Setiawan as-Sasaki

Home » PUISI » Kisah Cinta Kita

Kisah Cinta Kita


Sumber: yusufaljogjawi.files.wordpress.com

Sumber: yusufaljogjawi.files.wordpress.com

Untukmu yang berada nan jauh disana
Kautahu, aku selalu memikirkanmu dengan segenap rasa
Dan, aku berharap engkau pun demikian juga
Karena aku merasa kita telah sejiwa sejak awal jumpa

Kini, kautahu? Aku teringat ketika awal jumpa itu
Sungguh, sedikit pun aku tak tertarik padamu
Parasmu juga, biasa-biasa saja menurutku
Dan umurmu juga, sedikit lebih tua dariku
Walaupun cuma beberapa bulan sih dariku
Intinya, tak ada yang istimewa padamu
Selain tarbiyahmu yang lebih dulu

Tapi, setelah lama aku mengenalmu
Dengan sifat malumu itu
Aku merasa engkau ada rasa padaku
Tapi, entahlah itu kan cuma bisik hatiku

Kautahu? Kata Ustadz Mohammad Fauzil Adhim
Hati-hati bawa hati
Karena geraknya tampak sekali

Maka, aku merasa gerak hatimu tampak sekali
Walaupun engkau tak mengungkapkannya
Dan, dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari
Diamnya perempuan adalah tanda setujunya

Ketika ia dimintai persetujuan saat dipinang
Dan dari hadits ini aku menyimpulkan
Dengan iman yang penuh kefakiran
Aku merasa, dalam diammu selama ini
Engkau benar-benar punya rasa padaku
Ah, entahlah aku tak mau tahu lebih jauh lagi
Karena itu sangat membingungkanku

Kini, bagiku, engkau begitu memesona dengan sifat malumu
Yang tak semua wanita memiliki hal itu
Dan, semakin engkau meningkatkan rasa malumu
Aku semakin punya rasa tertarik padamu
Diammu juga, kautahu? Hal tersebut sangat menarik hatiku
Karena itu tandanya, imanmu suci; bersih dari kotornya nafsu

Semoga rahasia cinta kita, yang berawal dari fitrahmu
Kepada diriku ini, yang merupakan lawan jenismu
Di jaga kesuciannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dan aku tahu, engkau orangnya tak banyak berharap
Dan, lebih suka kejutan. Ya, kan?
Jawab dalam hati saja ya?

Aku berharap, engkau tetap seperti itu
Sampai tiba waktunya, aku siap ‘tuk meminangmu
Karena kini, bekalku hanya baru satu; ilmu
Sementara, bekal orang menikah itu
Ada tiga; finansial, psikis dan ilmu

Ah, beginikah yang namanya rasa jatuh cinta?
Aku pun kebingungan dengannya
Karenanya, aku mencoba ‘tuk menyelaminya
Di lautan makna yang maha kaya
Pada sumbernya yang suci, jernih dan mencahaya
Lewat “Raudhatul Muhibbin” karya Imam Ibnul Qayyim
Lewat “Thauqul Hamamah” karya Imam Ibnu Hazm al-Andalusi
Lewat “Serial Cinta” karya Ust. M. Anis Matta
Lewat “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Ust. Salim A. Fillah
Lewat “Ayat-Ayat Cinta” karya Ust. Habiburrahman El-Shirazy
Lewat “Saat Cinta Belum Datang pada Waktunya” karya Ari Pusparini
Lewat “Engkaulah Kekasihku” karya Ust. Fadlan al-Ikhwani
Lewat “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” karya Ust. Moh. Fauzil Adhim

Ah, sesak, sesak, sesaknya dada ini

Ah, mungkinkan nanti, kisah cinta kita seperti ‘Ali dan Fathimah az-Zahra
Yang suci dan mengharukan dalam sejarah, yang ianya begitu haru membahana
Hal itu, mungkin-mungkin saja jika kita memang ditakdirkan untuk bersama

Tapi jika kita tak ditakdirkan untuk bersama
Maka aku akan berdoa untukmu dengan setulus cinta
Sebagaimana ketika Salman al-Farisi mengikhlaskan pujaan hatinya
Kepada Abu ad-Darda; sang saudara tercinta

Ya, aku harap, engkau juga mendoakanku
Untuk melupakan dan mengikhlaskanmu
Kelak, ketika melihatmu bersanding dengan pangeran lain
Dan engkau pun demikian, kumohon juga begitu
Jika nantinya aku bersanding dengan bidadari lain

Karena memang di jalan cinta para pejuang ini
Kita saling mencintai karenaNya
Seperti sebuah nasihat dari Ustadz Fadlan al-Ikhwani
Motivasi menikah itu; “bukan dengan siapa”, “tapi karena apa”
Nafsu semata kah? Atau karena ingin menjaga kesucian diri?
Ya, kan?
Jangan senyum-senyum sendiri ya?

Kautahu? Kini aku mengagumimu
Seperti kisah cintanya
Abdurrahman ibn Abu Bakr ash-Shiddiq kepada Atikah
Aku tak tertarik karena parasmu, tapi keshalihanmulah
Yang membuatku tertarik padamu

Untukmu yang tercinta
Aku ucapkan, jazaakumullah bi ahsanil jazaa’
Karena keshalihanmu, telah menginspirasiku
Semenjak awal kita jumpa dulu
Apakah kau menyadarinya?
Ah, tapi lebih baik kau tak menyadarinya…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Senin, 12 Agustus 2013
Di sepertiga malam terakhir; saat-saat doa kita sangat mustajab
Di rumah tercintaku, Tanjung, KLU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: