Setiawan as-Sasaki

Home » CATATAN HATIKU

Category Archives: CATATAN HATIKU

Mencintai, Bukan Dicintai


Mencintai, Bukan Dicintai

Para pencinta sejati tidak memancarkan pesonanya dari ketampanan atau kecantikannya,
atau kekuasaan dan kekayaannya, atau popularitas dan pengaruhnya.
Pesona mereka memancar dari kematangan mereka. Mereka mencintai maka mereka memberi.
Mereka kuat. Tapi kekuatan mereka
menjadi sumber keteduhan jiwa orang-orang yang dicintainya.

{Anis Matta, Serial Cinta}

***

Cinta, sebuah kata yang menyejarah. Membahasnya, maka tak akan ada habisnya. Begitulah cinta, ia tertakdir menjadi seindah-indah kata dan seluas-luas makna, saat ombak rasa berkecamuk dalam lautan jiwa. “Cinta,” tulis Anis Matta dalam Serial Cinta-nya, “adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari.”

Pada diri tiap insan, rasa cinta kepada sesama adalah fitrah penciptaan. Karenanya, semua insan pasti memilikinya. Tanpa terkecuali.

“Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” ungkap Jalaluddin ar-Rumi. Maka, tugas besar kita di alam jiwa adalah berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta itu kepada semua orang yang kita cintai. Tak lebih. Lalu, memupuknya agar ia terawat indah. Dengan mengejewantahkan kata cinta menjadi mencintai. Bukan sebaliknya, dicintai.

Ketika kita merubah kata cinta menjadi mencintai, berarti ia adalah perubahan dari kata benda menjadi kata kerja yang aktif. Subjeknya adalah tiap diri kita, objeknya adalah semua orang. Maka dalam makna ini, cinta adalah fitrah penciptaan. Karena atas semua orang, kita punya hak untuk mencintainya. Tapi, ketika kita merubah kata cinta menjadi dicintai, berarti ia adalah  perubahan dari kata benda menjadi kata kerja yang pasif. Subjeknya adalah semua orang, objeknya adalah tiap diri kita. Maka dalam makna ini, cinta termakna sebagai sesuatu yang salah. Kenapa? Karena ada unsur pemaksaan. Ya, pemaksaan itu adalah kita menginginkan semua orang harus mencintai kita. Seolah-olah, orang lain mempunyai hak dan keharusan terhadap diri kita. Padahal sejatinya tidak demikian.

Dari cinta menjadi mencintai. Maka, ia adalah sebuah perpindahan dari sesuatu yang ada namun rapuh menjadi lebih hidup; bergerak, bertumbuh dan berkembang. Lalu, menggugah dan menginspirasi. Memberi dan menumbuhkan. Respek dan apresiasi. Begitulah cinta bekerja. Bagi para pecinta sejati, kerja-kerja cintanya adalah semua sikap dan tingkah laku yang nampak kepada yang di cintai. Dan kadang, ia adalah kerja-kerja rahasia; tak nampak, tapi terasa. “Allaahu Akbar!” Ujar Salman al-Farisi ketika khithbahnya ditolak oleh wanita yang menawan hatinya, “Segala mahar dan nafkah yang telah saya siapkan, hari ini juga saya serahkan pada Abu ad-Darda’. Segeralah kalian menikah, saya siap menjadi saksinya insyaAllah.”

Begitulah Salman al-Farisi radhiyallaahu ‘anhu bersikap. Dengan kebesaran hati dan jiwa, tak sedikitpun ia nampakkan kesedihan dirinya. Salim A. Fillah ketika mengangkat kisah ini dalam karyanya, Dalam Dekapan Ukhuwah, beliau mengatakan, “Inilah gairah yang menggelora kepada saudara yang dicintai. Gairah untuk selalu memberi.” Dia sama sekali tidak menyesal telah mengajak saudaranya, Abu ad-Darda’ untuk menemaninya meminang gadis tersebut. Awalnya, dengan maksud agar pinangannya mudah diterima. Karena ia sadar, ia orang asing di Madinah.

Sungguh mulia dan bijak. Dia sadar bahwa mencintai itu fitrah; sesuatu yang lumrah. Tetapi, ketika cinta itu tak berbalas, ia juga menyadari bahwa harus dicintai seseorang itu adalah sesuatu yang tidak benar. Karena setiap orang mempunyai hak atas sejarah cintanya.

Kisah Salman ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa kerja jiwa; yaitu mencintai, tak harus bermuara sebagaimana yang kita inginkan; yaitu, dia pun mencintai kita. Dan, memang seperti itulah cinta yang fitrah. Ia adalah cinta yang wajar. Hak kita hanya sebatas mencintai saja, tak lebih. Selebihnya hak Allah ‘Azza wa Jalla, apakah Dia berkendak agar orang-orang yang kita cintai juga bisa mencintai kita atau tidak.

Maka di alam jiwa, kuatkan dan lapangkanlah hatimu untuk mencintai. Apatah mencintai dalam arti yang khusus, yaitu kepada lawan jenis. Ataukah secara umum, yaitu kepada semua orang. Dan, bukan berharap untuk dicintai. Biarlah atas kerja mencintai kita, hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang membalasnya. Karena mencintai adalah tugas iman. Sebagaimana sabda Sang Nabi dari Anas ibn Malik radhiyallaahu ‘anhu, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.” {H.r. Ibnu Hibban, shahih}

Berbeda dengan cinta kepada Yang Maha Mencintai. Dialah yang menganugerahkan cinta kepada kita. Maka, kerja cinta kita harus totalitas, bukan sewajarnya sebagaimana kita mencintai seseorang. Maka tak ada yang namanya cinta tak berbalas. Saat cinta kita terurai menjadi kerja untuk menjalankan segala yang diperintahkanNya dan menjauhi segala yang dilarangNya dengan penuh ketaatan. Semata-mata hanya karena iman dan ingin meraih ridhaNya.

Cinta adalah fitrah penciptaan. Cinta yang paling agung dan mulia adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian cinta kepada utusan pembawa risalahNya yang termulia, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka disini, mencintailah secara totalitas. Karena ia pasti berbalas. Di dunia, ridhaNya akan menyertai. Di akhirat, syafa’at  Rasulullah akan menolong kita. Dan di surga, bidadari-bidadari pun merindukan kehadiran hamba-hamba yang saling mencinta karenaNya.

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Minggu, 13 Oktober 2013
Tulisan ini terselesaikan saat sinar mentari baru beranjak dari ufuk timur
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***

Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 5). Dalam Dekapan Ukhuwah. Yogyakarta: Pro-U Media
  3. Abu Hamzah Abdul Lathif. 2013 (Cet. 1). 333 Mutiara Kebaikan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Badzlul Ma’ruf)

 

 

Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati (2)


Sumber: kenuzi50.files.wordpress.com

Sumber: kenuzi50.files.wordpress.com

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempersembahkan shalat, ibadah, hidup dan mati hanya kepada Allah Rabbul ‘Izzati. Sang Maha Pengasih lagi Penyayang, dan yang mempunyai kehendak prerogatif atas sesisi semesta ini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan bersungguh-sungguh untuk mempersembahkan kontribusi terbaik di jalan dakwah ini. “Nahnu Du’at Qabla Qulli Syai’; Kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya,” ingat dan renungi kaidah ini ‘tuk selalu menguatkan diri, saat-saat futur dalam berdakwah datang silih berganti. Lalu, agar semakin menyemangati diri, sejenak mari luangkan diri ‘tuk membaca dan merenungi, salah satu buku karya Ust. Muhammad Lili Nur Aulia; “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami.” Untuk Anda yang berkenan meluangkan waktu terkait hal ini, saya ucapkan, “selamat menjemput inspirasi.”

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meresapi kejernihan dan keluasan ‘ilmu si mufti semenjak usia dini; Imam asy-Syafi’i.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan tak mudah patah semangat dalam menuntut ‘ilmu, terkhusus ‘ilmu syar’i. Tuk kokohkan diri menjalani hidup ini. Sebagaimana semangat belajar Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani, sang penulis “Syarah Kitab Shahiih al-Bukhari,” yang kemudian bertajuk “Fathul Baari”. Yang pada awalnya (baca: semangat belajar) terinpirasi setelah melihat fenomena alam; “batu yang keras bisa hancur oleh air lunak yang menjatuhi.” Tiap hari, tanpa ada jeda ‘tuk berhenti. Lalu kita yang mengetahui kisah ini, semoga bisa terinspirasi. Akhirnya, semoga semangat beliau bisa kita teladani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari, memahami dan mengamalkan hadits-hadits yang termuat dalam kitab “Shahiih al-Bukhari.” Yang oleh penulisnya; Imam al-Bukhari, cari dan kumpulkan dari tiap wilayah yang beliau jajaki. Atas sebuah motivasi besar teruntuk menyusun kitab hadits yang shahiih, yang awalnya ini dari sebuah azzam kuat pada diri. Ah, jika kita masih bermalas-malasan dalam mempelajari hadits-hadits Nabi, tak kah kita malu pada usaha gigih nan ikhlas dari Imam al-Bukhari?

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sebagaimana Abu Bakar al-Anbari membaca sebanyak sepuluh ribu lembar pada setiap pekan yang terjalani. Lalu, sebagaimana kekuatan membaca Syaikh ‘Ali ath-Thantawi yang mampu melahap sebanyak  100 – 200 halaman tiap hari.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sebagaimana semangat dan kesungguhan Imam Ibnu Jarir ath-Thabari yang mampu menulis empat puluh halaman kitab tiap hari. Yang hal ini kemudian diceritakan kepada kita lewat lisan shalih Al-Khatib al-Baghdadi. Lalu, sebagaimana juga dengan kesungguhan al-Sarkashi yang mampu menulis kitab “Mabsuth” menjadi 30 jilid dalam kondisi berada di balik jeruji.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sebagaimana kesungguhan Abu Ishaq asy-Syairozi, seorang ahli fiqh bermazhab Syafi’i yang memuraja’ah pelajarannya sebanyak 100 kali dan mengulangi qiyas sebanyak 1000 kali. Hingga membuat badannya kurus, tersebab tekad dan cita-citanya yang tinggi. Lalu, tak kah kita malu dengan kondisi kita saat ini? Yang hanya bermalas-malas diri?

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan menjadi para penemu dan pelopor dalam kemaslahatn umat. Seperti Imam az-Zuhri yang dengan usahanya, hadits-hadits menjadi terkodisifikasi. Lalu, seperti matematikus muslim; Abu al-Wafa al-Buzjani yang handal dan fenomenal, sang pewaris kitab “Al-Kamil” (tentang ilmu aritmatika praktis) dan “Al-Handasa” (tentang penerapan geometri).

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan menjadi pendengar yang baik bagi saudara, atas masalah-masalah yang ia hadapi. Karena hal seperti ini, dapat meredam gelisahnya hati. Lalu diantara saudara kita, terjalinlah tali ukhuwah yang kokoh; diikat kuat oleh rasa saling memahami dan sejiwanya hati. Maka, berbahagialah kita dalam dekapan ukhuwah yang selalu bersemi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan memahami, bahwa berbuat kesalahan itu fitrah, tapi memperbaiki diri itu keharusan; demi jernihnya hati. Dari keruhnya dosa dan maksiat yang menjangkiti. Dengannya, indahlah perkara saling nasihat-menasihati. Yang kadang dalam medan realisasi, ianya begitu pelik dan membutuhakan kekokohan jiwa dan hati. Selanjutnya, niatkanlah hal tersebut, semata-mata hanya mengaharap ridha Sang Illahi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan selalu menjadikan saudara seiman sebagai cermin diri. Bukan malah sebaliknya, menganggap diri yang paling benar dan lebih patut diteladani. Padahal antara kita; sesama saudara seiman ibarat satu tubuh kata sabda sang Nabi. Lalu, janganlah jadikan perbedaan manhaj atau harakah sebagai penghijab diri dalam menuntut ‘ilmu syar’i. Karena sekali lagi, hal ini sulit dihindari? Tersebab hal ini berakibat pada umat Islam yang tak satu hati lagi. Yang pada akhirnya tak akan mampu membangun, ‘tuk tegaknya kejayaan Islam di zaman keterasingan ini. Maka untuk kita semua, mari menyadari hal ini. Sejak membaca tulisan ini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan berikrar, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Rasulullah adalah utusanNya,” sebagai rahmat bagi seluruh manusia; penghuni bumi ini. Maka, karena kita sudah berikrar; selanjutnya adalah mentaati perintahnya dan menjahui segala larangannya, lalu teladani dan amalkan apa-apa yang telah dicontohkan oleh sang Nabi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan memahami dan merenungi, bahwa selain dari yang telah dicontohkan sang Nabi, maka jangan diikuti. Tersebab ia berarti bid’ah-bid’ah masa kini. Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berdakwah di pentas demokrasi? Jika hal ini, bagi sebagian kita sulit ‘tuk menerimanya dengan kejernihan hati, maka cukuplah pahami. Tersebab perkara ini adalah ijtihadi. Untuk kita yang masih awam ini, sungguh tak cocok kita memperdebatkan salah-benarnya hal ini. Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang dakwahnya selalu mengusung tegaknya “Khilafah” di bumi, tanpa syarat; demi bersatunya tiap negeri dibawah naungan syari’at islami. Menanggapi hal ini, saya hanya ingin mengatakan, “Ya, memang siapa juga yang tak mau khilafah tegak di bumi ini. Kita semua, ingin pastinya ‘tuk tegak suatu saat nanti.” Lalu, bagimana dengan saudara kita, yang dakwahnya hanya mengusung “Tauhid dan Aqidah.” Terkait hal ini, saya hanya ingin mengatakan, “Ya, memang ada yang salah dengan hal ini. Bukankah dakwah Nabi pada awalnya; dan memang yang paling lama; adalah untuk tegaknya aqidah dan tauhid ini.” Bagi sebagian kita yang menyudutkan kelompok ini dengan sebutan “wahabi atau salafi” secara berlebihan. Maka sadari kesalahan diri Anda, lalu benahi diri. Terlepas dari kelompok mana kita; selama Allah yang kita sembah dan Rasulullah yang kita teladani, maka mari tumbuhkan pada diri, sikap saling memahami. Karena sungguh kita masih fakir dan dha’if dalam ‘ilmu syar’i. Bukankah pintu surga itu banyak? Jadi, tinggal kita pilih mau memasukinya lewat pintu yang mana. Pintu yang itu atau ini? Bukan malah sibuk saling membenarkan diri terkait manhaj yang diikuti?

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari “Al-Arba’in an-Nawawiyyah” karya Imam an-Nawawi. Yang memuat 42 hadits-hadits shahih tentang pokok-pokok inti dien ini. Tuk bekali diri menjalani hidup yang fana ini. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup nasihat-nasihat penuh hikmah dari salah satu kitab fenomenal; “Shaid al-Khâtir” karya Imam Ibnu al-Jauzi. Teruntuk menyemangati diri. Yang imamnya masih rapuh ini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meresapi dan merenungi mutiara-mutiara penuh hikmah dari salah satu kitab fenomenal; “Al-Hikam” karya Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari. Yang begitu menyejukkan relung-relung sanubari. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan menyaksamai sepenuh cinta, renungan-renungan yang menggelorakan dan menyejukkan jiwa dari sebuah karya fenomenal, yang sebagiannya tertulis dalam jeruji penjara; “Laa Tahzan” karya Syaikh Dr. ‘Aidh ibn Abdullah al-Qarni. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan mempelajari dan mengaplikasikan apa-apa yang menjadi uraian dalam “Mukhtashar Minhajul Qashidin” karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Sebuah ringkasan singkat nan berisi, ‘tuk menapaki titian Illahi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Yang kehadiranya menjadi harapan bangsa dan agama ini. Yang teguh pendiriannya pada kebenaran semata, sebagaimana keteguhan si kecil Ismail ketika hendak disembelih oleh ayah yang begitu mencintai, dan seperti keteguhannya para pemuda “Ashabul Kahfi.”

Bersambung…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Rabu, 21 Agustus 2013
Tulisan ini terselesaikan menjelang adzan Dzuhur berkumandang
Bertempat di Aula LDK Baabul Hikmah UNRAM

Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati (1)


Sumber: theoryofthephil.files.wordpress.com

Sumber: theoryofthephil.files.wordpress.com

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Menuntut ‘ilmu tiada henti. Lalu, berdakwah dengan hati. Akhirnya, nafi’un lighairihi. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berhujjah dengan nilai-nilai Qur’ani. Dan, menerapkan pilar-pilar sunnah dengan sepenuh hati. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Sesama saudara, jangan lupa saling nasihat-menasihati. Dan, lakukanlah hal tersebut selembut nurani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berbaju-busana sesuai dengan tuntunan syar’i. Ikhlas lillahi. Untuk menunjukkan identitas diri.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Kepada sesama, jauh dari iri dan dengki. Karena ada yang jauh lebih penting dari itu; tulus-nikmat dalam indahnya berbagi. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Perkara syirik tak diikuti, tapi dijauhi. Akhirnya, Rasulullah di hati. Allah ‘Azza wa Jalla, apalagi. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Tak terlalu fanatik kepada manhaj yang diikuti. Karena itu adalah bibit-bibit kesombongan pada diri. Yang kadang tak tersadari.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Selalu menyadari kapasitas diri. Dan, memberikan kontribusi terbaik ‘tuk dakwah yang dicintai. Dalam bingkai beramal jama’i. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Jauh dari sifat sesat-menyesati; apalagi kafir-mengkafiri. Tersebab, hal ini akan menjadi noda hitam terpekat di hati. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Benci dengan ukhuwah yang basa-basi. Hanya karena berbeda dalam masalah furu’; yang dari zaman dulu hingga kini tak mungkin dihindari.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Selalu meneladani generasi terbaik dari umat ini. Lalu, semangat dalam merealisasikannya di tiap bilangan hari. Tanpa henti-henti. Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan senantiasa membaikkan akhlak kita di tiap bilangan hari. Sebagaimana ungkapan berikut; “Guru-guru kami senantiasa melazimkan bepergian, setidak-tidaknya dua tahun sekali, untuk mengasah akhlak mulianya,” begitu ujar Imam Hasan al-Bashri. Dan, seperti ungkapan ini; “Jadikan amalmu sebagai garam dan akhlakmu sebagai gandumnya. Jangan sebaliknya. Itulah roti terlezat bagi hati yang lapar,” kata al-Qarafi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berdakwah dengan penuh hati-hati. Sesuai Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih dari sang Nabi. Tak kaku, tapi caranya penuh inovasi. Dibarengi akhlak yang baik dalam penyampaiannya, sebagaimana indahnya bait-bait sya’ir al-Mutanabbi. Dan, hasilnya banyak yang merasa tercerahi. Atau yang lebih baik lagi, dengan cara mengambil hati orang yang kita dakwahi. Sebagaimana diuraikan secara lemah-lembut dalam “Ath-Thariq Ilal Quluub” karya Syaikh Abbas as-Siisi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup berkah sejak dini. Lewat pernikahan yang suci. Sebagaimana kita di motivasi oleh Ust. Moh. Fauzil Adhim dalam salah satu buku karyanya, “Indahnya Pernikahan Dini.” Lalu, mari menjemput jodoh-jodoh kita, sebagaimana yang teruraikan dalam buku “Kujemput Jodohku” karya Ust. Fadlan Al-Ikhwani. Dengan hanya meniatkan jodoh kita karena Allah Ta’ala, sebagaimana yang tertuang dalam buku “Kupilih Engkau Karena Allah” karya Ust. Jauhar Al-Zanki. Dan, bagi yang belum dipertemukan jodohnya, mari kita maknai penantian dengan menyaksamai buku “Saat Cinta Datang Belum pada Waktunya” karya Ukty Ari Pusparini.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan memetik inspirasi, dari peri kehidupan salah satu tokoh Islam kontemporer; yang sangat sederhana dan penuh kezuhudan, teguh dalam kesabaran dan sangat tawadhu’ membawa diri. Siapakah itu? Dialah sang Mursyid ‘Aam Al-Ikhwan al-Muslimun yang ketiga; Syaikh ‘Umar at-Tilmisani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Berpikir sejernih mungkin ‘tuk menghasilkan sebuah solusi. Dalam kerja-kerja dakwah lillahi. Sebagaimana solusi cerdas ‘tuk membuat “khandaq” yang ditawarkan oleh Salman al-Farisi. Yang kemudian, atas ide ini Kota Madinah terselamatkan dari serangan musuh yang bertubi-tubi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup ‘ilmu dari kitab-kitab ahli hadits abad ini; Syaikh ‘allamah Nashiruddin al-Albani. Bukan malah menghujati.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan meraup ‘ilmu dari kitab-kitab ‘ulama besar spesialis fiqh abad ini; Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi. Bukan malah mencaci-maki.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan senantiasa menghindari dosa-dosa besar pada diri. Sebagaimana ringkasnya di uraikan. Tapi jelas dan gamblang, dalam 70 judul penjelasan yang tercatat dalam kitab “Al-Kaabair” karya Imam Adz-Dzahabi.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan merenungkan tiap kata. Lalu, diresapi sepenuh hati. Untaian-untaian penjelasan, bagaimana caranya mengobati hati-hati kita yang sedang sakit, tersebab dinodai oleh banyaknya dosa dan maksiat pada diri, yang ditulis oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya; “Al-Jawab al-Kafi.”

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan senantiasa menghidupkan waktu malam di tiap bilangan hari. Karena ganjarannya sangat besar sekali. Terkait hal ini, mari kita seksamai tulisan ringkas yang kemudian bertajuk, “Qiyamul Lail” karya Syaikh Dr. Sa’id ibn Ali ibn Wahf al-Qahthani.

Saatnya menjadi seorang muslim sejati. Dengan pribadi-pribadi tangguh, yang tak hanya kuat secara ruhani, tapi juga jasmani. Sebagaimana resep-resep kesehatan yang bernuansa islami. Yang ditulis dalam buku “Sehat Berpahala” dan “Super Health” karya dr. Egha Zainur Ramadhani.

Bersambung…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Senin, 19 Agustus 2013
Tulisan ini terselesaikan menjelang waktu Maghrib
Bertempat di Asrama Mahasiswa Universitas Mataram

Memaknai Kritik dan Nasihat


Bismillahirrahmanirrahim…

Kritik dan nasihat itu adalah keharusan. Yang mesti disampaikan jika memang ianya sangat penting dan dibutuhkan oleh si penerima nasihat. Demi sebuah perbaikan kearah yang lebih baik tentunya. Karena itu adalah sebentuk wujud kepedulian kepada saudara kita.

Sejatinya nasihat itu disampaikan dengan penuh adab, kelembutan dan keluhuran niat, agar yang kita sampaikan tak terhijabi kebenarannya. Sehingga pesannya terhubung kepada orang yang kita nasihati. Tapi, karena kita semua memiliki titik beda, maka adakalanya nasihat yang tersampaikan memiliki wujud yang berbeda pula. Terkadang pesan yang tersampaikan tergebu-gebu bercampur ego dan emosi. Tapi apalah daya bagi si penerima. Mau tidak-mau, terima-tidak terima. Ya, memang seperti itulah kadang sebuah nasihat menukik tajam pada diri kita yang tak lepas dari khilaf ini. Untuk kita semua semoga bisa menerima kritik dan nasihat dengan sepenuh hati, sejernih jiwa dan seakrab nurani. Agar pesan yang tertuju kepada kita, tersaksamai dan termaknai. Lalu petiklah buah hikmahnya.

Jum’at,  10 Ramadhan 1434 H / 19 Juli 2013
Pukul 06:31 di Aula LDK Baabul Hikmah UNRAM

Termakna Cinta, Kerja dan Harmoni


Sumber: dewasadewa.files.wordpress.com

Sumber: dewasadewa.files.wordpress.com

Cinta adalah anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Ianya menjadi fitrah pada diri tiap insan. Karena proses cinta lahirlah kita di dunia. Karena energi cinta bertahan hiduplah kita. Dan karena energi cinta pulalah kita memilih jalan dakwah ini.

Cinta begitu dahsyat. Dalam samudera kehidupan manusia, ianya termakna begitu luas; cinta kepada Allah, Rasulullah, seorang pria kepada wanita, pemimpin kepada rakyatnya, ibu kepada anak, dan cinta-cinta lainnya. Sehingga teringatlah kita bahwa diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah karena cinta. Kenapa? Karena beliau adalah sang pengemban risalah cintaNya. Ianya diturunkan dari langit untuk ditebar di muka bumi ini sebagai rahmatan lil’alamin. Dan sejenak mari kita simak Jalaluddin Rumi bersyair;

Jalan para Nabi adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita

-Baca selengkapnya->

Romantis Itu


Romantis itu, ketika engkau mencintai seseorang dalam diam. Ia tidak tahu bahwa engkau mencintainya. Seperti kisah cintanya Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az Zahra yang suci dan menyejarah. Cukuplah ia menjadi pemberi inspirasi bagimu untuk setiap kebaikan yang tampak darinya. Agar engkau menjadi insan yang lebih baik. Kelak, apakah dia tahu atau tidak bahwa engkau mencintainya. Itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah engkau tetap menyimpan dan tidak mengungkapkan rasa itu demi keridhaanNya. Dan biarlah Allah yang menentukan. Karena yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Jadi, berjodoh atau tidak nantinya dengan yang engkau cintai itulah jalan terbaik yang Allah karuniakan padamu. Dan engkau pun mensyukuri yang Allah tetapkan itu dengan hati yang ikhlas.

-Baca selengkapnya->

Memaknai Dakwah


Dakwah itu warisan para Nabi dan Rasul. Sejarahnya tidak ‘kan pernah terputus. Para pengembannya telah banyak gugur menjadi syuhada. Ruh dakwah mampu menaklukkan dunia sehingga Islam pernah berjaya dengan menguasai dua pertiga dunia.

Dakwah itu pengubah peradaban dari masyarakat Jahiliyah menjadi Islami. Dari tata kehidupan yang kacau, brutal dan tidak beraturan mnjadi damai, makmur dan bermartabat.

Dakwah itu pelita kehidupan. Ia adalah penerang menuju jalan kebenaran. Jalan yang penuh hidayah, barakah dan ridhaNya.

-Baca selengkapnya->

Hujan


Hujan adalah salah satu karunia Allah. Turunnya membawa banyak manfaat. Lalu kenapa masih banyak orang yang tidak mensyukurinya? Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala karunianya; besar atau kecil.

Hujan turun membawa misi; keseimbangan alam. Dengan izin Illahi. Bayangkan jika hujan tidak ada. Dan hanya ada musim kemarau. Apa yang akan terjadi?

Hujan itu ciptaanNya. Diturunkan ke bumi oleh malaikat Mikail atas kehendakNya. Jadi ketika hujan turun; sebentar atau lama; mendatangkan banjir, longsor atau tidak. Janganlah disalahkan dan dicela. Tapi resapilah apa ‘ibrah turunnya.

Hujan itu turunnya didamba. Oleh petani, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan. Tersebab ia adalah sumber kehidupan dan tanda kemakmuran. Atas segala ketetapan. Semoga bisa menjadi benih-benih kesyukuran.

Rabu, 06 Maret 2013
Ba’da Shubuh di Aula LDK BHi

Muslim


Menjadi muslim itu anugerah terbesar. Tak semua orang tertakdir untuk itu. Maka bersyukurlah kepada Allah.

Menjadi muslim itu konsekuensi iman. Tapi tak semua orang memahaminya. Maka pahami dan jalanilah semua itu dengan petunjuk Allah.

Minggu, 03 Maret 2013
Di D III Ekonomi Universitas Mataram
Saat acara “Musyker PSI Al-Mujahidin”

Kamis, 28 Februari 2013


Musibah adalah salah satu cara Allah untuk menguji iman hambanya. Bagi hamba yang mampu bersabar dan menerima dengan hati ikhlas, merekalah yang akan lulus dalam ujian iman.

Kekuatan kata-kata seseorang terletak pada sejauh mana referensi pemikirannya. Dan sejauh mana ia mampu mempraktikkan terlebih dahulu ucapannya. Sehingga kata-kata yang terucap mempunyai ruh yang mampu mempengaruhi.

Semakin sulit pekerjaan yang kita lakukan maka semakin besar rasa kepuasaan yang kita dapat setelah mampu menyelesaikannya. Dan sulit atau mudahnya sebuah pekerjaan akan menentukan lama atau singkatnya kita menikmati rasa kepuasan tersebut.

Selalu bersyukurlah dalam menjalani hidup ini. Tak peduli apakah karunia melimpah atau musibah besar yang sedang kita alami. Karena dengan bersyukur semua akan terasa indah; penuh barakah dan ridhaNya. Maka nikmati dan laluilah dengan sepenuh iman.

Umur kita akan terasa singkat jika kita selalu mengisi hari-hari yang kita lalui dengan amalan-amalan positif. Tapi akan terasa lama bagi orang-orang yang mengisinya dengan amalan-amalan negatif.

 -R. Setiawan-
Pukul 11.30 di Ruang 3.7 Fatepa Universitas Mataram
Saat acara “Pelatihan Tim Sukses MAI Fakultas 2013”