Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Bibit-Bibit Fanatisme Gerakan

Bibit-Bibit Fanatisme Gerakan


Sumber: majlisrakyat.blogspot.com

Sumber: majlisrakyat.blogspot.com

“Perbedaan yang dapat dihitung takkan membatalkan kesamaan yang tak terbilang. Perbedaan cabang takkan menafikan kesatuan pada akar dan batang.”

{Salim A. Fillah}
***  

Dalam bukunya yang berjudul Al-Istii’aab fii Hayaatid Da’wah wad Daa’iyah, Ustadz Prof. Dr. Fathi Yakan mengungkapkan, “Pada hari ini Islam mendapat ujian dengan adanya para da’i yang mengajak masyarakat untuk bergabung ke dalam berbagai pergerakannya, padahal seharusnya ia mengajak kepada Islam. Ia menjelaskan kelebihan-kelebihan pergerakannya, padahal seharusnya menjelaskan kelebihan-kelebihan Islam. Inilah yang kemudian menyebabkan keterikatan seseorang hanya karena kelompok dan bukan keterikatan yang didasari oleh akidah, bahkan kadang malah keterikatan terhadap individu.”

Saya sangat sepakat dengan ungkapan Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya tersebut. Dan sepertinya, kondisi inilah yang sedang melanda berbagai pergerakan dakwah Islam yang ada di negeri kita tercinta ini -bahkan di dunia-. Maka tidak mengherankan kemudian, antara aktivis dakwah yang satu dengan yang lainnya sering sekali terjadi perselisihan dan benturan-benturan pandangan. Padahal, masalah yang diperselisihkan adalah masalah-masalah furu’iyah yang masih terbuka ruang ijtihad atasnya. Anehnya lagi, yang sering menyulut perselisihan ini biasanya adalah kader-kader baru dari masing-masing pergerakan. Yang biasanya, pemahamannya masih rendah. Bukan hanya pemahamannya tentang kesempurnaan Islam itu sendiri, tapi juga pemahamannya tentang gerakan tempatnya berkontribusi untuk dakwah ini.

Pada akhirnya, antara aktivis dakwah yang satu dengan yang lainya sering terjadi fitnah. Cela-mencela seperti sebuah kebiasaan. Debat-debat kusir pun merajalela. Khususnya di dunia maya -contohnya, ketika pemilihan anggota legislatif April 2014 yang telah lewat-. Akhirnya, ruh ukhuwah antar sesama muslim pun semakin buram dan memudar. Dan terkadang, amalan yang menurut gerakan dakwah yang satu adalah prioritas dikerjakan dalam kondisi dan situasi tertentu, menjadi tidak prioritas bagi gerakan dakwah yang lainnya. Padahal, amalan tersebut memang benar-benar prioritas menurut tuntunan syari’at. Kenapa hal ini bisa terjadi? Kemungkinan terbesarnya adalah, karena para aktivis dakwah tersebut telah mulai terjangkiti oleh bibit-bibit fanatisme gerakan. Bukan kebenaran Islam yang didakwahkan, tetapi kebenaran menurut gerakannya yang lebih diutamakan. Na’udzubillaah min dzalik.

Apa itu fanatisme? “Fanatisme (ta’ashshub) secara bahasa berasal dari kata ashabiyah. Makna ta’ashshaba ialah mengikat ikat kepala.” Demikian menurut Al-Jauhari dalam Ash-Shihah.

Adapun secara istilah, fanatisme adalah menjadikan apa yang datang dari orang tertentu, baik berupa pendapat atau ijtihad, yang kemudian dia jadikan hujjah atas semua orang. Demikian menurut Imam Asy-Syaukani dalam Adaab Ath-Thalab wa Muntaha Al-Adaab.

Terkadang, saya hanya bisa diam terpaku dan merenung sejenak melihat fenomena seperti ini. Dalam perenungan itu, saya meyakinkan kepada diri saya sendiri, semoga diri ini tidak termasuk kedalam kelompok aktivis-aktivis yang terjangkiti oleh bibit-bibit fanatisme gerakan. Karena hal ini, sadar atau tidak sadar, dapat mengurangi nilai barakah atas kerja-kerja dakwah yang telah kita ikhtiarkan. Sebesar apapun ikhtiar kita tersebut. Maka dari itu, mari niatkan kerja-kerja dakwah kita demi kejayaan Islam. Bukan demi kejayaan gerakan dakwah tempat kita beranaung.

Setiap gerakan selalu menyerukan, bahwa kerja-kerja dakwah yang dilakukan ikhlas karena Allah Ta’aala semata, demi kejayaan Islam. Tapi yang terjadi dilapangan terkadang sebaliknya. Hal ini terjadi karena pemahaman seseorang tentang dakwah berbeda-beda. Ada yang berusaha memahaminya secara komprehensif, dan ada juga yang memahaminya secara parsial. Terlepas dari gerakan manapun orang tersebut berkontribusi demi dakwah yang penuh barakah ini. Ingat! Berdakwahlah karena Islam, bukan gerakan. Karena gerakan hanyalah sarana. Jadi, kurang bijak rasanya jika hal tersebut terlalu dipermasalahkan.

Ada sebuah ungkapan menarik yang tercatat dalam buku Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf karya Ustadz ‘Abdul ‘Aziz ibn Nashir dan Baha’uddin ibn Fatih ‘Aqil. Berikut ungkapannya: “Aku senang,” kata Hatim Al-Asham rahimahullaah, “bila orang yang mendebat diriku ternyata dia yang benar. Sebaliknya aku bersedih kalau orang yang mendebat diriku ternyata salah.”

Atas segala perbedaan yang ada, tentang bagaimana seharusnya metode dakwah yang paling ideal -tentunya yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan As-Sunnah-, semoga ungkapan Hatim Al-Asham rahimahullaah tersebut bisa menjadi sebuah nasihat berharga bagi kita para aktivis dakwah. Jika ternyata metode dakwah gerakan yang satu lebih maksimal dan benar caranya dalam mensyi’arkan cahaya Islam. Maka, mari akui metode dakwah saudara kita itu sebagai sebuah anugerah Allah Ta’aala dengan tidak mengungkit-ngungkit celanya. Atas hal tersebut, sepatutnyalah kita bersyukur. Jika memang benar kita berdakwah demi kejayaan Islam semata. Adapun kesalahan-kesalahan yang terjadi dan sulit untuk dihindari oleh sebuah gerakan, maka hal itu tidak lantas mengurangi kemuliaan misi dakwah yang diusungnya. Ingat! Tugas sejati kita sesama saudara seiman adalah, senantiasa saling nasihat-menasihati jika terjadi kekeliruan.

Hal ini senada dengan ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam Majmuu’ Al-Fataawaa-nya. Beliau menjelaskan, “Tidak diragukan lagi bahwa kesalahan dalam perkara yang rumit dimaafkan bagi umat ini, meskipun kesalahan tersebut terkait dengan perkara-perkara ilmiah -akidah-. Jika tidak demikian, maka binasalah mayoritas orang-orang mulia dari umat ini. Jika Allah memaafkan orang yang tidak tahu tentang haramnya khamar karena tumbuh di daerah -yang penuh kebodohan-, sementara ia sendiri tidak menuntut ilmu, maka orang mulia yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sesuai dengan apa yang ia dapati di zamannya dan daerahnya, jika tujuannya adalah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam  semampunya, maka ia lebih berhak untuk Allah terima kebaikan-kebaikannya dan Allah memberi ganjaran atas kesungguhannya sekaligus tidak menghukumnya, sebagai realisasi firmanNya: ‘Yaa Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’ {Q.s. Al-Baqarah [2]: 286}

Berkaitan dengan masalah-masalah furu’iyah yang menjadi perselisihan di kalangan para ulama. Yang secara umum, menjadi sumber perselisihan diantara para aktivis-aktivis gerakan. Maka perlu kiranya kita memerhatikan sebuah pernyataan tegas dari Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya yang berjudul Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim.

“Sesuatu tidak haram,” tulis beliau dalam kitab tersebut, “kecuali terdapat nash yang benar dan jelas dari Al-Qur`an atau sunnah Rasul atau ijma` ulama yang kuat dan meyakinkan. Apabila tidak ada nash atau ijma`, atau terdapat nash yang jelas (sharih) namun tidak sahih, atau terdapat nash yang sahih tapi tidak sharih dalam mengharamkan sesuatu maka tidak berpengaruh apa-apa dalam kehalalannya dan masuk dalam wilayah ampunan yang luas.”

Adapun Syaikh Dr. Muhammad Al-Ghazali rahimahullaah dalam kitabnya yang berjudul Kaifa Nata’amal ma’al Qur`aanil Kariim mengatakan, “Perbedaan dalam masalah fiqhiyah, selamanya tidak boleh seorang pun menganggapnya sebagai perbedaan dan perpecahan agama, tetapi hal itu merupakan usaha-usaha ijtihad dalam rangka memahami nash. Allah Subhanaahu wa Ta’aala berfirman, Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat, pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), ‘Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’ .’ {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 105-106}

“Sebenarnya,” lanjut beliau, “pada saat para imam kita berbeda pendapat, tidak ada di antara mereka yang mengklaim dirinya telah mencapai kebenaran yang memang dikehendaki Allah Subhanaahu wa Ta’aala, tetapi justru masing-masing mengatakan, ‘Pendapat saya benar tetapi kemungkinan mengandung kesalahan, dan pendapat orang lain salah, tetapi kemungkinan juga mengandung kebenaran.’ Adanya perbedaan pendapat tidak berarti harus saling membenci, bahkan mereka tetap merendah (tawadhu’) dan menganggap bahwa usaha gigih mereka seluruhnya demi mencari ridha Allah Subhanaahu wa Ta’aala.”

Ungkapan yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Al-Ghazali ini -yang saya tandai dengan huruf bercetak miring- adalah salah satu ungkapan emas dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah.

Adapun menurut Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya yang berjudul As-Sunan Al-Ilahiyyah fii Al-Umam wa Al-Jamaa’ah wa Al-Afrad fii Syariah Al-Islaamiyyah, beliau berkata, “Perselisihan para ulama dalam bidang ijtihad tidak termasuk perselisihan yang tercela yang mengakibatkan hancurnya umat, tetapi perselisihan yang dibolehkan dan tidak tercela. Sesungguhnya perselisihan yang dicela adalah perselisihan yang mengakibatkan seseorang mengikuti (taqlid) kepada satu mazhab atas dasar fanatik (ta’ashshub) dan memusuhi orang yang mengikuti mazhab lain.”

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***

Bibit-bibit fanatisme gerakan itu adalah sebuah penyakit yang banyak menjangkiti umat Islam di zaman ini. Ia adalah salah satu penghalang bagi kita untuk mempelajari Islam ini secara menyeluruh (kaaffah). Dan, ia juga adalah perusak ukhuwah di antara sesama saudara muslim. Bahkan, senyum-memahami, tegur-sapa, dan nasihat-menasihati menjadi terasa hambar karenanya. Bagaimana bisa kita memiliki akhlak yang mencahaya kalau seperti itu? Maka, bagi seorang muslim sejati, bibit-bibit fanatisme gerakan adalah, sesuatu yang harus senantiasa dihindari semampu kita; atau bahkan dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Saya berharap, semoga tulisan yang singkat dan sederhana ini bermanfaat bagi diri saya pribadi. Dan bagi Anda yang berkenan membacanya. Adapun, jika terdapat kekeliriuan dalam tulisan ini, maka itu murni dari lemah dan kurangnya ilmu saya, terkait apa yang telah saya tulis. Namun, jika ada setitik kebenaran dalam tulisan ini, walaupun kebenaran tersebut masih redup-redup. Maka yakinilah, bahwa hal tersebut datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla, yang pantas kita terima dengan hati yang ikhlas.

***
Oleh: Setiawan As-Sasaki
Tulisan singkat dari hamba Allah yang masih rapuh imannya,
dan yang masih dijaga aib-aibnya
Selasa, 23 Jumadil Awwal 1435 H/ 25 Maret 2014
JP Institute, Gomong Square, Mataram

***
Sumber Inspirasi:

  1. Prof. Dr. ‘Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2006 (Cet. 1). Fikih Kemenangan dan Kejayaan; Meretas Jalan Kebangkitan Umat Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Fiqh An-Nashr wa At-Tamkiin fii Al-Qur`aan Al-Kariim)
  2. Prof. Dr. Fathi Yakan. 2010 (Cet. 6). Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Al-Istii’aab fii Hayaatid Da’wah wad Daa’iyah)
  3. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2013 (Cet. 2). Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim. Solo: PT Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim Alladzi Nunsyiduhu)
  4. Abdul ‘Aziz ibn Nashir Al-Jalil dan Baha’uddin ibn Fatih Aqil. 2013 (Cet. 1). Kita dan Akhlak Salaf, Potret Keseharian Generasi Teladan. Solo: Aqwam (Judul asli: Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf)
  5. Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. 2004 (Cet. 1). Sunnatullah Dalam Berbagai Aspek Kehidupan. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: As-Sunan Al-Ilahiyyah fii Al-Umam wa Al-Jamaa’ah wal Al-Afrad fii Syariah Al-Islaamiyyah)
  6. Syaikh Muhammad Al-Ghazali. 1996 (Cet. 1). Berdialog dengan Al-Qur`an; Memahami Pesan Kitab Suci dalam Kehidupan Masa Kini. Bandung: Mizan (Judul asli: Kaifa Nata’amal ma’al Qur`aanil Kariim)
  7. firanda.com (website pribadi dari Ustadz Firanda Andirja, MA). Dari tulisan beliau yang berjudul “Muwaazanah… Suatu yang Merupakan Keharusan…? Iya, dalam Menghukumi Seseorang Bukan dalam Mentahdzir.” Dipublikasikan pada hari Minggu, 05 Desember 2010.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: