Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS » Dakwah Kepenulisan, Dulu dan Kini

Dakwah Kepenulisan, Dulu dan Kini


Sumber: cyberdakwah.com

Sumber: cyberdakwah.com

“Dalam setiap perjalanannya,” tulis Syaikh Dr. M. Muhammad Abu Syuhbah dalam Fi Rihabi as-Sunnah al-Kutubi al-Shihahi al-Sittah, “Imam Bukhari selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Di tengah malam beliau bangun menyalakan lampu dan menulis setiap yang terlintas dalam benaknya, kemudian lampu itu dimatikan. Hal ini kurang lebih dilakukan dua puluh kali setiap malam. Begitulah aktifitas Imam Bukhari, seluruh hidupnya di curahkan untuk ilmu pengetahuan.”

Ya, beginilah sekilas gambaran tentang sosok Imam Al-Bukhari rahimahullaah yang terjun dalam dunia dakwah kepenulisan pada masanya; 194-256 H. Waktunya benar-benar dihabiskan untuk mencari hadits-hadits ke berbagai negeri Islam, setelah mendapatkannya, beliau lalu menulisnya. Tentang perjalanannya ke berbagai negeri ini, beliau pernah berkata, “Saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, Bashrah empat kali, dan saya bermukim di Hijaz, dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya pergi ke Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama’ hadits.”

Sejenak, mari kita bayangkan kondisi kehidupan umat Islam saat itu. Mulai dari kondisi politik, sosial dan perkembangan ilmu pengetahuannya. Lalu, bandingkanlah dengan kondisi umat Islam pada masa sekarang. Hal ini sangat penting. Kenapa? Karena pengetahuan kita tentang kondisi umat Islam sangat berpengaruh terhadap tata cara kita berdakwah nantinya. Karena mereka adalah obyek dari dakwah kita. Dalam hal ini, dakwah lewat tulisan tentunya.

Hari ini, umat Islam mengenang Imam Al-Bukhari rahimahullaah sebagai seorang ulama’ ahli hadits. Lewat karyanya yang fenomenal, yaitu kitab Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar min Umuri Rasulillah wa Sunnanihi wa Ayyamihi, atau yang lebih dikenal dengan nama Shahiih al-Bukhari. Sebuah kitab hadits yang ditulis selama 16 tahun oleh Al-Bukhari. Yang oleh para ulama’ disepakati sebagai kitab hadits yang paling shahih.

Dari Imam Al-Bukhari, kita belajar tentang kesungguhan dan keistiqamahan dalam berdakwah lewat tulisan. Tentu, kita pun berharap bisa meneladani semangat beliau. Sehingga, tulisan yang kita telurkan benar-benar diniatkan sebagai sarana dakwah semata, untuk menyebarkan cahaya ajaran Islam. Dan bukan untuk mencari popularitas keduniaan.

Dan dari setiap tulisan yang terlahir, kita pun berharap dan berdoa sebagaimana doa Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Menyimak Kicau Merajut Makna, “Ya Allah, jadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari ini butir zarah kemuliaan, yang berantai-rantai alirkan pahala kebajikan. Ya Allah, jadikan tiap kata yang berbaris mesra di kalimatku tali-temali keberkahan, yang hubungkanku dengan ridhaMu di tiap helaan.”

***

Saat ini, begitu banyak buku-buku bernuansa keislaman yang beredar di toko-toko buku seluruh Indonesia. Dengan beragam tema yang diusungnya. Dan dengan beragam sasaran obyek pembaca yang ditargetkannya. Alhamdullillaah, kita patut bersyukur atas kondisi ini. Karena itu artinya, semakin banyak kaum muslimin yang tersadar akan pentingnya berdakwah lewat tulisan. Sehingga, buku-buku ini setidaknya dapat menyaingi buku-buku yang terlahir dari penulis non muslim yang sebagian besarnya merusak nilai-nilai Islami secara perlahan-lahan. Namun, di satu sisi, menjamurnya penulis-penulis muslim tersebut terkadang menyebabkan buku-buku yang terlahir rendah kualitasnya. Dalam artian, buku tersebut miskin pesan-pesan dakwah karena sedikitnya referensi penulisan yang digunakan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena sebagian besar penulis terlalu mementingkan metode bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Agar bukunya banyak yang membeli. Dan ujung-ujungnya, ada embel-embel bisnis. Tidak salah memang, tetapi, dalam konteks dakwah, yang lebih diutamakan itu adalah isi dari tulisan yang kita sampaikan, yaitu kebenaran cahaya Islam.

Dalam dunia dakwah kepenulisan saat ini, perlu kiranya para penulis memerhatikan dan merenungkan dalam-dalam hadits shahih berikut.

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” {H.r. Al-Bukhari [no. 1291] dan Muslim [I/10], diriwayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la [I/414 no. 962], dari Mughirah}

Adakah hubungannya hadits ini dengan dunia tulis-menulis? Tentu ada. Hubungannya yaitu, kita harus cermat dalam menulis sebuah hadits. Karena buku-buku keislaman tidak bisa terlepas dari penukilan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, yang menjadi ruh buku itu. Sesederhana apapun bahasa buku yang ditulis tersebut. Dan menurut saya, kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh seorang penulis muslim, yaitu ia mampu menyebutkan derajat hadits yang dinukilnya (tapi, hal ini tidak berlaku untuk buku-buku keislaman yang berjenis fiksi). Karena, kalau hadits yang kita gunakan tersebut palsu, dan kita tidak mengetahuinya, maka apakah kita tidak resah dan takut akan ancaman hadits ini?

Mari kita cermati nasihat Ustadz Anis Matta berikut, “Jika kita ingin menulis sebuah buku,” kata beliau sebagaimana tertulis dalam buku Demi Hidup Lebih Baik, “atau sebuah makalah sekalipun, lalu buku tersebut menembus waktu, menembus ruang, menembus pikiran, menembus hati, hal tersebut sangat ditentukan berapa banyak arti yang kita berikan pada kata-kata yang kita muat dalam tulisan tersebut.”

Seberapa banyak arti yang kita berikan pada kata-kata yang kita tulis, itulah inti dari perkataan Ustadz Anis Matta tersebut. Terkait hal ini, saya teringat dengan sosok Imam An-Nawawi rahimahullaah yang menulis kitab-kitabnya dalam rentang waktu yang begitu singkat, yaitu 15 tahun. Beliau menulis semenjak berumur 30-45 tahun. Namun, betapa banyak dan menakjubkan karya-karyanya. Kenapa bisa demikian? Inilah bedanya dakwah kepenulisan, dulu dan kini. Dulu, para ulama’ kita menulis untuk mengikat, mengabadikan dan menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan dari proses pembelajaran dan pengalaman yang sangat panjang. Sedangkan kita hari ini, terkadang menulis tanpa ilmu. Kebanyakan yang mewarnai tulisan kita, hanyalah opini-opini pribadi tanpa pijakan yang kokoh dari pemahaman kita tentang nilai-nilai Islam itu sendiri.

***

“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan diikat dengan tali kekang dari api pada hari kiamat nanti.” {H.r. Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya, dishahihkan Al-Albani dalam Shahiih Sunan Abii Dawud [no. 3106]}

Mari kita renungkan. Betapa berat ancaman yang termuat dalam hadits ini. Yaitu, bagi mereka yang ditanya tentang suatu ilmu namun menyembunyikannya. Semoga kita tidak termasuk orang yang disebut dalam hadits tersebut.

“Kebiasaan menulis,” tulis Miftachul Huda dalam buku Meraih Sukses dengan Menjadi Aktivis Kampus, “sudah pasti diikuti dengan membaca, tetapi orang yang mempunyai kebiasaan membaca belum tentu meneruskannya dalam bentuk tulisan.” Dan semoga, kita adalah orang-orang yang suka membaca dan menulis. Karena dengan begitu, setidaknya kita telah berusaha untuk membagi dan menyebarkan ilmu yang kita miliki, bukan malah menyembunyikannya. Walaupun, menulis bukan satu-satunya cara kita berbagi ilmu. Karena banyak orang yang pandai menulis, tapi belum tentu pandai menjadi penceramah atau pembicara. Hal ini adalah sesuatu yang lumrah, karena bahasa tulisan berbeda dengan bahasa lisan.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Dan jika ada kekhilafan dalam tulisan ini, maka itu murni dari ketidaktahuan penulisnya. Adapun kebenaran, maka itu datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Wallaahu a’lam bish-shawab.

***
Tulisan ini terselesaikan pukul 08. 29 pagi
Senin, 23 Rabiul Akhir 1435 H/ 24 Februari 2014
Di Aula LDK BHi UNRAM
***

Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah. 2006 (Cet. 3). Kutubus Sittah; Mengenal Enam Kitab Pokok Hadits Shahih dan Biografi Para Penulisnya. Surabaya: Pustaka Progressif (Judul asli: Fi Rihabi as-Sunnah al-Kutubi al-Shihahi al-Sittah)
  2. Anis Matta. 2008 (Cet. 2). Demi Hidup Lebih Baik. Jakarta: Cakrawala Publishing (Penyunting: Herry Nurdi)
  3. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 1). Menyimak Kicau Merajut Makna. Yogyakarta: Pro-U Media
  4. Abdul Aziz ibn Nashir Al-Jalil dan Baha’uddin ibn Fatih Aqil. 2013 (Cet. 1). Kita dan Akhlak Salaf, Potret Keseharian Generasi Teladan. Solo: Aqwam (Judul asli: Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf)
  5. Miftachul Huda. 2010 (Cet. 1). Meraih Sukses dengan Menjadi Aktivis Kampus. Yogyakarta: Leutika
  6. almanhaj.or.id Dari tulisan Ustadz Yazid ibn Abdul Qadir Jawas yang berjudul “Bolehkah Hadits Dha’if Diamalkan dan Dipakai untuk Fadhaailul A’maal (Keutamaan Amal)?” Dipublikasikan pada hari Selasa, 25 Januari 2005.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: