Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI » Para Pecinta Sejati

Para Pecinta Sejati


Para Pecinta Sejati

Sumber: mobypicture.com

“Untuk memangkas sebatang kayu diperlukan kapak yang tajam. Untuk memangkas gejolak syahwat agar tidak liar, memangkas dosa-dosa pandangan tanpa harus membenci pandangan itu adalah dengan jalan agung, pernikahan.”

{Fadlan Al-Ikhwani, Aku Pingin Nikah}
***

Cinta adalah sesuatu yang rumit. Serumit makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dan terkadang pula sangat sederhana. Sesederhana orang-orang yang mampu menaklukkan dan menjadi tuannya cinta. Bukan malah diperbudak cinta. Dan pada rumit atau sederhananya, disitulah sebenarnya pesona cinta itu bersemayam, mengakar dan tumbuh menjadi pohon cinta. Karenanya, jika benih cinta yang tumbuh pada diri kita bersumber dan bermuara tersebab rasa cinta kita kepadaNya, maka bersyukurlah. Sebab, memang seperti itulah cinta yang agung dan mulia; yang dijalani oleh para pecinta sejati.

Cinta adalah sebuah keniscayaan yang Allah Ta’aala karuniakan kepada hamba-hambaNya. Karenanya, jika hati-hati kita didera dan dirundung oleh cinta, maka terimalah dan nikmati saja prosesnya. Biarkanlah ia mengalir dengan segala pesona dan keajaibannya. Namun, senantiasalah ingat, jadikan syari’at sebagai penuntunnya. Agar cinta yang bertumbuh diridhai olehNya. Dan sungguh, “Jika cinta dibangun dengan keselarasan dan keserasian,” ujar Ibnul Qayyim rahimahullaah dalam Raudhatul Muhibbiin-nya, “maka ia pasti akan menjadi kokoh dan kuat. Cinta yang kokoh kuat seperti itu tidak akan pernah dapat dihancurkan kecuali oleh sesuatu yang lebih kuat dari sebab kemunculannya.”

Para pecinta sejati selalu mempunyai cara terbaik untuk menuangkan rasa cintanya, ketika mereka dirundung oleh badai rindu dan ombak perasaan yang sangat dahsyat. Dan memang seperti itulah sikap para pecinta sejati. Mereka sadar dan sangat memahami, bahwa cinta yang mengalir dan bergejolak di dalam dadanya harus bermuara hanya pada satu tempat saja; yaitu muara kecintaan kepadaNya.

Sebab, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis qudsi; “Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, ‘KecintaanKu wajib untuk orang yang saling mencintai karena Aku, orang yang saling bersahabat karena Aku, orang yang saling mengunjungi karena Aku dan orang yang saling berkorban karena Aku’.” {H.r. Muslim [no. 2567] dari Mu’adz ibn Jabal}

Dan salah satu contoh sederhana nan nyata dari para pecinta sejati itu adalah, sosok Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah sebagaimana diabadikan oleh anaknya yang kelima -Irfan Hamka- dalam buku Ayah, Kisah Buya Hamka.

Berikut kisahnya:

“Dalam hal kuatnya Ayah membaca Al-Qur`an,” tutur Irfan Hamka dalam bukunya tersebut, “suatu kali pernah aku pertanyakan kepada Ayah.”

“Ayah,” katanya, “kuat sekali Ayah membaca Al-Qur`an?” Tanya Irfan Hamka dengan rasa penasaran kepada Ayahnya.

“Kau tahu, Irfan,” jawab Ayahnya dengan lembut dan penuh cinta, “Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung -bersyair-. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah.”

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” Tanya Irfan Hamka dengan penuh rasa penasaran.

Ayahnya pun menjawab, “Ayah takut,” katanya dengan penuh kelembutan, “kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu.”

“…Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya…” {Q.s. Al-Maa`idah [5]: 35}

“…Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” {Q.s. Ath-Thalaaq [65]: 2}

“Maka tiap orang cinta pada selain Allah,” demikian nasihat Prof. Dr. Buya Hamka dalam Akhlaqul Karimah, “tandanya dia sakit. Derajat sakitnya ialah sekedar cintanya itu pula, kecuali kalau cintanya kepada sesuatu itu untuk menolong menguatkan cintanya kepada Allah dan agamanya. Ketika itu dia tidak bernama sakit lagi.”

Oleh karena itu, “Kami memohon kepada Allah,” demikian tutur Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di ketika memanjatkan doanya dalam Bahjah Quluub Al-Abraar wa Qurrah ‘Uyuun Al-Akhyaar, “agar Dia melimpahkan cinta bagi kita terhadapNya, terhadap orang-orang yang dicintainya, dan pada perbuatan yang dapat mendekatkan diri kita kepadaNya. Sesungguhnya Allah Maha Baik lagi Maha Mulia. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita.”

Ya Tuhan,
Jika cinta adalah ketertawanan
Tawanlah aku dengan cinta kepadaMu
Agar tak ada lagi yang dapat menawanku

{Mohammad Fauzil Adhim, Mencapai Pernikahan Barakah}

***

Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni dalam kitabnya yang berjudul Rahmatan lil ‘Aalamiin mengisahkan:

Ketika Imam Malik membacakan kitab hadisnya, Al-Muwaththa`; tiba-tiba kalajengking menyengatnya sebanyak tiga belas kali. Tetapi ia tidak menghentikan pembicaraannya. Orang-orang kemudian berkata kepadanya, “Kami melihat wajahmu telah berubah.” Imam Malik menjawab, “Kalajengking menyengatku ketika aku sedang membaca hadis Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.” Mereka berkata, “Lalu kenapa engkau tidak menghentikan pembicaraan?” Ia menjawab, “Aneh sekali kalian ini! Bagaimana aku bisa menghentikan membaca hadis sang kekasih -Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam– hanya untuk menolong diriku sendiri -dari sengatan kalajengking-.”

Merenungi kisah singkat yang menakjubkan dari Imam Malik ini, saya jadi teringat dengan firmanNya yang agung dalam Surah Al-Ahzaab [33] ayat ke-6. Allah Ta’aala berfirman, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri…”

“Ayat ini,” demikian komentar Ibnul Qayyim dalam Risaalah Tabuukiyyah-nya, “menjadi sebuah dalil bahwa barang siapa kecintaannya terhadap Rasulullah tidak lebih utama daripada kecintaannya terhadap dirinya sendiri, maka dia tidak termasuk orang-orang yang beriman.”

***

Dalam kitabnya yang berjudul Taariikh Al-Khulafaa`, Imam Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullaah mengisahkan:

Furat ibn As-Saib berkata, “‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada istrinya Fathimah binti ‘Abdul Malik -dia memiliki perhiasan berupa mutiara yang sangat indah-, ‘Pilihlah olehmu, kau kembalikan harta perhiasan ini ke Baitul Mal atau aku kau izinkan meninggalkanmu untuk selamanya. Sebab, aku sangat benci, jika aku, kamu dan perhiasan ini (mutiara-mutiara) berada dalam satu rumah.’”

Istrinya menjawab, “Aku memilih kamu daripada mutiara ini, bahkan jika lebih dari itu pun aku tetap memilih kamu.”

Kemudian dia -‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz- memerintahkan salah seseorang untuk membawa perhiasan istrinya itu ke Baitul Mal.

Saat ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz meninggal dan Yazid ibn ‘Abdul Malik menggantikannya, dia berkata kepada Fathimah, “Jika kau mau, aku akan ambil perhiasan-perhiasanmu itu kembali.”

Fathimah berkata, “Tidak, tidak mungkin itu aku lakukan. Bagaimana mungkin aku menyatakan rela pada saat dia masih hidup namun aku menarik kerelaanku di saat dia sudah meninggal.”

Inilah teladan kita yang sangat memesona; ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz namanya. Dulu, sebelum diangkat menjadi khalifah, kehidupan beliau tidak pernah kekurangan; senantiasa dalam ketercukupan. Namun kini, ketika ia telah menjadi Amiirul Mu`miniin, harta itu ternyata sangat menggelisahkan bagi dirinya. Sebab, ia menyadari, bahwa hal inilah yang akan membuat hisabnya kelak di akhirat menjadi sangat berat. Oleh karena itulah, ia berusaha untuk merubah total gaya hidupnya; dari yang serba ketercukupan menjadi sangat sederhana. Inilah sebuah sikap dari seorang hamba yang disesaki rasa takut kepadaNya. Maka inilah takwa yang sesungguhnya, dari seorang hamba yang sangat merindukan rumah sejatinya di surga.

Berkenaan dengan kisah kesetiaan istrinya; yaitu Fathimah binti ‘Abdul Malik atas sikap yang diambilnya ketika menjadi khalifah, saya jadi teringat dengan kata-kata indah dari Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullaah yang beliau ungkapkan dalam bait-bait syairnya. Ungkapan indah ini dinukil oleh Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif dalam kitabnya, Al-Hubb fil Qur`aan.

Engkau durhakai Tuhan, padahal engkau menyatakan cinta kepadaNya
Ini demi hidupku, menurut logika, sungguh sangat tercela
Sekiranya cintamu benar, pasti engkau mematuhiNya,
Karena orang yang cinta
Patuh setia kepada yang dicintai

{Imam Ibnu Al-Mubarak}

***

Saudaraku, sudah kenalkah Anda dengan sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang bernama Ikrimah ibn Abu Jahal? Kemudian, tahukah Anda bagaimana sepak terjangnya ketika perang Yarmuk? Ah, tapi saya tidak ingin membahas hal ini sekarang. Sebab, ada hal lain yang lebih menakjubkan, yang harus kita seksamai dan renungkan bersama dari sosok kita ini. Apa itu?

Inilah dia, Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya rahimahullaah, yang mengisahkan kisah yang menakjubkan itu dalam kitabnya, Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah. Berikut ini adalah sepenggal kisahnya:

Perang Yarmuk sudah selesai dengan kemenangan besar di tangan kaum muslimin, di antara para syuhada perang ada tiga orang laki-laki yang tergolek tidak berdaya di bumi Yarmuk karena luka-luka mereka yang demikian parah, mereka adalah Al-Harits ibn Hisyam, Ayyasy ibn Abu Rabi`ah dan Ikrimah ibn Abu Jahal.

Ketika Al-Harits ibn Hisyam yang dalam keadaan luka parah meminta air untuk minum, orang pun datang membawakan air untuknya. Tetapi ketika ia hendak meminumnya tiba-tiba dia melihat Ikrimah -kemenakannya yang juga dalam keadaan luka parah menoleh kepadanya-. Kata Al-Harits, “Berikan air ini kepadanya.”

Tetapi ketika air itu dibawa kepada Ikrimah, dia melihat bahwa Ayyasy -yang berada di sampingnya- yang juga dalam keadaan luka parah lebih membutuhkan air itu daripada dirinya sendiri. Kata Ikrimah, “Berikan air ini kepadanya.”

Dan ketika air itu dibawa kepada Ayyasy ternyata dia telah wafat sebagai syahid. Lantas air itu dibawa kembali kepada Al-Harits namun ternyata dia sudah wafat juga sebagai syahid. Dan, ketika akhirnya air itu dibawa kepada Ikrimah, ternyata Ikrimah telah menyusul keduanya -Al-Harits dan Ayyasy- sebagai syahid. Allahu Akbar.

Semoga Allah meridhai mereka semuanya. Memberi mereka minum dari Haudh Al-Kautsar sehingga mereka tidak akan pernah merasakan haus selama-lamanya, menyiapkan surga Firdaus yang hijau di mana mereka berbahagia di dalamnya untuk selama-lamanya.

Inilah cinta, dengan segala makna yang dikandungnya. Yang mengejewantah menjadi itsar; yaitu sikap seseorang yang mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri. Sungguh, dari mereka bertiga kita belajar tentang makna itsar yang sesungguhnya.

Sungguh, betapa indah perumpamaan sang Nabi dalam salah satu sabdanya, “Kaum muslimin seperti satu orang. Jika salah satu matanya sakit, seluruhnya ikut sakit. Jika kepalanya sakit, seluruhnya ikut sakit.” {H.r. Muslim [no. 2587] dari An-Nu’man ibn Basyir} Dalam riwayat yang lain, beliau juga bersabda, “Seorang mukmin bagaikan sebuah bangunan yang sebagian mengokohkan sebagian yang lain.” Beliau kemudian merajutkan jari-jemarinya. {H.r. Al-Bukhari [no. 6026] dari Abu Musa Asy’ari}

***

Ustadz Muhammad ‘Abdul Halim Hamid dalam kitabnya yang berjudul Mi`ah Mauqif min Hayaati Al-Mursyidiin li Jamaa’ah Al-`Ikhwaan Al-Muslimiin mengisahkan:

Ustadz ‘Umar At-Tilmisani diundang menghadiri beberapa pertemuan di Iskandaria di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ikhwan mempersiapkan hidangan buka puasa demi menghormati ustadz Mursyid. Di dalam hidangan itu ada jus Mangga.

 Salah seorang ikhwan menyuguhkan segelas Mangga kepada Ustadz ‘Umar, tetapi beliau menolaknya. Sebagian ikhwan memerhatikan tanda-tanda perubahan di wajahnya, lalu mereka menanyakannya: “Apakah Anda alergi dengan Mangga?”

 Ustadz ‘Umar menjawab: “Tidak.”

Seusai buka puasa sebagian ikhwan ingin mengetahui rahasia penolakannya untuk meminum jus Mangga. Setelah didesak, Ustadz ‘Umar menjawab: “Saya biasa pulang dari kerja agak terlambat, dan saya dapati istri saya telah menanti saya. Biasanya, saya mempersiapkan dua gelas jus Mangga, lalu kami meminumnya bersama-sama. Setelah istriku meninggal, saya tidak kuasa meminum jus Mangga tanpa dia. Saya memohon kepada Allah, semoga Dia mempertemukan saya dengannya di surga dan meminum bersama-sama dari buah surga.”

Seperti sikap yang ditunjukkan oleh Syaikh ‘Umar At-Tilmisani rahimahullaah, inilah sebentuk potret kesetiaan dengan segala makna yang dikandungnya; yang terlahir dari fitrah manusiawi seseorang yang putih bersih. Dan memang seperti itulah cinta bekerja, ketika ianya bersemi di taman hati seorang hamba yang saleh.

Syarat cinta adalah selalu seiring dengan orang yang kau cintai
Mencintai apa yang dia cintai tanpa sedikit pun mengurangi

{Imam Ibnul Qayyim, An-Nuuniyyah}

***

“Imam Asy-Syafi’i,” tulis Ustadz Dr. ‘Abdul Aziz Asy-Syinawi dalam Al-Aimmah Al-Arba`ah Hayaatuhum Mawaqifuhum Araa’ahum Qaadhiyusy Syariiah Al-Imaam Asy-Syafi’i, “sangat bersemangat dalam mempelajari hadis dan memerhatikan para penyampai hadis (muhaddiits), lalu menghafal hadis-hadis tersebut dengan cara mendengar. Terkadang beliau menuliskannya di atas porselin dan terkadang di atas lembaran kulit.”

“Beliau juga,” lanjut beliau menjelaskan, “sering datang ke kantor-kantor pemerintah untuk mengumpulkan kertas-kertas setengah pakai. Beliau biasa menulis materi yang didengarnya di kertas setengah pakai itu.”

Maasyaa-Allaah, seperti itulah gambaran semangat nan gigih Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah dalam menuntut ilmu. Hasrat dan rasa cintanya kepada ilmu begitu lekat dan mengakar pada pribadinya. Maka rasa cintanya kepada ilmu pun bekerja, ketika ia telah tertanam, tumbuh dan mengakar kuat pada dirinya. Lalu, ia pun menjelma menjadi sebuah energi penggerak semangat yang tak terduga-duga; energi para pecinta sejati.

Seperti Imam Asy-Syafi’i, para pecinta sejati pun selalu yakin dengan kerja-kerja cinta yang mereka lakukan. Karena mereka memiliki iman yang sangat kokoh. Dan mereka juga menyadari dengan penuh kesadaran, bahwa tiada kebaikan yang telah ditanam atas dasar cinta kepadaNya yang akan menjadi sia-sia belaka. Sekecil apapun kebaikan itu. Yakinilah!

Dan, memang seperti itulah energi cinta bekerja. Ianya selalu menakjubkan.

Aku bersumpah:
Wahai diriku engkau harus terjun ke medan laga
Kau harus terjun ke medan laga atau kupaksa engkau menerjuninya
Manusia telah siaga dan berteriak kencang
Lalu kenapa kulihat kau tak suka surga
Sudah sekian lama engkau merasa tentram
Engkau hanyalah setetes air mani di himpitan daging

{‘Abdullah ibn Rawahah, sebelum syahid di medan Mut’ah, sebagaimana diabadikan oleh Ibnu Ishaq dalam Siirah-nya}

***

Para pecinta sejati sangat mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Karenanya, jika para pecinta sejati telah mampu untuk membina rumah tangga, maka mereka akan segera merealisasikannya dengan segera menikah. Agar mereka tidak terjerumus dalam kubangan dosa nafsu syahwat yang menggebu-gebu. Dan jika belum mampu untuk menikah, maka mereka pun akan bersabar untuk menjaga dirinya dengan puasa-puasa sunnah sebagai tamengnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berikut: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah (ba’ah), maka menikahlah! Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” {H.r. Al-Bukhari [no. 1905] dan Muslim [no. 1400] dari Ibnu Mas’ud}

Dan, apabila para pecinta sejati yang telah berkeluarga takjub kepada seorang wanita lain -yang bukan istrinya-, maka mereka akan senantiasa ingat dengan hadis ini: “Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Jika salah seorang dari kalian melihat seorang wanita, lalu wanita tersebut membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya. Sungguh, hal itu akan menolak gejolak yang terdapat dalam dirinya.” {H.r. Muslim [no. 1403] dari Jabir ibn ‘Abdillah}

Dan, memang seperti itulah para pecinta sejati mengelola dan mengendalikan rasa cintanya. Ia menuntun cinta yang membuncah di dadanya dengan syari’at sebagai pemandunya. Jalan cinta para pecinta sejati pun menjadi jernih, terang, dan mencahaya. Seperti bait syair berikut:

Alangkah seringnya,
Mentergesai kenikmatan itu
Membuat detik-detik di depan terasa hambar

Kelezatan itu akan hilang
Dari orang yang terpenuhi tuntutan syahwatnya yang haram
Yang tersisa hanyalah dosa dan hina

{Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan}

Maka disini, seorang muslim sejati mempunyai jalan cintanya sendiri. Dan, ia memilih jalan cintanya itu dengan penuh kesadaran dan iman yang kokoh. Ya, jalan cintanya adalah jalan cinta para pecinta sejati; seperti cintanya ketiga sahabat Nabi dalam perang Yarmuk kepada sesama saudaranya, Fathimah binti ‘Abdul Malik kepada suaminya, Imam Malik kepada sunnah NabiNya, Imam Asy-Syafi’i kepada ilmu, ‘Umar At-Tilmisani kepada istrinya dan seperti Buya Hamka ketika ia rindu dengan istrinya. Inilah cinta, yang bersumber dari mata air cinta yang satu, dan muaranya pun satu: yaitu rasa cinta kepadaNya dan RasulNya.

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Dr. ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syinawi. 2013 (Cet. 1). Biografi Imam Syafi’i; Kehidupan, Sikap dan Pendapatnya. Solo: Aqwam (Judul asli: Al-Aimmah Al-Arba`ah Hayaatuhum Mawaaqifuhum Araa’ahum Qaadhiyusy Syariiah Al-Imaam Asy-Syafi’i)
  2. Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya. 2014 (Cet. 10). Mereka Adalah Para Shahabat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah)
  3. Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif. 1992 (Cet. 1). Nilai Cinta dalam Al-Qur`an. Solo: CV. Pustaka Mantiq (Judul asli: Al-Hubb fil Qur`aan)
  4. Fadlan Al-Ikhwani. 2011 (Cet. 1). Aku Pingin Nikah. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Ibnu Ishaq. 2012 (Cet. 3). Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam. Jakarta: Akbar Media (Judul asli: Siirah An-Nabawiyyah, Disyarah dan Ditahqiq oleh: Ibnu Hisyam, Ditakhrij oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  6. Imam As-Suyuthi. 2013 (Cet. 10). Tarikh Khulafa`; Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Taariikh Al-Khulafaa`)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2002 (Cet. 2). Kembali Kepada Allah. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Zaad Al-Muhaajir Illa Rabbihi/ Risaalah Tabuukiyyah)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2010 (Cet. 1). Taman Orang Jatuh Cinta; Tamasya orang yang Terbakar Rindu. Bandung: Penerbit Jabal (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  9. Irfan Hamka. 2013 (Cet. 1). Ayah, Kisah Buya Hamka. Jakarta: Republika Penerbit
  10. Mahmud Al-Mishri. 2013 (Cet. 8). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 2. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  11. Mohammad Fauzil Adhim. 2012 (Cet. 28). Mencapai Pernikahan Barakah. Yogyakarta: Mitra Pustaka
  12. Muhammad ‘Abdul Halim Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Para Pemimpin Ikhwanul Muslimin. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Mi`ah Mauqif min Hayaati Al-Mursyidiin li Jamaa’ah Al-`Ikhwaan Al-Muslimiin)
  13. Prof. Dr. Buya Hamka. 1992. Akhlaqul Karimah. Jakarta: PT Pustaka Panjimas
  14. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 18). Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2004 (Cet. 1). Al-Qur`an Berjalan: Potret Keagungan Manusia Agung. Jakarta: SAHARA publishers (Judul asli: Rahmatan lil ‘Aalamiin)
  16. Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di. 2003 (Cet. 1). Ketenteraman Hati Orang-orang Shalih & Kesejukan Batin Orang-orang Pilihan. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Bahjah Quluub Al-Abraar wa Qurrah ‘Uyuun Al-Akhyar fii Syarh Jawami’ Al-Akhbar)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: