Setiawan as-Sasaki

Home » CATATAN HATIKU » Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati (1)

Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati (1)


Sumber: theoryofthephil.files.wordpress.com

Sumber: theoryofthephil.files.wordpress.com

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Menuntut ‘ilmu tiada henti. Lalu, berdakwah dengan hati. Akhirnya, nafi’un lighairihi. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berhujjah dengan nilai-nilai Qur’ani. Dan, menerapkan pilar-pilar sunnah dengan sepenuh hati. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sesama saudara, jangan lupa saling nasihat-menasihati. Dan, lakukanlah hal tersebut selembut nurani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berbaju-busana sesuai dengan tuntunan syar’i. Ikhlas lillahi. Untuk menunjukkan identitas diri.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Kepada sesama, jauh dari iri dan dengki. Karena ada yang jauh lebih penting dari itu; tulus-nikmat dalam indahnya berbagi. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Perkara syirik tak diikuti, tapi dijauhi. Akhirnya, Rasulullah di hati. Allah ‘Azza wa Jalla, apalagi. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Tak terlalu fanatik kepada manhaj yang diikuti. Karena itu adalah bibit-bibit kesombongan pada diri. Yang kadang tak tersadari.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Selalu menyadari kapasitas diri. Dan, memberikan kontribusi terbaik ‘tuk dakwah yang dicintai. Dalam bingkai beramal jama’i. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Jauh dari sifat sesat-menyesati; apalagi kafir-mengkafiri. Tersebab, hal ini akan menjadi noda hitam terpekat di hati. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Benci dengan ukhuwah yang basa-basi. Hanya karena berbeda dalam masalah furu’; yang dari zaman dulu hingga kini tak mungkin dihindari.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Selalu meneladani generasi terbaik dari umat ini. Lalu, semangat dalam merealisasikannya di tiap bilangan hari. Tanpa henti-henti. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan senantiasa membaikkan akhlak kita di tiap bilangan hari. Sebagaimana ungkapan berikut; “Guru-guru kami senantiasa melazimkan bepergian, setidak-tidaknya dua tahun sekali, untuk mengasah akhlak mulianya,” begitu ujar Imam Hasan al-Bashri. Dan, seperti ungkapan ini; “Jadikan amalmu sebagai garam dan akhlakmu sebagai gandumnya. Jangan sebaliknya. Itulah roti terlezat bagi hati yang lapar,” kata al-Qarafi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berdakwah dengan penuh hati-hati. Sesuai Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih dari sang Nabi. Tak kaku, tapi caranya penuh inovasi. Dibarengi akhlak yang baik dalam penyampaiannya, sebagaimana indahnya bait-bait sya’ir al-Mutanabbi. Dan, hasilnya banyak yang merasa tercerahi. Atau yang lebih baik lagi, dengan cara mengambil hati orang yang kita dakwahi. Sebagaimana diuraikan secara lemah-lembut dalam “Ath-Thariq Ilal Quluub” karya Syaikh Abbas as-Siisi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup berkah sejak dini. Lewat pernikahan yang suci. Sebagaimana kita di motivasi oleh Ust. Moh. Fauzil Adhim dalam salah satu buku karyanya, “Indahnya Pernikahan Dini.” Lalu, mari menjemput jodoh-jodoh kita, sebagaimana yang teruraikan dalam buku “Kujemput Jodohku” karya Ust. Fadlan Al-Ikhwani. Dengan hanya meniatkan jodoh kita karena Allah Ta’ala, sebagaimana yang tertuang dalam buku “Kupilih Engkau Karena Allah” karya Ust. Jauhar Al-Zanki. Dan, bagi yang belum dipertemukan jodohnya, mari kita maknai penantian dengan menyaksamai buku “Saat Cinta Datang Belum pada Waktunya” karya Ukty Ari Pusparini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan memetik inspirasi, dari peri kehidupan salah satu tokoh Islam kontemporer; yang sangat sederhana dan penuh kezuhudan, teguh dalam kesabaran dan sangat tawadhu’ membawa diri. Siapakah itu? Dialah sang Mursyid ‘Aam Al-Ikhwan al-Muslimun yang ketiga; Syaikh ‘Umar at-Tilmisani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berpikir sejernih mungkin ‘tuk menghasilkan sebuah solusi. Dalam kerja-kerja dakwah lillahi. Sebagaimana solusi cerdas ‘tuk membuat “khandaq” yang ditawarkan oleh Salman al-Farisi. Yang kemudian, atas ide ini Kota Madinah terselamatkan dari serangan musuh yang bertubi-tubi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup ‘ilmu dari kitab-kitab ahli hadits abad ini; Syaikh ‘allamah Nashiruddin al-Albani. Bukan malah menghujati.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup ‘ilmu dari kitab-kitab ‘ulama besar spesialis fiqh abad ini; Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi. Bukan malah mencaci-maki.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan senantiasa menghindari dosa-dosa besar pada diri. Sebagaimana ringkasnya di uraikan. Tapi jelas dan gamblang, dalam 70 judul penjelasan yang tercatat dalam kitab “Al-Kaabair” karya Imam Adz-Dzahabi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan merenungkan tiap kata. Lalu, diresapi sepenuh hati. Untaian-untaian penjelasan, bagaimana caranya mengobati hati-hati kita yang sedang sakit, tersebab dinodai oleh banyaknya dosa dan maksiat pada diri, yang ditulis oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya; “Al-Jawab al-Kafi.”

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan senantiasa menghidupkan waktu malam di tiap bilangan hari. Karena ganjarannya sangat besar sekali. Terkait hal ini, mari kita seksamai tulisan ringkas yang kemudian bertajuk, “Qiyamul Lail” karya Syaikh Dr. Sa’id ibn Ali ibn Wahf al-Qahthani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan pribadi-pribadi tangguh, yang tak hanya kuat secara ruhani, tapi juga jasmani. Sebagaimana resep-resep kesehatan yang bernuansa islami. Yang ditulis dalam buku “Sehat Berpahala” dan “Super Health” karya dr. Egha Zainur Ramadhani.

Bersambung…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Senin, 19 Agustus 2013
Tulisan ini terselesaikan menjelang waktu Maghrib
Bertempat di Asrama Mahasiswa Universitas Mataram

Advertisements

3 Comments

  1. Parlina Wi says:

    anjuran dalam kalimat yang cantik.. thanks untuk referensi buku-bukunya 🙂 beberapa ada yang baru didengar, tapi kalo yang Ustad Faudzil Adhim se sering ngintip twitt dan bukunya 🙂 terus nulis akhir, komporin juga ikhwan LDK lain 🙂 mari belajar menjadi muslim sejati, merangkai kata lewat jemari, semoga sampai ke hati 🙂

  2. untaian kalimat yg indah..mudah2an tdk hanya sebatas di bibir aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: