Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS » Bacalah!

Bacalah!


Sumber: saripedia.files.wordpress.com

Sumber: saripedia.files.wordpress.com

“Iqra’ tanpa bismi Rabbika berujung pada sekulerisme, atheisme, hedonisme,
dan permisifisme. Bismi Rabbika tanpa Iqra’ berujung fatalisme,
mistisme, dukunisme, khurafatisme.”

{KH. Rahmat Abdullah, Dakwah Visioner}
***  

Sejenak, mari merenungi potongan ayat Al-Qur’an berikut. Yang menjadi wahyu pertama, yang dibawa oleh Malaikat Jibril ‘alaihissallam kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.” {Q.s. Al-‘Alaq [96]: 1-3}

Ya, inilah potongan ayat Al-Qur’an yang menjadi wahyu pertama itu. Yang menjadikan kondisi tubuh sang Nabi bergemetar ketakutan dan dihampiri oleh rasa khawatir yang sangat.

“Bacalah!” kata Jibril. Lalu, Rasulullah pun menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Beliau pun lanjut bertutur, “Kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, ‘Bacalah!’” Beliau pun tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” “Lalu,” lanjut beliau lagi, “untuk kedua kalinya, dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga kemudian melepaskanku seraya berkata lagi, ‘Bacalah!’ Beliau pun tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Dan untuk ketiga kalinya, Jibril melakukan hal yang sama sembari membacakan firmanNya, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5.

***

Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah pedomannya. Maka, sebagai seorang muslim yang baik tentu pedoman tersebut harus dipelajari dengan penuh kesungguhan. Bagaimana mungkin, ketika kita mengingini diri kita mempelajari Islam secara kaffah, tetapi usaha-usaha untuk mewujudkan hal tersebut tidak pernah kita pikirkan dan rencanakan. Bukankah hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil? Mari berdoa, semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa mencurahkan hidayahNya kepada kita untuk selalu bersemangat dalam mempelajari agama ini.

Dengan semangat itu, kita pun berharap, Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan langkah-langkah kita untuk memahami agama ini. Dengan sebaik-baik dan sebenar-benar pemahaman, sebagaimana pemahaman para salafush shalih. Dan tentu, kita juga berharap menjadi orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” {H.r. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah}

Bacalah! Itulah perintah dari wahyu pertama yang diturunkan kepada sang Nabi. Maka, inilah solusi pertama untuk mempelajari Islam itu. Selain berguru kepada ahlinya, yaitu para ulama.

Bacalah! Dan, awalilah dengan menyebut nama Allah: Bismillahirrahmaanirrahiim. Agar apa yang kita baca menuai barakahNya. Karena, membaca adalah tangga menuju pintu ilmu. Dengan membaca, wawasan kita menjadi luas. Dengan membaca, alur pemikiran kita menjadi dinamis. Dan dengan membaca, kehidupan fana yang sedang kita jalani di dunia ini pun menjadi penuh makna, jelas tujuan dan arah berakhirnya.

Bacalah! Karena kitab-kitab para ulama yang terwariskan sampai saat ini, tiada gunanya jika kita tidak tergerak sedikitpun untuk membaca dan mempelajarinya. Bukankah para ulama adalah pewaris para Nabi? Sebagaimana hadits shahih, “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” {H.r. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad-Darimi, Al-Baghawi dan Al-Baihaqi, shahih menurut Al-Albani}

Bacalah! Karena ilmu yang tidak diulang-ulang, apalagi tidak pernah diamalkan dalam kehidupan yang sesungguhnya, maka ia akan cepat terlepas atau hilang dari diri pemiliknya. Masih ingat dengan kisah Imam Al-Bukhari rahimahullaah? Sang muhaddits ini suatu ketika pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah obat lupa?” Ia menjawab, “Selalu melihat ke kitab-kitab.”

Ini adalah salah satu kondisi yang pernah terjadi dalam kehidupan sang Imam, yang hafalannya sangat terkenal kuat semenjak usia mudanya. Nah, bagaimanakah dengan kondisi kita yang hafalannya sangat lemah?

Bacalah! Karena inilah jalan yang ditempuh oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah untuk menempa dirinya menjadi seorang muhaddits (ahli hadits) abad ini. Bayangkan, beliau yang pendidikan formalnya hanya sampai tingkat sekolah dasar, mampu menjadi ulama besar. Dan semuanya, berawal dari sebuah proses, yaitu gemar membaca.

Simak penuturan beliau: “Di antara bimbingan Allah dan karuniaNya padaku,” tutur Syaikh Al-Albani rahimahullaah menceritakan tentang dirinya, “bahwa Dia mengarahkanku untuk mempelajari keahlian mereparasi jam sejak awal masa mudaku. Demikian karena profesi ini tidak terikat dan tidak bertentangan dengan upayaku memperdalam ilmu As-Sunnah. Setiap hari, selain hari Selasa dan Jum’at, aku mengalokasikan waktu untuk pekerjaan ini selama tiga jam saja. Dan jangka waktu ini mencukupiku untuk memperoleh makanan pokok untukku, keluargaku dan anak-anakku tanpa kekurangan. Ini satu poin yang penting. Sedang waktu lainnya aku pergunakan untuk menuntut ilmu, menulis dan mempelajari kitab-kitab hadits, khususnya yang masih berupa manuskrip, di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.”

Sebagian besar waktu Syaikh Al-Albani dihabiskan untuk mempelajari kitab-kitab hadits di perpustakaan. Sebabnya, beliau tidak mempunyai uang untuk membeli kitab-kitab tersebut. Nah. Bagaimana dengan kita? Seberapa seringkah kita ke perpustakaan untuk meminjam dan membaca buku? Atau, seberapa seringkah kita mengikhlaskan uang jajanan kita untuk membeli buku-buku keislaman?

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Syaikh ‘Ali ath-Thanthawi rahimahullaah yang terkadang mampu menghabiskan 300 halaman dalam satu hari. Dan, rata-rata 100 halaman dalam satu hari, dari tahun 1340 sampai 1402 H.

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullaah. “Selama menuntut ilmu,” kata al-Jauzi, “aku telah membaca buku sebanyak dua puluh ribu jilid. Dengan buku aku dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka yang luar biasa, ketekunan ibadah mereka, dan ilmu-ilmu mereka yang menakjubkan. Semua itu jelas tidak mungkin diketahui oleh orang yang malas membaca.”

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Ibnu Katsir rahimahullaah. “Aku selalu membaca dan menulis,” tutur Ibnu Katsir kepada Adz-Dzahabi rahimahullaah, “pada malam hari di bawah cahaya lampu yang lemah sinarnya, sehingga mengakibatkan mataku buta. Dan, mudah-mudahan Allah berkenan mendatangkan  orang yang akan menyempurnakannya.”

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Imam an-Nawawi, Abu Bakr ibn Khayyath dan Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullaah. Yang senantiasa membaca buku walaupun dalam perjalanan. Subhanallaah! Bahkan, Abu Bakr ibn Khayyath pernah terperosok ke dalam kubangan, karena berjalan sambil membaca. Nah, kita? Jangankan dalam sebuah perjalanan, ketika waktu luang pun kadang kita malas untuk membaca. Astaghfirullahal ‘Adzhim.

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Abu ‘Amr Al-Jahizh rahimahullaah. Beliau biasanya menyewa toko buku kawannya dan membaca di dalamnya.

Bacalah! Sebagimana semangat membacanya Ustadz Anis Matta, Moh. Fauzil Adhim dan Salim A. Fillah. Mereka semua, begitu gemar membaca dan merasakan manfaatnya semenjak usia belianya. Sehingga tak heran ketika Ustadz Anis Matta berorasi dan berceramah, maka kita akan terkagum-kagum dengan ilmu dan wawasannya yang sangat luas. Begitupun dengan Ustadz Moh. Fauzil Adhim dan Salim A. Fillah, buku-buku karya mereka sangat berbobot dan luas referensinya.

***

Sebagaimanapun kesibukan diri kita, entah itu sebagai siswa, mahasiswa, guru, dosen dan pengusaha, atau yang selainnya. Maka, luangkanlah waktumu sejenak, sebatas untuk membaca dan mempelajari ilmu syar’i lewat buku-buku yang ada, majalah-majalah keislaman atau internet. Karena sungguh, ia adalah sebaik-baik bekal dunia-akhirat.

Jangan sampai, hanya urusan-urusan duniawi saja yang menghabiskan waktu-waktu produktif kita. Bukankah, jika kita tersibukkan oleh perkara-perkara yang tidak bermanfaat, berarti Allah ‘Azza wa Jalla telah berpaling dari diri kita? Ya, seperti ungkapan Imam Hasan al-Bashri rahimahullaah, “Tanda, bahwa Allah berpaling dari hambaNya, adalah jika seorang hamba menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat.”

Maka, bacalah! Karena, buku yang baik adalah buku yang mampu menggandeng dan menuntun mesra hati pembaca, jiwa dan pikirannya menuju cahaya kebenaran yang hakiki dibawah naungan hidayahNya. Menjadi baiknya buku itu, bukan semata-mata bahasanya yang ringan dan mudah dipahami. Melainkan, lebih kepada tersentuhnya nurani pembaca untuk terus-menerus mengulang-ulang membaca buku itu, terlepas dari, apakah buku tersebut bahasanya ringan ataupun berat.

Bacalah! Lalu, renungkanlah apa yang Anda sudah baca. Dan, realisasikanlah ilmu yang Anda sudah peroleh dari membaca itu. Jika masih ada keraguan dari apa yang telah Anda baca, maka tanyakanlah kepada para ahlinya, terkait perkara yang Anda masih ragu tersebut. Dan, bersiap-siaplah Anda dihampiri peristiwa-peristiwa yang menakjubkan setelahnya.

Bacalah! Dan kini, tibalah saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari Islam secara kaffah.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Sabtu, 12 Muharram 1435 H/ 16 November 2013
Tulisan ini terselesaikan sebelum Adzan Shubuh berkumandang
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***
Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. 2011 (Cet. 13). Perjalanan Hidup Rasul yang Agung; Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ar-Rahiq al-Makhtum)
  2. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dan Dr. Ubaid ibn Salim al-Amri. 2013 (Cet. 1). Tips Belajar Agama di Waktu Sibuk. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Thalabul ‘Ilmi fi Zamanil Insyighalat)
  3. Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin. 2013 (Cet. 1). Akhlak Pencari Ilmu. Jakarta: Akbar Media (Judul asli: Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi)
  4. Dwi Budiyanto. 2012 (Cet. 3). Prophetic Learning; Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Solikhin Abu Izzuddin. 2013 (Cet. 3). Happy Ending Full Barokah. Yogyakarta: Pro-U Media
  6. Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dan Muhyidin Mistu. 2005 (Cet. 2). Al-Wafi; Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Al-Wafi; Fii Syarhil Arba’in An-Nawawiyyah)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: