Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS » Menulis Adalah Cermin Diri

Menulis Adalah Cermin Diri


Menulis Adalah Cermin Diri“Kalau kita menulis lalu tulisan kita menjadi referensi bagi milyaran umat manusia menuju surga,
semoga itulah surga sebelum surga.”

{Solikhin Abu Izzuddin, Happy Ending Full Barokah}

***

Menulis itu bukan tentang bisa atau tidaknya. Bukan juga tentang bakat. Tapi sejatinya, ia adalah cermin diri tentang apa yang kita baca, amati dan renungi di rentang-rentang waktu aktifitas keseharian kita dalam fananya dunia ini. Dan melalui tulisan, kita mencoba untuk membaginya. Agar ianya ada kebermanfaatan bagi sesama. Lalu, ia pun mewujud menjadi sebuah perenungan dan nasihat bagi diri si penulis. Maka, mari menulis untuk merealisasikan hal itu.

Menulis itu kerja keberimanan. Sebagaimana wahyuNya yang pertama dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,” baru menulis, “Yang mengajar (manusia) dengan pena.” Maka, ketika kita memulai menulis niatkanlah ia semata-mata hanya untuk meraih ridhaNya. Dengan sepenuh jiwa, penghayatan yang mendalam dan penuh kesabaran. Agar tulisan yang terlahir dari tiap jari-jemari kita beralir barakahNya. Walaupun aslinya, ia hanya sebuah tulisan sederhana. Yang mencerminkan masih dangkalnya ilmu si penulis.

Menulis itu butuh keikhlasan. Ingat dan lakukan, semata-mata hanya karena ingin meraih ridhaNya. Dan, hal inilah yang dilakukan oleh Imam Malik ibn Anas rahimahullah; sang pendiri mazhab Maliki ketika menulis kitab Al-Muwattha’-nya yang menyejarah. “Untuk apa engkau menuliskan kitab ini?” Tanya seseorang suatu ketika kepada Imam Malik. Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya sesuatu yang dikerjakan untuk Allah itu akan abadi.” Dan benar, kitab ini pun menjadi sumber rujukan yang sangat berharga bagi para ulama’ setelahnya. Bahkan, Imam asy-Syafi’i rahimahullah pun menghafal kitab ini di usianya yang belia; sepuluh tahun.

“Perhatikanlah wahai para penulis,” ungkap Abu ‘Amr Al-Jahizh, “Jika engkau melakukannya tanpa keikhlasan, tulisanmu akan menjadi seperti buih yang hilang. Seperti tumbuhan di musim buah, yang akan terbakar oleh angin musim panas.” Begitulah ungkapan Al-Jahizh, sebagimana yang dinukil oleh Ust. Muhammad Lili Nur Aulia dalam Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas JalanMu. Sejenak, mari merenungi ungkapan tersebut. Adakah kita termasuk didalamnya?

Menulis itu butuh kekuatan hati dan jiwa. Lalu, perenungan yang mendalam. Agar tulisan yang terlahir mempunyai ruh dan kekuatan. Karena sungguh, “Perkataan yang baik dalam pandangan Islam itu ibarat makhluk hidup yang keberadaannya mempunyai pengaruh.” Begitulah ungkap Syaikh Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz dalam Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushul.

Dari hati dan jiwa terlahirlah ruh dan kekuatan, lalu pengaruh. Dan hal ini awalnya adalah dari iman yang teguh dan mencahaya pada pribadi seseorang untuk menyampaikan kebenaran. Maka kita pada hari ini, menjadi saksi bagi Al-Sarkashi yang menulis kitab Mabsuth dalam 30 jilid. Aq’ad ibn al-Atsir dengan 30 jilid kitab Jami’ul Ushul wan Nihayah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan 30 jilid kitab Majmu’ Fatawa. Asy-Syahid Sayyid Quthb dengan 12 jilid kitab Fi Zhilaalil Qur’an dan kitab Ma’alim fi ath-Thariq. Kemudian, Buya Hamka dengan Tafsir Al-Azhar. Kesemuanya adalah karya-karya fenomenal (terlahir dari balik jeruji penjara) yang menyejarah dan menjadi referensi bagi jutaan bahkan milyaran orang.

“Kekuatan jiwa,” tulis Ustadz Moh. Fauzil Adhim dalam Dunia Kata, “yaitu; dalam hidup, ada yang harus diperjuangkan. Ada idealisme. Inilah yang menjadi penggerak kita, penggerak yang nyalanya berkobar-kobar dan tak mudah padam. Kekuatan idealisme inilah yang telah melahirkan penulis-penulis besar. Diantara mereka ada yang sangat produktif, ada pula yang tidak. Tetapi, satu karya yang benar-benar baik dan penuh kekuatan, akan jauh lebih berpengaruh daripada seribu buku yang tebal biasa-biasa saja. Ya, kekuatan jiwa. Bukan semata keterampilan menulis. Kekuatan jiwa itu lahir dari niat yang bersih, tujuan yang jelas, komitmen yang kuat, visi yang tajam dan sikap mental yang baik. Ada yang mereka perjuangkan dalam hidupnya. Ada yang mereka sampaikan.”

Kemudian lanjut beliau, “Demi Allah, saya mengharap dengan seluruh kekuatan yang saya miliki agar setiap tulisan mampu menciptakan perubahan besar bagi hidup, pikiran, jiwa dan agama kita. Hidup ini tak lama, sedangkan kematian amat dekat. Maka saya berharap setiap kata yang dituliskan menjadi bekal untuk hidup sesudah mati.”

Menulis itu berawal dari sebuah inspirasi. Dan, semua penulis pasti mempunyai sejarah yang berbeda-beda dalam menemukan awal inspirasi itu. Sejauh mana kekuatan awal inspirasi itu berkecamuk dalam hati dan jiwa, maka sejauh itu pula kekuatan inspirasi kita untuk tetap istiqamah dalam dunia tulis-menulis. “Aku kagum akan cepatnya karya tulis yang beliau hasilkan,” kenang Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam Al-Badrut Thali’ ketika membawakan biografi gurunya Syaikh ‘Ali ibn Ibrahim Ibn Amir, “padahal beliau sibuk mengajar. Maka pada suatu hari aku menanyakan hal ini kepada beliau. Beliau menjawab bahwa beliau tidak pernah meninggalkan menulis satu hari pun (artinya, setiap hari beliau harus menulis). Apabila ada sesuatu yang mengahalangi, ia menulis sedikit saja, meskipun hanya satu atau dua baris.”

“Lalu aku menekuni prinsipnya ini,” lanjut Imam asy-Syaukani mengenang gurunya, “dan aku melihat manfaat yang luar biasa.” Dan kita hari ini menjadi saksi atas karya tulis asy-Syaukani yang mencapai 300 judul; ada kitab yang besar, sedang dan kecil. Ya, beginilah inspirasi itu bekerja. Sungguh menakjubkan jika ianya direalisasikan. Maka, mari merenung sejenak. Apakah yang membuat kita terinspirasi untuk menulis?

Tentang menulis, saya teringat dengan Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah (wafat: 597 H). Beliau adalah ulama’ psikolog klasik. Mempunyai sifat qana’ah. Ahli dalam bidang fiqh, ceramah, sejarah, tafsir dan hadits. Menurut Ibnu Rajab rahimahullah, selama hidupnya beliau menulis sebanyak “197 kitab.” Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan “sekitar 300 kitab kecil dan kitab besar.” Lalu dari cucunya; Abdul Muzhaffar menyebutkan dalam Mir’ah az-Zamân, “kakekku mengarang 215 kitab.” Begitulah sekilas keterangan tentang Ibnu al-Jauzi yang tertera dalam salah satu kitab fenomenalnya, Shaid al-Khâtir. Sungguh luar biasa memang kontribusinya dalam dunia tulis-menulis. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita.

Tentang menulis, saya juga teringat dengan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat: 751 H). Beliau adalah guru dari Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat: 795 H) dan Ibnu Katsir rahimahullah (wafat: 774 H), serta murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat: 738 H). Tentang sosoknya, Ibnu Hajar al-‘Atsqalani rahimahullah berkomentar, “Beliau adalah sosok yang pemberani, luas ilmu, banyak mengetahui perbedaan pendapat dan mazhab salaf.” Hari-hari ini, tentu kita tak heran jika menemui begitu banyak karyanya yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Karena karya-karyanya begitu menyejarah dan berpengaruh. Yang dimana, sebagian besar karyanya berbicara tentang akhlak, moral, dan penyucian jiwa. Karena itulah, ulama’ ini sering disebut sebagai “spesialis penyakit hati (the scholar of the heart).” Sepanjang hayatnya beliau telah menghasilkan sekitar 98 kitab.

Tentang menulis, mari kita teladani kesungguhannya Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat: 676 H). Beliau adalah penulis kitab Riyaadhush Shaalihiin, Syarh Shahiih Muslim, Al-Arba’iin an-Nawawiyyah, Al-Adzkaar, dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya dalam berbagai cabang ilmu. Tentang sosoknya Ibnu al-Aththar mengatakan, “Syaikh kami rahimahullah menyebutkan kepada kami bahwa ia tidak menyia-nyiakan waktunya, baik di malam maupun siang hari, kecuali untuk kesibukan hingga di jalanan sekali pun. Ia terus menerus melakukan demikian selama enam tahun, kemudian mulai mengarang, mengajar, memberi nasihat, dan mengatakan kebenaran.”

Lalu, bagaimana caranya kita menghasilkan tulisan yang baik? Agar tulisan kita tersebut menjadi sebenar-benar tulisan dan bermanfaat bagi banyak orang. Mengenai hal ini, biarlah Ustadz Moh. Fauzil Adhim yang menjawabnya. “Tulisan yang baik,” tulis beliau dalam Inspiring Words for Writers, “membuat orang berpikir sesudah membaca. Tulisan baik ibarat melati. Bunganya jernihkan mata, baunya sedapkan jiwa, tangkainya mudah ditanam dimana saja.”

Dengan tulisan yang baik, terlahirlah karya yang baik pula. Lalu, tulisan tersebut pun menjadi karya yang fenomenal dan menyejarah. “Buku yang baik,” lanjut Ustadz Moh. Fauzil Adhim, “sekali dibaca mencerdaskan, dibaca berikutnya mencerahkan.”

Dan terbukti, buku-buku karya Ustadz Moh. Fauzil Adhim sangat berbobot dan bergizi, serta mencerdaskan. Misalnya saja, buku Mencapai Pernikahan Barakah yang diterbitkan pertama kali pada bulan Oktober 1997 oleh penerbit Mitra Pustaka, Yogyakarta. Kini, oleh penerbit yang sama, buku tersebut pun masih beredar dengan berlabel cetakan ke-28 pada bulan Desember, 2012. Atau yang lebih dahsyat lagi, buku terbaru beliau Segenggam Iman Anak Kita. Beredar pada tanggal 1 Oktober 2013, sepekan kemudian penerbitnya (Pro-U Media) sudah bersiap-siap untuk mencetak ulang lagi. Karena memang bukunya berkualitas, sehingga diburu oleh banyak orang. Begitu pun dengan puluhan karya beliau yang lainnya.

Menulis adalah cermin diri. Ya, tentang kondisi penulis itu sendiri. Karena, setiap kata-kata yang mengalir dari jari-jemari kita mencerminkan sudah sejauh mana wawasan kita terkait yang kita tulis tersebut. Dan hal ini juga, secara otomatis mencerminkan seberapa banyak buku yang telah kita baca. Lalu, tentang apa saja yang kita baca itu. Maka dari tulisan yang terlahir, tercermin pula, apakah bacaan yang kita baca itu kita pahami atau tidak. Lalu, sudahkah kita mengamalkannya terlebih dulu terkait apa yang kita tulis. Jika ia, maka tulisan kita akan benar-benar mempunyai ruh dan kekuatan yang akan mampu mempengaruhi banyak orang. Walaupun mungkin, dari semua yang kita tulis belum semuanya bisa kita amalkan.

Menulis adalah cermin diri. Awalnya adalah untuk menshalihkan diri sendiri, muaranya adalah untuk menshalihkan orang lain juga. Karena bagi seorang muslim sejati, hakikat menulis adalah untuk menebar kebaikan, kebenaran dan keindahan risalahNya. Maka, tercerminlah bagaimana sosok seorang pemuda muslim yang bersemangat dalam menjalani hidupnya; sebagaimana sosok Salim A. Fillah dalam kedelapan karya Best Seller-nya (saat tulisan ini dibuat). Aura kepribadiannya tercermin dalam karyanya, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Lalu, seiring berjalannya waktu. Dengan aktivitas dakwah yang semakin padat dan ‘ilmu yang bertambah-tambah. Maka, sosok seorang Salim pun semakin matang dan tercermin dalam karya berikutnya, Jalan Cinta Para Pejuang. Lalu, Dalam Dekapan Ukhuwah. Berlanjut kemudian, Menyimak Kicau Merajut Makna.

“Menulis untuk memperbaiki diri,” ungkap Ustadz Salim A. Fillah ketika di wawancara oleh salah seorang wartawan majalah Suara Hidayatullah (selengkapnya di Suara Hidayatullah edisi Februari 2013).

“Penulis sejati,” kata Salim A. Fillah dalam Menyimak Kicau Merajut Makna, “sama sekali tak berniat mengajari. Dia Cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya.” Maka mari menulis, karena ia adalah cermin diri kita.

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Minggu, 13 Oktober 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 10:28 pagi
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***

Sumber Inspirasi:

  1. Solikhin Abu Izzuddin. 2013 (Cet. 3). Happy Ending Full Barokah. Yogyakarta: Pro-U Media
  2. Solikhin Abu Izzuddin. 2012 (Cet. 19). Zero to Hero. Yogyakarta: Pro-U Media
  3. Muhammad Lili Nur Aulia. 2011 (Cet. 2). Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas JalanMu. Jakarta: Tarbawi Press
  4. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 1). Menyimak Kicau Merajut Makna. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz. 2010 (Cet. 6). Fiqih Dakwah. Solo: Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushul)
  6. Muhammad Shalih al-Munajjid dan Dr. Ubaid ibn Salim al-Amri. 2013 (Cet. 1). Tips Belajar Agama di Waktu Sibuk. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Thalabul ‘Ilmi fi Zamanil Insyighalat)
  7. Ibnu al-Jauzi. 2010 (Cet. 1). Shaid al-Khâtir; Nasihat Bijak Penyegar Iman. Yogyakarta: Darul Uswah (Kelompok Penerbit Pro-U Media) (Judul asli: Shaid al-Khâtir)
  8. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. 2006 (Cet. 1). Pengobatan Komprehensif Penyakit Hati. Yogyakarta: Mitra Pustaka (Judul asli: Al-Jawab al-Kafi Iiman Sa’ala ‘an al-Jawab al-Syafi)
  9. Imam an-Nawawi, Ibnu Daqiq al-‘Id, as-Sa’di dan al-‘Utsaimin. 2012 (Cet. 7). Syarah Arba’in an-Nawawi. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ad-Durrah as-Salafiyyah Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah, Pentakhrij: Sayyid ibn Ibrahim al-Huwaithi)
Advertisements

3 Comments

  1. Mantabbzzz gannn,,,izin kopas yaa
    ( Maju KLU)

  2. ketika sebuah tulisan bermanfaat untuk orang lain, ada ada rasa bahagia yang tak terungkapkan.

    tulisannya bgus..
    inspired..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: