Setiawan as-Sasaki

Home » 2015 » March

Monthly Archives: March 2015

Para Pecinta Sejati


Para Pecinta Sejati

Sumber: mobypicture.com

“Untuk memangkas sebatang kayu diperlukan kapak yang tajam. Untuk memangkas gejolak syahwat agar tidak liar, memangkas dosa-dosa pandangan tanpa harus membenci pandangan itu adalah dengan jalan agung, pernikahan.”

{Fadlan Al-Ikhwani, Aku Pingin Nikah}
***

Cinta adalah sesuatu yang rumit. Serumit makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dan terkadang pula sangat sederhana. Sesederhana orang-orang yang mampu menaklukkan dan menjadi tuannya cinta. Bukan malah diperbudak cinta. Dan pada rumit atau sederhananya, disitulah sebenarnya pesona cinta itu bersemayam, mengakar dan tumbuh menjadi pohon cinta. Karenanya, jika benih cinta yang tumbuh pada diri kita bersumber dan bermuara tersebab rasa cinta kita kepadaNya, maka bersyukurlah. Sebab, memang seperti itulah cinta yang agung dan mulia; yang dijalani oleh para pecinta sejati.

Cinta adalah sebuah keniscayaan yang Allah Ta’aala karuniakan kepada hamba-hambaNya. Karenanya, jika hati-hati kita didera dan dirundung oleh cinta, maka terimalah dan nikmati saja prosesnya. Biarkanlah ia mengalir dengan segala pesona dan keajaibannya. Namun, senantiasalah ingat, jadikan syari’at sebagai penuntunnya. Agar cinta yang bertumbuh diridhai olehNya. Dan sungguh, “Jika cinta dibangun dengan keselarasan dan keserasian,” ujar Ibnul Qayyim rahimahullaah dalam Raudhatul Muhibbiin-nya, “maka ia pasti akan menjadi kokoh dan kuat. Cinta yang kokoh kuat seperti itu tidak akan pernah dapat dihancurkan kecuali oleh sesuatu yang lebih kuat dari sebab kemunculannya.”

Para pecinta sejati selalu mempunyai cara terbaik untuk menuangkan rasa cintanya, ketika mereka dirundung oleh badai rindu dan ombak perasaan yang sangat dahsyat. Dan memang seperti itulah sikap para pecinta sejati. Mereka sadar dan sangat memahami, bahwa cinta yang mengalir dan bergejolak di dalam dadanya harus bermuara hanya pada satu tempat saja; yaitu muara kecintaan kepadaNya.

Sebab, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis qudsi; “Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, ‘KecintaanKu wajib untuk orang yang saling mencintai karena Aku, orang yang saling bersahabat karena Aku, orang yang saling mengunjungi karena Aku dan orang yang saling berkorban karena Aku’.” {H.r. Muslim [no. 2567] dari Mu’adz ibn Jabal}

Dan salah satu contoh sederhana nan nyata dari para pecinta sejati itu adalah, sosok Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah sebagaimana diabadikan oleh anaknya yang kelima -Irfan Hamka- dalam buku Ayah, Kisah Buya Hamka.

Berikut kisahnya:

“Dalam hal kuatnya Ayah membaca Al-Qur`an,” tutur Irfan Hamka dalam bukunya tersebut, “suatu kali pernah aku pertanyakan kepada Ayah.”

“Ayah,” katanya, “kuat sekali Ayah membaca Al-Qur`an?” Tanya Irfan Hamka dengan rasa penasaran kepada Ayahnya.

“Kau tahu, Irfan,” jawab Ayahnya dengan lembut dan penuh cinta, “Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung -bersyair-. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah.”

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” Tanya Irfan Hamka dengan penuh rasa penasaran.

Ayahnya pun menjawab, “Ayah takut,” katanya dengan penuh kelembutan, “kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu.”

“…Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya…” {Q.s. Al-Maa`idah [5]: 35}

“…Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” {Q.s. Ath-Thalaaq [65]: 2}

“Maka tiap orang cinta pada selain Allah,” demikian nasihat Prof. Dr. Buya Hamka dalam Akhlaqul Karimah, “tandanya dia sakit. Derajat sakitnya ialah sekedar cintanya itu pula, kecuali kalau cintanya kepada sesuatu itu untuk menolong menguatkan cintanya kepada Allah dan agamanya. Ketika itu dia tidak bernama sakit lagi.”

Oleh karena itu, “Kami memohon kepada Allah,” demikian tutur Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di ketika memanjatkan doanya dalam Bahjah Quluub Al-Abraar wa Qurrah ‘Uyuun Al-Akhyaar, “agar Dia melimpahkan cinta bagi kita terhadapNya, terhadap orang-orang yang dicintainya, dan pada perbuatan yang dapat mendekatkan diri kita kepadaNya. Sesungguhnya Allah Maha Baik lagi Maha Mulia. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita.”

Ya Tuhan,
Jika cinta adalah ketertawanan
Tawanlah aku dengan cinta kepadaMu
Agar tak ada lagi yang dapat menawanku

{Mohammad Fauzil Adhim, Mencapai Pernikahan Barakah}

***

Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni dalam kitabnya yang berjudul Rahmatan lil ‘Aalamiin mengisahkan:

Ketika Imam Malik membacakan kitab hadisnya, Al-Muwaththa`; tiba-tiba kalajengking menyengatnya sebanyak tiga belas kali. Tetapi ia tidak menghentikan pembicaraannya. Orang-orang kemudian berkata kepadanya, “Kami melihat wajahmu telah berubah.” Imam Malik menjawab, “Kalajengking menyengatku ketika aku sedang membaca hadis Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.” Mereka berkata, “Lalu kenapa engkau tidak menghentikan pembicaraan?” Ia menjawab, “Aneh sekali kalian ini! Bagaimana aku bisa menghentikan membaca hadis sang kekasih -Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam– hanya untuk menolong diriku sendiri -dari sengatan kalajengking-.”

Merenungi kisah singkat yang menakjubkan dari Imam Malik ini, saya jadi teringat dengan firmanNya yang agung dalam Surah Al-Ahzaab [33] ayat ke-6. Allah Ta’aala berfirman, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri…”

“Ayat ini,” demikian komentar Ibnul Qayyim dalam Risaalah Tabuukiyyah-nya, “menjadi sebuah dalil bahwa barang siapa kecintaannya terhadap Rasulullah tidak lebih utama daripada kecintaannya terhadap dirinya sendiri, maka dia tidak termasuk orang-orang yang beriman.”

***

Dalam kitabnya yang berjudul Taariikh Al-Khulafaa`, Imam Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullaah mengisahkan:

Furat ibn As-Saib berkata, “‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada istrinya Fathimah binti ‘Abdul Malik -dia memiliki perhiasan berupa mutiara yang sangat indah-, ‘Pilihlah olehmu, kau kembalikan harta perhiasan ini ke Baitul Mal atau aku kau izinkan meninggalkanmu untuk selamanya. Sebab, aku sangat benci, jika aku, kamu dan perhiasan ini (mutiara-mutiara) berada dalam satu rumah.’”

Istrinya menjawab, “Aku memilih kamu daripada mutiara ini, bahkan jika lebih dari itu pun aku tetap memilih kamu.”

Kemudian dia -‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz- memerintahkan salah seseorang untuk membawa perhiasan istrinya itu ke Baitul Mal.

Saat ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz meninggal dan Yazid ibn ‘Abdul Malik menggantikannya, dia berkata kepada Fathimah, “Jika kau mau, aku akan ambil perhiasan-perhiasanmu itu kembali.”

Fathimah berkata, “Tidak, tidak mungkin itu aku lakukan. Bagaimana mungkin aku menyatakan rela pada saat dia masih hidup namun aku menarik kerelaanku di saat dia sudah meninggal.”

Inilah teladan kita yang sangat memesona; ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz namanya. Dulu, sebelum diangkat menjadi khalifah, kehidupan beliau tidak pernah kekurangan; senantiasa dalam ketercukupan. Namun kini, ketika ia telah menjadi Amiirul Mu`miniin, harta itu ternyata sangat menggelisahkan bagi dirinya. Sebab, ia menyadari, bahwa hal inilah yang akan membuat hisabnya kelak di akhirat menjadi sangat berat. Oleh karena itulah, ia berusaha untuk merubah total gaya hidupnya; dari yang serba ketercukupan menjadi sangat sederhana. Inilah sebuah sikap dari seorang hamba yang disesaki rasa takut kepadaNya. Maka inilah takwa yang sesungguhnya, dari seorang hamba yang sangat merindukan rumah sejatinya di surga.

Berkenaan dengan kisah kesetiaan istrinya; yaitu Fathimah binti ‘Abdul Malik atas sikap yang diambilnya ketika menjadi khalifah, saya jadi teringat dengan kata-kata indah dari Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullaah yang beliau ungkapkan dalam bait-bait syairnya. Ungkapan indah ini dinukil oleh Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif dalam kitabnya, Al-Hubb fil Qur`aan.

Engkau durhakai Tuhan, padahal engkau menyatakan cinta kepadaNya
Ini demi hidupku, menurut logika, sungguh sangat tercela
Sekiranya cintamu benar, pasti engkau mematuhiNya,
Karena orang yang cinta
Patuh setia kepada yang dicintai

{Imam Ibnu Al-Mubarak}

***

Saudaraku, sudah kenalkah Anda dengan sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang bernama Ikrimah ibn Abu Jahal? Kemudian, tahukah Anda bagaimana sepak terjangnya ketika perang Yarmuk? Ah, tapi saya tidak ingin membahas hal ini sekarang. Sebab, ada hal lain yang lebih menakjubkan, yang harus kita seksamai dan renungkan bersama dari sosok kita ini. Apa itu?

Inilah dia, Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya rahimahullaah, yang mengisahkan kisah yang menakjubkan itu dalam kitabnya, Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah. Berikut ini adalah sepenggal kisahnya:

Perang Yarmuk sudah selesai dengan kemenangan besar di tangan kaum muslimin, di antara para syuhada perang ada tiga orang laki-laki yang tergolek tidak berdaya di bumi Yarmuk karena luka-luka mereka yang demikian parah, mereka adalah Al-Harits ibn Hisyam, Ayyasy ibn Abu Rabi`ah dan Ikrimah ibn Abu Jahal.

Ketika Al-Harits ibn Hisyam yang dalam keadaan luka parah meminta air untuk minum, orang pun datang membawakan air untuknya. Tetapi ketika ia hendak meminumnya tiba-tiba dia melihat Ikrimah -kemenakannya yang juga dalam keadaan luka parah menoleh kepadanya-. Kata Al-Harits, “Berikan air ini kepadanya.”

Tetapi ketika air itu dibawa kepada Ikrimah, dia melihat bahwa Ayyasy -yang berada di sampingnya- yang juga dalam keadaan luka parah lebih membutuhkan air itu daripada dirinya sendiri. Kata Ikrimah, “Berikan air ini kepadanya.”

Dan ketika air itu dibawa kepada Ayyasy ternyata dia telah wafat sebagai syahid. Lantas air itu dibawa kembali kepada Al-Harits namun ternyata dia sudah wafat juga sebagai syahid. Dan, ketika akhirnya air itu dibawa kepada Ikrimah, ternyata Ikrimah telah menyusul keduanya -Al-Harits dan Ayyasy- sebagai syahid. Allahu Akbar.

Semoga Allah meridhai mereka semuanya. Memberi mereka minum dari Haudh Al-Kautsar sehingga mereka tidak akan pernah merasakan haus selama-lamanya, menyiapkan surga Firdaus yang hijau di mana mereka berbahagia di dalamnya untuk selama-lamanya.

Inilah cinta, dengan segala makna yang dikandungnya. Yang mengejewantah menjadi itsar; yaitu sikap seseorang yang mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri. Sungguh, dari mereka bertiga kita belajar tentang makna itsar yang sesungguhnya.

Sungguh, betapa indah perumpamaan sang Nabi dalam salah satu sabdanya, “Kaum muslimin seperti satu orang. Jika salah satu matanya sakit, seluruhnya ikut sakit. Jika kepalanya sakit, seluruhnya ikut sakit.” {H.r. Muslim [no. 2587] dari An-Nu’man ibn Basyir} Dalam riwayat yang lain, beliau juga bersabda, “Seorang mukmin bagaikan sebuah bangunan yang sebagian mengokohkan sebagian yang lain.” Beliau kemudian merajutkan jari-jemarinya. {H.r. Al-Bukhari [no. 6026] dari Abu Musa Asy’ari}

***

Ustadz Muhammad ‘Abdul Halim Hamid dalam kitabnya yang berjudul Mi`ah Mauqif min Hayaati Al-Mursyidiin li Jamaa’ah Al-`Ikhwaan Al-Muslimiin mengisahkan:

Ustadz ‘Umar At-Tilmisani diundang menghadiri beberapa pertemuan di Iskandaria di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ikhwan mempersiapkan hidangan buka puasa demi menghormati ustadz Mursyid. Di dalam hidangan itu ada jus Mangga.

 Salah seorang ikhwan menyuguhkan segelas Mangga kepada Ustadz ‘Umar, tetapi beliau menolaknya. Sebagian ikhwan memerhatikan tanda-tanda perubahan di wajahnya, lalu mereka menanyakannya: “Apakah Anda alergi dengan Mangga?”

 Ustadz ‘Umar menjawab: “Tidak.”

Seusai buka puasa sebagian ikhwan ingin mengetahui rahasia penolakannya untuk meminum jus Mangga. Setelah didesak, Ustadz ‘Umar menjawab: “Saya biasa pulang dari kerja agak terlambat, dan saya dapati istri saya telah menanti saya. Biasanya, saya mempersiapkan dua gelas jus Mangga, lalu kami meminumnya bersama-sama. Setelah istriku meninggal, saya tidak kuasa meminum jus Mangga tanpa dia. Saya memohon kepada Allah, semoga Dia mempertemukan saya dengannya di surga dan meminum bersama-sama dari buah surga.”

Seperti sikap yang ditunjukkan oleh Syaikh ‘Umar At-Tilmisani rahimahullaah, inilah sebentuk potret kesetiaan dengan segala makna yang dikandungnya; yang terlahir dari fitrah manusiawi seseorang yang putih bersih. Dan memang seperti itulah cinta bekerja, ketika ianya bersemi di taman hati seorang hamba yang saleh.

Syarat cinta adalah selalu seiring dengan orang yang kau cintai
Mencintai apa yang dia cintai tanpa sedikit pun mengurangi

{Imam Ibnul Qayyim, An-Nuuniyyah}

***

“Imam Asy-Syafi’i,” tulis Ustadz Dr. ‘Abdul Aziz Asy-Syinawi dalam Al-Aimmah Al-Arba`ah Hayaatuhum Mawaqifuhum Araa’ahum Qaadhiyusy Syariiah Al-Imaam Asy-Syafi’i, “sangat bersemangat dalam mempelajari hadis dan memerhatikan para penyampai hadis (muhaddiits), lalu menghafal hadis-hadis tersebut dengan cara mendengar. Terkadang beliau menuliskannya di atas porselin dan terkadang di atas lembaran kulit.”

“Beliau juga,” lanjut beliau menjelaskan, “sering datang ke kantor-kantor pemerintah untuk mengumpulkan kertas-kertas setengah pakai. Beliau biasa menulis materi yang didengarnya di kertas setengah pakai itu.”

Maasyaa-Allaah, seperti itulah gambaran semangat nan gigih Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah dalam menuntut ilmu. Hasrat dan rasa cintanya kepada ilmu begitu lekat dan mengakar pada pribadinya. Maka rasa cintanya kepada ilmu pun bekerja, ketika ia telah tertanam, tumbuh dan mengakar kuat pada dirinya. Lalu, ia pun menjelma menjadi sebuah energi penggerak semangat yang tak terduga-duga; energi para pecinta sejati.

Seperti Imam Asy-Syafi’i, para pecinta sejati pun selalu yakin dengan kerja-kerja cinta yang mereka lakukan. Karena mereka memiliki iman yang sangat kokoh. Dan mereka juga menyadari dengan penuh kesadaran, bahwa tiada kebaikan yang telah ditanam atas dasar cinta kepadaNya yang akan menjadi sia-sia belaka. Sekecil apapun kebaikan itu. Yakinilah!

Dan, memang seperti itulah energi cinta bekerja. Ianya selalu menakjubkan.

Aku bersumpah:
Wahai diriku engkau harus terjun ke medan laga
Kau harus terjun ke medan laga atau kupaksa engkau menerjuninya
Manusia telah siaga dan berteriak kencang
Lalu kenapa kulihat kau tak suka surga
Sudah sekian lama engkau merasa tentram
Engkau hanyalah setetes air mani di himpitan daging

{‘Abdullah ibn Rawahah, sebelum syahid di medan Mut’ah, sebagaimana diabadikan oleh Ibnu Ishaq dalam Siirah-nya}

***

Para pecinta sejati sangat mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Karenanya, jika para pecinta sejati telah mampu untuk membina rumah tangga, maka mereka akan segera merealisasikannya dengan segera menikah. Agar mereka tidak terjerumus dalam kubangan dosa nafsu syahwat yang menggebu-gebu. Dan jika belum mampu untuk menikah, maka mereka pun akan bersabar untuk menjaga dirinya dengan puasa-puasa sunnah sebagai tamengnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berikut: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah (ba’ah), maka menikahlah! Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” {H.r. Al-Bukhari [no. 1905] dan Muslim [no. 1400] dari Ibnu Mas’ud}

Dan, apabila para pecinta sejati yang telah berkeluarga takjub kepada seorang wanita lain -yang bukan istrinya-, maka mereka akan senantiasa ingat dengan hadis ini: “Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Jika salah seorang dari kalian melihat seorang wanita, lalu wanita tersebut membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya. Sungguh, hal itu akan menolak gejolak yang terdapat dalam dirinya.” {H.r. Muslim [no. 1403] dari Jabir ibn ‘Abdillah}

Dan, memang seperti itulah para pecinta sejati mengelola dan mengendalikan rasa cintanya. Ia menuntun cinta yang membuncah di dadanya dengan syari’at sebagai pemandunya. Jalan cinta para pecinta sejati pun menjadi jernih, terang, dan mencahaya. Seperti bait syair berikut:

Alangkah seringnya,
Mentergesai kenikmatan itu
Membuat detik-detik di depan terasa hambar

Kelezatan itu akan hilang
Dari orang yang terpenuhi tuntutan syahwatnya yang haram
Yang tersisa hanyalah dosa dan hina

{Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan}

Maka disini, seorang muslim sejati mempunyai jalan cintanya sendiri. Dan, ia memilih jalan cintanya itu dengan penuh kesadaran dan iman yang kokoh. Ya, jalan cintanya adalah jalan cinta para pecinta sejati; seperti cintanya ketiga sahabat Nabi dalam perang Yarmuk kepada sesama saudaranya, Fathimah binti ‘Abdul Malik kepada suaminya, Imam Malik kepada sunnah NabiNya, Imam Asy-Syafi’i kepada ilmu, ‘Umar At-Tilmisani kepada istrinya dan seperti Buya Hamka ketika ia rindu dengan istrinya. Inilah cinta, yang bersumber dari mata air cinta yang satu, dan muaranya pun satu: yaitu rasa cinta kepadaNya dan RasulNya.

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Dr. ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syinawi. 2013 (Cet. 1). Biografi Imam Syafi’i; Kehidupan, Sikap dan Pendapatnya. Solo: Aqwam (Judul asli: Al-Aimmah Al-Arba`ah Hayaatuhum Mawaaqifuhum Araa’ahum Qaadhiyusy Syariiah Al-Imaam Asy-Syafi’i)
  2. Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya. 2014 (Cet. 10). Mereka Adalah Para Shahabat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah)
  3. Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif. 1992 (Cet. 1). Nilai Cinta dalam Al-Qur`an. Solo: CV. Pustaka Mantiq (Judul asli: Al-Hubb fil Qur`aan)
  4. Fadlan Al-Ikhwani. 2011 (Cet. 1). Aku Pingin Nikah. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Ibnu Ishaq. 2012 (Cet. 3). Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam. Jakarta: Akbar Media (Judul asli: Siirah An-Nabawiyyah, Disyarah dan Ditahqiq oleh: Ibnu Hisyam, Ditakhrij oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  6. Imam As-Suyuthi. 2013 (Cet. 10). Tarikh Khulafa`; Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Taariikh Al-Khulafaa`)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2002 (Cet. 2). Kembali Kepada Allah. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Zaad Al-Muhaajir Illa Rabbihi/ Risaalah Tabuukiyyah)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2010 (Cet. 1). Taman Orang Jatuh Cinta; Tamasya orang yang Terbakar Rindu. Bandung: Penerbit Jabal (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  9. Irfan Hamka. 2013 (Cet. 1). Ayah, Kisah Buya Hamka. Jakarta: Republika Penerbit
  10. Mahmud Al-Mishri. 2013 (Cet. 8). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 2. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  11. Mohammad Fauzil Adhim. 2012 (Cet. 28). Mencapai Pernikahan Barakah. Yogyakarta: Mitra Pustaka
  12. Muhammad ‘Abdul Halim Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Para Pemimpin Ikhwanul Muslimin. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Mi`ah Mauqif min Hayaati Al-Mursyidiin li Jamaa’ah Al-`Ikhwaan Al-Muslimiin)
  13. Prof. Dr. Buya Hamka. 1992. Akhlaqul Karimah. Jakarta: PT Pustaka Panjimas
  14. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 18). Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2004 (Cet. 1). Al-Qur`an Berjalan: Potret Keagungan Manusia Agung. Jakarta: SAHARA publishers (Judul asli: Rahmatan lil ‘Aalamiin)
  16. Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di. 2003 (Cet. 1). Ketenteraman Hati Orang-orang Shalih & Kesejukan Batin Orang-orang Pilihan. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Bahjah Quluub Al-Abraar wa Qurrah ‘Uyuun Al-Akhyar fii Syarh Jawami’ Al-Akhbar)
Advertisements

Ajaibnya Cinta


Sumber: vemale.com

Sumber: vemale.com

“Kecintaan kepada jihad benar-benar telah melekat pada diri dan hidupku, jiwa dan perasaanku, serta hati dan inderaku.”

{Syaikh Dr. ‘Abdullah ‘Azzam}
***

Cinta. Betapa ajaibnya kata ini. Cinta, ia mampu membuat orang penakut menjadi pemberani. Yang tak pandai berkata-kata seketika mampu menyastra bagaikan penyair ulung. Yang pemarah seketika menjadi pemaaf. Yang begitu kasar seketika menjadi lembut. Yang tak berani berkorban seketika menjadi berapi-api dalam melakukan pengorbanan teruntuk yang dicintainya. Dan, yang semangatnya loyo seketika mampu menjadi sangat bersemangat penuh gelora. Begitulah cinta bekerja. Energinya tak terlihat dengan kasat mata, namun kerja-kerjanya begitu terasa, dan energinya terkadang tak terduga-duga.

Dan nafas cintanya meniup kuncupku
Maka ia mekar jadi bunga

{Muhammad Iqbal, Payam-i-Mashriq}

Sejenak, mari kita seksamai dan renungkan hadis sahih berikut.

Dari ‘Aisyah  radhiyallaahu ‘anhaa bahwa Rasulullah  mengutus seorang sahabat  untuk memimpin sebuah pasukan jihad. Sahabat ini yang menjadi imam bagi pasukannya dalam shalat lima waktu berjamaah dan dia selalu menutup bacaannya -setelah membaca Al-Faatihah dan surat yang lain- dengan “Qul huwallaahu ahad” -surat Al-Ikhlaash-. Maka ketika mereka kembali dari medan jihad, mereka menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, maka beliau bersabda, “Tanyakan padanya apa sebabnya dia melakukan itu?” Lalu mereka bertanya kepadanya dan dia berkata, “Karena surat itu berisi tentang sifat Ar-Rahmaan Allah dan aku mencintai bacaan surat itu.” Setelah mendengar alasan tersebut Rasulullah bersabda, “Sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya. {H.r. Al-Bukhari [no. 6940] dan Muslim [no. 813]}

Ar-Rahmaan; Yang Maha Pengasih.

Ar-Rahmaan,” tutur Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin dalam Tafsiir Juz ‘Amma-nya, “yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.”

Ar-Rahmaan,” lanjut Ustadz Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan-nya, “Nama Allah yang indah ini menggambarkan keluasan kasih yang tiada pilih, kelapangan sayang yang tiada berbilang, kemerataan cinta yang tiada tara, berbilang kebaikan yang tak berhingga, dan berlimpah karunia yang takkan sanggup manusia menghitungnya.”

Begitulah, cinta pun begitu adanya. Ianya diliputi oleh rasa kasih yang membuncah-buncah di dada. Sebab, rasa kasih adalah biji cinta, jika kita ingin mengibaratkan cinta sebagai sebuah pohon rindang nan indah menjulang; yang senantiasa menebar manfaat lewat anyir dan manis buah-buahnya. Dan, karena rasa kasih inilah, cinta seorang Hayati berkecambah dan bertumbuh kepada Zaenuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah. Begitupun dengan cintanya Zainab kepada Hamid dalam roman Di Bawah Lindungan Ka`bah.

Dalam kitab Madaarijus Saalikiin-nya, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah mengungkapkan, “Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya maka dia pasti akan mencintaiNya.” Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah...” {Q.s. Muhammad [47]: 19}

Begitupun, ketika kita mencintai seseorang, siapapun itu. Kadar pengetahuan kita tentang sesuatu yang dicintai akan menentukan alur kerja-kerja mencintai kita. Karena dari hal itu, muncullah alasan dan visi yang kuat kenapa kita harus mencintai sesuatu itu.

“Sesungguhnya,” lanjut Ibnul Qayyim dalam Miftaah Daar As-Sa’aadah, “frekuensi kebahagiaan bersama yang dicintai tergantung pada kekuatan dan kelemahan cinta itu sendiri. Apabila kecintaan itu besar, maka kebahagiaan pun terasa besar pula. Sebagaimana kebahagiaan seseorang yang dilanda dahaga tatkala meminum air dingin dan tergantung rasa letihnya dalam mencari air itu, demikian pula dengan orang yang lapar. Jadi perasaan cinta itu sesuai dengan pengetahuannya tentang yang dicintai dengan segala keindahan lahir-batinnya.”

Yang pasti, semakin mendalam kita mengenal dan memahami sesuatu -orang-orang- yang kita cintai, maka semakin besarlah energi cinta yang akan kita butuhkan, berikan dan persembahkan kepada mereka. Karena energi cinta yang jernih dan agung, selalu butuh alasan dan visi yang jelas untuk menghadirkannya. Walaupun alasannya sangat sederhana. Dan para pecinta sejati, alasan kerja-kerja mencintainya selalu bermuara kepada rasa cinta yang satu; yaitu rasa cinta yang sangat mendalam kepadaNya.

Saat kujauh dari sang tercinta
Dan hati tak tergerak untuk bersua
Kupandangi pakaiannya kala saat rindu melanda
Kupandangi semua hadiah-hadiah darinya

Begitulah yang dilakukan Ya’qub Nabi pembawa petunjukNya
Kala sedih melanda, karena rindu Yusuf putra tercinta
Ia ciumi baju Yusuf yang ada di rumahnya
Seketika penglihatannya sembuh seperti sediakala

{Ibnu Hazm Al-Andalusi, Thauqul Hamaamah}

***

“Cinta pada sebuah misi,” tulis Ustadz Anis Matta dalam Serial Cinta-nya, “mendorong kita mencintai semua orang dan pekerjaan yang ada disepanjang jalan menuju misi itu. Semua orang. Semua pekerjaan. Disini cinta bekerja seperti mesin kendaraan. Tidak penting betul siapa penumpangnya, dan jalan mana yang harus dilalui.”

Karena cinta pada sebuah misi itulah, maka, Nu’man ibn Qauqal radhiyallaahu ‘anhu -sebelum syahid di medan Uhud- berkata, “Aku bersumpah kepadaMu duhai Rabbi! Tidak akan tenggelam itu matahari hingga kugapai hijaunya surga dengan pincangku ini.” Dan, misinya pun tercapai dengan sangat indah: mati syahid.

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” {Q.s. An-Nahl [16]: 97}

“…Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” {Q.s. At-Taubah [9]: 4}

Lalu, dari sikap yang dipilih Nu’man ibn Qauqal, dan dari kekata yang telah terucapkan lewat lisannya yang jujur, kita pun hanya bisa berkata lirih: “Jadikan cintaku padaMu Ya Allah, berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena aku tahu, mentaatiMu dalam hal yang tak kusukai adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala. Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku.” Begitulah kekata Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Jalan Cinta Para Pejuang.

Maka, biarkanlah kekuatan cintamu bekerja dalam setiap helaan nafas. Agar amal-amal yang engkau telah jalani mendapatkan keridhaan disisiNya. Dan saksikanlah, bahwa keajaiban cinta telah mulai menyeruak; menebar pesonanya.

Wahai kekasih
Aku bukanlah bahan baku pencetak bahagia
Aku hanya pelengkapnya
Yang kau butuhkan
Mungkin hanya takaran kecil
Sekecil ruang yang kau sediakan untukku

{Afifah Afra, dari syair beliau yang berjudul Sebuah Ruang Kecil untuk Hatiku}

***

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Nabi Yusuf ‘alayhis-salaam sebagaimana kisahnya yang terabadikan dalam Al-Qur`an. Kecintaannya kepada Allah Ta’aala membuatnya memilih penjara dibandingkan mengikuti bujuk rayu dan kemauan istri tuannya -beserta wanita-wanita yang bersekongkol dengannya-. “Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…’” {Q.s. Yuusuf [12]: 33}

“Manusia itu bersifat lemah,” tulis Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Munajjid ketika mengomentari ayat ke-33 dari Surah Yuusuf ini dalam Mi`ah Fa`idah min Surah Yuusuf, “dan Nabi Yusuf ‘alayhis-salaam menyadari hal itu, bahwa seorang manusia tanpa adanya bimbingan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menjadi lemah, karena untuk menghindarkan cobaan itu sangatlah sulit seandainya tidak ada pertolongan dari Allah.”

Maka, “Jika hati seseorang ikhlas dan dia pun mengikhlaskan amal perbuatannya karena Allah, niscaya cinta yang semu tidak akan bersarang dalam dirinya.” Begitu ungkap Ibnul Qayyim dalam Ad-Daa` wad Dawaa` ketika mengomentari ayat berikut ini, “…Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” {Q.s. Yuusuf [12]: 24}

“Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” {Q.s. An-Naazi’aat [79]: 40-41}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok dua gadis bersaudara -dalam kisah Nabi Musa ‘alayhis-salaam– yang sedang mengantri mengambil air dari sebuah sumur beserta hewan gembalaannya. Musa, yang saat itu lari dari negerinya karena dikejar oleh pengikut Fir’aun, -setelah berhari-hari melakukan perjalanan- akhirnya tiba di sebuah pinggiran kota. Di kota itu, ia melihat sekelompok orang yang sedang berkerumun dan berdesak-desakan untuk mengambil air dari sebuah sumur.

Nah, pada saat berdesak-desakan itulah, Musa melihat kedua gadis bersaudara tersebut tampak lemah dan tak berdaya untuk secepatnya mengambil air. Sehingga, mereka pun memisahkan diri -beserta hewan gembalaannya- dari laki-laki yang sudah berkerumun di sumber air itu. Melihat kondisi yang terjadi, Musa pun merasa kasihan dan menolong kedua gadis itu.

Akhirnya, berkat pertolongan Musa, kedua gadis itu dapat pulang lebih cepat. Setibanya di rumah, ayahnya terkejut. Tidak seperti biasanya mereka pulang secepat ini, pikir ayahnya. Dan, mereka pun menceritakan peristiwa yang dialaminya di tempat pengambilan air itu kepada ayahnya. Mendengar hal itu, ayahnya pun langsung menyuruh salah satu putrinya untuk mengundang Musa ke rumah. “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’…” {Q.s. Al-Qashash [28]: 25}

Dari peristiwa yang singkat inilah, benih-benih cinta itu tumbuh tersebab kebaikan yang tercermin pada diri Musa. Ya, salah seorang dari kedua gadis bersaudara itu tertarik dengan Musa. Dengan tutur bahasa dunia wanita, gadis yang jatuh cinta itu pun berkata dengan lembut kepada ayahnya, “…‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.’” {Q.s. Al-Qashash [28]: 26}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Siti Hajar; Ummu Isma’il. Dia sangat pasrah dengan takdir Allah, ketika ia ditinggalkan bersama puteranya, -yang masih disusuinya- oleh suami tercinta; Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam di lembah Bakkah; yang sunyi tak berpenghuni, lengang, tandus dan gersang. Bayangkan, betapa berat ujian yang dijalani oleh Hajar saat itu. Bagaimana tidak, ia sedang dalam kondisi lemah dan tak punya apa-apa.

Ketika Ibrahim hendak meninggalkan mereka pulang ke Palestina, Hajar pun menyusulnya seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi, (apakah) engkau (akan) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada sesuatu pun?” Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Maka Hajar bertanya kembali, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” “Ya,” jawab Ibrahim. Hajar pun berucap, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” {Kisah lengkap dari peristiwa ini diabadikan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu}

Ya, begitulah Hajar. Ketika ia sadar bahwa apa yang dilakukan oleh suaminya adalah berdasarkan wahyu dari Allah, maka ia pasrah menerima takdirNya. Inilah kepasrahan yang dilandasi karena rasa cinta yang mendalam kepadaNya. Dan Hajar yakin, Allah akan menjaga diri dan bayinya yang masih kecil, dengan Kasih SayangNya.

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu ketika ia berada di gua Tsur bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam saat mereka hijrah ke Madinah. Ketika orang-orang Quraisy hampir menemukan jejak mereka berdua di mulut gua itu, Ash-Shiddiq melihat kaki-kaki mereka bergerak di atas gua -tepatnya di atas kepala mereka-, sehingga kedua matanya meneteskan air mata.

Dalam situasi genting itu, Rasulullah menatapnya dengan pandangan cinta dan kasih sayang, beliau menenangkannya, namun Ash-Shiddiq berbisik, “Demi Allah, aku bukan menangisi diriku, akan tetapi aku khawatir sesuatu yang tidak baik menimpamu ya Rasulullah.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu sebagaimana terkisahkan dalam Shahiihul Bukhari [no. 6257]. Beliau berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau benar-benar lebih kucintai daripada segala sesuatu, kecuali diriku sendiri.” Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berseru, “Tidak demikian, hai ‘Umar, tetapi sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” ‘Umar segera berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berkata, “Sekarang baru benar, hai ‘Umar.”

Sungguh, betapa mengagumkan cinta ‘Umar kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Bagaimanakah dengan cinta kita kepada Rasulullah?

Sejenak, renungkanlah nasihat Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni berikut: “Orang yang mengaku mencintai Rasul,” demikian tulis beliau dalam kitab Rahmatan lil ‘Aalamiin-nya yang sangat indah, “tapi tidak mengikuti sunnahnya, maka orang itu adalah pembohong besar di dunia ini.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu ketika terjadinya masa paceklik -pada tahun 18 H- yang dinamakan tahun arang (‘Amur Ramadah) pada masa kekhalifahan ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu. Saat paceklik ini terjadi -selama sembilan bulan-, masyarakat kota Madinah pun merasakan kesulitan yang berkepanjangan. Sebab, kondisi yang cukup panjang ini mengakibatkan tanaman dan hewan-hewan ternak binasa.

Namun, pertolongan Allah Ta’aala pun segera datang. Ya, pertolongan itu adalah, datangnya kafilah dagang milik ‘Utsman dari Syam. Para pedagang di kota Madinah pun ikut menyambutnya. Kafilah ini terdiri dari seribu ekor unta dengan gandum di punggungnya, minyak dan kismis.

Tahukah Anda apa yang dilakukan ‘Utsman dengan kafilah dagangnya yang sangat banyak ini? Beliau berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku menyedekahkan muatan kafilah dagangku kepada orang-orang miskin dari kaum muslimin, aku tidak mencari dinar atau dirham dari siapa pun. Aku hanya mencari pahala dan ridha Allah.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Tsumamah ibn Utsal Al-Hanafi radhiyallaahu ‘anhu setelah ia mengikrarkan syahadatnya. Sungguh, betapa indah dan mesranya ungkapan beliau di hadapan sang Nabi, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paling aku cintai.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Sa’ad ibn Ar-Rabi` Al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu ketika ia dipersaudarakan dengan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu. Setelah beliau dipersaudarakan oleh Rasulullah, kepada ‘Abdurrahman beliau berkata dengan bahasa cinta, “Saudaraku, aku adalah orang yang paling kaya di Madinah, aku mempunyai dua kebun dan dua orang istri. Lihatlah manakah dari kedua kebunku itu yang kamu sukai tentu aku akan memberikannya kepadamu dan wanita mana dari kedua istriku itu yang kamu sukai tentu aku mentalaknya agar engkau bisa memperistrikannya.”

Dari sikap itsar yang ditunjukkan Sa’ad ibn Ar-Rabi` kepada ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, kita belajar bagaimana seharusnya memaknai ayat ini, “…Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” {Q.s. Al-Hasyr [59]: 9}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok istri Abu Sufyan, Hindun binti ‘Utbah radhiyallaahu ‘anhaa ketika beliau disentuh oleh cahaya hidayahNya. Bayangkanlah, selama lebih dari 20 tahun sebelumnya -semenjak Muhammad diutus menjadi Nabi dan Rasul- beliau sangat membenci Rasulullah dan seluruh pengikutnya. Terlebih lagi, setelah perang Badar usai. Sebab, dalam peristiwa ini, Hindun kehilangan ayah (‘Utbah ibn Rabi’ah), paman (Syaibah ibn Rabi’ah) dan saudara kandungnya (Al-Walid ibn ‘Utbah).

Tapi nanti kita akan tahu, ketika peristiwa Fathu Makkah yang menyejarah itu terjadi, Hindun pun mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi, hari ini, tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Abu Al-‘Ash ibn Ar-Rabi` radhiyallaahu ‘anhu -suami dari Zaenab binti Rasulillah shallallaahu ‘alayhi wa sallam– ketika ia masih dalam kondisi musyrik. Ketika perselisihan antara Rasulullah dengan orang-orang Quraisy semakin meruncing dan memanas, sebagian orang-orang Quraisy menemui Abu Al-‘Ash dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Al-‘Ash, talak istrimu -maksudnya Zaenab-, pulangkan dia kepada keluarganya, kami akan menikahkanmu dengan wanita Quraisy yang kamu suka dari para wanita yang cerdas dan mulia.”

Namun, tahukah Anda apa yang dikatakan Abu Al-‘Ash kepada mereka? Beliau berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan berpisah dari istriku. Aku tidak ingin menggantikannya sekalipun dengan seluruh wanita yang ada di dunia ini.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Zaid ibn Haritsah radhiyallaahu ‘anhu yang dengan ikhlas menikah dengan ibu angkat Rasulullah; Ummu Aiman radhiyallaahu ‘anhaa -nama aslinya, Barakah binti Tsa’labah-. Bayangkan saja, selisih umur antara Zaid yang menjadi anak angkat sang Nabi menikah dengan ibu angkatnya. Betapa jauhnya selisih umur itu. Jika saya boleh berpendapat, kalau bukan karena iman Zaid yang sangat kokoh menjulang kepada Allah dan RasulNya, maka pernikahan ini tidak akan bisa terjadi. Dan pada akhirnya, dari pernikahan ini, lahirlah sesosok pemuda tangguh nan pemberani -yang digelari dengan sebutan putra dari jantung hati Rasulullah (Ibnu Hibb Rasuulullaah)- yang menjadi panglima perang pada usia mudanya; yaitu diumurnya yang belum genap dua puluh tahun -antara 17 atau 18 tahun-. Siapakah dia? Ya, dialah Usamah ibn Zaid ibn Haritsah radhiyallaahu ‘anhu.

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Jabir ibn ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu yang dengan ikhlas menikah dengan seorang janda daripada memilih wanita yang masih gadis (perawan). Tentunya, dengan sebuah alasan agung nan mulia; yaitu beliau tidak ingin menikah dengan wanita yang sebaya dengan beberapa saudara perempuannya; karenanya ia memilih seorang janda agar ada yang membimbing dan memperbaiki mereka -hal ini dia lakukan, karena ayahnya telah wafat-. Dan alasan bijaknya ini pun dimaklumi oleh Rasulullah. {Kisah ini diabadikan oleh Imam Al-Bukhari [no. 6387] dan Muslim [no. 714] dalam Shahiih mereka masing-masing}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok wanita salehah yang penyabar nan dermawan; Asma` binti Abi Bakar radhiyallaahu ‘anhaa. Kakak Ummul Mukminin ‘Aisyah dari pihak ayah ini; yang digelari pemilik dua ikat pinggang (dzaatun nithaaqain), dengan ikhlas menikah dengan Az-Zubair ibn Al-‘Awwam radhiyallaahu ‘anhu; walaupun dia tidak mempunyai harta dan sahaya maupun lainnya, kecuali hanya seekor unta untuk mengangkut air dan seekor kuda. Dan kuda ini pun, beliau sendiri yang merawat dan mengurusnya -sebelum diurus oleh seorang pembantunya-. Selain itu, beliau juga sangat berbakti kepada suaminya yang pencemburu ini. {Kisah lengkap dari kondisi tentang Az-Zubair ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari [no. 3151] dan Muslim [no. 2182] dalam Shahiih mereka masing-masing}

Ah, betapa kita sangat mendambakan sosok wanita salehah seperti Asma` di zaman kita sekarang ini. Berkenaan dengan kisah beliau ini, teringatlah saya dengan sebuah hadis yang berderajat hasan berikut, yang mencerminkan sosok muslimah sejati. Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah wanita yang terbaik?” Beliau menjawab, “Yang membuat suaminya senang jika melihatnya, yang mentaati suaminya jika memerintahkannya, dan tidak menyelisihinya dalam perkara yang tidak disukainya, baik berkenaan dengan diri wanita itu sendiri maupun harta sang suami.” {H.r. An-Nasa`i [no. 3231], Ahmad [no. 7373], dan Al-Hakim [II/161]. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah [no. 1838]}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok gadis muda yang bernama Na`ilah binti Farafishah Al-Kalbiyyah. Di usianya yang genap 18 tahun, dia dinikahi ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu yang saat itu menjelang usia delapan puluhan. Namun, ketika ‘Utsman menanyainya, apakah ia tidak keberatan dengan kondisi ‘Utsman yang sudah tua bangka? Sambil tertunduk malu, Na`ilah menjawab, “Aku termasuk perempuan yang lebih suka memiliki suami yang lebih tua.” ‘Utsman pun menimpali, “Namun, aku telah jauh melampaui ketuaanku.” Dengan gairah para pecinta sejati, Na`ilah pun menjawab, “Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan itu jauh lebih aku sukai dari segala-galanya.”

Ketika akhirnya ‘Utsman wafat dalam kemuliaan, Mu’awiyah ibn Abu Sufyan mengirim utusan untuk meminang Na`ilah. Namun, bagaimanakah reaksi Na`ilah menanggapi pinangan tersebut? “Tidak mungkin,” katanya, “ada seorang manusia pun yang bisa menggantikan ‘Utsman di dalam hatiku.”

Romantis sekali bukan?

Dari Na`ilah kita belajar. Bagaimana seharusnya kita memaknai hadis sahih ini, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” {H.r. Al-Bukhari [no. 14, 15] dan Muslim [no. 44] dari Anas ibn Malik}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok wanita salehah nan agung; Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anhaa -nama aslinya, Syahlah binti Milhan ibn Khalid ibn Zaid ibn Haram- yang menerima pinangan Abu Thalhah -pemanah ulung kota Yatsrib- dengan mahar yang sangat sederhana; namun menyentak dan membahana. Ketika dipinang, ia mengatakan, “Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak, sayang engkau kafir dan aku seorang muslimah, aku tidak mungkin menikah denganmu.” Abu Thalhah menjawab, “Bukan itu maksudmu kan?” Ummu Sulaim berkata, “Lalu apa maksudku?” Abu Thalhah menjawab, “Emas dan perak, kamu memilih orang yang beremas dan berperak lebih dariku.” Ummu Sulaim berkata, “Aku tidak berharap emas dan perak, aku ingin Islam darimu. Jika kamu masuk Islam maka itulah maharku, aku tidak minta yang lain.” {Redaksi lengkap dari kisah ini diriwayatkan dari Anas ibn Malik oleh Imam An-Nasa`i dalam Sunan-nya [no. 3341], kitab An-Nikaah. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Sunan An-Nasa`i}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Bilal ibn Rabbah radhiyallaahu ‘anhu yang dilucuti pakaiannya, kemudian diganti dengan baju besi, lalu disiksa sekejam-kejamnya dan dipaksa untuk mencela Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Bahkan, beliau juga dipaksa untuk memuji Laata dan ‘Uzzaa, namun beliau malah menyebut Allah dan RasulNya. Tak sampai disitu, punggung beliau pun dicambuk-cambuk seraya diletakkan batu besar di atas dadanya.

Ketika Umayyah ibn Khalaf dan para algojonya yang menyiksa dengan sangat tidak manusiawi merasa bosan dan kelelahan, ia pun diikat lehernya dengan tali yang sangat kuat. Kemudian diserahkan kepada orang-orang yang bodoh dan anak-anak, lalu ia pun diseret-seret di lembah-lembah Makkah. Bayangkan, betapa berat siksaannya? Namanya juga pemimpin kekafiran, wajarlah kalau sekejam itu.

Namun, di bawah terik mentari siang kota Makkah yang sangat menyengat dan di atas pasir yang sangat panas membakar kulit itu, Bilal -orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan budak- hanya berucap lirih, mesra dan bangga, “Ahad!…Ahad!…Ahad!”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Yasir ibn ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu beserta istri dan anaknya -Sumayyah binti Khayyath dan `Ammar ibn Yasir- yang disiksa oleh Bani Makhzum berhari-hari, dengan sekejam-kejamnya. Keluarga Bani Makhzum bersumpah untuk menyiksa kelurga Yasir dengan sekeras-kerasnya, sampai mereka mau kembali beribadah kepada berhala. Namun, cahaya keimanan mereka begitu terang-benderang, sehingga siksaan demi siksaan tak membuat mereka berpaling dari agama barunya; yaitu Islam.

Di hari berikutnya, ketika Sumayyah radhiyallaahu ‘anhaa disiksa oleh orang-orang Bani Makhzum, ia disaksikan oleh Abu Jahal ibn Hisyam. Lalu, Abu Jahal pun menghinanya dengan sejelek-jelek penghinaan. Namun, Sumayyah tidak mempedulikan hal tersebut sama sekali. Akhirnya, Abu Jahal mengambil sebuah tombak, lalu menusuk Sumayyah tepat di ulu hatinya. Sehingga, seketika itu juga, mata tombak itu pun keluar di punggungnya. Dan, Sumayyah pun menjadi wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Begitu pula dengan suaminya, yang lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya. Hanya `Ammar sendiri yang bertahan hidup dari siksaan yang kejam itu.

Dalam versi riwayat yang lain, Abu Jahal disebutkan menusuk Sumayyah dengan tombak pendek pada bagian kemaluannya. Pendapat ini menurut Mujahid, sebagaimana dimuat oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Al-Bidaayah wan Nihaayah-nya.

Namun, bagaimanapun kerasnya siksaan tersebut, cukuplah jaminan dari Rasulullah sebagai sebaik-baik balasannya. “Berbahagialah, wahai keluarga `Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” {H.r. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqaat. Syaikh Mushthafa Al-`Adawi berkata: ‘Riwayat ini sahih karena diperkuat oleh riwayat-riwayat pendukung (syawaahid)’}

Hadis yang semakna dengan riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya [no. 5646], namun hadis tersebut sanadnya terputus (munqathi`).

Dari siksaan keras yang dialami Bilal dan kelurga Yasir, kita belajar bagaimana seharusnya memaknai ayat ini, “…Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 146}

“Kita sama-sama mengetahui,” begitu pemaparan Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam Al-Jaami’ li Al-Fataawaa­-nya, “betapa lelahnya junjungan kita Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pada hari-hari pertama kehidupannya, dimana beliau tidak memiliki kekuatan dalam melindungi sahabat-sahabatnya, yang masuk dalam pangkuan Islam. Semoga saja hal itu merupakan simbol bahwa Allah menghendaki hanya orang-orang yang memiliki kekuatan cinta -yang tertuju hanya kepadaNya- yang pergi untuk menuju jalanNya.”

“Keteguhan orang-orang mukmin dalam mempertahankan akidahnya,” tutur Syaikh Dr. Mushthafa As-Siba’i dalam As-Siirah An-Nabawiyyah Duruus wa ‘Ibar, “setelah orang-orang jahat dan sesat mencoba menggoyahnya dengan berbagai bentuk siksaan dan intimidasi adalah bukti ketulusan imannya, dan keikhlasan dalam menganut akidahnya, serta keagungan diri dan jiwanya. Mereka menganggap semua penderitaan yang dialaminya itu sebagai bagian dari kesenangan hati dan ketenangan jiwa serta pikirannya. Di sisi lain, harapan untuk mendapat ridha Allah Subhaanahu wa Ta’aala jauh lebih agung daripada siksaan, penderitaan, dan intimidasi yang mendera tubuh kasar mereka.”

Oleh karena itulah, “Para juru dakwah Islam,” tulis Ustadz Prof. Dr. Fathi Yakan dalam Musykilaat Ad-Da’wah wad Daa’iyah, “harus membayar akidahnya dengan harga mahal. Dan mereka membayarkannya dengan kedermawanan, darah, dan pengorbanan sebagai syuhada.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok wanita salehah yang menerima pinangan Rasulullah untuk Julaibib radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah Julaibib? Ya, inilah Julaibib. Lelaki yang fisiknya selalu dicela-cela, yang kondisinya sangat fakir, yang nasab keluarganya tak jelas, begitu pun dengan asal-usul sukunya.

Apakah yang terjadi saat proses peminangan itu? Tentu saja, kedua orangtua wanita itu keberatan -terkhusus ibunya-. Dan akhirnya, setelah bermusyawarah, penolakanlah yang terjadi dalam proses peminangan tersebut. Dan menurut saya, ini sangat manusiawi. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ya, si anak gadis itu pun mendengar apa yang dibincangkan oleh kedua orangtuanya berkenaan dengan pinangan Rasulullah. Dan, sesuatu yang sangat menakjubkan itu pun terjadi. Ketika si ayah hendak beranjak dari rumahnya untuk menolak pinangan itu, sang gadis itu mendadak berkata dengan sangat anggun dari balik kamarnya, “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?”, tanyanya menyentak. Lalu, sang ibu pun menjelaskan.

Dan, sang gadis pun lanjut berucap dengan imannya yang sangat kokoh menjulang, “Apakah kalian menolak perintah Rasulullah? Tidakkah kalian mendengar firman Allah, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” {Q.s. Al-Ahzaab [33]: 36} Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib radhiyallaahu ‘anhu!”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Fathimah binti Qais radhiyallaahu ‘anhaa yang dilamar oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Abu Jahm dan Usamah ibn Zaid setelah ditalak tiga oleh suaminya. Berkenaan dengan lamaran itu, maka ia pun mengkonsultasikannya kepada Rasulullah. Dan pilihan beliau atas persoalan ini jatuh kepada Usamah ibn Zaid radhiyallaahu ‘anhu. Walaupun pilihan itu agak meragukan bagi Fathimah, bersebab fisik Usamah berkulit hitam dan berhidung pesek, namun ia taat saja pada perintah Rasulullah. Dan akhirnya, pernikahannya itu pun mendatangkan keberkahan sebagaimana ungkapannya, “Maka, aku pun menikah dengannya dan aku menjadi gembira.” {Kisah ini diabadikan oleh Imam Muslim [no. 1480] dalam Shahiih-nya}

Ah, di zaman kita sekarang ini, betapa langkanya wanita salehah seperti dalam kisah Julaibib dan Fathimah binti Qais. Darinya, kita belajar tentang makna “sami’na wa ‘atha’na; kami dengar dan kami taat” atas setiap perintah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Karena dalam setiap perintahnya pasti ada hikmah, pun pada apa-apa yang telah dilarangnya dengan tegas.

Cinta menurutku tak berwarna
Ia menjadi jingga sebagaimana engkau memaknainya
Ia pun menjadi kuning, biru dan merah
Sebagaimana engkau menginginkannya
Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
Tentang kejujuran dan keberanian
Tentang kemarahan dan kasih sayang
Cinta adalah lukisan yang unik dan tak terkatakan
Sebab ia menenggelamkan kita
Pada angan-angan dan mimpi yang abadi
Dan cintaku padamu
Adalah surga yang tak bisa kumasuki
Jika tanpamu

{Asma Nadia, Muhasabah Cinta Seorang Istri}

 ***

Tentang ajaibnya cinta, ada sebuah kisah nyata yang sangat indah dan mengharukan yang diterjemahkan dan dimuat oleh Ustadz Firanda Andirja dalam website-nya, firanda.com. Kisah tersebut berjudul Kisah Istri Sholehah. Kisah ini cukup panjang, namun, semoga ada pelajaran berharga yang bisa kita petik darinya. Allaahumma Aamiin.

Berikut ini kisahnya, dengan sedikit perubahan redaksi:

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata:

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya -di kota Riyadh- di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga, ia berangkat kerja selama seminggu -di tempat kerjanya- dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah tiga tahun, dan putriku telah berusia empat tahun, pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh, ia mengalami kecelakaan; mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit dalam keadaan koma. Setelah itu, para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 % organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami -Asmaa`- tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya.

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain, atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz Al-Qur`an hingga akhirnya iapun menghafal Al-Qur`an padahal umurnya kurang dari sepuluh tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa shalat pada waktunya, ia shalat di penghujung malam, padahal umurnya belum tujuh tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufik kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullaah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia merukyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.

Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku: “Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku.”

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita:

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqarah hingga selesai. Lalu, rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan shalat -sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu, sekali lagi, akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat shalatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rahmaan (Allah) terjaga? bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini?”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku -untuk berdoa-, dan aku memandangi ayahku -sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam doaku, “Yaa Rabbku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…, Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung)…, Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rahmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rahiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kami beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu…, Wahai Engkau yang telah menyembuhkan Nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan Nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru…, “Siapa engkau? Apa yang kau lakukan di sini?” Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu, aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillaah…(Takutlah engkau kepada Allah…), engkau tidak halal bagiku…!” Maka aku pun berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asma`.” Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi, merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata -dengan bahasa Arab yang tidak fasih-: “Subhaanallaahu….” Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha Suci Allah yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering….” Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, “Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang saleh, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan shalat duha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan shalat duha atau tidak?”

Sang istri berkata: “Maka suamiku Abu Asma` akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasanya aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu, setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillaah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha Suci Allah yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufik kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka, janganlah sekali-kali kalian meninggalkan doa…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qadaa` kecuali doa…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua…dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah-lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya-lah segala takdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai pelajaran (‘ibrah), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup.

***

Dalam kitab Ad-Daa` wad Dawaa`, Ibnul Qayyim mengungkapkan, “Ketahuilah bahwa cinta yang paling bermanfaat, paling wajib, paling tinggi, paling mulia, dan paling agung secara mutlak adalah mencintai Dzat yang hati itu memang dijadikan untuk mencintaiNya dan fitrah makhluk itu diciptakan untuk menyembahNya. Dengan cinta inilah langit dan bumi dapat tegak. Di atas cinta tersebut pula para makhluk diciptakan.”

“Kewajiban orang muslim,” demikian Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni dalam Ilaa Alladziina Asrafuu ‘Ala Anfusihim, “adalah mencintai orang saleh, dekat dengan mereka, dan tidak membenci mereka. Membenci mereka berarti mengundang malapetaka. Sebab, membenci mereka sama dengan membenci sunnah, mengingat sifat-sifat yang dimiliki orang saleh sejalan dengan sunnah. Akan tetapi, kalau membenci mereka karena perilaku yang tidak sesuai dengan Islam, seperti kasar, keras kepala, dan kejam, maka itu tidak mengapa dilakukan. Namun dengan catatan, yang dibenci adalah sifatnya, bukan orangnya.”

Maka, bagi seorang muslim sejati, keajaiban cinta yang mulia dan agung hanya akan bisa terwujud ketika rasa cinta itu bersumber dan bermuara hanya kepada satu tempat, yaitu muara ketaatan kepada perintah-perintah Allah Ta’aala dan utusanNya yang mulia; Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Sebagaimana firmanNya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu…’” {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 31}

Dan, bukan menggantungkan ketaatan -apalagi kebahagiaan- kepada orang yang kita cintai. Karena hal itu adalah cinta yang sangat rapuh; yang menyiksa dan menyayat-nyayat ketentraman jiwa. Cinta siapakah yang seperti ini? Ya, inilah cintanya Qais kepada Layla yang membuatnya menjadi gila (majnun), sebagaimana terkisah dalam roman Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi. Atau seperti cintanya Romeo kepada Juliet yang mati menenggak racun, sebagaimana yang ditulis oleh William Shakespeare dalam romannya, The Tragedy of Romeo and Juliet.

 Kenikmatan akan sirna setelah menikmati yang diharamkan
Menyisakan di kemudian hari cela dan kehinaan
Akibat perbuatan buruk akan selalu ada
Tiada artinya kenikmatan yang menggiring ke neraka

{Imam Ahmad ibn Hanbal, dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbiin}

———-
Catatan:

  1. Dalam beberapa artikel yang tersebar di internet banyak yang menyebut Ummu Sulaim dengan julukan Ar-Rumaisha` dan Al-Ghumaisha`. Manakah nama yang lebih benar dan tepat? Jawabannya: kedua-duanya sama kuat (rajih), demikian menurut penilaian Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya dalam kitabnya yang sangat indah, Shuwaru min Hayaatish Shahaabiyyaat. Allaahu a’lam.
  2. Berkenaan dengan alasan Zaid ibn Haritsah menikahi Ummu Aiman -sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab biografi dan sejarah-, sudah masyhur bahwa alasannya adalah karena termotivasi hadis Rasululullah berikut: “Barang siapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga, maka hendaklah menikahi Ummu Aiman.” {H.r. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqaatul Kubraa [VIII/224] dan dalam Al-Ishaabah [VIII/213] karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dari jalan ‘Abdullah ibn Musa dari Fadhl ibn Marzuq, rijalnya tsiqah akan tetapi munqathi`} Nah, karena hadis ini sanad-nya terputus (munqathi`), yang menurut kesepakatan para ulama dihukumi sebagai hadis lemah (dha’iif); karena tidak diketahuinya keadaan rawi yang dibuang. Maka, hadis ini tidak saya jadikan hujjah dalam kisah Zaid di atas. Allaahu a’lam, saya hanya mengambil mana yang lebih kuat berdasarkan persangkaan baik saya; dan berdasarkan referensi yang sudah saya ketahui.

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya. 2014 (Cet. 10). Mereka Adalah Para Shahabat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah)
  3. Fathi Yakan. 2005 (Cet. 2). Problematik Dakwah dan Para Dai. Solo: Era Intermedia (Judul asli: Musykilaat Ad-Da’wah wa Ad-Daa’iyah)
  4. Imam Ibnu Katsir. 2013 (Cet. 6). Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I (Judul asli: Tafsiir Al-Qur`aan Al-‘Azhiim, Ditahqiq dan Diringkas oleh: ‘Abdullah ibn Muhammad Alu Syaikh dengan judul, Lubaabut Tafsiir min Ibni Katsir)
  5. Imam Ibnu Katsir. 2011 (Cet. 8). Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul yang Agung. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Al-Bidaayah wan Nihaayah, Diringkas dan disusun ulang oleh: Muhammad ibn Shamil As-Sulami dengan judul, Tartiib wa Tahdziib Kitaab Al-Bidaayah wan Nihaayah)
  6. Imam Ibnu Hazm al-Andalusi. 2009 (Cet. 1). Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta. Bandung: Mizan (Judul asli: Thauqul Hamaamah fi Ilfah wal Ullaaf, Ditahqiq oleh: Al-Thahir Ahmad Makki)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 3). Ad-Daa` wad Dawaa`: Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Ad-Daa` wad Dawaa`, Ditahqiq oleh: Syaikh ‘Ali ibn Hasan Al-Halabi)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2004 (Cet. 1). Kunci Kebahagiaan. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana (Judul asli: Miftaah Daar As-Sa’aadah, Ditahqiq oleh: Abu Hafsh Sayyid ibn Ibrahim ibn Shadiq ‘Imran)
  9. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 1). Raudhatul Muhibbiin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jakarta: Qisthi Press (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  10. Mahmud Al-Mishri. 2012 (Cet. 10). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 1. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  11. Mahmud Al-Mishri. 2013 (Cet. 8). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 2. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  12. Prof. Dr. Buya Hamka. Di Bawah Lindungan Ka`bah. File Format PDF (Jumlah halaman: 30)
  13. Salim A. Fillah. 2014 (Cet. 1). Lapis-Lapis Keberkahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  14. Salim A. Fillah. 2011 (Cet. 6). Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2004 (Cet. 1). Al-Qur`an Berjalan: Potret Keagungan Manusia Agung. Jakarta: SAHARA publishers (Judul asli: Rahmatan lil ‘Aalamiin)
  16. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2010 (Cet. 12). Yakinlah, Dosa Pasti Diampuni!: Sepuluh Amalan Pelebur Dosa. Jakarta: Qisthi Press (Judul asli: Ilaa Alladziina Asrafuu ‘Alaa Anfusihim)
  17. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Munajjid. 2008 (Cet. 1). 100 Keajaiban Surat Yusuf. Jakarta: Trans Taqwa (Judul asli: Mi`ah Fa`idah min Surah Yuusuf)
  18. Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi. 2001 (Cet. 1). 442 Persoalan Umat Bersama Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi. Jakarta: Cendikia Sentra Muslim (Judul asli: Al-Jaami’ li Al-Fataawaa, Ditahqiq oleh: Muhammad Hasan Muhammad)
  19. firanda.com Dari tulisan Ustadz Firanda Andirja, MA yang berjudul “Kisah Istri Sholehah” Dipublikasikan pada hari Rabu, 25 September 2013.
  20. afifahafra.net Dari tulisan Mbak Afifah Afra yang berjudul Sebuah Ruang Kecil untuk Hatiku