Setiawan as-Sasaki

Home » BELAJAR NULIS

Category Archives: BELAJAR NULIS

Dakwah Kepenulisan, Dulu dan Kini


Sumber: cyberdakwah.com

Sumber: cyberdakwah.com

“Dalam setiap perjalanannya,” tulis Syaikh Dr. M. Muhammad Abu Syuhbah dalam Fi Rihabi as-Sunnah al-Kutubi al-Shihahi al-Sittah, “Imam Bukhari selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Di tengah malam beliau bangun menyalakan lampu dan menulis setiap yang terlintas dalam benaknya, kemudian lampu itu dimatikan. Hal ini kurang lebih dilakukan dua puluh kali setiap malam. Begitulah aktifitas Imam Bukhari, seluruh hidupnya di curahkan untuk ilmu pengetahuan.”

Ya, beginilah sekilas gambaran tentang sosok Imam Al-Bukhari rahimahullaah yang terjun dalam dunia dakwah kepenulisan pada masanya; 194-256 H. Waktunya benar-benar dihabiskan untuk mencari hadits-hadits ke berbagai negeri Islam, setelah mendapatkannya, beliau lalu menulisnya. Tentang perjalanannya ke berbagai negeri ini, beliau pernah berkata, “Saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, Bashrah empat kali, dan saya bermukim di Hijaz, dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya pergi ke Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama’ hadits.”

Sejenak, mari kita bayangkan kondisi kehidupan umat Islam saat itu. Mulai dari kondisi politik, sosial dan perkembangan ilmu pengetahuannya. Lalu, bandingkanlah dengan kondisi umat Islam pada masa sekarang. Hal ini sangat penting. Kenapa? Karena pengetahuan kita tentang kondisi umat Islam sangat berpengaruh terhadap tata cara kita berdakwah nantinya. Karena mereka adalah obyek dari dakwah kita. Dalam hal ini, dakwah lewat tulisan tentunya.

Hari ini, umat Islam mengenang Imam Al-Bukhari rahimahullaah sebagai seorang ulama’ ahli hadits. Lewat karyanya yang fenomenal, yaitu kitab Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar min Umuri Rasulillah wa Sunnanihi wa Ayyamihi, atau yang lebih dikenal dengan nama Shahiih al-Bukhari. Sebuah kitab hadits yang ditulis selama 16 tahun oleh Al-Bukhari. Yang oleh para ulama’ disepakati sebagai kitab hadits yang paling shahih.

Dari Imam Al-Bukhari, kita belajar tentang kesungguhan dan keistiqamahan dalam berdakwah lewat tulisan. Tentu, kita pun berharap bisa meneladani semangat beliau. Sehingga, tulisan yang kita telurkan benar-benar diniatkan sebagai sarana dakwah semata, untuk menyebarkan cahaya ajaran Islam. Dan bukan untuk mencari popularitas keduniaan.

Dan dari setiap tulisan yang terlahir, kita pun berharap dan berdoa sebagaimana doa Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Menyimak Kicau Merajut Makna, “Ya Allah, jadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari ini butir zarah kemuliaan, yang berantai-rantai alirkan pahala kebajikan. Ya Allah, jadikan tiap kata yang berbaris mesra di kalimatku tali-temali keberkahan, yang hubungkanku dengan ridhaMu di tiap helaan.”

***

Saat ini, begitu banyak buku-buku bernuansa keislaman yang beredar di toko-toko buku seluruh Indonesia. Dengan beragam tema yang diusungnya. Dan dengan beragam sasaran obyek pembaca yang ditargetkannya. Alhamdullillaah, kita patut bersyukur atas kondisi ini. Karena itu artinya, semakin banyak kaum muslimin yang tersadar akan pentingnya berdakwah lewat tulisan. Sehingga, buku-buku ini setidaknya dapat menyaingi buku-buku yang terlahir dari penulis non muslim yang sebagian besarnya merusak nilai-nilai Islami secara perlahan-lahan. Namun, di satu sisi, menjamurnya penulis-penulis muslim tersebut terkadang menyebabkan buku-buku yang terlahir rendah kualitasnya. Dalam artian, buku tersebut miskin pesan-pesan dakwah karena sedikitnya referensi penulisan yang digunakan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena sebagian besar penulis terlalu mementingkan metode bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Agar bukunya banyak yang membeli. Dan ujung-ujungnya, ada embel-embel bisnis. Tidak salah memang, tetapi, dalam konteks dakwah, yang lebih diutamakan itu adalah isi dari tulisan yang kita sampaikan, yaitu kebenaran cahaya Islam.

Dalam dunia dakwah kepenulisan saat ini, perlu kiranya para penulis memerhatikan dan merenungkan dalam-dalam hadits shahih berikut.

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” {H.r. Al-Bukhari [no. 1291] dan Muslim [I/10], diriwayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la [I/414 no. 962], dari Mughirah}

Adakah hubungannya hadits ini dengan dunia tulis-menulis? Tentu ada. Hubungannya yaitu, kita harus cermat dalam menulis sebuah hadits. Karena buku-buku keislaman tidak bisa terlepas dari penukilan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, yang menjadi ruh buku itu. Sesederhana apapun bahasa buku yang ditulis tersebut. Dan menurut saya, kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh seorang penulis muslim, yaitu ia mampu menyebutkan derajat hadits yang dinukilnya (tapi, hal ini tidak berlaku untuk buku-buku keislaman yang berjenis fiksi). Karena, kalau hadits yang kita gunakan tersebut palsu, dan kita tidak mengetahuinya, maka apakah kita tidak resah dan takut akan ancaman hadits ini?

Mari kita cermati nasihat Ustadz Anis Matta berikut, “Jika kita ingin menulis sebuah buku,” kata beliau sebagaimana tertulis dalam buku Demi Hidup Lebih Baik, “atau sebuah makalah sekalipun, lalu buku tersebut menembus waktu, menembus ruang, menembus pikiran, menembus hati, hal tersebut sangat ditentukan berapa banyak arti yang kita berikan pada kata-kata yang kita muat dalam tulisan tersebut.”

Seberapa banyak arti yang kita berikan pada kata-kata yang kita tulis, itulah inti dari perkataan Ustadz Anis Matta tersebut. Terkait hal ini, saya teringat dengan sosok Imam An-Nawawi rahimahullaah yang menulis kitab-kitabnya dalam rentang waktu yang begitu singkat, yaitu 15 tahun. Beliau menulis semenjak berumur 30-45 tahun. Namun, betapa banyak dan menakjubkan karya-karyanya. Kenapa bisa demikian? Inilah bedanya dakwah kepenulisan, dulu dan kini. Dulu, para ulama’ kita menulis untuk mengikat, mengabadikan dan menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan dari proses pembelajaran dan pengalaman yang sangat panjang. Sedangkan kita hari ini, terkadang menulis tanpa ilmu. Kebanyakan yang mewarnai tulisan kita, hanyalah opini-opini pribadi tanpa pijakan yang kokoh dari pemahaman kita tentang nilai-nilai Islam itu sendiri.

***

“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan diikat dengan tali kekang dari api pada hari kiamat nanti.” {H.r. Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya, dishahihkan Al-Albani dalam Shahiih Sunan Abii Dawud [no. 3106]}

Mari kita renungkan. Betapa berat ancaman yang termuat dalam hadits ini. Yaitu, bagi mereka yang ditanya tentang suatu ilmu namun menyembunyikannya. Semoga kita tidak termasuk orang yang disebut dalam hadits tersebut.

“Kebiasaan menulis,” tulis Miftachul Huda dalam buku Meraih Sukses dengan Menjadi Aktivis Kampus, “sudah pasti diikuti dengan membaca, tetapi orang yang mempunyai kebiasaan membaca belum tentu meneruskannya dalam bentuk tulisan.” Dan semoga, kita adalah orang-orang yang suka membaca dan menulis. Karena dengan begitu, setidaknya kita telah berusaha untuk membagi dan menyebarkan ilmu yang kita miliki, bukan malah menyembunyikannya. Walaupun, menulis bukan satu-satunya cara kita berbagi ilmu. Karena banyak orang yang pandai menulis, tapi belum tentu pandai menjadi penceramah atau pembicara. Hal ini adalah sesuatu yang lumrah, karena bahasa tulisan berbeda dengan bahasa lisan.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Dan jika ada kekhilafan dalam tulisan ini, maka itu murni dari ketidaktahuan penulisnya. Adapun kebenaran, maka itu datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Wallaahu a’lam bish-shawab.

***
Tulisan ini terselesaikan pukul 08. 29 pagi
Senin, 23 Rabiul Akhir 1435 H/ 24 Februari 2014
Di Aula LDK BHi UNRAM
***

Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah. 2006 (Cet. 3). Kutubus Sittah; Mengenal Enam Kitab Pokok Hadits Shahih dan Biografi Para Penulisnya. Surabaya: Pustaka Progressif (Judul asli: Fi Rihabi as-Sunnah al-Kutubi al-Shihahi al-Sittah)
  2. Anis Matta. 2008 (Cet. 2). Demi Hidup Lebih Baik. Jakarta: Cakrawala Publishing (Penyunting: Herry Nurdi)
  3. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 1). Menyimak Kicau Merajut Makna. Yogyakarta: Pro-U Media
  4. Abdul Aziz ibn Nashir Al-Jalil dan Baha’uddin ibn Fatih Aqil. 2013 (Cet. 1). Kita dan Akhlak Salaf, Potret Keseharian Generasi Teladan. Solo: Aqwam (Judul asli: Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf)
  5. Miftachul Huda. 2010 (Cet. 1). Meraih Sukses dengan Menjadi Aktivis Kampus. Yogyakarta: Leutika
  6. almanhaj.or.id Dari tulisan Ustadz Yazid ibn Abdul Qadir Jawas yang berjudul “Bolehkah Hadits Dha’if Diamalkan dan Dipakai untuk Fadhaailul A’maal (Keutamaan Amal)?” Dipublikasikan pada hari Selasa, 25 Januari 2005.

Ibu, Ibu dan Ibu


Sumber: cerpennyaakido.files.wordpress.com (dengan sedikit editing)

Sumber: cerpennyaakido.files.wordpress.com (dengan sedikit editing)

“Ibuku selalu membangunganku sebelum Subuh, dan jarak waktu ke Subuh itu tidaklah terlalu dekat, lalu ia menghangatkan air untukku di musim dingin, memakaikanku pakaian, dan kemudian kami shalat sesuka kami (shalat tahajjud). Setelah itu kami berangkat ke masjid dan ibuku mengenakan khimar untuk menutupi wajahnya.”

{Imam Ahmad ibn Hanbal}
***

Ungkapan Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullaah mengenai sosok ibunya ini, saya kutip dari buku Aitam walakin ‘Uzhama’ karya Dr. ‘Abdullah al-Luhaidan dan Dr. ‘Abdullah al-Muthawwi’. Ya, tentang sosok ibu. Tentu, kita semua pun mempunyai ungkapan khusus untuk mengungkapkan sosok ibu kita masing-masing. Ya, tentang rasa cintanya yang tulus tanpa syarat kepada anak-anaknya. Dan tentang cintanya yang tak berjeda, sepanjang hayat. Berbeda dengan cinta seorang anak kepada ibunya, kadang berjeda.

Begitu mulianya sosok ibu, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam pun bersabda, bahwa surga berada di bawah kedua telapak kakinya.

Dari Mu’awiyah ibn Jahimah as-Salami, bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu.”

Beliau berkata, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab, “Ya, masih.”

Beliau bersabda, “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” {H.r. An-Nasa’i dan Ath-Thabrani, hasan menurut Al-Albani}

Sudahkah kita berbakti dengan sebaik-baiknya kepada ibu kita? Ah, saya sendiri masih merasa belum maksimal. Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla kita memohon, semoga kita dimampukan untuk berbakti dengan sebaik-baiknya. Setulus cinta.

Dan kita juga harus menyadari, bahwasanya, bagaimanapun kondisi kita hari ini, ianya tak lepas dari betapa tulusnya cinta ibu kita. Yang dengannya kita dirawat dan dibesarkan. Tentang ketulusan seorang ibu, ada sebuah ungkapan yang indah dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang ditulis dalam bukunya, Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. “Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak,” ungkap beliau dalam buku tersebut, “bernafas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada air mata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh. Tidak. Tetapi air mata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan. Agar penatnya berjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang.”

***

“Demi Allah,” tulis Asy-Syahid Hasan al-Banna rahimahullaah dalam sebuah suratnya “aku ingin sekali melewati waktu panjang menemani dan ikut merawat ibu yang masih dalam kondisi sakit. Aku selalu berfikir bagaimana aku bisa menjadikan dirinya tenang dan nyaman. Bagaimana aku bisa membahagiakan ibu? Bagaimana aku bisa menjadikannya senang dan bangga. Apakah Allah akan mengabulkan keinginanku itu?

“Ibuku,” kata Jamal al-Banna (adik Hasan al-Banna rahimahullaah), “semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya, konsisten berpegang pada kebenaran dan memiliki kepribadian yang kuat serta cerdas. Jika sudah menetapkan suatu keputusan, sulit sekali ia akan mundur dari keputusan itu.”

Seperti itulah ungkapan cinta seorang anak kepada ibunya, seraya berharap ibunya selalu berada dibawah naungan rahmatNya. Adakah kita sudah melakukannya?

Sejenak mari kita hayati, sebuah nasihat dari Al-Ustadz Dr. ‘Ali Abdul Halim Mahmud dalam kitab fiqihnya, Al-Mar’ah al-Muslimah wa Fiqhud-Da’wah Ilallaah.

“Anak,” kata beliau menasihatkan, “harus menghormati sepenuhnya kedua ibu-bapak, tidak menolak permintaannya, bahkan sesegera mungkin melaksanakan perintahnya sehingga membuat keduanya senang dan ridha.”

Selanjutnya, “Anak mendoakan kedua ibu-bapak dan memintakan kasih sayang Allah untuk keduanya, terutama ketika keduanya telah meninggal dunia.”

Ibu, betapa besarnya cintamu kepadaku. Mungkin kata inilah yang ingin disampaikan oleh Mbak Monika Retna Asih Dewi Astuti dalam puisi bertajuk “Kenanganku Bersama Ibu…” yang di muatnya dalam buku yang ditulis bersama suaminya (Solikhin Abu Izzuddin), The Great Power of Mother.

Dalam duka nestapa
Dalam perihnya kesendirian
Adakah yang sanggup menanggungnya?

Adapun engkau wahai ibu…
Ketegaranmu…
Kesabaranmu…
Ketabahanmu…
Lebih dari segalanya…

***

Selain hadits bahwa surga berada di bawah kedua telapak kaki ibu, Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam pun bersabda, bahwa ibu adalah sosok yang lebih berhak untuk kita berbakti kepadanya. Ya, dengan sebaik-baik bakti tentunya. Dan, memang seperti inilah cara Islam memuliakan sosok seorang ibu.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasul Allah, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”

Rasulullah berkata, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”

“Ibumu.” Kata Rasulullah.

Dia berkata, “Kemudian siapa?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lantas siapa lagi?”

Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam menjawab, “Ayahmu.” {H.r. Al-Bukhari dan Muslim}

Ibu, ibu dan ibu. Lalu ayah. Begitulah sabda sang Nabi, yang mengisyaratkan betapa mulianya seorang ibu.

Dalam biografinya, ‘Abdullah ibn Aun rahimahullaah sebagaimana diungkapkan oleh Abu Ishaq ar-Riqqi al-Hambali rahimahullaah, “Pernah suatu ketika ia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal tersebut itulah, maka dia menghukum dirinya dengan membebaskan dua budak.” Itulah sebentuk tanda penghormatan dan bakti seorang anak kepada ibunya. Bagaimana dengan kita?

Selanjutnya, ada sebuah teladan dari Mush’ab ibn Umair radhiyallaahu ‘anhu dan ‘Asma binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha yang ibunya masih dalam keadaan musyrik dan kafir. Ya, dari mereka kita belajar bagaimana seharusnya kita berbakti kepada ibu-ibu kita, sekalipun berbeda aqidah. Subhanallaah, betapa agungnya agama ini memuliakan sosok seorang ibu.

Mari kita renungi kisah-kisah agung ini. Dan semoga, dari kisah-kisah mereka, kita bisa meneladani akhlak-akhlaknya yang mencahaya.

Suatu ketika, sang ibu mengusir Mush’ab ibn Umair radhiyallaahu ‘anhu dari rumahnya sambil berkata, “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi!”

Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata, “Wahai bunda! Telah ananda sampaikan nasihat kepada Bunda, dan ananda menaruh kasihan kepada Bunda. Karena itu, saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha berkata, ibuku datang (ketika masih musyrik, pada saat Perjanjian Hudaibiyah), maka aku datang kepada Rasul dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku datang karena senang. Apakah aku boleh berbuat baik kepadanya?”

Nabi bersabda, “Ya, berbuat baiklah kepada ibumu.” Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pun menurunkan ayat kedelapan dari surat Al-Mumtahanah,

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” {Q.s. Al-Mumtahanah [60]: 8}

Sosoknya memang terlalu mulia. Sehingga, ketika kita berinteraksi dengan sosok yang bernama “ibu”, betapa besar pengaruhnya terhadap diri kita masing-masing. Dan, biarkanlah dua kisah berikut yang menggambarkannya. (Saya ambil dari buku The Great Power of Mother karya Solikhin Abu Izzuddin dan Dewi Astuti).

Suatu ketika, seorang wanita Barat merebahkan dirinya di kemah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullaah sambil menangis. Wanita Barat tersebut meratap dan mengadu kepadanya bahwa dua orang prajuritnya menculik anaknya. Sultan turut menangis dan segera mengirimkan orang-orangnya untuk mencari anak itu hingga ditemukan. Setelah anaknya diserahkan, wanita itu dipulangkan ke markasnya oleh Shalahuddin dengan dikawal pasukannya dalam keadaan aman dan tenang.

Kisah selanjutnya datang dari seorang Abdul Qadir al-Jailani rahimahullaah. Suatu ketika, saat masih remaja, beliau berkelana. Di tengah perjalanan ia dihadang sekumpulan perampok. Para perampok itu menggertaknya. Mereka hendak merampas harta miliknya. Karena memang itulah tugas para perampok.

Nah, saat digertak oleh gerombolan perampok itu remaja ini bergeming, sama sekali tak merinding. Tegak berdiri gagah berani. Menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri.

“Aku telah berjanji pada ibuku untuk selalu berkata jujur. Aku tak mau menghianati janjiku pada ibuku,” katanya kepada ketua divisi perampokan itu. “Aku membawa uang sebanyak 40 dinar.”

Bagaimana reaksi ketua divisi perampok itu? Mendengar jawaban jujur dan polos remaja ini, sang kepala divisi perampok pun menangis. Ia mengatakan, “Engkau takut menghianati janjimu pada ibumu? Tetapi mengapa aku tidak takut mengkhianati janjiku pada Allah?”

***

“Aku memohon kepada Allah agar memilihkan baginya apa yang terbaik bagi dunia dan akhiratnya. Sesungguhnya Ar-Rabi’ah memilih untuk terus menuntut ilmu, dia bertekad senantiasa belajar dan mengajar selama hidupnya.” Inilah ungkapan seorang ibu, sekaligus do’a kepada anaknya. Dan kini, kita pun tahu Ar-Rabi’ah ar-Ra’yi rahimahullaah menjadi ulama Madinah dari kalangan tabi’in saat usianya masih muda. Yang majelisnya dihadiri oleh Malik ibn Anas, Abu Hanifah an-Nu’man, Yahya ibn Sa’id al-Anshari, Sufyan ats-Tsauri, Abdurrahman ibn Amru al-Auza’i, Laits ibn Sa’id dan lain-lain.

Ibu. Oh, ibu. Doanya mustajab. Mari meraih ridhaNya, dengan berbakti kepadanya sepenuh cinta. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan dan memampukan kita. Allaahumma ‘aamiin.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Jum’at, 16 Shafar 1435 H/ 19 Desember 2013
Tulisan ini terselesaikan ba’da Zhuhur
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU
***

Sumber Inspirasi:

  1. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. 2012 (Cet. 13). Mereka Adalah Para Tabi’in. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayati at-Tabi’in)
  2. Dr. ‘Abdullah al-Luhaidan dan Dr. ‘Abdullah al-Muthawwi’. 2013 (Cet. 1). Mereka Yatim Tapi Jadi Orang Besar. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Aitam walakin ‘Uzhama’)
  3. Mohammad Fauzil Adhim. 2012 (Cet. 2). Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta: Pro-U Media
  4. Muhammad Lili Nur Aulia. 2010 (Cet. 1). Persembahan Cinta Istri Hasan Al-Banna. Jakarta: Tarbawi Press
  5. Solikhin Abu Izzuddin dan Dewi Astuti. 2012 (Cet. 6). The Great Power of Mother. Yogyakarta: Pro-U Media
  6. Dr. ‘Ali Abdul Halim Mahmud. 2004 (Cet. 2). Fiqih Dakwah Muslimah: Buku Pintar Aktivis Muslimah. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Al-Mar’ah al-Muslimah wa Fiqhud-Da’wah Ilallaah)
  7. Majalah Adz-Dzakiirah Vol. 7 No. 9 Edisi 51 Th. 1430/2009

Bacalah!


Sumber: saripedia.files.wordpress.com

Sumber: saripedia.files.wordpress.com

“Iqra’ tanpa bismi Rabbika berujung pada sekulerisme, atheisme, hedonisme,
dan permisifisme. Bismi Rabbika tanpa Iqra’ berujung fatalisme,
mistisme, dukunisme, khurafatisme.”

{KH. Rahmat Abdullah, Dakwah Visioner}
***  

Sejenak, mari merenungi potongan ayat Al-Qur’an berikut. Yang menjadi wahyu pertama, yang dibawa oleh Malaikat Jibril ‘alaihissallam kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.” {Q.s. Al-‘Alaq [96]: 1-3}

Ya, inilah potongan ayat Al-Qur’an yang menjadi wahyu pertama itu. Yang menjadikan kondisi tubuh sang Nabi bergemetar ketakutan dan dihampiri oleh rasa khawatir yang sangat.

“Bacalah!” kata Jibril. Lalu, Rasulullah pun menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Beliau pun lanjut bertutur, “Kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, ‘Bacalah!’” Beliau pun tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” “Lalu,” lanjut beliau lagi, “untuk kedua kalinya, dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga kemudian melepaskanku seraya berkata lagi, ‘Bacalah!’ Beliau pun tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Dan untuk ketiga kalinya, Jibril melakukan hal yang sama sembari membacakan firmanNya, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5.

***

Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah pedomannya. Maka, sebagai seorang muslim yang baik tentu pedoman tersebut harus dipelajari dengan penuh kesungguhan. Bagaimana mungkin, ketika kita mengingini diri kita mempelajari Islam secara kaffah, tetapi usaha-usaha untuk mewujudkan hal tersebut tidak pernah kita pikirkan dan rencanakan. Bukankah hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil? Mari berdoa, semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa mencurahkan hidayahNya kepada kita untuk selalu bersemangat dalam mempelajari agama ini.

Dengan semangat itu, kita pun berharap, Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan langkah-langkah kita untuk memahami agama ini. Dengan sebaik-baik dan sebenar-benar pemahaman, sebagaimana pemahaman para salafush shalih. Dan tentu, kita juga berharap menjadi orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” {H.r. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah}

Bacalah! Itulah perintah dari wahyu pertama yang diturunkan kepada sang Nabi. Maka, inilah solusi pertama untuk mempelajari Islam itu. Selain berguru kepada ahlinya, yaitu para ulama.

Bacalah! Dan, awalilah dengan menyebut nama Allah: Bismillahirrahmaanirrahiim. Agar apa yang kita baca menuai barakahNya. Karena, membaca adalah tangga menuju pintu ilmu. Dengan membaca, wawasan kita menjadi luas. Dengan membaca, alur pemikiran kita menjadi dinamis. Dan dengan membaca, kehidupan fana yang sedang kita jalani di dunia ini pun menjadi penuh makna, jelas tujuan dan arah berakhirnya.

Bacalah! Karena kitab-kitab para ulama yang terwariskan sampai saat ini, tiada gunanya jika kita tidak tergerak sedikitpun untuk membaca dan mempelajarinya. Bukankah para ulama adalah pewaris para Nabi? Sebagaimana hadits shahih, “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” {H.r. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad-Darimi, Al-Baghawi dan Al-Baihaqi, shahih menurut Al-Albani}

Bacalah! Karena ilmu yang tidak diulang-ulang, apalagi tidak pernah diamalkan dalam kehidupan yang sesungguhnya, maka ia akan cepat terlepas atau hilang dari diri pemiliknya. Masih ingat dengan kisah Imam Al-Bukhari rahimahullaah? Sang muhaddits ini suatu ketika pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah obat lupa?” Ia menjawab, “Selalu melihat ke kitab-kitab.”

Ini adalah salah satu kondisi yang pernah terjadi dalam kehidupan sang Imam, yang hafalannya sangat terkenal kuat semenjak usia mudanya. Nah, bagaimanakah dengan kondisi kita yang hafalannya sangat lemah?

Bacalah! Karena inilah jalan yang ditempuh oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah untuk menempa dirinya menjadi seorang muhaddits (ahli hadits) abad ini. Bayangkan, beliau yang pendidikan formalnya hanya sampai tingkat sekolah dasar, mampu menjadi ulama besar. Dan semuanya, berawal dari sebuah proses, yaitu gemar membaca.

Simak penuturan beliau: “Di antara bimbingan Allah dan karuniaNya padaku,” tutur Syaikh Al-Albani rahimahullaah menceritakan tentang dirinya, “bahwa Dia mengarahkanku untuk mempelajari keahlian mereparasi jam sejak awal masa mudaku. Demikian karena profesi ini tidak terikat dan tidak bertentangan dengan upayaku memperdalam ilmu As-Sunnah. Setiap hari, selain hari Selasa dan Jum’at, aku mengalokasikan waktu untuk pekerjaan ini selama tiga jam saja. Dan jangka waktu ini mencukupiku untuk memperoleh makanan pokok untukku, keluargaku dan anak-anakku tanpa kekurangan. Ini satu poin yang penting. Sedang waktu lainnya aku pergunakan untuk menuntut ilmu, menulis dan mempelajari kitab-kitab hadits, khususnya yang masih berupa manuskrip, di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.”

Sebagian besar waktu Syaikh Al-Albani dihabiskan untuk mempelajari kitab-kitab hadits di perpustakaan. Sebabnya, beliau tidak mempunyai uang untuk membeli kitab-kitab tersebut. Nah. Bagaimana dengan kita? Seberapa seringkah kita ke perpustakaan untuk meminjam dan membaca buku? Atau, seberapa seringkah kita mengikhlaskan uang jajanan kita untuk membeli buku-buku keislaman?

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Syaikh ‘Ali ath-Thanthawi rahimahullaah yang terkadang mampu menghabiskan 300 halaman dalam satu hari. Dan, rata-rata 100 halaman dalam satu hari, dari tahun 1340 sampai 1402 H.

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullaah. “Selama menuntut ilmu,” kata al-Jauzi, “aku telah membaca buku sebanyak dua puluh ribu jilid. Dengan buku aku dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka yang luar biasa, ketekunan ibadah mereka, dan ilmu-ilmu mereka yang menakjubkan. Semua itu jelas tidak mungkin diketahui oleh orang yang malas membaca.”

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Ibnu Katsir rahimahullaah. “Aku selalu membaca dan menulis,” tutur Ibnu Katsir kepada Adz-Dzahabi rahimahullaah, “pada malam hari di bawah cahaya lampu yang lemah sinarnya, sehingga mengakibatkan mataku buta. Dan, mudah-mudahan Allah berkenan mendatangkan  orang yang akan menyempurnakannya.”

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Imam an-Nawawi, Abu Bakr ibn Khayyath dan Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullaah. Yang senantiasa membaca buku walaupun dalam perjalanan. Subhanallaah! Bahkan, Abu Bakr ibn Khayyath pernah terperosok ke dalam kubangan, karena berjalan sambil membaca. Nah, kita? Jangankan dalam sebuah perjalanan, ketika waktu luang pun kadang kita malas untuk membaca. Astaghfirullahal ‘Adzhim.

Bacalah! Sebagaimana semangat membacanya Abu ‘Amr Al-Jahizh rahimahullaah. Beliau biasanya menyewa toko buku kawannya dan membaca di dalamnya.

Bacalah! Sebagimana semangat membacanya Ustadz Anis Matta, Moh. Fauzil Adhim dan Salim A. Fillah. Mereka semua, begitu gemar membaca dan merasakan manfaatnya semenjak usia belianya. Sehingga tak heran ketika Ustadz Anis Matta berorasi dan berceramah, maka kita akan terkagum-kagum dengan ilmu dan wawasannya yang sangat luas. Begitupun dengan Ustadz Moh. Fauzil Adhim dan Salim A. Fillah, buku-buku karya mereka sangat berbobot dan luas referensinya.

***

Sebagaimanapun kesibukan diri kita, entah itu sebagai siswa, mahasiswa, guru, dosen dan pengusaha, atau yang selainnya. Maka, luangkanlah waktumu sejenak, sebatas untuk membaca dan mempelajari ilmu syar’i lewat buku-buku yang ada, majalah-majalah keislaman atau internet. Karena sungguh, ia adalah sebaik-baik bekal dunia-akhirat.

Jangan sampai, hanya urusan-urusan duniawi saja yang menghabiskan waktu-waktu produktif kita. Bukankah, jika kita tersibukkan oleh perkara-perkara yang tidak bermanfaat, berarti Allah ‘Azza wa Jalla telah berpaling dari diri kita? Ya, seperti ungkapan Imam Hasan al-Bashri rahimahullaah, “Tanda, bahwa Allah berpaling dari hambaNya, adalah jika seorang hamba menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat.”

Maka, bacalah! Karena, buku yang baik adalah buku yang mampu menggandeng dan menuntun mesra hati pembaca, jiwa dan pikirannya menuju cahaya kebenaran yang hakiki dibawah naungan hidayahNya. Menjadi baiknya buku itu, bukan semata-mata bahasanya yang ringan dan mudah dipahami. Melainkan, lebih kepada tersentuhnya nurani pembaca untuk terus-menerus mengulang-ulang membaca buku itu, terlepas dari, apakah buku tersebut bahasanya ringan ataupun berat.

Bacalah! Lalu, renungkanlah apa yang Anda sudah baca. Dan, realisasikanlah ilmu yang Anda sudah peroleh dari membaca itu. Jika masih ada keraguan dari apa yang telah Anda baca, maka tanyakanlah kepada para ahlinya, terkait perkara yang Anda masih ragu tersebut. Dan, bersiap-siaplah Anda dihampiri peristiwa-peristiwa yang menakjubkan setelahnya.

Bacalah! Dan kini, tibalah saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari Islam secara kaffah.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Sabtu, 12 Muharram 1435 H/ 16 November 2013
Tulisan ini terselesaikan sebelum Adzan Shubuh berkumandang
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***
Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. 2011 (Cet. 13). Perjalanan Hidup Rasul yang Agung; Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ar-Rahiq al-Makhtum)
  2. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dan Dr. Ubaid ibn Salim al-Amri. 2013 (Cet. 1). Tips Belajar Agama di Waktu Sibuk. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Thalabul ‘Ilmi fi Zamanil Insyighalat)
  3. Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin. 2013 (Cet. 1). Akhlak Pencari Ilmu. Jakarta: Akbar Media (Judul asli: Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi)
  4. Dwi Budiyanto. 2012 (Cet. 3). Prophetic Learning; Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Solikhin Abu Izzuddin. 2013 (Cet. 3). Happy Ending Full Barokah. Yogyakarta: Pro-U Media
  6. Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dan Muhyidin Mistu. 2005 (Cet. 2). Al-Wafi; Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Al-Wafi; Fii Syarhil Arba’in An-Nawawiyyah)

Menulis Adalah Cermin Diri


Menulis Adalah Cermin Diri“Kalau kita menulis lalu tulisan kita menjadi referensi bagi milyaran umat manusia menuju surga,
semoga itulah surga sebelum surga.”

{Solikhin Abu Izzuddin, Happy Ending Full Barokah}

***

Menulis itu bukan tentang bisa atau tidaknya. Bukan juga tentang bakat. Tapi sejatinya, ia adalah cermin diri tentang apa yang kita baca, amati dan renungi di rentang-rentang waktu aktifitas keseharian kita dalam fananya dunia ini. Dan melalui tulisan, kita mencoba untuk membaginya. Agar ianya ada kebermanfaatan bagi sesama. Lalu, ia pun mewujud menjadi sebuah perenungan dan nasihat bagi diri si penulis. Maka, mari menulis untuk merealisasikan hal itu.

Menulis itu kerja keberimanan. Sebagaimana wahyuNya yang pertama dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,” baru menulis, “Yang mengajar (manusia) dengan pena.” Maka, ketika kita memulai menulis niatkanlah ia semata-mata hanya untuk meraih ridhaNya. Dengan sepenuh jiwa, penghayatan yang mendalam dan penuh kesabaran. Agar tulisan yang terlahir dari tiap jari-jemari kita beralir barakahNya. Walaupun aslinya, ia hanya sebuah tulisan sederhana. Yang mencerminkan masih dangkalnya ilmu si penulis.

Menulis itu butuh keikhlasan. Ingat dan lakukan, semata-mata hanya karena ingin meraih ridhaNya. Dan, hal inilah yang dilakukan oleh Imam Malik ibn Anas rahimahullah; sang pendiri mazhab Maliki ketika menulis kitab Al-Muwattha’-nya yang menyejarah. “Untuk apa engkau menuliskan kitab ini?” Tanya seseorang suatu ketika kepada Imam Malik. Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya sesuatu yang dikerjakan untuk Allah itu akan abadi.” Dan benar, kitab ini pun menjadi sumber rujukan yang sangat berharga bagi para ulama’ setelahnya. Bahkan, Imam asy-Syafi’i rahimahullah pun menghafal kitab ini di usianya yang belia; sepuluh tahun.

“Perhatikanlah wahai para penulis,” ungkap Abu ‘Amr Al-Jahizh, “Jika engkau melakukannya tanpa keikhlasan, tulisanmu akan menjadi seperti buih yang hilang. Seperti tumbuhan di musim buah, yang akan terbakar oleh angin musim panas.” Begitulah ungkapan Al-Jahizh, sebagimana yang dinukil oleh Ust. Muhammad Lili Nur Aulia dalam Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas JalanMu. Sejenak, mari merenungi ungkapan tersebut. Adakah kita termasuk didalamnya?

Menulis itu butuh kekuatan hati dan jiwa. Lalu, perenungan yang mendalam. Agar tulisan yang terlahir mempunyai ruh dan kekuatan. Karena sungguh, “Perkataan yang baik dalam pandangan Islam itu ibarat makhluk hidup yang keberadaannya mempunyai pengaruh.” Begitulah ungkap Syaikh Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz dalam Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushul.

Dari hati dan jiwa terlahirlah ruh dan kekuatan, lalu pengaruh. Dan hal ini awalnya adalah dari iman yang teguh dan mencahaya pada pribadi seseorang untuk menyampaikan kebenaran. Maka kita pada hari ini, menjadi saksi bagi Al-Sarkashi yang menulis kitab Mabsuth dalam 30 jilid. Aq’ad ibn al-Atsir dengan 30 jilid kitab Jami’ul Ushul wan Nihayah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan 30 jilid kitab Majmu’ Fatawa. Asy-Syahid Sayyid Quthb dengan 12 jilid kitab Fi Zhilaalil Qur’an dan kitab Ma’alim fi ath-Thariq. Kemudian, Buya Hamka dengan Tafsir Al-Azhar. Kesemuanya adalah karya-karya fenomenal (terlahir dari balik jeruji penjara) yang menyejarah dan menjadi referensi bagi jutaan bahkan milyaran orang.

“Kekuatan jiwa,” tulis Ustadz Moh. Fauzil Adhim dalam Dunia Kata, “yaitu; dalam hidup, ada yang harus diperjuangkan. Ada idealisme. Inilah yang menjadi penggerak kita, penggerak yang nyalanya berkobar-kobar dan tak mudah padam. Kekuatan idealisme inilah yang telah melahirkan penulis-penulis besar. Diantara mereka ada yang sangat produktif, ada pula yang tidak. Tetapi, satu karya yang benar-benar baik dan penuh kekuatan, akan jauh lebih berpengaruh daripada seribu buku yang tebal biasa-biasa saja. Ya, kekuatan jiwa. Bukan semata keterampilan menulis. Kekuatan jiwa itu lahir dari niat yang bersih, tujuan yang jelas, komitmen yang kuat, visi yang tajam dan sikap mental yang baik. Ada yang mereka perjuangkan dalam hidupnya. Ada yang mereka sampaikan.”

Kemudian lanjut beliau, “Demi Allah, saya mengharap dengan seluruh kekuatan yang saya miliki agar setiap tulisan mampu menciptakan perubahan besar bagi hidup, pikiran, jiwa dan agama kita. Hidup ini tak lama, sedangkan kematian amat dekat. Maka saya berharap setiap kata yang dituliskan menjadi bekal untuk hidup sesudah mati.”

Menulis itu berawal dari sebuah inspirasi. Dan, semua penulis pasti mempunyai sejarah yang berbeda-beda dalam menemukan awal inspirasi itu. Sejauh mana kekuatan awal inspirasi itu berkecamuk dalam hati dan jiwa, maka sejauh itu pula kekuatan inspirasi kita untuk tetap istiqamah dalam dunia tulis-menulis. “Aku kagum akan cepatnya karya tulis yang beliau hasilkan,” kenang Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam Al-Badrut Thali’ ketika membawakan biografi gurunya Syaikh ‘Ali ibn Ibrahim Ibn Amir, “padahal beliau sibuk mengajar. Maka pada suatu hari aku menanyakan hal ini kepada beliau. Beliau menjawab bahwa beliau tidak pernah meninggalkan menulis satu hari pun (artinya, setiap hari beliau harus menulis). Apabila ada sesuatu yang mengahalangi, ia menulis sedikit saja, meskipun hanya satu atau dua baris.”

“Lalu aku menekuni prinsipnya ini,” lanjut Imam asy-Syaukani mengenang gurunya, “dan aku melihat manfaat yang luar biasa.” Dan kita hari ini menjadi saksi atas karya tulis asy-Syaukani yang mencapai 300 judul; ada kitab yang besar, sedang dan kecil. Ya, beginilah inspirasi itu bekerja. Sungguh menakjubkan jika ianya direalisasikan. Maka, mari merenung sejenak. Apakah yang membuat kita terinspirasi untuk menulis?

Tentang menulis, saya teringat dengan Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah (wafat: 597 H). Beliau adalah ulama’ psikolog klasik. Mempunyai sifat qana’ah. Ahli dalam bidang fiqh, ceramah, sejarah, tafsir dan hadits. Menurut Ibnu Rajab rahimahullah, selama hidupnya beliau menulis sebanyak “197 kitab.” Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan “sekitar 300 kitab kecil dan kitab besar.” Lalu dari cucunya; Abdul Muzhaffar menyebutkan dalam Mir’ah az-Zamân, “kakekku mengarang 215 kitab.” Begitulah sekilas keterangan tentang Ibnu al-Jauzi yang tertera dalam salah satu kitab fenomenalnya, Shaid al-Khâtir. Sungguh luar biasa memang kontribusinya dalam dunia tulis-menulis. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita.

Tentang menulis, saya juga teringat dengan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat: 751 H). Beliau adalah guru dari Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat: 795 H) dan Ibnu Katsir rahimahullah (wafat: 774 H), serta murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat: 738 H). Tentang sosoknya, Ibnu Hajar al-‘Atsqalani rahimahullah berkomentar, “Beliau adalah sosok yang pemberani, luas ilmu, banyak mengetahui perbedaan pendapat dan mazhab salaf.” Hari-hari ini, tentu kita tak heran jika menemui begitu banyak karyanya yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Karena karya-karyanya begitu menyejarah dan berpengaruh. Yang dimana, sebagian besar karyanya berbicara tentang akhlak, moral, dan penyucian jiwa. Karena itulah, ulama’ ini sering disebut sebagai “spesialis penyakit hati (the scholar of the heart).” Sepanjang hayatnya beliau telah menghasilkan sekitar 98 kitab.

Tentang menulis, mari kita teladani kesungguhannya Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat: 676 H). Beliau adalah penulis kitab Riyaadhush Shaalihiin, Syarh Shahiih Muslim, Al-Arba’iin an-Nawawiyyah, Al-Adzkaar, dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya dalam berbagai cabang ilmu. Tentang sosoknya Ibnu al-Aththar mengatakan, “Syaikh kami rahimahullah menyebutkan kepada kami bahwa ia tidak menyia-nyiakan waktunya, baik di malam maupun siang hari, kecuali untuk kesibukan hingga di jalanan sekali pun. Ia terus menerus melakukan demikian selama enam tahun, kemudian mulai mengarang, mengajar, memberi nasihat, dan mengatakan kebenaran.”

Lalu, bagaimana caranya kita menghasilkan tulisan yang baik? Agar tulisan kita tersebut menjadi sebenar-benar tulisan dan bermanfaat bagi banyak orang. Mengenai hal ini, biarlah Ustadz Moh. Fauzil Adhim yang menjawabnya. “Tulisan yang baik,” tulis beliau dalam Inspiring Words for Writers, “membuat orang berpikir sesudah membaca. Tulisan baik ibarat melati. Bunganya jernihkan mata, baunya sedapkan jiwa, tangkainya mudah ditanam dimana saja.”

Dengan tulisan yang baik, terlahirlah karya yang baik pula. Lalu, tulisan tersebut pun menjadi karya yang fenomenal dan menyejarah. “Buku yang baik,” lanjut Ustadz Moh. Fauzil Adhim, “sekali dibaca mencerdaskan, dibaca berikutnya mencerahkan.”

Dan terbukti, buku-buku karya Ustadz Moh. Fauzil Adhim sangat berbobot dan bergizi, serta mencerdaskan. Misalnya saja, buku Mencapai Pernikahan Barakah yang diterbitkan pertama kali pada bulan Oktober 1997 oleh penerbit Mitra Pustaka, Yogyakarta. Kini, oleh penerbit yang sama, buku tersebut pun masih beredar dengan berlabel cetakan ke-28 pada bulan Desember, 2012. Atau yang lebih dahsyat lagi, buku terbaru beliau Segenggam Iman Anak Kita. Beredar pada tanggal 1 Oktober 2013, sepekan kemudian penerbitnya (Pro-U Media) sudah bersiap-siap untuk mencetak ulang lagi. Karena memang bukunya berkualitas, sehingga diburu oleh banyak orang. Begitu pun dengan puluhan karya beliau yang lainnya.

Menulis adalah cermin diri. Ya, tentang kondisi penulis itu sendiri. Karena, setiap kata-kata yang mengalir dari jari-jemari kita mencerminkan sudah sejauh mana wawasan kita terkait yang kita tulis tersebut. Dan hal ini juga, secara otomatis mencerminkan seberapa banyak buku yang telah kita baca. Lalu, tentang apa saja yang kita baca itu. Maka dari tulisan yang terlahir, tercermin pula, apakah bacaan yang kita baca itu kita pahami atau tidak. Lalu, sudahkah kita mengamalkannya terlebih dulu terkait apa yang kita tulis. Jika ia, maka tulisan kita akan benar-benar mempunyai ruh dan kekuatan yang akan mampu mempengaruhi banyak orang. Walaupun mungkin, dari semua yang kita tulis belum semuanya bisa kita amalkan.

Menulis adalah cermin diri. Awalnya adalah untuk menshalihkan diri sendiri, muaranya adalah untuk menshalihkan orang lain juga. Karena bagi seorang muslim sejati, hakikat menulis adalah untuk menebar kebaikan, kebenaran dan keindahan risalahNya. Maka, tercerminlah bagaimana sosok seorang pemuda muslim yang bersemangat dalam menjalani hidupnya; sebagaimana sosok Salim A. Fillah dalam kedelapan karya Best Seller-nya (saat tulisan ini dibuat). Aura kepribadiannya tercermin dalam karyanya, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Lalu, seiring berjalannya waktu. Dengan aktivitas dakwah yang semakin padat dan ‘ilmu yang bertambah-tambah. Maka, sosok seorang Salim pun semakin matang dan tercermin dalam karya berikutnya, Jalan Cinta Para Pejuang. Lalu, Dalam Dekapan Ukhuwah. Berlanjut kemudian, Menyimak Kicau Merajut Makna.

“Menulis untuk memperbaiki diri,” ungkap Ustadz Salim A. Fillah ketika di wawancara oleh salah seorang wartawan majalah Suara Hidayatullah (selengkapnya di Suara Hidayatullah edisi Februari 2013).

“Penulis sejati,” kata Salim A. Fillah dalam Menyimak Kicau Merajut Makna, “sama sekali tak berniat mengajari. Dia Cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya.” Maka mari menulis, karena ia adalah cermin diri kita.

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Minggu, 13 Oktober 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 10:28 pagi
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***

Sumber Inspirasi:

  1. Solikhin Abu Izzuddin. 2013 (Cet. 3). Happy Ending Full Barokah. Yogyakarta: Pro-U Media
  2. Solikhin Abu Izzuddin. 2012 (Cet. 19). Zero to Hero. Yogyakarta: Pro-U Media
  3. Muhammad Lili Nur Aulia. 2011 (Cet. 2). Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas JalanMu. Jakarta: Tarbawi Press
  4. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 1). Menyimak Kicau Merajut Makna. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz. 2010 (Cet. 6). Fiqih Dakwah. Solo: Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushul)
  6. Muhammad Shalih al-Munajjid dan Dr. Ubaid ibn Salim al-Amri. 2013 (Cet. 1). Tips Belajar Agama di Waktu Sibuk. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Thalabul ‘Ilmi fi Zamanil Insyighalat)
  7. Ibnu al-Jauzi. 2010 (Cet. 1). Shaid al-Khâtir; Nasihat Bijak Penyegar Iman. Yogyakarta: Darul Uswah (Kelompok Penerbit Pro-U Media) (Judul asli: Shaid al-Khâtir)
  8. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. 2006 (Cet. 1). Pengobatan Komprehensif Penyakit Hati. Yogyakarta: Mitra Pustaka (Judul asli: Al-Jawab al-Kafi Iiman Sa’ala ‘an al-Jawab al-Syafi)
  9. Imam an-Nawawi, Ibnu Daqiq al-‘Id, as-Sa’di dan al-‘Utsaimin. 2012 (Cet. 7). Syarah Arba’in an-Nawawi. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ad-Durrah as-Salafiyyah Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah, Pentakhrij: Sayyid ibn Ibrahim al-Huwaithi)

Hukum Cadar


Wanita Bercadar--salam-online.com

Bagaimanakah hukum cadar bagi seorang muslimah? Wajib atau sunnah? Terkait masalah ini, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama’. “Sebagaian ulama’ menganggapnya wajib, sebagian lagi menganggap sunnah bahkan ada yang menganggap cadar sebagai budaya pakaian khusus orang Arab.” (Backcover buku “Hukum Cadar” karya Syaikh al-‘Utsaimin)

Dalam bukunya ini; “Hukum Cadar”, Syaikh al-‘Utsaimin berijtihad, bahwa hukum cadar adalah wajib; hasil analisis cermat beliau berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits dan qiyas.

Secara umum, berikut adalah beberapa hal yang menguatkan beliau mewajibkan cadar;

Pertama, atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhum: “Allah memerintahkan istri-istri orang mukmin; apabila mereka keluar dari rumahnya karena suatu keperluan, agar mereka menutup wajah mulai dari atas kepala dengan jilbab dan hanya menampakkan mata saja.” Terkait atsar ini beliau berkomentar, “Penafsiran sahabat adalah hujjah. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa penafsiran sahabat termasuk ke dalam hukum marfu’ (yang disandarkan) kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.” Dan, ketika sampai pada kalimat, “…dan hanya menampakkan mata saja,” maka beliau pun berkomentar lagi, “Bahwa perkataan tersebut merupakan keringanan mengingat kepentingan dan kebutuhan melihat jalan. Sehingga apabila keperluan ini tidak ada, maka tidak dianjurkan lagi membuka mata.”

Kedua, hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha: “Adalah para penunggang kuda melewati kami, sementara kami dalam keadaan ihram bersama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika mereka tepat di hadapan kami, setiap kami menutupkan jilbabnya ke wajahnya mulai dari kepala. Dan apabila mereka telah lewat, kami membukanya lagi.” {H.r. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah}

Pada kalimat, “Jika mereka tepat di hadapan kami” yakni para penunggang kuda, “setiap kami menutupkan jilbabnya ke wajahnya.” Terkait hal ini beliau berkomentar, “Terdapat dalil akan kewajiban menutup wajah, karena yang disyari’atkan ketika ihram adalah membukanya. Seandainya tidak ada penghalang yang kuat dari membukanya ketika itu, niscaya tetap wajib terbuka sampai di depan para penunggang kuda sekalipun. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut, bahwa membuka wajah ketika ihram, hukumnya wajib bagi wanita menurut sebagian besar ulama. Sesuatu yang wajib tidak dapat dikalahkan kecuali oleh yang wajib pula. Maka seandainya berhijab dan menutup wajah dari laki-laki asing tidak wajib, tidak mungkin diwajibkan membuka wajah ketika ihram.” Beliau pun kemudian menguatkan hasil penafsirannya ini sebagaimana penjelasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Ini menunjukkan bahwa cadar dan sarung tangan sudah lazim dipakai oleh wanita-wanita yang tidak berihram. Keadaan ini menuntut untuk menutup wajah dan tangan-tangan mereka (ketika tidak ihram).”

Terkait dengan dalil-dalil orang yang membolehkan membuka wajah, maka Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila kita mencermati dalil-dalil yang dijadikan alasan bolehnya wanita membuka (wajah), maka kita temukan bahwa dalil-dalil tersebut tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang melarangnya.”

Mengakhiri tulisan sederhananya ini Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hendaklah seorang penulis dan pengarang menghindari sikap semaunya sendiri dalam mengambil dalil dan sikap gegabah untuk berbicara tanpa ‘ilmu (yang memadai) yang menyebabkan dirinya termasuk golongan orang yang tersindir oleh firmanNya dalam Q.s. Al-An’aam ayat 144; “Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia dengan tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Dalam tulisan yang begitu singkat ini, saya (penulis) beranggapan bahwa kedua dalil yang tersebut diatas; atsar dari Ibnu ‘Abbas dan hadits dari ‘Aisyah adalah dua dalil yang paling kuat (utama) dari banyaknya dalil-dalil yang diutarakan oleh Syaikh al-‘Utsaimin. Yang selanjutnya menguatkan ijtihad beliau, bahwa cadar hukumnya wajib bagi seorang muslimah.

Selebihnya, agar pemahaman Anda (para pembaca) tidak sepotong-potong terkait hukum cadar (analisis Syaikh al-‘Utsaimin), maka saya persilahkan Anda untuk membaca langsung buku ini.

Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini, maka luruskanlah saya. Karena sungguh, saya pun masih fakir ‘ilmunya terkait masalah ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Rabu, 27 Syawwal 1434 H / 04 September 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 04:20
Bertempat di Sekretariat MT Al-Kahfi FKIP UNRAM

***

Sumber Inspirasi:
Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin. 2013 (Cet. Ke-10). Hukum Cadar. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Risalatul Hijab)

Keteladanan, Hal yang Harus Dimiliki oleh Seorang Pemimpin


Sumber: jasmeerah.files.wordpress.com

Sumber: jasmeerah.files.wordpress.com

Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.
(H.r. Abu Na’im)

Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan manusia. Seperti kalimat pertama hadits yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim; “Setiap kita adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah kita pimpin.” Sadar atau tidak, setiap kita pasti memikul amanah tersebut. Yang terendah dari semua level; minimal mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Dalam level yang lebih tinggi dan cakupan yang lebih luas. Seorang pemimpin adalah teladan; dalam perkataan, sikap dan tingkah lakunya. Seperti ungkapan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan An-Nasa’i, “Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan (kemudahan dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun keadaan itu merugikan kepentinganmu.”

-Baca selengkapnya->

Pemuda Mewarnai Peran-Peran Kehidupan


Sumber: dwiwahyuni13.files.wordpress.com

Sumber: dwiwahyuni13.files.wordpress.com

Apa yang harus dilakukan anak muda itu sama seperti yang mesti dilakukan seorang petani. Ia wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi musim hujan. Bila ia menghabiskan seluruh hasil panennya, tentu ia akan miskin saat sudah tidak panen lagi.
-Ibnu al Jauzi, Shaid Al-Khâtir-

Berbicara tentang pemuda maka ada banyak cerita inspiratif yang akan terpapar. Mulai dengan semangat tingginya dalam menjalani hidup. Tentang perannya yang begitu besar. Fisiknya yang kuat. Pemikiran dan ide-idenya yang cemerlang. Dan tentang kesempatan emas ini; masa muda untuk apa ia habiskan. Apakah untuk amal kebaikan atau keburukan. Tapi semoga kita termasuk kedalam segolongan pemuda yang selalu berada dalam koridor kebaikan dan petunjukNya seperti yang tercantum dalam surat Al-Kahfi [18] ayat 30, “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.” Dan surat Al-Kahfi ayat 13, “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

-Baca selengkapnya->

Al-Kahfi dalam Taujih


Al-Kahfi dalam Taujih

Sebuah persembahan sederhana di akhir kepengurusan. Untuk ikhwah yang bergelar “Generasi Harapan” yang selalu menginspirasi saya dalam tiap episode perjalanan dakwah membersamai UKMF MT Al-Kahfi. Dibalut kebersamaan dengan jalinan ukhuwah yang erat semoga kita tetap istiqamah meniti jalanNya.

Tulisan ini merupakan kumpulan lembaran-lembaran kenangan -saya dan Al-Kahfi- yang tak kan terlupakan selama dua periode kepengurusan yang terangkum dalam sebuah E-book. Tersusun dalam segala kekurangan dan kesederhanaannya.

Terbagi menjadi lima bagian bab dan saya sebut inspirasi. Inspirasi pertama, AKU & MT AL-KAHFI, INI CERITAKU. Inspirasi kedua, SAHABAT SEJATI. Inspirasi ketiga, AL-KAHFI DALAM TAUJIH. Inspirasi keempat, SEBUAH TULISAN. Inspirasi kelima, KITA APA YANG KITA BACA.

Untuk inspirasi pertama dan kedua didominasi oleh tulisan saya sendiri. Inspirasi ketiga merupakan kumpulan-kumpulan SMS Taujih “Al-Kahfi dalam Taujih”. Bagian ini merupakan yang terbanyak karena memuat SMS taujih pilihan yang saya susun sebanyak jumlah hari selama satu tahun yaitu 366 dan mencapai 50 halaman lebih. Inspirasi keempat berisi tulisan-tulisan kader Al-Kahfi yang berhasil saya kumpulkan. Bersumber dari Newsletter Al-Adzkar, Lomba-lomba yang pernah diadakan oleh MT Al-Kahfi, update status kader di FB, memoar dan LPJ kepengurusan. Dan bagian terakhir terinspirasi dari bacaan-bacaan pribadi.

InsyaAllah E-book nya bisa di download di blog ini ketika Musyawarah Umum (Musyum) MT Al-Kahfi. Tanggal 5 Januari 2013.

Salam semangat dari saya untuk ikhwah sekalian yang selalu memberi inspirasi.