Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS » Ibu, Ibu dan Ibu

Ibu, Ibu dan Ibu


Sumber: cerpennyaakido.files.wordpress.com (dengan sedikit editing)

Sumber: cerpennyaakido.files.wordpress.com (dengan sedikit editing)

“Ibuku selalu membangunganku sebelum Subuh, dan jarak waktu ke Subuh itu tidaklah terlalu dekat, lalu ia menghangatkan air untukku di musim dingin, memakaikanku pakaian, dan kemudian kami shalat sesuka kami (shalat tahajjud). Setelah itu kami berangkat ke masjid dan ibuku mengenakan khimar untuk menutupi wajahnya.”

{Imam Ahmad ibn Hanbal}
***

Ungkapan Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullaah mengenai sosok ibunya ini, saya kutip dari buku Aitam walakin ‘Uzhama’ karya Dr. ‘Abdullah al-Luhaidan dan Dr. ‘Abdullah al-Muthawwi’. Ya, tentang sosok ibu. Tentu, kita semua pun mempunyai ungkapan khusus untuk mengungkapkan sosok ibu kita masing-masing. Ya, tentang rasa cintanya yang tulus tanpa syarat kepada anak-anaknya. Dan tentang cintanya yang tak berjeda, sepanjang hayat. Berbeda dengan cinta seorang anak kepada ibunya, kadang berjeda.

Begitu mulianya sosok ibu, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam pun bersabda, bahwa surga berada di bawah kedua telapak kakinya.

Dari Mu’awiyah ibn Jahimah as-Salami, bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu.”

Beliau berkata, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab, “Ya, masih.”

Beliau bersabda, “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” {H.r. An-Nasa’i dan Ath-Thabrani, hasan menurut Al-Albani}

Sudahkah kita berbakti dengan sebaik-baiknya kepada ibu kita? Ah, saya sendiri masih merasa belum maksimal. Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla kita memohon, semoga kita dimampukan untuk berbakti dengan sebaik-baiknya. Setulus cinta.

Dan kita juga harus menyadari, bahwasanya, bagaimanapun kondisi kita hari ini, ianya tak lepas dari betapa tulusnya cinta ibu kita. Yang dengannya kita dirawat dan dibesarkan. Tentang ketulusan seorang ibu, ada sebuah ungkapan yang indah dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang ditulis dalam bukunya, Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. “Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak,” ungkap beliau dalam buku tersebut, “bernafas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada air mata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh. Tidak. Tetapi air mata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan. Agar penatnya berjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang.”

***

“Demi Allah,” tulis Asy-Syahid Hasan al-Banna rahimahullaah dalam sebuah suratnya “aku ingin sekali melewati waktu panjang menemani dan ikut merawat ibu yang masih dalam kondisi sakit. Aku selalu berfikir bagaimana aku bisa menjadikan dirinya tenang dan nyaman. Bagaimana aku bisa membahagiakan ibu? Bagaimana aku bisa menjadikannya senang dan bangga. Apakah Allah akan mengabulkan keinginanku itu?

“Ibuku,” kata Jamal al-Banna (adik Hasan al-Banna rahimahullaah), “semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya, konsisten berpegang pada kebenaran dan memiliki kepribadian yang kuat serta cerdas. Jika sudah menetapkan suatu keputusan, sulit sekali ia akan mundur dari keputusan itu.”

Seperti itulah ungkapan cinta seorang anak kepada ibunya, seraya berharap ibunya selalu berada dibawah naungan rahmatNya. Adakah kita sudah melakukannya?

Sejenak mari kita hayati, sebuah nasihat dari Al-Ustadz Dr. ‘Ali Abdul Halim Mahmud dalam kitab fiqihnya, Al-Mar’ah al-Muslimah wa Fiqhud-Da’wah Ilallaah.

“Anak,” kata beliau menasihatkan, “harus menghormati sepenuhnya kedua ibu-bapak, tidak menolak permintaannya, bahkan sesegera mungkin melaksanakan perintahnya sehingga membuat keduanya senang dan ridha.”

Selanjutnya, “Anak mendoakan kedua ibu-bapak dan memintakan kasih sayang Allah untuk keduanya, terutama ketika keduanya telah meninggal dunia.”

Ibu, betapa besarnya cintamu kepadaku. Mungkin kata inilah yang ingin disampaikan oleh Mbak Monika Retna Asih Dewi Astuti dalam puisi bertajuk “Kenanganku Bersama Ibu…” yang di muatnya dalam buku yang ditulis bersama suaminya (Solikhin Abu Izzuddin), The Great Power of Mother.

Dalam duka nestapa
Dalam perihnya kesendirian
Adakah yang sanggup menanggungnya?

Adapun engkau wahai ibu…
Ketegaranmu…
Kesabaranmu…
Ketabahanmu…
Lebih dari segalanya…

***

Selain hadits bahwa surga berada di bawah kedua telapak kaki ibu, Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam pun bersabda, bahwa ibu adalah sosok yang lebih berhak untuk kita berbakti kepadanya. Ya, dengan sebaik-baik bakti tentunya. Dan, memang seperti inilah cara Islam memuliakan sosok seorang ibu.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasul Allah, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”

Rasulullah berkata, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”

“Ibumu.” Kata Rasulullah.

Dia berkata, “Kemudian siapa?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lantas siapa lagi?”

Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam menjawab, “Ayahmu.” {H.r. Al-Bukhari dan Muslim}

Ibu, ibu dan ibu. Lalu ayah. Begitulah sabda sang Nabi, yang mengisyaratkan betapa mulianya seorang ibu.

Dalam biografinya, ‘Abdullah ibn Aun rahimahullaah sebagaimana diungkapkan oleh Abu Ishaq ar-Riqqi al-Hambali rahimahullaah, “Pernah suatu ketika ia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal tersebut itulah, maka dia menghukum dirinya dengan membebaskan dua budak.” Itulah sebentuk tanda penghormatan dan bakti seorang anak kepada ibunya. Bagaimana dengan kita?

Selanjutnya, ada sebuah teladan dari Mush’ab ibn Umair radhiyallaahu ‘anhu dan ‘Asma binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha yang ibunya masih dalam keadaan musyrik dan kafir. Ya, dari mereka kita belajar bagaimana seharusnya kita berbakti kepada ibu-ibu kita, sekalipun berbeda aqidah. Subhanallaah, betapa agungnya agama ini memuliakan sosok seorang ibu.

Mari kita renungi kisah-kisah agung ini. Dan semoga, dari kisah-kisah mereka, kita bisa meneladani akhlak-akhlaknya yang mencahaya.

Suatu ketika, sang ibu mengusir Mush’ab ibn Umair radhiyallaahu ‘anhu dari rumahnya sambil berkata, “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi!”

Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata, “Wahai bunda! Telah ananda sampaikan nasihat kepada Bunda, dan ananda menaruh kasihan kepada Bunda. Karena itu, saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha berkata, ibuku datang (ketika masih musyrik, pada saat Perjanjian Hudaibiyah), maka aku datang kepada Rasul dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku datang karena senang. Apakah aku boleh berbuat baik kepadanya?”

Nabi bersabda, “Ya, berbuat baiklah kepada ibumu.” Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pun menurunkan ayat kedelapan dari surat Al-Mumtahanah,

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” {Q.s. Al-Mumtahanah [60]: 8}

Sosoknya memang terlalu mulia. Sehingga, ketika kita berinteraksi dengan sosok yang bernama “ibu”, betapa besar pengaruhnya terhadap diri kita masing-masing. Dan, biarkanlah dua kisah berikut yang menggambarkannya. (Saya ambil dari buku The Great Power of Mother karya Solikhin Abu Izzuddin dan Dewi Astuti).

Suatu ketika, seorang wanita Barat merebahkan dirinya di kemah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullaah sambil menangis. Wanita Barat tersebut meratap dan mengadu kepadanya bahwa dua orang prajuritnya menculik anaknya. Sultan turut menangis dan segera mengirimkan orang-orangnya untuk mencari anak itu hingga ditemukan. Setelah anaknya diserahkan, wanita itu dipulangkan ke markasnya oleh Shalahuddin dengan dikawal pasukannya dalam keadaan aman dan tenang.

Kisah selanjutnya datang dari seorang Abdul Qadir al-Jailani rahimahullaah. Suatu ketika, saat masih remaja, beliau berkelana. Di tengah perjalanan ia dihadang sekumpulan perampok. Para perampok itu menggertaknya. Mereka hendak merampas harta miliknya. Karena memang itulah tugas para perampok.

Nah, saat digertak oleh gerombolan perampok itu remaja ini bergeming, sama sekali tak merinding. Tegak berdiri gagah berani. Menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri.

“Aku telah berjanji pada ibuku untuk selalu berkata jujur. Aku tak mau menghianati janjiku pada ibuku,” katanya kepada ketua divisi perampokan itu. “Aku membawa uang sebanyak 40 dinar.”

Bagaimana reaksi ketua divisi perampok itu? Mendengar jawaban jujur dan polos remaja ini, sang kepala divisi perampok pun menangis. Ia mengatakan, “Engkau takut menghianati janjimu pada ibumu? Tetapi mengapa aku tidak takut mengkhianati janjiku pada Allah?”

***

“Aku memohon kepada Allah agar memilihkan baginya apa yang terbaik bagi dunia dan akhiratnya. Sesungguhnya Ar-Rabi’ah memilih untuk terus menuntut ilmu, dia bertekad senantiasa belajar dan mengajar selama hidupnya.” Inilah ungkapan seorang ibu, sekaligus do’a kepada anaknya. Dan kini, kita pun tahu Ar-Rabi’ah ar-Ra’yi rahimahullaah menjadi ulama Madinah dari kalangan tabi’in saat usianya masih muda. Yang majelisnya dihadiri oleh Malik ibn Anas, Abu Hanifah an-Nu’man, Yahya ibn Sa’id al-Anshari, Sufyan ats-Tsauri, Abdurrahman ibn Amru al-Auza’i, Laits ibn Sa’id dan lain-lain.

Ibu. Oh, ibu. Doanya mustajab. Mari meraih ridhaNya, dengan berbakti kepadanya sepenuh cinta. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan dan memampukan kita. Allaahumma ‘aamiin.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Jum’at, 16 Shafar 1435 H/ 19 Desember 2013
Tulisan ini terselesaikan ba’da Zhuhur
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU
***

Sumber Inspirasi:

  1. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. 2012 (Cet. 13). Mereka Adalah Para Tabi’in. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayati at-Tabi’in)
  2. Dr. ‘Abdullah al-Luhaidan dan Dr. ‘Abdullah al-Muthawwi’. 2013 (Cet. 1). Mereka Yatim Tapi Jadi Orang Besar. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Aitam walakin ‘Uzhama’)
  3. Mohammad Fauzil Adhim. 2012 (Cet. 2). Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta: Pro-U Media
  4. Muhammad Lili Nur Aulia. 2010 (Cet. 1). Persembahan Cinta Istri Hasan Al-Banna. Jakarta: Tarbawi Press
  5. Solikhin Abu Izzuddin dan Dewi Astuti. 2012 (Cet. 6). The Great Power of Mother. Yogyakarta: Pro-U Media
  6. Dr. ‘Ali Abdul Halim Mahmud. 2004 (Cet. 2). Fiqih Dakwah Muslimah: Buku Pintar Aktivis Muslimah. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Al-Mar’ah al-Muslimah wa Fiqhud-Da’wah Ilallaah)
  7. Majalah Adz-Dzakiirah Vol. 7 No. 9 Edisi 51 Th. 1430/2009
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: