Setiawan as-Sasaki

Home » PUISI » Perahu Kertas di Lautan Biru

Perahu Kertas di Lautan Biru


Perahu DaunTersebab cinta, terciptalah alam semesta ini
Tersebab cinta, tertakdirlah manusia sebagai khalifah di muka bumi
Cinta adalah sebuah keajaiban yang tak terbantahkan
Ia ada dan terlahir sebagai sebuah fitrah penciptaan

Kini, rasa itu mulai tumbuh dan berkembang di taman jiwa
Keresahaan pun menghampiri seiring tumbuh dan berkembangnya
Akhirnya, si pecinta itu pun memutuskan untuk mencari cinta sejatinya

Tak terasa, waktu pun berjalan dengan begitu cepatnya
Beriramakan gejolak-gejolak yang selalu mendatangkan tanya
Dalam tanya itu, terhampar pilihan-pilihan
Antara perasaan dan logika, antara kesejatian dan kepalsuan

Dalam perjalanan selanjutnya, si pecinta sudah semakin dewasa
Ia merasa, sudah saatnya rasa itu terlabuhkan kepada seseorang
Dan mulai pada tahap inilah, terkisah sebuah kisah cinta
Tentang sebuah perahu kertas di lautan biru yang terbentang

Di awal kisah ini, ia berpasrah cinta menghampirinya
Menerimanya dengan sepenuh hati, dan menjalani setiap prosesnya
Walaupun sapaan cinta begitu sering menyentuh hatinya
Namun sejatinya, ia sedang terjatuh pada jurang cinta yang fana
Sebab, cintanya tak berakar pada kecintaannya kepada Allah Ta’ala
Cintanya hanya cinta jiwa, perpaduan emosi dan raga
Sehingga, cintanya terkelabui oleh nafsu syahwat semata
Lalu, kemanakah cinta ini akan bermuara?

Kisah cinta ini pun menjadi tak jelas arah dan tujuannya
Bagai sebuah perahu yang berlayar, namun tak pernah menambatkan jangkarnya
Karena mungkin, perahunya memang tak mempunyai jangkarnya
Karena ia adalah sebuah perahu kertas di tengah lautan biru
Maka selamanya, ia terombang-ambing di bawah kanvas langit biru
Dalam terjangan dahsyat ombak perasaan dan rindu
Akhirnya, jiwa si pecinta pun menjadi sangat rapuh

Namun, ia tak mau menyerah dengan kondisi yang dijalaninya
Lalu, bagaimanakah akhir kisah cintanya?
Wallaahu a’lam bish-shawab

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Tulisan ini terselesaikan ba’da Shubuh
Jum’at, 19 Jumadil Awwal 1435 H/ 21 Maret 2014
Bertempat di rumah tercinta, Tanjung, KLU

#Tulisan ini terinspirasi dari kisah cinta seorang sahabat

Pesan penulis teruntuk para pecinta sejati:

“Saat ruh cinta menyapa relung hatimu yang terdalam, dengan sentuhan lembut cinta. Maka izinkanlah. Maka terimalah. Maka jalani dan nikmatilah prosesnya. Karena ia adalah anugerah terindah dari Allah sebagai sebuah fitrah penciptaan. Namun, kita harus senantiasa ingat, karena apakah kita mencintai? Jika cinta kita bersumber dan bermuara karena Allah Ta’ala semata, maka sucilah jalan cinta kita. Baik yang telah usai, sedang kita jalani, dan yang akan kita arungi dengan perahu perasaan dalam dahsyatnya ombak rindu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: