Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Karena Apakah Kita Mencintai?

Karena Apakah Kita Mencintai?


Sumber: sangwidy.files.wordpress.com

Sumber: sangwidy.files.wordpress.com

“Cinta yang bertitik tolak dari apa yang dicintai Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam itulah bentuk cinta yang terpuji dan akan mendatangkan pahala.”

{Ibnul Qayyim, Raudhatul Muhibbiin}
***  

Cinta adalah keterpesonaan yang menawan. Bagi para pecinta, keterpesonaan itu bisa berlangsung dalam jangka waktu yang singkat maupun lama. Hal ini tergantung kepada pemicu keterpesonaan tersebut. Jika keterpesonaan itu muncul karena tampilan fisik semata; tampan atau cantik, maka bisa dipastikan cinta seperti ini akan bertahan dalam waktu yang singkat. Tapi, jika keterpesonaan itu muncul karena kepribadian yang baik dari orang yang dicintai, maka bisa dipastikan cinta seperti ini akan bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Cinta yang terbit tersebab pesona fisik akan membuat pecintanya menjadi lemah dan rapuh, saat cintanya tertolak atau tak berketerimaan. Kenapa? Karena yang berperan besar dalam cinta ini adalah nafsu syahwat semata. Dan inilah yang terjadi pada anak pertama Nabi Adam alayhis-salaam; Qabil. Ketika Adam menyampaikan wahyu dari Allah Ta’aala untuk menikahkan Qabil dengan saudara perempuan -kembarannya- Habil dan saudara perempuannya Qabil yang lebih cantik dengan Habil, maka Qabil pun protes atas keputusan ayahnya itu. Ia tidak rela menikah dengan kembarannya Habil yang tak secantik adik kembarannya. Dan karena hal ini pula, ia menjadi orang pertama yang berbuat kezaliman dan kejahatan di muka bumi. Ya, Habil dibunuh oleh kakaknya sendiri, yang diperbudak oleh hawa nafsunya.

Sedangkan cinta yang bertumbuh tersebab pesona kepribadian akan membuat pecintanya menjadi lebih baik, karena dalam cinta itu termuat energi yang dahsyat; yaitu energi cinta yang berasal dari pancaran cahaya akhlak baik seseorang; yang mencerminkan kualitas keberagamaannya. Dan cinta yang seperti inilah yang bertumbuh dan bersemi indah pada sosok wanita teragung sejagat raya; Khadijah binti Khuwailid radhiyallaahu ‘anhaa kepada Muhammad ibn ‘Abdullah ibn ‘Abdul Muththalib; Nabi dan Rasul akhir zaman, shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Atau kalau dalam tokoh fiksi, inilah cintanya Aisha, Nurul dan Maria kepada Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; kemudian cintanya Dr. Anastasia Palazzo kepada Muhammad Ayyas dalam Bumi Cinta; kemudian cintanya Mbak Khadija kepada Abdurrachman Ghozali dalam Dan Bidadari pun Mencintaimu karya Ali Imron El Shirazy; kemudian cintanya Maryam dan Bahiroh kepada Abdurrachman Ghozali dalam Merenda Pelangi Cinta.

Dan sungguh, “…Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 148}

Pertanyaannya sekarang, karena apakah kita mencintai?

Sejenak, mari kita merenunginya. Lalu, biarkanlah sejarah dari para pecinta sejati; yaitu kisah cinta para Nabi dan Rasul, generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang membimbing dan mengajarkan kita tentang bagaimana seharusnya kita memaknai kata cinta. Karena, ketika kita mampu memaknai kata cinta dengan benar, maka pertanyaan: “Karena apakah kita mencintai?,” bukan lagi menjadi hal yang terlalu penting untuk dijawab.

Ya, lewat kacamata sejarah. Dan sumber utama yang paling terpercaya dalam mempelajari sejarah adalah teks-teks; kumpulan tulisan yang kemudian terbukukan. Jadi, ketika kita ingin mempelajari dan memaknai cinta lewat sejarah, maka membacalah!

Tentang cinta, maka terdapat begitu banyak literatur yang membahasnya -baik Islam maupun non Islam-. Apatah itu berjenis tulisan biasa, syair-syair, prosa, cerpen dan roman atau novel. Diantaranya adalah, Thauqul Hamaamah fii Ilfah wal Ullaaf karya Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (384-456 H); Al-Mahabbah wa Asy-Syauq karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H); Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhat Al-Musytaaqiin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (691-751 H); Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi (1140-1208 M); The Tragedy of Romeo and Juliet karya William Shakespeare (1564-1616 M); Al-Majdulin karya Mushthafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1924 M) -di sadur dari Sous les Tilleus karya Alphonse Karr-; The Broken Wings karya Kahlil Gibran (1883-1931 M); The Art of Loving karya Erich Fromm (1900-1980 M); Risaalah Ilaa Al-Mutahaabbain min Asy-Syabaab karya Dr. Nazhmi Khalil Abu Al-‘Atha; Mamo Zein Qishshatu Hubbin Nabaa fil Ardh wa Antsaa fis Sama karya Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi & Najib Kailani; Al-Hubb fil Qur`aan karya Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif; Fii Zhilaalil Mahabbah karya ‘Abdul Hadi Hasan Wahbi; dan Kaifa Nuhibullaha wa Nasytaaqu Ilaihi karya Syaikh Dr. Majdi Al-Hilali. Inilah beberapa judul literatur yang membahas tentang tema cinta, yang ditulis oleh beberapa ulama besar Islam dan tokoh-tokoh pemikir barat.

Adapun dari para penulis Tanah Air kita, berikut adalah beberapa buku yang membahas tentang tema cinta. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (1889-1968 M); Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka`bah karya Prof. Dr. Buya Hamka (1908-1981 M); Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta dan Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; Keajaiban Cinta dan Prahara Cinta karya Abu Umar Basyier; Serial Cinta karya Anis Matta; Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah; Apa Kabar Cinta? karya Izzatul Jannah; Sepotong Hati yang Baru, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Sunset Bersama Rosie, Berjuta Rasanya dan Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah karya Tere Liye; Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia; Cinta Ilalang karya Afifah Afra; Birunya Langit Cinta karya Azzura Dayana; Kitab Cinta & Patah Hati dan Lafaz Cinta: Serpih-serpih Cinta Makkah-Groningen karya Sinta Yudisia; Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam; Bait-Bait Cinta karya Geidurrahman El-Mishry; Catatan Sejarah Cinta karya Fikri Habibullah Muharram; dan masih banyak lagi literatur-literatur yang lainnya.

Menurut saya, buku yang cukup komprehensif dan sangat sederhana dalam pemaknaan cinta adalah buku Serial Cinta karya Ustadz Muhammad Anis Matta, Lc. Ditulis dalam bentuk esai singkat bernuansa sastra yang terangkum menjadi 73 judul. Dalam buku ini, cinta dibagi menjadi tiga lapisan; cinta misi, cinta jiwa dan cinta maslahat. Menurut penulisnya ketika membedah buku ini, beliau mengatakan, “Akar dari semua cinta itu, jika kita ingin menggubahnya menjadi energi adalah cinta misi. Jika kita mencintai segala sesuatu dari akarnya, yaitu karena cinta kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, maka cinta kita kepada manusia akan berkembang menjadi pemberian. Proses memberi, karena akarnya adalah cinta misi. Begitu juga, ketika dia turun kepada cinta maslahat. Cuma kalau dia di cinta jiwa, itu ada bedanya, sebab disitu ada unsur fisik yang berbaur. Kalau dalam cinta misi, itu tidak ada fisiknya. Itu murni spiritual. Kalau dalam cinta jiwa, ada emosi dan juga ada raganya.”

“Karena itu,” lanjut beliau, “syahwat dalam cinta jiwa itu ada. Dalam cinta misi itu, cuma ada ruh. Tapi dalam cinta jiwa, ada emosi dan ada syahwat. Dan itu harus disatukan. Sebab, tidak ada cinta jiwa kalau tidak ada syahwatnya. Tetapi syahwat yang murni tanpa cinta jiwa itu, juga tidak akan berkembang menjadi hubungan jangka panjang yang bagus. Tetapi di dalam cinta maslahat, ada akal sehat. Karena kita mencintai, adalah maslahat bagi kita semua untuk mempertahankan kehidupan.”

Terkait dengan buku tersebut, saya sendiri sering membacanya berulang-ulang. Kenapa? Karena buku tersebut sangat luas referensinya. Sehingga pemaknaannya tentang cinta menjadi sangat mendalam.

Alhamdulillaah ‘alaa kulli hal, terjawab sudah pertanyaan: “Karena apakah kita mencintai?” Sebagaimana Ustadz Anis Matta memposisikan cinta misi sebagai cinta yang paling tinggi, yaitu kecintaan yang tumbuh dan berkembang karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala, semoga kita pun mempunyai pemaknaan yang demikian. Sehingga, saat cinta menyapa relung hati kita yang terdalam, ianya tak membuat kita menjadi gila, rapuh dan lemah saat menghadapinya. Karena kita menyadari, bahwa cinta yang tumbuh kepada selainNya haruslah sewajarnya saja. Sebab kalau tidak demikian, cinta akan menjadi sebuah penyakit, bukan energi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” {H.r. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya [no. 1997] dari Abu Hurairah. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Al-Jaami’ [no. 178]}

Sungguh, cinta yang totalitas hanya patut kita persembahkan untuk Allah Ta’aala dan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam saja. Adapun ketika kita berusaha mencintai makhlukNya secara totalitas, itupun kita lakukan sebagai wujud pengejawantahan cinta kita kepadaNya. Dan, “…sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” {Q.s. Al-‘Ankabuut [29]: 69}

Akhirnya, semoga kita bisa merasakan manis dan murninya cinta kepada Allah Ta’aala, sebagaimana ungkapan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu yang dinukil oleh Muhammad Al-Hajjar dalam kitabnya, Al-Hubb Al-Khaalid. Beliau berkata, “Orang yang sudah merasakan murninya cinta kepada Allah Ta’aala, maka perasaan itu akan membuatnya sibuk dari mencintai dunia, dan mengasingkannya dari manusia.”

Atau seperti ungkapan indah berikut: “Tidak ada derajat cinta karena Allah,” demikian ungkapan Syaikh ‘Abbas As-Sisiy dalam Ath-Thariiq ilal Quluub-nya, “yang lebih agung daripada cinta yang dapat memunculkan keagungan dakwah, membangun kerangkanya, dan menegakkan daulah Islam di dunia.”

cinta adalah rasa
yang kuucap
dalam setiap desah
dan cuaca
t
ak sampai-sampai getarnya padamu

{Helvy Tiana Rosa, Sajak Februari dalam buku ‘Mata Ketiga Cinta}

Saya berharap, semoga tulisan yang sangat sederhana dan singkat ini mampu mendatangkan barakahNya. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin 

———-
Catatan: Berkenaan dengan kitab Raudhatul Muhibbiin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, ada sebuah ungkapan yang oleh beberapa penulis muslim dinisbatkan kepada beliau -Ibnul Qayyim-, padahal bukan. Kekeliruan ini terjadi, -dugaan kuat saya- karena mereka tidak menukilnya dari kitab aslinya. Ungkapan itu -selengkapnya- adalah, Al-Mada`ini berkata, “Suatu ketika, seorang lelaki mencela temannya yang sedang jatuh cinta. Orang yang dicela itu pun kemudian berkata, ‘Jika memang seseorang yang jatuh cinta dapat memilih, tentulah ia tidak akan memilih untuk jatuh cinta.’” Nah, bagaimana bisa, ungkapan yang saya bold ini -yang tidak jelas siapa yang mengungkapkannya- dinisbatkan pada Ibnul Qayyim? Walaupun memang benar ungkapan ini dimuat dalam kitab tersebut –Raudhatul Muhibbiin-. Cermatilah! Allaahu a’lam.

***
Oleh: Setiawan As-Sasaki
Tulisan ini terselesaikan ba’da Jumat
Jumat, 12 Jumadil Awwal 1435 H/ 14 Maret 2014
Bertempat di JP Institute, Gomong Square, Mataram

***
Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. Anis Matta, Lc./ Dari bedah buku karyanya yang berjudul Serial Cinta. (Format: MP3).
  3. Helvy Tiana Rosa. 2012 (Cet. 2). Mata Ketiga Cinta; Sekeranjang Puisi Pilihan Tentang Cinta. Depok: AsmaNadia Publishing House
  4. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2010 (Cet. 1). Taman Orang Jatuh Cinta; Tamasya orang yang Terbakar Rindu. Bandung: Penerbit Jabal (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  5. Muhammad Al-Hajjar. 2003 (Cet. 1). Negeri Para Pencinta; Konsep Cinta Abadi dalam Tasawuf. Bandung: Pustaka Hidayah (Judul asli: Al-Hubb Al-Khaalid)
  6. Syaikh ‘Abbas As-Sisiy. 2009 (Cet. 9). Bagaimana Menyentuh Hati; Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah. Solo: Era Intermedia (Judul asli: Ath-Thariiq ilal Quluub)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: