Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS » Hukum Cadar

Hukum Cadar


Wanita Bercadar--salam-online.com

Bagaimanakah hukum cadar bagi seorang muslimah? Wajib atau sunnah? Terkait masalah ini, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama’. “Sebagaian ulama’ menganggapnya wajib, sebagian lagi menganggap sunnah bahkan ada yang menganggap cadar sebagai budaya pakaian khusus orang Arab.” (Backcover buku “Hukum Cadar” karya Syaikh al-‘Utsaimin)

Dalam bukunya ini; “Hukum Cadar”, Syaikh al-‘Utsaimin berijtihad, bahwa hukum cadar adalah wajib; hasil analisis cermat beliau berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits dan qiyas.

Secara umum, berikut adalah beberapa hal yang menguatkan beliau mewajibkan cadar;

Pertama, atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhum: “Allah memerintahkan istri-istri orang mukmin; apabila mereka keluar dari rumahnya karena suatu keperluan, agar mereka menutup wajah mulai dari atas kepala dengan jilbab dan hanya menampakkan mata saja.” Terkait atsar ini beliau berkomentar, “Penafsiran sahabat adalah hujjah. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa penafsiran sahabat termasuk ke dalam hukum marfu’ (yang disandarkan) kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.” Dan, ketika sampai pada kalimat, “…dan hanya menampakkan mata saja,” maka beliau pun berkomentar lagi, “Bahwa perkataan tersebut merupakan keringanan mengingat kepentingan dan kebutuhan melihat jalan. Sehingga apabila keperluan ini tidak ada, maka tidak dianjurkan lagi membuka mata.”

Kedua, hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha: “Adalah para penunggang kuda melewati kami, sementara kami dalam keadaan ihram bersama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika mereka tepat di hadapan kami, setiap kami menutupkan jilbabnya ke wajahnya mulai dari kepala. Dan apabila mereka telah lewat, kami membukanya lagi.” {H.r. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah}

Pada kalimat, “Jika mereka tepat di hadapan kami” yakni para penunggang kuda, “setiap kami menutupkan jilbabnya ke wajahnya.” Terkait hal ini beliau berkomentar, “Terdapat dalil akan kewajiban menutup wajah, karena yang disyari’atkan ketika ihram adalah membukanya. Seandainya tidak ada penghalang yang kuat dari membukanya ketika itu, niscaya tetap wajib terbuka sampai di depan para penunggang kuda sekalipun. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut, bahwa membuka wajah ketika ihram, hukumnya wajib bagi wanita menurut sebagian besar ulama. Sesuatu yang wajib tidak dapat dikalahkan kecuali oleh yang wajib pula. Maka seandainya berhijab dan menutup wajah dari laki-laki asing tidak wajib, tidak mungkin diwajibkan membuka wajah ketika ihram.” Beliau pun kemudian menguatkan hasil penafsirannya ini sebagaimana penjelasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Ini menunjukkan bahwa cadar dan sarung tangan sudah lazim dipakai oleh wanita-wanita yang tidak berihram. Keadaan ini menuntut untuk menutup wajah dan tangan-tangan mereka (ketika tidak ihram).”

Terkait dengan dalil-dalil orang yang membolehkan membuka wajah, maka Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila kita mencermati dalil-dalil yang dijadikan alasan bolehnya wanita membuka (wajah), maka kita temukan bahwa dalil-dalil tersebut tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang melarangnya.”

Mengakhiri tulisan sederhananya ini Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hendaklah seorang penulis dan pengarang menghindari sikap semaunya sendiri dalam mengambil dalil dan sikap gegabah untuk berbicara tanpa ‘ilmu (yang memadai) yang menyebabkan dirinya termasuk golongan orang yang tersindir oleh firmanNya dalam Q.s. Al-An’aam ayat 144; “Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia dengan tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Dalam tulisan yang begitu singkat ini, saya (penulis) beranggapan bahwa kedua dalil yang tersebut diatas; atsar dari Ibnu ‘Abbas dan hadits dari ‘Aisyah adalah dua dalil yang paling kuat (utama) dari banyaknya dalil-dalil yang diutarakan oleh Syaikh al-‘Utsaimin. Yang selanjutnya menguatkan ijtihad beliau, bahwa cadar hukumnya wajib bagi seorang muslimah.

Selebihnya, agar pemahaman Anda (para pembaca) tidak sepotong-potong terkait hukum cadar (analisis Syaikh al-‘Utsaimin), maka saya persilahkan Anda untuk membaca langsung buku ini.

Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini, maka luruskanlah saya. Karena sungguh, saya pun masih fakir ‘ilmunya terkait masalah ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Rabu, 27 Syawwal 1434 H / 04 September 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 04:20
Bertempat di Sekretariat MT Al-Kahfi FKIP UNRAM

***

Sumber Inspirasi:
Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin. 2013 (Cet. Ke-10). Hukum Cadar. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Risalatul Hijab)

Advertisements

2 Comments

  1. Menarik sekali. saya pernah mendengar ceramah dari salah seorang ulama yg mengatakan bahwa justru cadar itu tergantung pd si pemakainya. Artinya jika si pemakai (wanita) mewajibkan dirinya utk bercadar, makanya hukumnya pun akan menjd wajib pd diri wanita tsb. Akan tetapi jk si wanita tidak mewajibkan dirinya utk memakai cadar, maka tidak ada kewajiban utk mengenakan cadar bg si wanita tsb. Wallahu’alam.

    lalu, bagaimana dgn pendapat dari ulama2 seperti Syeikh Yusuf Qardhawi? Hanya sebagai pembanding saja. 🙂

  2. Wah wah wah, ternyata ada juga ya yang membaca tulisan lama saya ini…
    O ya -tulisan ini belum sempurna lho, soalnya berdasarkan satu buku-, silahkan baca tulisan saya yang ini juga -kalau ini mah, agak lengkap-: https://setiawanraden.wordpress.com/2013/12/27/jilbab-dan-hijab-seorang-muslimah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: