Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Jilbab dan Hijab Seorang Muslimah

Jilbab dan Hijab Seorang Muslimah


Sumber: sagita.student.umm.ac.id

Sumber: sagita.student.umm.ac.id

‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ada yang masuk ke rumah istri-istrimu, laki-laki baik dan juga laki-laki jahat, sekiranya engkau memerintahkan mereka mengenakan hijab. Lalu Allah menurunkan ayat hijab.”

{Muttafaq ‘alaih, dari Anas ibn Malik}
***

Pernah seorang kawan bertanya kepada saya, yang inti dari pertanyaannya itu adalah terkait hukum cadar bagi seorang muslimah. Apakah wajib atau sunnah? Lalu, tentang muslimah yang berjilbab syar’i namun tidak bercadar. Diantara keduanya, manakah yang lebih baik?

Lalu, bagaimanakah sebenarnya busana muslimah yang disyari’atkan oleh Islam? Saya pun menjawab, kedua-duanya baik, tergantung kemantapan hati masing-masing.

Alhamdulillaah, setelah membaca buku karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah yang bertajuk Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah fil Kitaabi was Sunnah dan Hijaabul Mar`ah wa Libasuha fii Ash-Shalaah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah, saya pun menemukan jawaban atas pertanyaan seorang kawan tersebut. Secara lebih ilmiah, tentunya.

***

Baiklah, mengawali tulisan ini saya ingin menghadirkan pendapat para ulama berkenaan dengan pengertian jilbab dan hijab. Karena, antara jilbab dan hijab sejatinya berbeda menurut para ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah membedakan antara pengertian jilbab dengan hijab sesuai ayatnya. Ayat jilbab -kata beliau- adalah:

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” {Q.s. Al-Ahzaab [33]: 59}

Sedangkan ayat hijab adalah:

“…Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…” {Q.s. Al-Ahzaab [33]: 53}

“Ayat jilbab,” lanjut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ Al-Fataawaa-nya, “berlaku ketika seorang wanita keluar dari tempat tinggalnya. Sedangkan ayat hijab, berlaku ketika seorang wanita melakukan pembicaraan dengan laki-laki di tempat tinggalnya.”

Mengomentari kedua ayat yang membedakan antara jilbab dan hijab yang dipaparkan oleh Syaikhul Islam, Syaikh Al-Albani dalam Ar-Radd Al-Mufhim -kitab ini, aslinya merupakan mukadimah cetakan terbaru dari kitab Jilbaabul Mar`ah– menyatakan, “Kedua ayat ini tidak menunjukkan wajibnya menutup wajah dan telapak tangan.”

Syaikh Al-Albani dalam Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah ketika menjelaskan definisi jilbab, beliau menukil definisi yang telah disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullaah dalam kitab Fat-hul Baari. “Jilbab,” tulis beliau, “adalah kain (pakaian) yang dikenakan wanita untuk melapisi baju bagian dalamnya. Biasanya, jilbab dikenakan kaum wanita ketika mereka keluar dari rumah.” Dan definisi inilah yang paling sahih menurut Syaikh Al-Albani. Selain itu, definisi ini juga ditetapkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullaah dalam Tafsiir-nya, dengan redaksi, “Jilbab adalah kain yang digunakan wanita untuk menutupi pakaian sehari-harinya dan khimar (kerudung)-nya.” Adapun definisi yang diutarakan oleh Imam Ibnu Hazm, Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir rahimahullaah, saya tidak memaparkannya disini. Karena toh, definisi jilbab yang termuat dalam Fat-hul Baari sudah disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Jadi, saya rasa itu sudah cukup untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang definisi jilbab.

Sedangkan hijab menurut beliau, adalah lebih umum daripada makna jilbab. Artinya: setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab adalah jilbab; sebagaimana yang tampak jelas.

Wajah dan Telapak Tangan Wanita Bukanlah Aurat

Dalam bukunya Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah, Syaikh Al-Albani rahimahullaah telah memaparkan dalil-dalil dan atsar-atsar sahih berkenaan tentang “Wajah dan Telapak Tangan Wanita Bukanlah Aurat”, beserta bantahan terhadap klaim yang menyatakan bahwa seluruh dalil ini berlaku sebelum turunnya perintah jilbab. Jadi dalam tulisan ini saya tidak akan memaparkannya lagi. Tapi, cukuplah beberapa pernyataan para ulama -yang beliau nukil- dan pernyataan beliau sendiri dalam mukadimah buku ini yang akan saya paparkan.

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, yang dikenal sebagai Penafsir Al-Qur`an (Tarjumaanul Qur`aan) berkata, “Wanita mendekatkan jilbabnya kepada wajahnya, bukan menutupinya.”

Abul Walid Al-Baji rahimahullaah (w. 474 H) berkata, “Tidak ada sesuatu yang boleh tampak dari wanita, kecuali lingkaran wajahnya.”

Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Sebab, kondisi yang ada menuntut dibukanya wajah untuk keperluan jual beli, serta kedua telapak tangan untuk mengambil dan memberi.” Pernyataan ini adalah komentar beliau ketika menanggapi ucapan Ibnu Hubairah Al-Hanbali rahimahullaah dalam kitabnya; Al-Ifshah, yang menyatakan bahwa tiga imam mazhab berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat. “Pendapat ini,” lanjut Ibnu Hubairah, “merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.”

Ibnu Muflih rahimahullaah dalam kitabnya; Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah berkata, “Bolehkah kita melarang wanita-wanita yang bukan mahram membuka (memperlihatkan) wajah mereka di jalanan? Jawaban atas pertanyaan ini merujuk kepada pertanyaan: Apakah wanita yang wajib menutupi wajahnya, ataukah kaum pria yang wajib memalingkan pandangan mereka dari melihat wajah wanita?”

Imam An-Nawawi rahimahullaah berkata, “Menutup wajah hanyalah sunnah yang dianjurkan baginya. Sementara itu, laki-laki wajib menundukkan pandangan dari melihat wajah wanita dalam segala kondisi, kecuali karena suatu alasan yang dibolehkan syari’at.”

Syaikh Al-Albani berkata, “Seorang wanita berhak membuka wajahnya, sekalipun ia cantik. Membuka wajah adalah haknya; ia boleh melakukannya dan tidak ada seorang pun yang berhak melarangnya dengan alasan khawatir terkena fitnah karena kecantikannya.” Pernyataan ini adalah tafsir beliau atas hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, tatkala Rasulullah melihat Al-Fadhl ibn ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu memandang kearah wanita Khats’amiyah yang cantik jelita dan wanita itu juga memandang ke arahnya, sementara wanita itu tidak dalam keadaan berihram, maka beliau hanya memalingkan wajah Al-Fadhl dari wanita tersebut.

Adapun Syaikh Hamud ibn ‘Abdullah At-Tuwaijiri rahimahullaah dalam bukunya, Ash-Shaarimul Masyhur mengklaim adanya ijma` ulama bahwa wajah wanita adalah aurat. Mengomentari hal ini, Syaikh Al-Albani mengatakan, “Klaim Syaikh At-Tuwaijiri ini tidak benar, bahkan tidak ada ulama yang pernah mengatakan demikian. Buku-buku dalam mazhab Al-Hanbali yang ia pelajari -di samping buku-buku lain- sudah cukup menunjukkan kekeliruannya.”

Bantahan beliau selanjutnya yaitu berkenaan dengan pendapat Syaikh ‘Abdul Qadir As-Sindi -mengikuti jejak Syaikh At-Tuwaijiri dan yang lainnya- yang berani menyatakan bahwa sanad hadis, “Apakah kamu berdua buta?” adalah sahih. Padahal, hadis ini dha’if menurut para peneliti hadis dari kalangan penghafal hadis (huffazh), seperti Imam Ahmad, Al-Baihaqi dan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullaah. Dan, terkait sanad hadis ini, Syaikh Al-Albani pun telah menjelaskannya dalam kitab beliau, Al-Irwaa`ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaaris Sabiil [VI/210].

Selain kedua bantahan diatas, dalam bukunya ini, beliau juga membantah kitab Al-Hijaab karya Syaikh Abul A’la Al-Maududi rahimahullaah -beliau juga berpendapat, bahwa memakai cadar itu wajib- yang pendapatnya sedikit mengalami kekeliruan menurut beliau (Syaikh Al-Albani). Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***

Adapun Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaah dalam kitabnya yang bertajuk Risaalatul Hijaab berpendapat, bahwa hukum cadar adalah wajib. Dalam kitabnya ini, beliau memaparkan dalil-dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah dan Qiyas. Selain itu, beliau juga memaparkan dalil-dalil orang yang membolehkan membuka wajah beserta bantahan terhadap dalil-dalil pembolehan tersebut.

Alhasil, setelah saya membaca tulisan beliau ini, kemudian membandingkannya dengan tulisan Syaikh Al-Albani dalam Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah, maka saya menemukan bahwa dalam kitab ini terdapat banyak kekurangan.

Pertama, penjelasan beliau sangat singat untuk masing-masing dalil. Berbeda dengan Syaikh Al-Albani, referensinya ketika menafsirkan suatu ayat, hadis dan atsar sangat luas.

Kedua, atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, “Allah memerintahkan istri-istri orang mukmin; apabila mereka keluar dari rumahnya karena suatu keperluan, agar mereka menutup wajah mulai dari atas kepala dengan jilbab dan hanya menampakkan mata saja.” Ternyata atsar ini tidak sahih menurut Syaikh Al-Albani dalam Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah dan Ar-Radd Al-Mufhim.

Bagaimana komentar beliau terkait atsar tersebut? “Atsar ini,” tulis beliau, “tidak sahih dari Ibnu ‘Abbas, karena Ath-Thabari meriwayatkannya melalui jalur ‘Ali dari Ibnu ‘Abbas. ‘Ali yang dimaksud di sini adalah Ibnu Abi Thalhah, sebagaimana Ibnu Katsir juga meriwayatkan secara mu’allaq darinya. Di samping ‘Ali banyak dikomentari oleh sebagian imam (ahli hadis), ia juga tidak mendengar langsung dari Ibnu ‘Abbas, bahkan ia tidak pernah berjumpa dengannya. Ada ulama yang mengatakan bahwa di antara ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas terdapat Mujahid (dalam sanadnya). Walaupun kita menganggap penyambungan sanad melalui Mujahid ini benar adanya, sehingga sanad hadis ini menjadi bersambung (muttashil), namun di dalam sanad tersebut terdapat perawi bernama Abu Shalih. Nama aslinya adalah ‘Abdullah ibn Shalih, dan ia memiliki kelemahan (dalam periwayatan hadis). Bahkan, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebuah atsar yang bertentangan dengan makna yang terkandung dalam atsar ini, tetapi sanadnya juga dha’if.”

Pensyari’atan Menutup Wajah

Adapun berkenaan dengan masalah pensyari’atan menutup wajah ini, Syaikh Al-Albani memaparkannya dengan singkat. Kenapa? Karena memang dalil-dalil -hadis dan atsar- pensyari’atannya tidak sebanyak dalil-dalil yang menyatakan bahwa “Wajah dan Telapak Tangan Wanita Bukanlah Aurat.”

Ketika menutup pembahasannya yang singkat terkait pensyari’atan ini, Syaikh Al-Albani menyimpulkan, “Menutup wajah bagi wanita dengan cadar atau penutup wajah lainnya yang sering kita lihat sekarang, yang biasanya dikenakan oleh wanita yang memelihara kehormatan dirinya, merupakan perbuatan yang disyari’atkan dan sikap yang terpuji, meskipun hal itu tidak diwajibkan baginya. Dengan kata lain, siapa yang mengenakannya berarti telah berbuat baik, sedangkan tidak ada dosa bagi wanita yang tidak mengenakannya.”

Dan perlu kiranya kepada para muslimah, entah yang bercadar atau tidak untuk merenungkan sebuah kaidah fikih Islam berikut: “Mencegah kerusakan itu lebih di dahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” Kaidah ini saya kutip dari mukadimah yang ditulis oleh Syaikh Al-Albani atas kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang bertajuk, Hijaabul Mar`ah wa Libasuha fii Ash-Shalaah. Dan perlu diketahui, bahwa kaidah ini juga termuat dalam kitab karya Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang bertajuk, Fii Fiqhil Aulawiyyaati. Terkait kaidah ini, beliau mengatakan, “Jika suatu perkara manfaatnya lebih besar, maka perkara itu dianjurkan dan disyari’atkan, sedangkan kerusakan kecil yang ditimbulkannya dapat dihilangkan.”

Syarat-Syarat Jilbab

Adapun syarat-syarat jilbab berikut ini, sepenuhnya saya kutip dari Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah karya Syaikh Al-Albani. Agar pengkutipannya menjadi lebih singkat, maka saya tidak mencantumkan dalil-dalil pendukungnya, dari syarat-syarat jilbab tersebut. Demi menyingkat tulisan ini.

Berikut adalah syarat-syarat tersebut:

  1. Menutupi seluruh badan selain bagian yang dikecualikan.
  2. Tidak dijadikan perhiasan.
  3. Jilbab itu harus tebal, tidak tipis.
  4. Jilbab harus longgar, tidak ketat.
  5. Tidak dibubuhi parfum atau minyak wangi.
  6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
  7. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
  8. Tidak berupa pakaian syuhrah (mencolok).

***

Berkenaan dengan masalah ini, yaitu hukum cadar bagi seorang muslimah; apakah wajib atau sunnah? Maka, -saya sependapat- hal ini sesuai dengan pernyataan tegas Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya, Hadyul Islaam Fataawi Mu’ashirah. Beliau menyatakan, “Masalah ini masih diperselisihkan oleh para ulama, baik dari kalangan ahli fikih, ahli tafsir, maupun ahli hadis, sejak zaman dahulu hingga sekarang.” Bahkan, Syaikh Al-Albani sendiri menulis kitab khusus berkenaan dengan hukum cadar ini. Apakah hukumnya wajib atau sunnah? Kitab itu beliau tulis setelah Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah diterbitkan; dengan judul Ar-Radd Al-Mufhim.

Dan tentu saja, dalam kitab Ar-Radd Al-Mufhim ini, Syaikh Al-Albani menghukumi cadar itu bukanlah sebuah kewajiban, tetapi sebuah keutamaan. Nah, masalahnya sekarang adalah masing-masing negeri Islam itu bebeda-beda kondisinya? Dan kita juga sudah memahami, bahwa Islam itu adalah agama yang fleksibel pada hal-hal yang memang bukan perkara prinsip dan tetap.

Sebagai informasi tambahan, ulama kontemporer lain yang juga mewajibkan cadar adalah Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Alu Asy-Syaikh, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Bazz -sebagaimana termuat dalam kitab Al-Fataawaa Al-Jaami’ah lil Mar`ah Al-Muslimah yang disusun oleh Ustadz Amin ibn Yahya Al-Wazan-. Kemudian Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi rahimahullaah dalam risalahnya; Ilaa Kulli Fataatin Tu’minu Billaahi dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam kitabnya; Al-Hijaab.

Namun, betapapun Syaikh Al-Albani tidak mewajibkan cadar, istri-istri beliau tetap memakai cadar. Karena hal ini adalah sebuah keutamaan menurut beliau -sebagaimana yang telah saya sebutkan-. Selebihnya, untuk keterangan lebih jelas dan lengkapnya, silahkan Anda baca sendiri kitab (buku) karya beliau tersebut. Baca juga Hadyul Islaam Fataawi Mu’ashirah -edisi Indonesia: Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2 terbitan Gema Insani Press-. Atau, kalau Anda malas membaca, silahkan langsung saja download -di website-nya radio rodja- dan dengarkan ceramahnya Ustadz Firanda Andirja, MA terkait tentang cadar ketika beliau membedah bukunya yang berjudul Ajaran Madzhab Imam Asy-Syafi’i yang Ditinggalkan. Dan tentunya, masih banyak lagi ceramah-ceramah yang lainnya berkenaan dengan masalah cadar.

***

“Seorang wanita,” kata Dr. ‘Abdullah ibn Wakil Asy-Syaikh dalam Almaratu wa Kaidul A’daai, “memiliki kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki dalam menjaga fitrahnya. Seorang pria harus memelihara karakternya sebagai laki-laki dengan tidak memakai perhiasan emas atau kain sutra. Begitu juga dengan kaum wanita yang menjaga fitrahnya dengan tidak bercampur baur dengan laki-laki atau memikat laki-laki dengan dandanan seronok.”

Katakata, “tidak bercampur baur dengan laki-laki” ini ada pengecualian. Diperbolehkan bercampur baur jika, “Tujuannya adalah kerja sama dalam mencapai tujuan yang mulia. Seperti dalam majelis ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, atau proyek kebajikan, atau jihad yang diharuskan dan sebagainya yang menuntut potensi yang prima dari dua jenis manusia serta kerja sama antara keduanya di dalam merencanakan, mengarahkan dan melaksanakan.” Ungkapan ini adalah pernyataan Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya, Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim Alladzi Nunsyiduhu.

Dan sekali lagi, hanya menegaskan kembali bahwa, “Adapun wanita yang berhijab,” kata Syaikh ‘Abdul Hamid Al-Bilali dalam Ila Ukhti Ghair Al-Muhajjabah, “maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita tersebut selain matanya saja.”

Lalu, renungkanlah dalam-dalam ungkapan dari Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Bahagianya Merayakan Cinta berikut. “Bagaimanapun juga,” tulis beliau, “wanita bukan makhluk dalam pingitan. Risalah ini turun untuk meluruskan dua kutub kekejian menyikapi wanita. Menampilkan wanita sebagi sosok yang bisa dinikmati oleh pandangan syahwati para lelaki dimanapun dan kapanpun adalah kezaliman terhadap mereka. Sebagaimana menelikung mereka di sudut ruangan yang sempit, tidak mengizinkannya keluar dan berpartisipasi dalam kehidupan publik sedikitpun, itu juga kezaliman pada sisi lain.”

Dan akhirnya, sebagaimana pesan Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menutup kitab kecilnya, Muslimatul Ghad, “Mudah-mudahan Allah memberikan ketegasan,” pesan beliau, “dalam ucap dan sikap serta pemahaman agama yang mendalam sehingga para muslimah kembali kepada hakikat yang sesungguhnya, kembali kepada kepribadian Islami, serta kembali menjadi muslimah seperti yang telah diteladankan oleh muslimah-muslimah zaman Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang salehah dan menebarkan kebaikan ke segenap penjuru dunia dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta’aala.”

 ***

Teriring shalawat kepada sang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sang penutup risalah kenabian. Saya berharap, semoga tulisan ini bisa menjadi seteguk ilmu bagi saya pribadi. Dan bagi Anda, yang berkenan membaca tulisan sederhana ini.

Dan nasihatilah saya, jika dalam tulisan ini ada kekhilafan yang tak saya sadari. Wallaahu a’lam bish-shawaab.

———-
Catatan: Untuk menajamkan dan menambah pemahaman kita berkenaan dengan masalah cadar bagi seorang muslimah, menurut saya ada dua buku yang sangat baik berkenaan dengan masalah ini. Kenapa? Sebab, kedua buku ini sangat objektif, ilmiah, cakupan pembahasannya komprehensif, dan tentunya disertai oleh dalil-dalil yang sangat kokoh. Dan semoga saja, Anda berkesempatan untuk membaca dan menelaah kedua buku yang sangat bermanfaat ini nantinya. Buku yang saya maksud adalah: 1) Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah dan Ar-Radd Al-Mufhim -yang awalnya merupakan mukadimah cetakan terbaru dari buku Jilbaabul Mar`ah– karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani 2) Tahriirul Mar`ah fii ‘Ashrir Risaalah -edisi terjemahannya berjudul Kebebasan Wanita Jilid 4, yang diterbitkan oleh Gema Insani Press Jakarta- karya Syaikh ‘Abdul Halim Abu Syuqqah.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Minggu, 24 Shafar 1435 H / 27 Desember 2013
Tulisan ini terselesaikan menjelang waktu Ashar
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU
***

Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah. 2012 (Cet. 38). Fiqih Wanita Edisi Lengkap. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Al-Jaami’ fii Fiqhi An-Nisaa`)
  2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 2013 (Cet. 6). Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah dalam Shalat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Hijaabul Mar`ah  wa Libasuha fii Ash-Shalaah, Ditahqiq dan ditakhrij oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2013 (Cet. 2). Kriteria Busana Muslimah: Mencakup Bentuk, Ukuran Mode, Corak dan Warna Sesuai Standar Syar’i. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah fil Kitaabi was Sunnah)
  4. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2002 (Cet. 1). Ar-Radd Al-Mufhim: Hukum Cadar. Yogyakarta: Media Hidayah (Judul asli: Ar-Radd Al-Mufhim)
  5. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin. 2013 (Cet. 10). Hukum Cadar. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Risaalatul Hijaab)
  6. Syaikh ‘Abdul Hamid Al-Bilali. 2013 (Cet. 16). Saudariku Apa yang Menghalangimu Berhijab? Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ila Ukhti Ghair Al-Muhajjabah, Ma Al-Mani` Min Al-Hijaab?)
  7. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. 2001 (Cet. 8). Muslimah, Harapan dan Tantangan. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Muslimatul Ghad)
  8. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. 2002 (Cet. 6). Fikih Prioritas, Urutan Amal yang Terpenting dari yang Penting. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Fii Fiqhil Aulawiyyaati, Diraasah Jadiidah fii Dhau`il Qur`aani was Sunnati)
  9. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. 2013 (Cet. 2). Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim. Solo: PT Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim Alladzi Nunsyiduhu)
  10. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 1999 (Cet. 3). Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Hadyul Islaam Fataawi Mu’ashirah)
  11. Dr. ‘Abdullah ibn Wakil Asy-Syaikh. 2003 (Cet. 7). Salah Paham Tentang Wanita. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Almaratu wa Kaidul A’daai)
  12. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 11). Baarakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta. Yogyakarta: Pro-U Media
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: