Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS » Keteladanan, Hal yang Harus Dimiliki oleh Seorang Pemimpin

Keteladanan, Hal yang Harus Dimiliki oleh Seorang Pemimpin


Sumber: jasmeerah.files.wordpress.com

Sumber: jasmeerah.files.wordpress.com

Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.
(H.r. Abu Na’im)

Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan manusia. Seperti kalimat pertama hadits yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim; “Setiap kita adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah kita pimpin.” Sadar atau tidak, setiap kita pasti memikul amanah tersebut. Yang terendah dari semua level; minimal mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Dalam level yang lebih tinggi dan cakupan yang lebih luas. Seorang pemimpin adalah teladan; dalam perkataan, sikap dan tingkah lakunya. Seperti ungkapan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan An-Nasa’i, “Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan (kemudahan dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun keadaan itu merugikan kepentinganmu.”

Sungguh berat memang menjadi seorang pemimpin. Segala yang telah diperbuat kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya. Dengan segala kesyukuran dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Semoga sesuai dengan syari’at Islam; Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena sungguh kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih keempat Shahabat Nabi; Abu Bakr, ‘Umar, Utsman dan Ali dalam masa kepemimpinannya adalah berkat berpegang teguhnya mereka dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah serta teladan langsung dari kepemimpinan Sang Nabi yang agung.

Dalam konteks kenegaraan, berbicara tentang sosok pemimpin yang ideal. Maka Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin mempunyai solusinya. Seorang yang paling mulia; penutup para Nabi, beliau adalah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam; Sang teladan dalam kepemimpinan terbaik sepanjang masa. Dan berkat tarbiyahnya lahirlah sosok-sosok pemimpin luar biasa seperti Abu Bakr, ‘Umar, Utsman dan Ali.

Keteladanan. Satu kata penuh makna yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Q.s. Al-Ahzâb [33]: 21)

Dengan adanya keteladanan yang mampu diwujudkan oleh seorang pemimpin maka akan ada jalinan erat yang akan terjalin antara pemimpin dan yang dipimpin. Yaitu rakyat memiliki kesan yang baik terhadap pemimpinnya, ketertakjuban, penghargaan dan kecintaan yang kesemuanya membawa kebaikan. Tersebab ada dua jenis keteladanan; baik dan buruk maka yang dimaksud penulis disini adalah keteladanan dalam kebaikan.

Jangan sampai kita; pemuda/i bangsa Indonesia sebagai generasi penerus bangsa; pemegang estafet-estafet kepemimpinan masa depan menjadi seorang pemimpin yang tidak mampu mewujudkan keteladanan. Seperti yang tersirat dalam hadits riwayat Ath-Thabrani, “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Diatas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai” dan “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.”

Keteladanan dari ‘Umar bin Abdul Aziz

Karena beratnya beban amanah sebagai seorang pemimpin. Generasi tabi’in sekelas ‘Umar bin Abdul Aziz pun harus berfikir keras dan bekerja tanpa kenal lelah. Untuk menata ulang dirinya agar menjadi sosok yang benar-benar ideal dalam segala aspek kepemimpinannya. Pernah suatu ketika beliau mengirimi Imam Hasan Al-Basri sebuah surat yang isinya beliau meminta sebuah nasihat. Dan Hasan Al-Basri pun membalas surat itu seperti yang ia minta. Salah satu isi nasihatnya, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan seorang pemimpin yang adil itu sebagai penolong bagi setiap yang dianiaya, reformis bagi setiap kerusakan, kekuatan bagi si lemah, pembela bagi setiap yang dizhalimi, penghibur bagi yang berduka.”

Dan memang seperti itulah seharusnya seorang pemimpin sejati. Keteladan yang baik harus senantiasa ditumbuhkembangkan, agar Cinta, Kerja dan Harmoni antara sang pemimpin dan yang dipimpin terjalin sebuah ikatan hati. Sehingga rakyat pun merasakan kemakmuran dan kesejahteraan dalam kehidupan mereka.

Dalam waktu yang begitu singkat; dua tahun lima bulan, ‘Umar bin Abdul Aziz; salah satu khalifah dari Bani Umayyah mengalami kejayaan dalam masa kepemimpinannya. Wilayah Islam saat itu begitu luas, wilayah utara; Uni Sovyet dan sekitarnya, barat laut dan daya; daerah Afrika dan memanjang sampai ke Spanyol, timur; daratan Cina. Dan seluruh rakyat makmur; tidak ada satu orang pun yang mengalami kemiskinan. Bahkan sampai Serigala pun berkawan mesra dengan Domba para pengembala, karena sangat makmurnya masa itu.

Sehingga zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5.

Keteladanan dari Abu Bakr ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al Khaththab

Wafatnya Rasullullah menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi seluruh kaum muslimin saat itu. Dan karena musibah besar tersebut, tiga shahabat utama; Abu Bakr, ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah berfikir keras untuk menentukan siapa pemimpin selanjutnya yang akan mengganti Rasullullah. Dan tak lama kemudian dibai’at lah Abu Bakr oleh ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah sebagai pemimpin kaum muslimin selanjutnya.

Ketika berlangsungnya musyawarah singkat tersebut, Abu Bakr menominasikan ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah untuk dibai’at. Tapi yang terjadi malah sebaliknya beliaulah yang diba’at oleh keduanya.

Dari kisah ini ada keteladanan yang begitu mulia. Bahwa kita dilarang untuk meminta sebuah jabatan; amanah kepemimpinan. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam kepada ‘Abdurrahman bin Samurah, “Janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Karenanya dalam waktu yang begitu singkat; dua tahun tiga bulan masa kepemimpinannya Abu Bakr mampu memberikan yang terbaik untuk kemajuan Islam.

Tak kalah dengan agung dan bijaksananya kepemimpinan Abu Bakr. Kepemimpinan ‘Umar pun begitu gemilang. Dan perjalanan hidupnya tertulis dalam tinta emas sejarah Islam.

Menjelang wafat, Abu Bakr mulai berfikir tentang penggantinya sebagai khalifah. Dan hatinya tertuju pada ‘Umar. Selanjutnya beliau pun berbicara satu per satu kepada tokoh-tokoh shahabat tentang pilihan hatinya itu, sekedar meminta pendapat dan persetujuan mereka.

Salah satu shahabat yang beliau minta pendapat kepadanya adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf. “Bukankah kau lihat ‘Umar seorang yang keras wahai khalifah Rasulullah?”, kata ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika mendengar disebutnya  nama ‘Umar. “Ya”, kata Abu Bakr. “Tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku. Jika aku lembut, dia mengeraskan dan meyakinkan. Jika aku keras, dia melunakkan dan menyabarkanku?” ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengangguk (Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah, Hal. 346).

Ya, seperti itulah keteladanan yang telah dirajut oleh ‘Umar bersama Abu Bakr setelah sekian lama saling membersamai. Dua insan manusia agung yang berkebalikan karakter. Abu Bakr; lemah lembut sedangkan ‘Umar; keras, pemberani dan tegas. Tapi karena jiwa kepemimpinan mereka berorientasi keteladanan kepada baginda Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan berlandaskan Al-Qur’an serta As-Sunnah. Maka kegemilangan Islam pun mereka raih saat masa kepemimpinannya.

Dalam segala fakirnya ilmu. Semoga tulisan yang sederhana ini bisa memberikan keberkahan dan kebermanfaatan. Untuk kita semua; para pemuda/i harapan masa depan bangsa. Selamat menyaksamai…

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber Inspirasi:

Al-Qur’an dan Terjemahannya. PT Mizan Pustaka.
Fillah, Salim A. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media, 2012.
Al-Usairy, Ahmad. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar Media, 2011.
Al-Qahthani, Sa’id, Dr. Menjadi Dai yang Sukses. Jakarta: Qisthi Press, 2006.
macheda.blog.uns.ac.id
id.wikipedia.org
http://www.penerbitakbar.com
selaras.web44.net
hariadihardy.blogspot.com
noorsewoko.wordpress.com

 Rabu, 01 Mei 2013
Pukul 12.06 di Islamic Centre Al-Hunafa’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: