Setiawan as-Sasaki

Home » DAKWAH » Sejenak, Mari Kita Rehat

Sejenak, Mari Kita Rehat


Sejenak, Mari Kita RehatDisini, kita berkumpul bersebab hidayahNya
Tertuntun oleh setitik nyala iman yang mencahaya
Dengan cahaya yang redup-redup itu, lalu bergandeng-gandenglah kita
Untuk saling menguatkan antara satu dan yang lainnya
Dalam suka dan duka membumikan risalah cintaNya
Maka, jadilah kita lentera al-Haq dalam gelapnya al-Bathil yang nyata

***

“Mari kita berhenti sejenak disini!” Tulis Ust. M. Anis Matta mengawali lembar-lembar pemikiran cemerlangnya dalam “Menikmati Demokrasi.” Tulisannya pun berlanjut, “Kita memerlukan saat-saat itu; saat dimana kita melepaskan kepenatan yang mengurangi ketajaman hati, saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual, saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul, yang mungkin menguras stamina kita.”

Ya, sebagaimana ungkapan Ust. M. Anis Matta ini, sejenak mari kita merenung. Dalam-dalam. Lekat-lekat. Dengan penuh kekhusyukan. Lalu, setelah perenungan itu usai, mari kita berbenah. Sudah sejauh manakah kereta dakwah ini melaju? Apakah perjalannya lancar-lancar saja? Ataukah menemui banyak hambatan? Karena kereta dakwah ini menempuh perjalanan yang sangat jauh, maka tanyakan juga bagaimana kondisi penumpangnya. Apakah dalam kondisi baik-baik saja? Ataukah ada permasalahan?

Dalam jauhnya perjalanan dakwah ini. Dalam padatnya agenda-agenda dakwah yang terjadwalkan. Dalam kondisi semakin banyaknya penumpang-penumpang kereta dakwah yang tertarik untuk membersamai. Dalam kondisi inilah, sejenak, mari kita rehat; untuk menelisik kondisi diri sebagai pengemban amanah dakwah ini. Apakah dalam kondisi ruhiyah yang stabil atau malah sebaliknya; bermasalah. Karena hal ini sangat menentukan langkah keberhasilan dakwah kita kedepannya.

Dalam menjalani proses rehat ini, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, menit demi menit waktu yang terus berjalan. Untuk merenungi kembali, niat dan komitmen kita berada di jalan ini. Apakah terjadi bias orientasi pada niat-niat kita? Ataukah ianya masih kokoh berdiri seperti sedia kala; hanya karena meraih ridhaNya semata. Ah, entahlah. Hanya diri kita dan Allah ‘Azza wa Jalla-lah yang lebih tahu tentang kondisi ini.

Dan kini, sejenak, mari kita renungi sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam kepada ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang karenamu, ini lebih baik bagimu daripada Unta merah.” {H.r. Muttafaq ‘alaihi} Adapun sabda selanjutnya, yaitu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Barang siapa yang mengajak pada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala yang dilakukan orang yang mengikuti ajakannya, tidak berkurang sedikit pun.” {H.r. Muslim}

Sungguh, betapa besarnya pahala orang-orang yang ikhlas berdakwah. Dan, hal inilah yang menjadi alasan utama kita tetap konsisten berada di jalan ini. Bukankah begitu? Dengan dakwah, hidup yang kita jalani di dunia fana ini menjadi lebih hidup. Bagaimana tidak, karena berdakwah adalah pekerjaan mulia yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada para Nabi dan RasulNya. Lalu, kini, kitalah yang menjalankan pekerjaan mulia itu. Duh, betapa beruntungnya kita. Disini, kita adalah sekumpulan orang-orang terpilih untuk membumikan risalah cintaNya. Maka, mari sadari dan pahami hal yang mendasar ini. Agar keberadaan kita di dakwah ini, benar-benar mendatangkan ridhaNya.

Di jalan dakwah, kita berkumpul bersebab hidayahNya. Tertuntun oleh setitik nyala iman yang mencahaya. Sekali lagi, hanya untuk meraih keridhaanNya semata. Agar hidup kita berkelempihan barakah; penuh arti dan manfaat. Dan, jadilah kita orang-orang yang tersebut dalam firmanNya,

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”  {Q.s. Ali ‘Imran [3]: 104}

***

Di jalan dakwah, jadilah kita sang perindu dalam proses rehat sejenak ini. Ya, rindu dengan jalan dakwah yang penuh barakah ini. Berbekal perenungan singkat dan rasa rindu itu, kita pun memulihkan kembali semangat-semangat dakwah yang sebelumnya sempat memudar dan mengendor. Tersebab banyaknya maksiat dan dosa dari diri kita; para pengembannya, yang kadang menggelapkan niat kita yang sedari awalnya murni; lillahi ta’ala.

“Sang perindu jalan dakwah”, tulis Ust. Umar Hidayat dalam “Merindukan Jalan Dakwah”, “jiwanya selalu terisi dengan mutiara nasihat yang menjernihkan jiwa dan menjadi tulang punggung kehidupannya. Ia duduk dalam keheningan, menyerap suara-suara penyejuk jiwa dari agama yang mulia. Karena sesungguhnya agama itu senantiasa menasihati jalan hidupnya.”

Lalu, atas keletihan-keletihan yang kita rasakan di jalan ini; ianya adalah nikmat yang tercurah dari sisiNya; berisi penuh pahala, jika kita ikhlas menjalaninya. Sebagaimana sabda Sang Nabi kepada ‘Aisyah, “Ajruki ‘alaa qadri nashaabik; pahalamu senilai dengan kadar payahmu.” Dan, tersebab kesibukan kita di jalan dakwah ini, kita pun terminimalisir untuk melakukan hal-hal yang menyia-nyiakan, terlebih bermaksiat dan berbuat dosa kepadaNya. Alhamdulillah.

“Keletihan itu”, kata Ust. Muhammad Lili Nur Aulia menasihatkan, “akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dalam perjalanan kereta dakwah ini, sejenak, mari kita rehat di terminal majelis-majelis iman. Untuk mengisi dan menambah bekal-bekal ruhiyah kita yang mulai kehabisan, tersebab masih jauhnya perjalanan dakwah ini. Sebagaimana ungakapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Duduklah bersama kami, biar kita beriman sejenak.”

***

Oleh: Setiawan sa-Sasaki
Jum’at, 21 Zulqa’dah 1434 H/ 27 September 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 15.07
Di rumah tercinta

***

Sumber inspirasi:

  1. M. Anis Matta. 2010. Menikmati Demokrasi. Bandung: Fitrah Rabbani
  2. Umar Hidayat. 2011 (Cet. 1). Merindukan Jalan Dakwah. Yogyakarta: Darul Uswah (Kelompok Penerbit Pro-U Media)
  3. Muhammad Lili Nur Aulia. 2009 (Cet. 4). Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami. Jakarta: Pustaka Da’watuna
  4. Salim A. Fillah. 2011 (Cet. 6). Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: