi; manfaat. Tujuannya tersampaikan seperti yang kita inginkan.

Berbicara ide maka banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memperolehnya. Mulai dari membaca buku, melihat kondisi di sekitar kita, mendengar informasi dari orang secara langsung maupun dari media massa, berfikir terhadap suatu peristiwa dan tentunya banyak diskusi.

“Saya lebih takut kepada pena seorang penulis. Ketimbang seribu bedil tentara musuh”; Napoleon Bonaparte. “Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya”; Imam Asy-Syafi’i. Inilah sebuah ungkapan yang mengalir indah dari seorang Napoleon dan Asy-Syafi’i. Luar biasa memang pengaruh dari sebuah tulisan. Ia adalah salah satu cara pewarisan peradaban. Dan lewat tulisan juga transformasi ide-ide akan berjalan terus-menerus dari masa ke masa. Kenapa? Karena dari tulisan-tulisan -buku, internet- kita bisa mempelajari semua ilmu di dunia ini. Mulai dari sejarah awal Islam tentang Sang Nabi; Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat, kisah heroik Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinnopel, ilmu kedokteran Ibnu Sina, ilmu fisika Albert Einstein, sejarah penemuan bola lampu oleh Thomas Alva Edison, kisah Dalton sang penemu Ilmu Pengetahuan Alam, singkatnya semua ilmu yang kita dapatkan dan pelajari dari bangku pendidikan dasar sampai perkuliahan.

Sebagai aktivis dakwah menulis adalah hal yang sangat penting. Sebab dari tulisan lah dakwah akan lebih mudah tersebar luas. Dan perjalanan dakwah akan terekam dan terikat sejarahnya sehingga tidak akan hilang seiring perubahan zaman. Sejarah dakwah pun akan tersampaikan kepada generasi selanjutnya.

Kalau kita bercermin pada generasi awal umat Islam hal ini pun telah di contohkan oleh para ‘ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in sampai ‘ulama-‘ulama kita saat ini. Yang kita ketahui dari kitab-kitabnya. Yang masih ada sampai sekarang dan insyaAllah seterusnya.

Teruntuk saya pribadi dan kita semua semoga menulis bisa menjadi budaya positif untuk mengisi waktu-waktu luang kita. Atau kalau kita hobi dan berpotensi dalam dunia tulis-menulis mari kita alokasikan waktu khusus untuk menulis. Agar hobi kita tersalurkan dengan baik; banyak manfaatnya dan potensi pun berkembang juga. Terakhir semoga tulisan-tulisan yang terangkai bisa menjadi sebuah nasihat serta pembelajaran untuk diri dan semua orang yang membacanya. Allahumma ‘Amin.

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, sesusun kalimat dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah arah laju dunia. -Salim A. Fillah, salimafillah.com-

Salam inspirasi dan semangat dari saya. Mari kita membudayakan kebiasaan menulis.

Senin, 01 April 2013
Ditulis ba’da shubuh; dari Bali-Selat Lombok
saat perjalanan pulang dari acara Rapimnas I FSLDK Indonesia
di Universitas Airlangga, Surabaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: