Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Saat Cinta Menyapamu

Saat Cinta Menyapamu


Sumber: pakarcinta.com

Sumber: pakarcinta.com

“Tak ada sesuatu pun yang lebih aku takutkan daripada wanita.”

{Sa’id ibn Al-Musayyib}
***

Adalah sebuah anugerah terindah ketika kita disapa oleh sentuhan lembut cinta. Karena ia adalah fitrah setiap anak Adam. Maka, jawablah sentuhan lembutnya itu dengan mesra sebagaimana yang dituntunkan syari’atNya. Tak ada yang salah. Namun, kita harus senantiasa berwaspada, jangan sampai cinta yang memperbudak kita. Karena, ketika hal itu yang terjadi, maka terkotorilah kejernihan cinta itu sendiri.

Saat cinta menyapamu, maka kendalikanlah kekuatannya. Karena, sejauh mana kita mampu mengendalikannya, sejauh itu pula kejernihan cinta akan terjaga. Jadi, “Kekuatan cinta,” tulis Ustadz Fadlan Al-Ikhwani dalam buku Aku Pingin Nikah, “terutama di usia muda ibarat panas matahari yang membakar di tengah hari. Pancaran sinarnya kuat. Daya teriknya juga maksimal sehingga kalau sampai tidak diarahkan bisa membawa kerusakan.”

Masih dalam buku yang sama. “Saat virus cinta melanda,” lanjut beliau menjelaskan, “saat gejolak jiwa mendera, bila tidak kita isi dengan aktivitas kebaikan, aktivitas kejelekan yang akan kita lakukan.” Maka, saat cinta menyapamu, janganlah sampai cintamu kepadaNya tergeser oleh cinta kepada makhlukNya. Sebab, hati dan jiwamu akan menjadi melankolik dan rapuh; tak tentu arah.

Jika Anda belum yakin dengan hal itu, maka biarkanlah Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah dalam Raudhatul Muhibbiin-nya menjawab. Apa kata beliau? “Setiap kenikmatan,” katanya, “yang mendatangkan penderitaan atau menghalangi kenikmatan yang lebih sempurna di akhirat, bukanlah kenikmatan yang hakiki. Meskipun kenikmatan tersebut dapat membuai jiwa. Apalah artinya kenikmatan suatu makanan yang membuai lidah, tetapi di dalamnya terdapat racun yang akan menghancurkan ususnya lalu membinasakannya? Demikianlah gambaran kenikmatan yang direguk orang-orang kafir dan fasik di muka bumi yang pada hakikatnya berseberangan dengan kebenaran.”

Oleh karena itu, “Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah maka dia telah menyempurnakan imannya.” {H.r. Abu Dawud dalam Sunan-nya [no. 4681], Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir [no. 7613, 7737] dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [XIII/54] dari Abu Umamah. Dihasankan oleh Syaikh ‘Ali ibn Hasan Al-Halabi dalam Takhriij Ad-Daa` wad Dawaa`}

Sebab, “Barang siapa menuruti cinta dan benci,” ujar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan dalam Al-`Amru bil Ma’ruuf wan Nahyu ‘Anil Munkar, “tanpa petunjuk dari Allah dan RasulNya maka ia tergolong orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Bahkan pada akhirnya ia bisa menuhankan hawa nafsunya.”

“Sesungguhnya,” demikian kata Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Al-Mahabbah wa Asy-Syauq, “orang yang mencintai selain Allah, tanpa dihubungkan kepadaNya sama sekali, maka kecintaan itu hanya terjadi lantaran kebodohan dan kekurangannya mengenal Allah secara dekat. Mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam juga sangat terpuji. Sebab kecintaan itu sebenarnya merupakan bukti kecintaan kepada Allah.”

Dan, begitulah adanya cinta. Ia adalah kenikmatan yang tak terkira batasnya, saat ianya menyapa relung hati kita yang terdalam, dengan sentuhan lembut cinta. Hanya kepada Allah Ta’aala kita memohon pertolongan, semoga Dia memampukan kita untuk mengendalikan kekuatan dahsyatnya.

***

Karenanya, saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

Bahwa, “Kesetiaan sejati bukanlah padamu, bukanlah pada manusia. Tapi kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan syari’at-syari’atNya.” Begitu kekata Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Fokuskan cintamu pada Allah, kau pasti akan cinta juga pada manusia. Kalau kau fokus cinta pada manusia, belum tentu cinta Allah.” Demikian nasihat indah dari Ustadz Habiburrahman El Shirazy dalam salah satu tweet-nya. “Sebab,” lanjut beliau dalam prolog novel Bumi Cinta-nya yang sangat memesona, “banyak orang yang di dunia ini saling mencintai, mengasihi, dan berkasih-kasihan, kelak di akhirat mereka justru saling bermusuhan. Kecuali orang yang membangun cintanya atas landasan takwa karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala.”

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Takkan pernah seseorang merasa sejatinya cinta, sebelum Allah ia cintai melebihi apapun di dunia.” Demikian ungkapan Ustadz Felix Y. Siauw dalam salah satu tweet-nya. Dan juga, seperti yang beliau katakan dalam buku Udah Putusin Aja!, “Jika cinta bergantung pada paras, waktu akan memutuskan cinta seiring bertambahnya usia.”

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Semua cinta yang membimbing seseorang kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, itulah cinta yang sebenarnya. Semua cinta yang mengantarkan seseorang untuk menaati Allah, itulah cinta yang hakiki. Karena, cinta adalah kesucian, pengorbanan, keteguhan dalam memegang janji, dan keikhlasan dalam melaksanakan perintahNya.” Demikian pemaparan Ustadz Armen Halim Naro rahimahullaah dalam buku Buhul Cinta-nya.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

Ya Allah, jika aku jatuh cinta…cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu…agar bertambah kekuatanku untuk mencintaimu…” Begitu salah satu bait syair Asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullaah ketika ia jatuh cinta.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Ingatlah kaum hawa, sekali engkau berani memberikan tanganmu, jangan salahkan jika mulut, tubuh serta kehormatanmu pun akan disentuh oleh lelaki yang belum tentu menikahimu.” Demikian wanti-wanti Kang Setia Furqon Kholid kepada para muslimah dalam bukunya, Jangan Jatuh Cinta! Tapi Bangun Cinta.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.” Begitu ungkap Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah dalam romannya yang bertajuk Di Bawah Lindungan Ka`bah.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Jalan hidup kita biasanya tidak liniear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks dimana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Disitu konsistensi diuji. Disitu juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejewantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.” Demikian tulis Ustadz Anis Matta dalam Serial Cinta-nya.

***

Saat cinta menyapamu, ingatlah! Jadikan syari’atNya sebagai penuntunmu. Agar cintamu bersemi indah, dan dilimpahi semerbak keberkahanNya. Sehingga, cintamu pun berpondasikan cahaya iman, yang kekal sampai di SurgaNya. Sebagaimana firmanNya, “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam Surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” {Q.s. Ath-Thuur [52]: 21}

Dan ingatlah hadis ini selalu; dalam ingatan dan hati sanubarimu, bahwa, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka, hendaklah kamu pilih wanita yang taat beragama -baik keislamannya-, niscaya kamu akan beruntung.” {H.r. Al-Bukhari [no. 5090] dan Muslim [no. 1466] dari Abu Hurairah}

Terkait penjelasan hadis ini, maka ungkapan berikut adalah salah satu tafsirnya kata Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang. “Dahulu,” ungkap Mubarak ketika ditanyai oleh sang majikannya terkait ihwal putrinya yang dilamar banyak pemuda, “orang jahiliah menikahkan puterinya atas dasar keturunan. Orang Yahudi menikahkan atas dasar harta. Dan orang Nasrani menikahkan atas dasar eloknya paras. Sudah selayaknya seorang mukmin hanya menikahkan atas dasar agama.” Mubarak disini adalah, ayah dari Imam ‘Abdullah ibn Al-Mubarak rahimahullaah.

Karenanya, dalam buku Kupilih Engkau karena Allah, Jauhar Al-Zanki pun bersyair:

Cinta selalu punya alasan
Cinta karena harta awal kesengsaraan
Cinta karena keturunan bakal kehinaan
Cinta karena rupa bibit kecelakaan
Cinta karena agama modal keselamatan
Cintai kekasih dengan keimanan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan
Semoga tercurah ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan dalam kehidupan

***

Sebagai seorang muslim sejati, saat cinta menyapamu, maka tuntunlah hati dan jiwamu untuk mencintai segala sesuatunya secara wajar. Karena, inilah yang disebut dengan cinta yang fitrah. Dan pastikan juga, bahwa cintamu hanya tertuntun oleh lentera syari’at-syari’atNya yang mulia nan bercahaya.

 

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. Armen Halim Naro. 2014 (Cet. 1). Buhul Cinta. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
  3. Fadlan Al-Ikhwani. 2011 (Cet. 1). Aku Pingin Nikah. Yogyakarta: Pro-U Media
  4. Felix Y. Siauw. 2014 (Cet. 18). Udah Putusin Aja!. Bandung: Mizania
  5. Habiburrahman El Shirazy. 2013 (Cet. 1, Edisi Revisi). Bumi Cinta. Semarang: Pondok Pesantren Basmala
  6. Imam Abu Hamid Al-Ghazali. 1995 (Cet. 1). Rindu & Cinta Kepada Allah. Jakarta: Pustaka Panjimas (Judul asli: Al-Mahabbah wa Asy-Syauq)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 3). Ad-Daa` wad Dawaa`: Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Ad-Daa` wad Dawaa`, Ditahqiq oleh: Syaikh ‘Ali ibn Hasan Al-Halabi)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 1). Raudhatul Muhibbiin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jakarta: Qisthi Press (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  9. Jauhar Al-Zanki. 2013 (Cet. 1). Kupilih Engkau karena Allah. Yogyakarta: Pro-U Media
  10. Dr. Buya Hamka. Di Bawah Lindungan Ka`bah. File Format PDF (Jumlah halaman: 30)
  11. Salim A. Fillah. 2011 (Cet. 6). Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
  12. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 2002 (Cet. 1). Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Al-`Amru bil Ma’ruuf wan Nahyu ‘Anil Munkar)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: