Setiawan as-Sasaki

Home » CATATAN HATIKU » Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati (2)

Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati (2)


Sumber: kenuzi50.files.wordpress.com

Sumber: kenuzi50.files.wordpress.com

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempersembahkan shalat, ibadah, hidup dan mati hanya kepada Allah Rabbul ‘Izzati. Sang Maha Pengasih lagi Penyayang, dan yang mempunyai kehendak prerogatif atas sesisi semesta ini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan bersungguh-sungguh untuk mempersembahkan kontribusi terbaik di jalan dakwah ini. “Nahnu Du’at Qabla Qulli Syai’; Kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya,” ingat dan renungi kaidah ini ‘tuk selalu menguatkan diri, saat-saat futur dalam berdakwah datang silih berganti. Lalu, agar semakin menyemangati diri, sejenak mari luangkan diri ‘tuk membaca dan merenungi, salah satu buku karya Ust. Muhammad Lili Nur Aulia; “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami.” Untuk Anda yang berkenan meluangkan waktu terkait hal ini, saya ucapkan, “selamat menjemput inspirasi.”

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meresapi kejernihan dan keluasan ‘ilmu si mufti semenjak usia dini; Imam asy-Syafi’i.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan tak mudah patah semangat dalam menuntut ‘ilmu, terkhusus ‘ilmu syar’i. Tuk kokohkan diri menjalani hidup ini. Sebagaimana semangat belajar Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani, sang penulis “Syarah Kitab Shahiih al-Bukhari,” yang kemudian bertajuk “Fathul Baari”. Yang pada awalnya (baca: semangat belajar) terinpirasi setelah melihat fenomena alam; “batu yang keras bisa hancur oleh air lunak yang menjatuhi.” Tiap hari, tanpa ada jeda ‘tuk berhenti. Lalu kita yang mengetahui kisah ini, semoga bisa terinspirasi. Akhirnya, semoga semangat beliau bisa kita teladani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari, memahami dan mengamalkan hadits-hadits yang termuat dalam kitab “Shahiih al-Bukhari.” Yang oleh penulisnya; Imam al-Bukhari, cari dan kumpulkan dari tiap wilayah yang beliau jajaki. Atas sebuah motivasi besar teruntuk menyusun kitab hadits yang shahiih, yang awalnya ini dari sebuah azzam kuat pada diri. Ah, jika kita masih bermalas-malasan dalam mempelajari hadits-hadits Nabi, tak kah kita malu pada usaha gigih nan ikhlas dari Imam al-Bukhari?

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sebagaimana Abu Bakar al-Anbari membaca sebanyak sepuluh ribu lembar pada setiap pekan yang terjalani. Lalu, sebagaimana kekuatan membaca Syaikh ‘Ali ath-Thantawi yang mampu melahap sebanyak  100 – 200 halaman tiap hari.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sebagaimana semangat dan kesungguhan Imam Ibnu Jarir ath-Thabari yang mampu menulis empat puluh halaman kitab tiap hari. Yang hal ini kemudian diceritakan kepada kita lewat lisan shalih Al-Khatib al-Baghdadi. Lalu, sebagaimana juga dengan kesungguhan al-Sarkashi yang mampu menulis kitab “Mabsuth” menjadi 30 jilid dalam kondisi berada di balik jeruji.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sebagaimana kesungguhan Abu Ishaq asy-Syairozi, seorang ahli fiqh bermazhab Syafi’i yang memuraja’ah pelajarannya sebanyak 100 kali dan mengulangi qiyas sebanyak 1000 kali. Hingga membuat badannya kurus, tersebab tekad dan cita-citanya yang tinggi. Lalu, tak kah kita malu dengan kondisi kita saat ini? Yang hanya bermalas-malas diri?

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan menjadi para penemu dan pelopor dalam kemaslahatn umat. Seperti Imam az-Zuhri yang dengan usahanya, hadits-hadits menjadi terkodisifikasi. Lalu, seperti matematikus muslim; Abu al-Wafa al-Buzjani yang handal dan fenomenal, sang pewaris kitab “Al-Kamil” (tentang ilmu aritmatika praktis) dan “Al-Handasa” (tentang penerapan geometri).

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan menjadi pendengar yang baik bagi saudara, atas masalah-masalah yang ia hadapi. Karena hal seperti ini, dapat meredam gelisahnya hati. Lalu diantara saudara kita, terjalinlah tali ukhuwah yang kokoh; diikat kuat oleh rasa saling memahami dan sejiwanya hati. Maka, berbahagialah kita dalam dekapan ukhuwah yang selalu bersemi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan memahami, bahwa berbuat kesalahan itu fitrah, tapi memperbaiki diri itu keharusan; demi jernihnya hati. Dari keruhnya dosa dan maksiat yang menjangkiti. Dengannya, indahlah perkara saling nasihat-menasihati. Yang kadang dalam medan realisasi, ianya begitu pelik dan membutuhakan kekokohan jiwa dan hati. Selanjutnya, niatkanlah hal tersebut, semata-mata hanya mengaharap ridha Sang Illahi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan selalu menjadikan saudara seiman sebagai cermin diri. Bukan malah sebaliknya, menganggap diri yang paling benar dan lebih patut diteladani. Padahal antara kita; sesama saudara seiman ibarat satu tubuh kata sabda sang Nabi. Lalu, janganlah jadikan perbedaan manhaj atau harakah sebagai penghijab diri dalam menuntut ‘ilmu syar’i. Karena sekali lagi, hal ini sulit dihindari? Tersebab hal ini berakibat pada umat Islam yang tak satu hati lagi. Yang pada akhirnya tak akan mampu membangun, ‘tuk tegaknya kejayaan Islam di zaman keterasingan ini. Maka untuk kita semua, mari menyadari hal ini. Sejak membaca tulisan ini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan berikrar, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Rasulullah adalah utusanNya,” sebagai rahmat bagi seluruh manusia; penghuni bumi ini. Maka, karena kita sudah berikrar; selanjutnya adalah mentaati perintahnya dan menjahui segala larangannya, lalu teladani dan amalkan apa-apa yang telah dicontohkan oleh sang Nabi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan memahami dan merenungi, bahwa selain dari yang telah dicontohkan sang Nabi, maka jangan diikuti. Tersebab ia berarti bid’ah-bid’ah masa kini. Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berdakwah di pentas demokrasi? Jika hal ini, bagi sebagian kita sulit ‘tuk menerimanya dengan kejernihan hati, maka cukuplah pahami. Tersebab perkara ini adalah ijtihadi. Untuk kita yang masih awam ini, sungguh tak cocok kita memperdebatkan salah-benarnya hal ini. Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang dakwahnya selalu mengusung tegaknya “Khilafah” di bumi, tanpa syarat; demi bersatunya tiap negeri dibawah naungan syari’at islami. Menanggapi hal ini, saya hanya ingin mengatakan, “Ya, memang siapa juga yang tak mau khilafah tegak di bumi ini. Kita semua, ingin pastinya ‘tuk tegak suatu saat nanti.” Lalu, bagimana dengan saudara kita, yang dakwahnya hanya mengusung “Tauhid dan Aqidah.” Terkait hal ini, saya hanya ingin mengatakan, “Ya, memang ada yang salah dengan hal ini. Bukankah dakwah Nabi pada awalnya; dan memang yang paling lama; adalah untuk tegaknya aqidah dan tauhid ini.” Bagi sebagian kita yang menyudutkan kelompok ini dengan sebutan “wahabi atau salafi” secara berlebihan. Maka sadari kesalahan diri Anda, lalu benahi diri. Terlepas dari kelompok mana kita; selama Allah yang kita sembah dan Rasulullah yang kita teladani, maka mari tumbuhkan pada diri, sikap saling memahami. Karena sungguh kita masih fakir dan dha’if dalam ‘ilmu syar’i. Bukankah pintu surga itu banyak? Jadi, tinggal kita pilih mau memasukinya lewat pintu yang mana. Pintu yang itu atau ini? Bukan malah sibuk saling membenarkan diri terkait manhaj yang diikuti?

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari “Al-Arba’in an-Nawawiyyah” karya Imam an-Nawawi. Yang memuat 42 hadits-hadits shahih tentang pokok-pokok inti dien ini. Tuk bekali diri menjalani hidup yang fana ini. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup nasihat-nasihat penuh hikmah dari salah satu kitab fenomenal; “Shaid al-Khâtir” karya Imam Ibnu al-Jauzi. Teruntuk menyemangati diri. Yang imamnya masih rapuh ini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meresapi dan merenungi mutiara-mutiara penuh hikmah dari salah satu kitab fenomenal; “Al-Hikam” karya Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari. Yang begitu menyejukkan relung-relung sanubari. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan menyaksamai sepenuh cinta, renungan-renungan yang menggelorakan dan menyejukkan jiwa dari sebuah karya fenomenal, yang sebagiannya tertulis dalam jeruji penjara; “Laa Tahzan” karya Syaikh Dr. ‘Aidh ibn Abdullah al-Qarni. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari dan mengaplikasikan apa-apa yang menjadi uraian dalam “Mukhtashar Minhajul Qashidin” karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Sebuah ringkasan singkat nan berisi, ‘tuk menapaki titian Illahi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Yang kehadiranya menjadi harapan bangsa dan agama ini. Yang teguh pendiriannya pada kebenaran semata, sebagaimana keteguhan si kecil Ismail ketika hendak disembelih oleh ayah yang begitu mencintai, dan seperti keteguhannya para pemuda “Ashabul Kahfi.”

Bersambung…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Rabu, 21 Agustus 2013
Tulisan ini terselesaikan menjelang adzan Dzuhur berkumandang
Bertempat di Aula LDK Baabul Hikmah UNRAM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: