Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Parade Para Penuntut Ilmu

Parade Para Penuntut Ilmu


Sumber: ippm-baiturrohim.blogspot.com

Sumber: ippm-baiturrohim.blogspot.com

Parade Para Penuntut Ilmu

“Ilmu yang paling mulia dan harus dimiliki oleh setiap orang adalah pengetahuan tentang Allah dan yang terkait denganNya, serta ilmu tentang kebutuhan kita kepadaNya.”

{Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Fawaa`id}

***

Karena ilmu, agama ini dipelajari. Karena ilmu, agama ini diamalkan. Karena ilmu, amal-amal yang kelihatannya sederhana menjadi istimewa disisiNya. Karena ilmu, orang-orang rela berkorban harta dan rasa lelah untuk meraihnya. Ilmu mampu menuntun kita untuk beramal sebagaimana seharusnya. Dan karenanya, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” {H.r. Ibnu Majah [no. 224] dari Anas ibn Malik. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Al-Jaami’ [no. 3913]}

Mengomentari hadis ini, Ustadz ‘Ali Muhammad Khalil Ash-Shafthi dalam Iltizam menyatakan, “Karena itu, orang muslim wajib membekali akalnya dengan ilmu secara permanen dan tidak berhenti selagi hidup.”

Selain hadis riwayat Ibnu Majah ini, alasan kuat -dan yang paling utama- kenapa kita harus menuntut ilmu adalah firmanNya yang tegas dalam Al-Qur`an, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” {Q.s. An-Nahl [16]: 78} “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” {Q.s. Al-Israa` [17]: 36}

Berkenaan dengan kedua ayat ini, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Taisiir Al-Fiqh Al-Muslim Al-Mu’aashir fii Dhau`i Al-Qur`aan wa As-Sunnah menjelaskan, “Pendengaran, penglihatan, hati atau akal fikiran, inilah ketiga instrumen utama dalam belajar.”

Dalam kitabnya yang bertajuk Luftatul Kabid ila Nashihatil Walad, Imam Ibnul Jauzi rahimahullaah menasihatkan, “Jauhilah olehmu konsentrasi beribadah namun tanpa didasari pedoman ilmu, sebab banyak sekali orang-orang zuhud dan sufi telah tersesat dari jalan petunjuk karena beramal tanpa dasar ilmu.”

“Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu,” ujar ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz rahimahullaah, “maka unsur merusaknya lebih banyak daripada maslahatnya.” Oleh karena itu, “Carilah ilmu secara serius sehingga tidak merusak ibadah, dan tekunilah ibadah secara optimal, ia tidak rusak dengan dasar ilmu, sesungguhnya siapapun yang beramal tanpa dasar ilmu, ia lebih banyak merusak daripada memberi kebaikan.” Begitu ungkap Hasan Al-Bashri rahimahullaah.

***

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Sa’id ibn Al-Musayyib pun pernah bercerita tentang dirinya, “Sungguh, aku pernah berjalan beberapa malam dan berhari-hari untuk mencari satu hadis.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Yahya ibn Sa’id pun pernah berkisah tentang dirinya, “Aku biasa keluar rumah untuk mencari hadis di pagi buta, lalu aku belum kembali lagi kecuali setelah gelap gulita.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka, ketika sang ahli tafsir dari kalangan tabi’in; Masruq ibn Al-Ajda` rahimahullaah pergi ke Bashrah untuk mengetahui tafsir satu ayat, lalu disampaikan padanya, “Orang yang mengetahui tafsirnya telah pergi ke Syam.” Maka, Masruq segera berkemas dan berangkat menuju Syam sampai ia mengetahui tafsirnya.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam ‘Abdullah ibn Al-Mubarak ketika ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, “Sampai kapan engkau mencari ilmu?” Ia pun menjawab, “Sampai mati, karena barangkali ada satu kata yang nanti bermanfaat bagiku, namun belum aku tulis.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Asy-Syafi’i ketika ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, “Seberapa besar keinginanmu pada ilmu?” Ia pun menjawab, “Aku mendengar huruf yang belum pernah aku dengar, lalu organ-organ tubuhku ingin sekiranya mereka memiliki pendengaran agar bisa menikmati suara huruf itu sebagaimana telinga-telinga menikmatinya.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Ahmad pun pernah menyatakan, “Kebutuhan manusia pada ilmu lebih besar dibanding kebutuhan mereka pada makan dan minum. Sebab, makanan dan minuman dibutuhkan satu atau dua kali dalam sehari, sementara ilmu dibutuhkan sebanyak tarikan nafas.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka sang ahli hadis Baha`uddin Al-Qasim -anak Imam Ibnu Asakir- pun bersaksi tentang sosok ayahnya, “Selama empat puluh tahun Ibnu Asakir tidak pernah menyibukkan diri kecuali dengan tasmi’ (mengulang-ngulang hafalannya), mengumpulkan -yakni, menulis dan menyusun ilmu- sampai pada waktu pergi buang hajat dan jalan-jalan.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Al-Bukhari dengan ikhlas melakukan perjalanan ke berbagai negeri hanya untuk mencari hadis, lalu menghafal dan mencatatnya.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam An-Nawawi pernah menghadiri dua belas majelis ilmu dalam sehari.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Ibnul Qayyim ikhlas masuk penjara untuk belajar secara langsung kepada gurunya; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam As-Suyuthi, dalam kitabnya yang berjudul Al-`Amru bi Ittiba` wa An-Nahyu ‘Anil Ibtida` pernah menulis, “Mempelajari ilmu itu adalah wajib, sedangkan sikap menjauhi ilmu serta ulama dapat mempertebal dominasi kebodohan.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Syaikh Al-Albani ikhlas untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan Azh-Zhahiriyyah dari pagi hingga malam hanya untuk membaca buku, lalu menelaah, meneliti dan berkomentar -bahkan menganalisis- atas buku yang ditelaah dan ditelitinya.

Dalam rombongan parade para penuntut ilmu, merekalah beberapa nama ulama yang sangat besar kontribusinya bagi umat Islam. Sebab, mereka menyadari, betapa indahnya janji Rasulullah bagi kaum muslimin yang ikhlas berlelah-lelah untuk menuntut ilmu. Sabdanya, “Barang siapa meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” {H.r. Muslim [no. 2699] dari Abu Hurairah} dan “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu, sebagai bukti keridhaan mereka atas apa yang mereka -para penuntut ilmu- kerjakan.” {H.r. Ahmad, Ashhabus Sunan, dan Ibnu Hibban, dalam Shahiih Jaami’ Ash-Shaghir [no. 6297]}

Semoga kita bisa meneladani semangat ikhlas mereka dalam menuntut ilmu. Allaahumma Aamiin.

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan -dengan santai-,” kata Yahya ibn Abi Katsir rahimahullaah sebagaimana termuat dalam mukadimah Shahiih Muslim. Kenapa? Ya, tentu saja. Karena ilmu adalah penerang bagi hati dan penghapus rasa bingung, serta kebodohan yang mengakar-ngakar di setiap sudut memori otak kita. Dan karenanya, kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh perenungan dan pemaknaan. Jadi, butuh pengorbanan yang ikhlas untuk mendapatkannya. Karena ia adalah sesuatu yang sangat berharga.

Ilmu itu bagaikan lautan yang melimpah airnya
Orang yang mengarunginya tak akan pernah mencapai ujungnya
Namun ada kemudahan untuk mencapai pokok-pokoknya
Maka prioritaskan merengkuhnya pasti engkau mendapatkan jalan
Kuasailah kaidah-kaidah dan prinsip-prinsipnya
Sebab siapa yang tak menguasainya ia tak akan meraih ilmu

{Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin}

Cobalah bayangkan, bagaimana jadinya jika Nabi Adam ‘alayhis-salaam tidak diajarkan nama-nama yang ada di bumi oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala ketika beliau diturunkan dari surga? Bayangkan pula, bagaimana Nabi Idris ‘alayhis-salaam menjadi orang pertama yang menulis dengan pena, dan manusia pertama yang menjahit baju, lalu memakainya. Bukankah itu artinya beliau telah dianugerahi ilmu? Dan bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menerima wahyu pertamanya tentang perintah untuk membaca? Ini artinya, ilmu adalah sebuah fondasi bagi segala sesuatu yang akan kita lakukan.

Ingat! Ilmu itu harus didapatkan dengan berlelah-lelah terdahulu, bukan bersantai-santai ria. Sebab, keberkahan ilmu itu, sejatinya termuat pada usaha-usaha kita untuk berlelah-lelah dalam memperolehnya. Dalam waktu yang cukup lama, tergantung kemampuan masing-masing orang dalam kecepatan proses belajarnya. Dan kadar ilmu yang kita peroleh tergantung pada sejauh mana usaha dan kesungguhnan kita untuk mendapatkannya.

Lalu, bagaimanakah dengan kondisi orang yang malas menuntut ilmu -khususnya ilmu syari’at-? Mungkin, ungkapan Imam Ibnul Mubarak rahimahullaah berikut sangat pantas ditujukan kepada mereka, “Aku heran dengan orang yang tidak menuntut ilmu, bagaimana ia mengaku mulia!” Atau juga seperti ungkapan Abu Ad-Darda` radhiyallaahu ‘anhu, “Orang yang berilmu dan yang menuntut ilmu adalah dua orang yang bersekutu dalam kebaikan, sedangkan selain mereka adalah bodoh dan tidak ada kebaikan pada mereka.”

***

“Syari’at Islam,” tulis Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina, “adalah syari’at umum, kekal dan komprehensif. Umum dalam tempat, kekal dalam waktu, serta komprehensif meliputi segala hal yang bisa memberikan kemaslahatan dan kebahagiaan manusia.”

Dalam kitabnya ini, beliau juga mengatakan, “Kita harus mengambil yang lama demi membangun yang baru. Karena, satu generasi dengan yang lainnya saling menyempurnakan sehingga umat Islam saling berkesinambungan. Satu generasi saling mengambil satu dengan yang lain. Sebaik-baik generasi terkini adalah yang mengambil manfaat dari generasi dahulu.”

Ya, syari’at Islam adalah sesuatu yang kekal dan komprehensif. Kekal, karena ia akan mengabadi sampai hari kiamat kelak. Dan komprehensif, karena ia membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia, tanpa terluput satu pun.

Bersebab hal inilah, Islam menjadi agama yang sempurna. Diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya lewat para pewaris NabiNya; yaitu para ulama. Selain Islam, maka ia adalah agama yang tidak diridhai disisiNya. Karena kesempurnaan ini pula, kita sangat menghajatkan ilmu yang mendalam -atau minimal mencukupi- untuk memahaminya. Dengan begitu, kita akan mampu mengamalkan Islam ini dengan segala pesona-pesonanya yang beriringan dengan fitrah penciptaan manusia secara menyeluruh.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” {Q.s. Al-Mujaadilah [58]: 11} FirmanNya ini menegaskan, bahwa orang-orang yang beriman dan dikarunia ilmu akan diangkat derajatnya. Ah, semoga saja kita termasuk orang-orang yang di beri ilmu itu. Aamiin.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah dalam Siyar A’laam An-Nubalaa` menerangkan, “Barang siapa mencari ilmu untuk diamalkan maka hatinya akan merendah karena ilmu dan ia menangisi dirinya sendiri. Adapun orang yang menuntut ilmu untuk menjadi guru dan fatwa serta untuk berbangga dan pamer niscaya ia akan menjadi dungu, takabur, meremehkan manusia dan dibinasakan oleh sikap bangga terhadap diri sendiri (‘ujub) serta dibenci oleh jiwanya. Sungguh, telah beruntunglah orang-orang yang mensucikannya dan telah merugi orang-orang yang mengotorinya. Yakni mengotorinya dengan perbuatan dosa dan maksiat.”

Berkenaan dengan ungkapan Imam Adz-Dzahabi ini, bagaimanakah dengan kondisi kita dalam menuntut ilmu hari ini, terkhususnya ilmu syari’at? Ah, semoga saja kita dijauhkan dari berlelah-lelah menuntut ilmu tapi tidak mengamalkannya. Atau yang lebih parahnya lagi, kita mengamalkan ilmu tersebut, tetapi dalam hal keburukan yang terkadang tidak kita sadari. Apalagi menuntut ilmu hanya untuk meraih gelar, dan hanya berbangga-bangga dengannya. Sungguh, betapa meruginya diri kita jika hal demikian yang terjadi.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah dalam Al-Fawaa`id-nya menjelaskan, “Ilmu adalah memindahkan gambar sesuatu yang diketahui dari luar dan menetapkannya di dalam jiwa. Sedangkan amal adalah memindahkan pengetahuan dari jiwa dan menetapkannya di luar. Jika apa yang ditetapkan di dalam jiwa itu sesuai dengan kenyataan, maka itulah yang disebut dengan ilmu yang benar. Kebanyakan pengetahuan yang ditetapkan dalam jiwa tidak memiliki wujud yang hakiki, dan orang yang menetapkan itu menganggap apa yang ada pada dirinya itu sebagai ilmu, padahal tidak memiliki hakikat. Kebanyakan ilmu manusia seperti itu.”

Sebaik-baik ilmu ialah yang mampu mengantarkan kita untuk meraih hidayahNya. Kenapa? Karena ilmu itu akan merubah kita menjadi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang paling mulia disisiNya. Dengannya, dunia yang fana ini, beserta surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya itu akan kita raih. Jika kita benar-benar mau berfikir, merenungkan dan menjalankan syari’at yang dibawa oleh RasulNya. Adapun ilmu yang kebanyakan hanya terasa manfaatnya di dunia saja, maka itu adalah kefanaan. Yang oleh Ibnul Qayyim disebut tidak memiliki hakikat. “…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” {Q.s. Al-Hujuraat [49]: 13}

***

‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Kemuliaan dunia itu diperoleh dengan harta, sedangkan kemuliaan akhirat diperoleh dengan amal saleh.” Dan amal saleh tidak dapat kita lakukan, kecuali kita memiliki ilmu tentangnya. Setelah ilmu, kita juga harus ikhlas dalam beramal. Lalu, agar amal saleh kita diterima disisiNya, maka ianya harus berkesesuaian dengan yang dituntunkan oleh As-Sunnah Ash-Shahiihah.

‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu menjelaskan, “Pahala pencarian seorang pencari ilmu adalah surga dan balasan pencarian seorang pemburu maksiat adalah neraka.” Maka, jika kita bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, ingatlah petuah bijak ini. Semoga kita dapat bersemangat kembali.

Yahya ibn Mu’adz Ar-Razi rahimahullaah mengutarakan, “Ilmu itu adalah petunjuk amal. Pemahaman adalah wadah ilmu. Akal itu pemandu kebaikan. Hawa nafsu itu wahana dosa. Harta kekayaan itu pakaian orang takabur. Dunia adalah pasar akhirat.”

Wahb ibn Munabbih rahimahullaah memaparkan, “Ilmu itu adalah sahabat orang yang beriman, kemurahan hati adalah penolongnya, akal adalah petunjuknya, amal perbuatan adalah penjaganya, kesabaran adalah panglima perangnya, keramahan adalah bapaknya, dan kelembutan adalah saudaranya.”

Imam Malik ibn Anas rahimahullaah mengungkapkan, “Mencari ilmu adalah keindahan yang sangat indah, tapi lihatlah apa yang mengharuskan engkau, mulai pagi sampai sore maka tetapilah hal itu.”

Dalam bukunya yang sangat indah nan memesona; Lapis-Lapis Keberkahan, Ustadz Salim A. Fillah bertutur, “Ilmu adalah pengikat kebajikan. Di mana ilmu hadir, segala hal menjelma menjadi berkah yang mengalir. Ketika ilmu hadir, maka hati berjuang meraih takwa. Ruh, pikiran, dan seluruh anggota badan dikerahkan untuk merajutnya dari benang-benang kesalehan. Ketika ilmu hadir, maka harta merunduk padanya, bekerja dalam bimbingannya, menghasilkan manfaat dan faedah yang tumpah ruah ke berbagai arah.”

Dalam bukunya yang berjudul Integrasi Politik dan Dakwah, Ustadz Anis Matta mengungkapkan, “Jangan karena kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek.” Oleh karena itu, mari sadari diri, bahwa kita diciptakan memang dalam keadaan bodoh sebagaimana firmanNya yang terabadikan dalam Al-Qur`an surah Al-Ahzaab [33] ayat ke-72. Karenanya, kita sangat menghajatkan untuk senantiasa terus belajar, belajar dan belajar.

 ***

Maka sebagai seorang muslim sejati, dalam rombongan parade para penuntut ilmu, teruslah untuk bersemangat dalam menuntut ilmu hingga ruh kita terlepas dari jasad. Sebab, “Adalah generasi salaf sepakat,” ujar Imam An-Nawawi rahimahullaah, “bahwa sibuk mencari ilmu lebih baik daripada sibuk mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, baik shalat, puasa, bertasbih dan ibadah-ibadah fisik lainnya.”

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki

***
Sumber Inspirasi:

  1. ‘Ali Muhammad Khalil Ash-Shafthi. 2002 (Cet. 1). Iltizam: Tegar Dalam Beriman. Jakarta: Darul Falah (Judul asli: Iltizam)
  2. Anis Matta. 2008 (Cet. 3). Integrasi Politik dan Dakwah. Jakarta: Sekretariat Jenderal Bidang Arsip dan Sejarah DPP PKS bekerjasama dengan Arah Press
  3. Imam Ibnu Al-Jauzi. 2002 (Cet. 1). Kepada Putra-Putriku: Renungan Pesan Menjalani Kehidupan Penuh Arti. Yogyakarta: ABSOLUT (Judul asli: Luftatul Kabid ila Nashihatil Walad, Ditahqiq oleh: Ustadz ‘Abdul Harits Asyraf ibn ‘Abdul Maqsud Ibnu ‘Abdurrahim)
  4. Imam As-Suyuthi. 2002 (Cet. 1). Ikuti Sunnah Tinggalkan Bid’ah. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Al-`Amru bi Ittiba` wa An-Nahyu ‘Anil Ibtida`)
  5. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2006 (Cet. 4). Al-Fawa`id, Menuju Pribadi Takwa. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Al-Fawaa`id)
  6. Salim A. Fillah. 2014 (Cet. 1). Lapis-Lapis Keberkahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  7. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2001 (Cet. 1). Fikih Taysir: Metode Praktis Mempelajari Fikih. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Taisiir Al-Fiqh Al-Muslim Al-Mu’aashir fii Dhau`i Al-Qur`aan wa As-Sunnah)
  8. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2009 (Cet. 1). Faktor-Faktor Pengubah Fatwa. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina)
  9. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Munajjid dan Dr. Ubaid ibn Salim Al-Amri. 2013 (Cet. 1). Tips Belajar Agama di Waktu Sibuk. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Thalabul ‘Ilmi fii Zamaanil Insyighalat)
  10. Yazid ibn Abdul Qadir Jawas. 2011 (Cet. 4). Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Bogor: Pustaka At-Taqwa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: