Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Perbedaan Pendapat

Perbedaan Pendapat


Sumber: pustakaalatsar.files.wordpress.com

Sumber: pustakaalatsar.files.wordpress.com

“Apabila terjadi perbedaan pendapat dari para ahli tafsir dan pensyarah hadis maka amalkan apa yang menurutmu adalah benar di antara perkataan mereka yang berselisih.”

{Syaikh Muhammad Rasyid Ridha}
***

Perbedaan pendapat itu pasti terjadi. Karena ia adalah sebuah keniscayaan. Namun, di tengah perbedaan itu, tetaplah saling menghargai dan menghormati. Bukan sebaliknya, saling menyalahkan. Bahkan yang lebih parah lagi, cela-mencela. Karena hal itu adalah seburuk-buruk perangai akhlak seorang muslim kepada sesama saudaranya. Sebagaimana hadis sahih berikut: “Mencela seorang muslim adalah (perbuatan) fasik.” {H.r. Al-Bukhari [no. 48] dan Muslim [no. 64] dari ‘Abdullah ibn Mas’ud} dan “Sesungguhnya riba yang paling parah adalah memperpanjang pembicaraan dalam mencela kehormatan seorang muslim tanpa kebenaran.” {H.r. Abu Dawud [no. 4876] dari Sa’id ibn Zaid. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah [no. 3950]}

Dalam kitabnya yang bertajuk Ash-Shahwah Al-Islaamiyyah bainal Ikhtilaafil Masyruu` wat Tafarruqil Madzmuum, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, “Sangat disesalkan, pada hari ini kita menyaksikan di antara para da’i dan aktivis Islam ada yang suka mencela dan mencaci maki setiap orang yang tidak sependapat dengannya dengan menuduh kurang komitmen kepada Islam, mengikuti hawa nafsu, bid’ah, menyimpang, munafik, bahkan kafir.”

“Kebanyakan mereka,” lanjut beliau, “tidak puas dengan mengeluarkan vonis terhadap hal-hal yang bersifat lahiriah. Mereka bahkan menuduh niat dan hal-hal batin yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah. Seolah-olah mereka telah membedah dada para hamba Allah dan mengetahui segala rahasianya.” Na’udzubillaah min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari sikap seperti ini.

Padahal, dengan tegas Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullaah berkata, “Aku tidak mencela atau menyanggah ulama yang mengatakan suatu pendapat, selama ia dibangun di atas dalil, sekalipun aku tidak sependapat dengannya.” Selain itu, beliau juga berkata, “Tidak sepatutnya bagi seorang ulama (faqih) memaksa orang lain untuk mengikuti pendapat mazhabnya.” Begitulah ungkapan beliau tentang perbedaan pendapat. Tentunya, dalam masalah cabang-cabang agama (furu’), bukan pokoknya (ushuul). Semoga ada hikmah yang bisa kita petik.

Bahkan, generasi tabi’in sekelas ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz rahimahullaah pun berkata, “Aku tidak suka jika para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam tidak berbeda pendapat, karena seandainya hanya ada satu pendapat saja tentu masyarakat berada dalam kesempitan. Mereka adalah para imam panutan. Jika seseorang mengambil pendapat salah seorang dari mereka, maka itu adalah sunnah.”

Ingat! Perbedaan pendapat itu sangat luas cakupannya. Namun, secara garis besar ia terbagi menjadi dua bagian. Ada perbedaan yang diperbolehkan, yaitu dalam masalah-masalah cabang (furu’iyah). Dan ada yang dilarang, yaitu dalam masalah-masalah prinsip (ushuul). Nah, dalam wilayah perbedaan yang diperbolehkan ini berlaku hadis berikut: “Apabila seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila dia berijtihad dan ijtihadnya salah atau keliru maka dia mendapatkan satu pahala.” {H.r. Al-Bukhari [no. 7342], Muslim [no. 1716], Abu Dawud [no. 3574], Ibnu Majah [no. 2314], Al-Baihaqi [X/118-119], dan Ahmad [IV/198, 204] dari ‘Amr ibn Al-‘Ash}

Berkenaan dengan hasil ijtihad seorang ulama mujtahid, ada sebuah ungkapan bijak dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah yang termaktub dalam kitabnya, Raf’ul Malaam ‘Anil A`immatil A’laam. “Allah,” kata beliau, “memberi pahala seorang mujtahid atas ijtihad-nya, dan seorang ulama atas keilmuannya. Yaitu pahala yang tak dapat disetarai oleh orang yang bodoh, namun keduanya sama-sama mendapat ampunan, meski berbeda pahalanya.”

Oh ya, terkait dengan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah dan bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tersebut secara arif dan bijak, silahkan Anda baca buku karya Al-Ustadz ‘Abdullah ibn Qasim Al-Wasyli yang berjudul An-Nahjul Mubin li Syarhi Al-Ushuul Al-‘Isyrin -edisi terjemahan: Syarah Ushul ‘Isyrin; Menyelami Samudra 20 Prinsip Hasan Al-Banna, diterbitkan oleh PT Era Adicitra Intermedia-. Menurut saya, buku tersebut sangat bagus. Dan, bahasanya juga cukup sederhana. Selengkapnya, silahkan Anda baca sendiri buku itu.

Perbedaan-perbedaan dalam masalah furu’iyah sangat banyak jumlahnya. Bahkan, tak terhitung. Dan, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi dari dulu hingga kini; dari zaman ulama-ulama terdahulu (salaf) hingga belakangan (khalaf). Hal ini tercermin dari ungkapan salah seorang tabi’ut tabi’in; Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullaah. Beliau mengungkapkan, “Apabila kamu mendapati seseorang mengamalkan suatu amalan khilafiah, sementara pendapat yang kamu yakini berbeda dengan apa yang diamalkannya, maka janganlah kamu melarangnya.” Selain itu, Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah juga menyatakan, “Para ulama senantiasa saling berselisih satu dengan yang lain, yang ini membalas yang itu, namun kita tidak termasuk orang yang mencela seorang ulama berdasarkan hawa nafsu dan kebodohan.”

Karenanya, Syaikh Mushthafa Az-Zarqa` rahimahullaah dalam Al-Madkhal Al-Fiqhi Al-‘Am mengutarakan, “Bisa jadi perubahan waktu yang menjadi faktor perubahan hukum fikih dan ijtihad berasal dari kerusakan akhlak, hilangnya sifat wara`, dan kelemahan hati. Para ulama menyebut hal tersebut dengan kerusakan masa. Bisa juga berasal dari kemunculan sistem, sarana hukum infrastruktur, sistem administrasi, serta sarana ekonomi yang baru, dan lain sebagainya.”

Perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyah, bukanlah suatu aib atau hal yang tercela. Hal ini sesuai dengan ungkapan Syaikh Dr. Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz dalam kitabnya, Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushuul. Beliau menyatakan, “Perbedaan pendapat itu bukan aib. Aib itu ada pada fanatisme kelompok terhadap suatu pendapat dengan mengesampingkan pendapat lain.” Perbedaan seperti ini, insyaa-Allaah tidak membahayakan, “Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan hikmahNya menetapkan agar cabang-cabang agama ini bisa dipahami dengan berbagai pandangan dan pemahaman. Para peneliti berkesimpulan bahwa pandangan-pandangan itu biasanya tidak mungkin disatukan. Nash-nash yang bersifat dugaan (zhanni) itu sangat mungkin untuk melahirkan perbedaan, akan tetapi dalam cabang dan bukan dalam pokok, dalam hal yang parsial bukan yang bersifat global. Karena itu, perbedaan seperti ini tidaklah membahayakan.” Begitu ungkap Imam Asy-Syatibhi rahimahullaah dalam Al-I’tishaam-nya.

Adapun dalam Syarh Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaah mengutarakan, “Perbedaan pendapat dalam masalah cabang agama (furu’) ini tidak tercela jika ia berawal dari niat yang baik dan ijtihad, bukan dari hawa nafsu dan fanatisme, karena hal ini terjadi pada zaman Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya.”

“Sesungguhnya,” tulis Ustadz Dr. Shalah Shawi dalam Ats-Tsawabit wal Mutaghayirat, “pilihan-pilahan furu’iyah ini, apa pun hasil yang dilahirkan dari diskusi seputarnya, apakah kesepakatan atau perbedaan, ia tidak meretakkan bangunan, tidak membelah persatuan, tidak bersempit dada terhadap orang yang berbeda pendapat, dan tidak mencelanya dengan mendiamkan atau sejenisnya. Melainkan, barang siapa mengamalkan pilihannya dalam masalah itu, tidak boleh diingkari dan tidak boleh pula diputuskan hubungan. Demikian juga, barang siapa mengamalkan pilihan lain dalam masalah itu, ia tidak boleh diingkari dan tidak boleh didiamkan, selama sikapnya itu muncul dari ijtihad atau taqlid yang diizinkan.”

Bahkan, perbedaan pendapat itu adalah sunnatullaah. “Sesungguhnya,” tutur Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fii Wadaa`il A’laam, “di antara para ulama yang saya sangat senang untuk tidak berbeda pendapat dengannya adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz ibn Baaz rahimahullaah. Namun sunnatullaah telah menetapkan para ulama untuk tidak bersepakat pada satu pendapat saja pada setiap masalah yang ada. Dahulu para sahabat biasa saling berbeda pendapat, dahulu perbedaan pendapat di antara para imam merupakan hal yang biasa. Namun, perbedaan yang terjadi tersebut tidak menimbulkan masalah di antara mereka. Benar, mereka saling berbeda pendapat, namun hati mereka tetap satu.”

Namun, satu hal yang perlu kita ketahui, perbedaan pendapat bukanlah rahmatNya. Adapun redaksi hadis berikut: (1) “Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat.” (2) “Perbedaan pendapat para sahabatku bagi kalian adalah rahmat.” (3) “Para sahabatku bagaikan bintang-bintang, dengan siapa pun kalian ikuti, niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” Kesemuanya adalah hadis yang tidak sahih. Bahkan, hadis yang pertama ini adalah sebuah hadis bathil. Dan, pembahasan terkait hadis ini sudah dijelaskan secara tuntas oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah dalam kitab hadisnya yang sangat memukau, Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah wa Al-Maudhu’ah.

‘Alaa kulli hal, semoga Allah Azza wa Jalla memampukan kita untuk memahami, lalu membedakan benang tipis, antara ‘sunnatullaah’ dan ‘rahmatNya.’ Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***

Para mufassir telah meriwayatkan berkenaan dengan ayat, “…tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu…” {Q.s. Huud [11]: 118-119}

Berkenaan dengan ayat tersebut, Imam Hasan Al-Bashri rahimahullaah berkata, “Adapun orang-orang yang memperoleh rahmat Allah, mereka tidak berselisih dengan perselisihan yang membahayakan mereka.” Mengomentari hal ini, Al-Ustadz ‘Abdullah ibn Qasim Al-Wasyli mengatakan, “Maksudnya bahwa perbedaan itu terjadi dalam masalah-masalah ijtihad yang tidak ada nash tentangnya. Berkenaan dengan itu, mereka dapat dimaklumi dan tetap memperoleh ampunan.”

Karenanya, di kalangan ulama-ulama mujtahid, banyak faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat itu terjadi. Salah satunya adalah, perubahan ilmu pengetahuan. Dan hal ini adalah sesuatu yang lumrah. Oleh karena itu, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina berkata, “Di antara perubahan ilmu pengetahuan syar’i adalah, seorang ahli fikih atau mufti membangun hukum-hukum atau fatwa-fatwanya berdasarkan hadis tertentu. Namun, ia kemudian tahu bahwa hadis tersebut dhai’f, lalu akhirnya ia mengubah fatwanya.”

“Banyak buku,” lanjut Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab ini, “yang telah di-tahqiiq oleh para ulama dengan usaha keras. Mereka mensahihkan hadis-hadis yang sebelumnya di anggap dha’if dan mendha’ifkan hadis-hadis yang di anggap sahih. Seluruh hal tersebut memberikan saham dalam mengubah ilmu pengetahuan syar’i yang dimiliki oleh seorang mufti.” Dan, hal inilah yang dialami oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah dalam menetapkan derajat sanad hadis yang berkenaan dengan ‘Hukum Azan di Telinga Bayi.’ Pada awalnya, dalam Al-Irwaa`ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaaris Sabiil beliau mengatakan bahwa hadis tentang azan di telinga bayi adalah hadis hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapatnya ini menjadi hadis dha’if sebagaimana tercatat dalam Silsilah Adh-Dha’iifah [no. 321].

Masih dalam pemaparan kitab yang sama, yaitu Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina. Ketika pergi ke Mesir, Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah membuat mazhab baru yang berisi hukum-hukum baru yang berbeda dengan pemikiran sebelumnya. Sebagian orang beranggapan bahwa perubahan tersebut di sebabkan oleh faktor lingkungan. Namun, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata, “Pada hakikatnya, ia bukan perubahan lingkungan saja. Di Mesir, Asy-Syafi’i mendengar hal yang tidak pernah ia dengar sebelumnya dan melihat hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.” Sehingga, pada zaman sekarang kita berkata, “Asy-Syafi’i, berpendapat pada mazhab lama (al-qadim), Asy-Syafi’i berpendapat pada mazhab baru (al-jadid)”.

Begitupun yang terjadi pada Imam Abu Hanifah rahimahullaah. Murid-murid beliau; seperti Abu Yusuf, Muhammad, dan Zafar yang hidup setelah Abu Hanifah mengubah banyak hukum. Mereka berbeda dengan guru mereka dalam sepertiga mazhab atau lebih. Perubahan tersebut bisa disebabkan oleh perbedaan waktu dan ilmu pengetahuan.

***

Salah satu asas mendasar syari’at Islam adalah kemudahan. Tapi, bukan memudah-mudahkan. Karena, dalam kemudahan itu bersemayam sikap yang tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas, namun juga tidak menyepelekan. Berbeda dengan memudah-mudahkan, padanya bersemayam sikap menyepelekan. Hal ini sesuai dengan firmanNya dan hadis sahih berikut: “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” {Q.s. Al-Baqarah [2]: 185} dan “Mudahkanlah dan janganlah kalian menyulitkan.” {H.r. Al-Bukhari [no. 3038] dan Muslim [no. 1733] dari Abu Musa Al-Asy’ari}

Nah, semoga kandungan makna dari ayat dan hadis ini mampu membuat kita lebih bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama terhadap suatu masalah yang sama. Padahal, mereka sama-sama faqih dalam masalah tersebut. Tapi, ingatlah! Bahwa niat dan semangat kita dalam mengambil setiap pendapat ulama itu, bukan karena perasaan dan nafsu semata. Namun, hal tersebut semata-mata kita sandarkan pada Al-Qur`an dan As-Sunnah yang sahih. Sebagaimana firmanNya: “…jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” {Q.s. An-Nisaa` [4]: 59}

Dalam perbedaan-perbedaan furu’iyah itu, berlapang dadalah. Agar ikatan ukhuwah yang sebelumnya terjalin mesra dan indah diantara saudara kita, tidak menjadi rusak bahkan terputus karenanya. Dan, hal inilah yang telah diteladankan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullaah kepada kita lewat ucapannya yang sangat jelas; yang mencerminkan keluasan ilmunya. “Khilaf dalam masalah fikih cabang (furu’),” ungkap beliau, “hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak menyebabkan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.”

Akhirnya, saya berharap, semoga tulisan yang sederhana ini bisa menjadi nasihat untuk kita semua. Dan, biarlah untaian nasihat dari Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah; yang sangat indah dan bermanfaat berikut menjadi penutup tulisan ini. “Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan,” tutur beliau dengan sangat lembut, “setiap orang adalah guru bagi kita. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.” Terlebih lagi kepada sesama muslim.

Oleh karena itu, ketika suatu saat nanti kondisi menggiring kita untuk memasuki belantara perbedaan pendapat, semoga Allah Ta’aala memampukan kita untuk menyikapinya dengan tutur yang lemah lembut dan sikap yang arif nan bijaksana. Karena di jalan dakwah, kita adalah ruh-ruh yang disatukan iman. Maka, sebagai seorang muslim sejati, berkilaulah dalam perbedaan-perbedaan yang diperbolehkan itu!

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***
Oleh: Setiawan As-Sasaki
Rabu, 29 Jumadil Akhir 1435 H/ 30 April 2014
Tulisan ini terselesaikan sebelum azan Zuhur berkumandang
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***
Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Abu Ubaidah Masyhur ibn Hasan Alu Salman. 2005 (Cet. 1). Buku-Buku yang oleh Para Ulama Dilarang untuk Dibaca Jilid 1. Jakarta: Darul Qolam (Judul asli: Kutub Hadzara Minhal ‘Ulama`)
  2. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2013 (Cet. 2). Kriteria Busana Muslimah: Mencakup Bentuk, Ukuran Mode, Corak dan Warna Sesuai Standar Syar’i. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah fil Kitaabi was Sunnah)
  3. Mizan Qudsiyah, Lc. 2013 (Cet. 1). Kaidah-Kaidah Penting Mengamalkan Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
  4. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2005 (Cet. 1). Selamat Jalan Pejuang. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Fii Wadaa`il A’laam)
  5. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2009 (Cet. 1). Faktor-Faktor Pengubah Fatwa. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina)
  6. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2007 (Cet. 15). Fiqh Perbedaan Pendapat Antar Sesama Muslim. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Ash-Shahwah Al-Islaamiyyah bainal Ikhtilaafil Masyruu` wat-Tafarruqil Madzmuum)
  7. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin. 2012 (Cet. 2). Syarah Lum’atul I’tiqad: Penjelasan Tuntas Pokok-Pokok Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang Banyak Umat Islam Tergelincir di Dalamnya. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Syarhu Lum’ah Al-I’tiqad, Al-Hadi Ila Sabil Ar-Rasyad)
  8. Syaikh Abu Malik Kamal ibn As-Sayyid Salim. 2009 (Cet. 1). Pengantar Ilmu Fikih (Sejarah dan Fase Pertumbuhan Ilmu Fikih). Jakarta: Darus Sunnah (Diringkas dari: Shahiih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzhabi Al-Aimmah)
  9. Abdullah ibn Qasim Al-Wasyli. 2012 (Cet. 4). Syarah Ushul ‘Isyrin; Menyelami Samudra 20 Prinsip Hasan Al-Banna. Solo: PT Era Adicitra Intermedia (Judul asli: An-Nahjul Mubin li Syarhi Al-Ushuul Al-‘Isyrin)
  10. Dr. Shalah Shawi. 2002 (Cet. 1). Prinsip-Prinsip Gerakan Islam yang Mutlak dan Relatif. Solo: Era Intermedia (Judul asli: Ats-Tsawabit wal Mutaghayirat)
  11. Syaikh Abu Abdurrahman Ridha. 2013 (Cet. 1). Akhlak Ulama Salaf dalam Bergaul. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Adaabus Salaf fii At-Ta’amul ma’a An-Nas)
  12. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Tanpa Tahun. Membela Kehormatan Ulama. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Raf’ul Malaam ‘Anil A`immatil A’laam, Ditahqiq oleh: Ustadz Zuhair Asy-Syawisy)
  13. Syaikh Dr. Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz. 2010 (Cet. 6). Fiqih Dakwah. Solo: Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushuul)
  14. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 5). Dalam Dekapan Ukhuwah. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. muslimah.or.id Dari tulisan Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad yang berjudul Haruskah Taqlid? (Bagian 2) Dipublikasikan pada hari Rabu, 05 Oktober 2011.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: