Setiawan as-Sasaki

Home » DAKWAH

Category Archives: DAKWAH

Sejenak, Mari Kita Rehat


Sejenak, Mari Kita RehatDisini, kita berkumpul bersebab hidayahNya
Tertuntun oleh setitik nyala iman yang mencahaya
Dengan cahaya yang redup-redup itu, lalu bergandeng-gandenglah kita
Untuk saling menguatkan antara satu dan yang lainnya
Dalam suka dan duka membumikan risalah cintaNya
Maka, jadilah kita lentera al-Haq dalam gelapnya al-Bathil yang nyata

***

“Mari kita berhenti sejenak disini!” Tulis Ust. M. Anis Matta mengawali lembar-lembar pemikiran cemerlangnya dalam “Menikmati Demokrasi.” Tulisannya pun berlanjut, “Kita memerlukan saat-saat itu; saat dimana kita melepaskan kepenatan yang mengurangi ketajaman hati, saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual, saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul, yang mungkin menguras stamina kita.”

Ya, sebagaimana ungkapan Ust. M. Anis Matta ini, sejenak mari kita merenung. Dalam-dalam. Lekat-lekat. Dengan penuh kekhusyukan. Lalu, setelah perenungan itu usai, mari kita berbenah. Sudah sejauh manakah kereta dakwah ini melaju? Apakah perjalannya lancar-lancar saja? Ataukah menemui banyak hambatan? Karena kereta dakwah ini menempuh perjalanan yang sangat jauh, maka tanyakan juga bagaimana kondisi penumpangnya. Apakah dalam kondisi baik-baik saja? Ataukah ada permasalahan?

Dalam jauhnya perjalanan dakwah ini. Dalam padatnya agenda-agenda dakwah yang terjadwalkan. Dalam kondisi semakin banyaknya penumpang-penumpang kereta dakwah yang tertarik untuk membersamai. Dalam kondisi inilah, sejenak, mari kita rehat; untuk menelisik kondisi diri sebagai pengemban amanah dakwah ini. Apakah dalam kondisi ruhiyah yang stabil atau malah sebaliknya; bermasalah. Karena hal ini sangat menentukan langkah keberhasilan dakwah kita kedepannya.

Dalam menjalani proses rehat ini, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, menit demi menit waktu yang terus berjalan. Untuk merenungi kembali, niat dan komitmen kita berada di jalan ini. Apakah terjadi bias orientasi pada niat-niat kita? Ataukah ianya masih kokoh berdiri seperti sedia kala; hanya karena meraih ridhaNya semata. Ah, entahlah. Hanya diri kita dan Allah ‘Azza wa Jalla-lah yang lebih tahu tentang kondisi ini.

Dan kini, sejenak, mari kita renungi sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam kepada ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang karenamu, ini lebih baik bagimu daripada Unta merah.” {H.r. Muttafaq ‘alaihi} Adapun sabda selanjutnya, yaitu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Barang siapa yang mengajak pada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala yang dilakukan orang yang mengikuti ajakannya, tidak berkurang sedikit pun.” {H.r. Muslim}

Sungguh, betapa besarnya pahala orang-orang yang ikhlas berdakwah. Dan, hal inilah yang menjadi alasan utama kita tetap konsisten berada di jalan ini. Bukankah begitu? Dengan dakwah, hidup yang kita jalani di dunia fana ini menjadi lebih hidup. Bagaimana tidak, karena berdakwah adalah pekerjaan mulia yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada para Nabi dan RasulNya. Lalu, kini, kitalah yang menjalankan pekerjaan mulia itu. Duh, betapa beruntungnya kita. Disini, kita adalah sekumpulan orang-orang terpilih untuk membumikan risalah cintaNya. Maka, mari sadari dan pahami hal yang mendasar ini. Agar keberadaan kita di dakwah ini, benar-benar mendatangkan ridhaNya.

Di jalan dakwah, kita berkumpul bersebab hidayahNya. Tertuntun oleh setitik nyala iman yang mencahaya. Sekali lagi, hanya untuk meraih keridhaanNya semata. Agar hidup kita berkelempihan barakah; penuh arti dan manfaat. Dan, jadilah kita orang-orang yang tersebut dalam firmanNya,

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”  {Q.s. Ali ‘Imran [3]: 104}

***

Di jalan dakwah, jadilah kita sang perindu dalam proses rehat sejenak ini. Ya, rindu dengan jalan dakwah yang penuh barakah ini. Berbekal perenungan singkat dan rasa rindu itu, kita pun memulihkan kembali semangat-semangat dakwah yang sebelumnya sempat memudar dan mengendor. Tersebab banyaknya maksiat dan dosa dari diri kita; para pengembannya, yang kadang menggelapkan niat kita yang sedari awalnya murni; lillahi ta’ala.

“Sang perindu jalan dakwah”, tulis Ust. Umar Hidayat dalam “Merindukan Jalan Dakwah”, “jiwanya selalu terisi dengan mutiara nasihat yang menjernihkan jiwa dan menjadi tulang punggung kehidupannya. Ia duduk dalam keheningan, menyerap suara-suara penyejuk jiwa dari agama yang mulia. Karena sesungguhnya agama itu senantiasa menasihati jalan hidupnya.”

Lalu, atas keletihan-keletihan yang kita rasakan di jalan ini; ianya adalah nikmat yang tercurah dari sisiNya; berisi penuh pahala, jika kita ikhlas menjalaninya. Sebagaimana sabda Sang Nabi kepada ‘Aisyah, “Ajruki ‘alaa qadri nashaabik; pahalamu senilai dengan kadar payahmu.” Dan, tersebab kesibukan kita di jalan dakwah ini, kita pun terminimalisir untuk melakukan hal-hal yang menyia-nyiakan, terlebih bermaksiat dan berbuat dosa kepadaNya. Alhamdulillah.

“Keletihan itu”, kata Ust. Muhammad Lili Nur Aulia menasihatkan, “akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dalam perjalanan kereta dakwah ini, sejenak, mari kita rehat di terminal majelis-majelis iman. Untuk mengisi dan menambah bekal-bekal ruhiyah kita yang mulai kehabisan, tersebab masih jauhnya perjalanan dakwah ini. Sebagaimana ungakapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Duduklah bersama kami, biar kita beriman sejenak.”

***

Oleh: Setiawan sa-Sasaki
Jum’at, 21 Zulqa’dah 1434 H/ 27 September 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 15.07
Di rumah tercinta

***

Sumber inspirasi:

  1. M. Anis Matta. 2010. Menikmati Demokrasi. Bandung: Fitrah Rabbani
  2. Umar Hidayat. 2011 (Cet. 1). Merindukan Jalan Dakwah. Yogyakarta: Darul Uswah (Kelompok Penerbit Pro-U Media)
  3. Muhammad Lili Nur Aulia. 2009 (Cet. 4). Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami. Jakarta: Pustaka Da’watuna
  4. Salim A. Fillah. 2011 (Cet. 6). Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
Advertisements

Training Politik II PD KAMMI NTB


Sumber: Dok. Pribadi

Sumber: Dok. Pribadi

KAMMI, Menuntaskan Agenda Perubahan. Inilah tema besar “Training Politik II” yang diadakan oleh Bidang Kebijakan Publik (BKP) PD KAMMI NTB pada Sabtu-Ahad (29-30/6) di Aula Asrama Haji Provinsi NTB. Total peserta (Anggota Biasa 2/ AB 2) yang resmi menjadi peserta penuh adalah 27 orang dari 45 orang yang direkomendasikan untuk mengikuti acara ini. Kesemuanya berasal dari masing-masing KAMMI komisariat se-NTB.

Ada lima materi yang dibahas dalam kegiatan ini, yaitu: 1) Kondisi Sosial Politik NTB oleh Fahrurrozi, ST, 2) Gerakan Ideologi Internasional oleh H. Gunawan Ruslan, Lc., 3) Konsep Negara Islam dalam Mengatasi Problematika Sosial oleh Zaenuddin Sulaiman, Lc., 4) Perubahan Sosial oleh Agus Siswoaji Utomo, dan 5) Paradigma Dakwah Tarbiyah oleh Satriawan, Lc., MA. Selain kelima materi tersebut ada juga Forum Group Discussion (FGD) yang bertujuan mengasah kepekaan pemikiran para peserta training tentang politik, khususnya mengenai kondisi perpolitikan di Provinsi NTB.

Mulai dari pembukaan pada hari pertama hingga penutupan acara peserta mengaku sangat puas. Materi-materi yang disampaikan memang luar biasa. Kepakaran masing-masing pemateri sangat menunjang materi yang disuguhkan kepada seluruh peserta training. Selain itu, pelayanan yang optimal dari panitia jugalah yang membuat acara ini berjalan dengan sukses dan berkesan. Wajar jika ternyata acara yang singkat ini menghabiskan total dana yang tidak sedikit, yakni Rp 9.000.000,00.

“Setelah mengikuti kegiatan ini saya harapkan antum wa antunna semua bisa memberikan kontribusi yang terbaik untuk perkembangan komisariatnya masing-masing,” ungkap M. Rizal Khadapi selaku Master of Training (MOT) ketika penyampaian laporan kegiatan ini di akhir acara.

Sebelum penutupan, dibacakan juga peserta yang meraih predikat terbaik. Ketiga peserta terbaik tersebut ialah: 1) Hulyatul Isna dari KAMMI Komisariat UNRAM, 2) R. Setiawan dari KAMMI Komisariat UNRAM, dan 3) Ibnu Sina dari KAMMI Komisariat Lombok Timur.

Sosialisasi Manhaj Kehumasan KAMMI Terbaru & Pembahasan Agenda Bersama


Sumber: Awan Design's Creations

Sumber: Awan Design’s Creations

Sekretariat PD KAMMI NTB. Rabu, 16 Januari 2013 pukul 13.00-14.45. Merupakan tempat dilaksanakannya sosialisasi awal Manhaj Kehumasan & Agenda Bersama seluruh Bidang Humas KAMMI Komisariat sebelum sosialisasi yang lebih lengkapnya bersamaan dengan disosialisasikannya hasil Mukernas KAMMI Pusat dalam waktu dekat ini.

Diawali dengan tilawah kemudian taujih dari ketua KAMDA. Maka sosialisasi pun dimulai walaupun peserta hanya beberapa, tidak lebih dari 15 orang. Dalam taujihnya ketua KAMDA mempunyai harapan yang besar kepada Humas seluruh Komisariat yang ada di NTB agar kedepannya bisa lebih mandiri dan professional. Dan semoga kata beliau “tahun berikutnya web atau blog masing-masing Humas Komisariat bisa lebih maju lagi.” Dengan begitu maka KAMDA tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan tangga keberlangsungan regenarasi yang spesialis di bidang kehumasan.

Adapun Kepala Bidang (Kabid) Humas baik ikhwan maupun akhwat dari seluruh komisariat -wilayah Mataram- yang berkesempatan hadir kali ini yaitu Ahmad Ridwan Hamdani (Komisariat IKIP Mataram), Quratu ‘Aini (Komisariat IAIN Mataram), Candra Kirana & Ika Nurfajri M. (Komisariat Universitas Mataram).

Selain sosialisasi Manhaj juga dibahas agenda bersama antara Humas KAMDA dengan seluruh Humas Komisariat. Dan insyaAllah Jum’at besok, 18 Januari 2012 pukul 14.00 akan dilaksanakan acara Silaturrahim Tokoh dengan seorang novelis kelahiran Bima, NTB. Yang baru-baru ini balik dari Jerman. Inti dari silaturrahim adalah beliau -N. Marewo- menjanjikan kepada KAMDA NTB untuk membedah novel terbarunya yang berjudul “Legian Kuta” yang baru saja terbit. Karena cetakan pertama dari buku ini yaitu pada bulan Januari 2013. “Oleh karena itu ini merupakan kesempatan yang sangat baik” ungkap ketua KAMDA, Ahmad Dahlan, S.Pd. Dan tentu ini adalah sebuah respon positif dari seorang tokoh daerah ke organisasi KAMMI yang perlu kita tingkatkan lagi kedepannya.

Selain hal-hal diatas dalam waktu dekat ini, Humas KAMDA juga akan melaksanakan Workshop Training Kehumasan II. InsyaAllah awal bulan Februari 2013. Terkait peserta yang bisa mengikuti kegiatan ini yaitu orang-orang yang sudah direkomendasikan oleh Humas Komisariat masing-masing. Dan tentunya semua alumni Training Kepemimpinan II. (Awan)

Hijrah, Sebuah Inspirasi & Semangat Perjuangan


Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
(Q.s. Al-Hasyr [59]: 18)

Hijrah merupakan perpindahan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pengikutnya dari Makkah ke Yastrib -Madinah-. Berjarak 320 kilometer -200 mil- utara Makkah.1 Hijrah ini terjadi karena ada skenario pembunuhan terhadap Sang Nabi dari kaum Quraisy. Untuk menghindari hal tersebut maka turunlah perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada Rasulullah untuk melakukan hijrah.

Berikut adalah cuplikan sejarah singkat disepakatinya peristiwa hijrah Nabi sebagai titik awal dimulainya tahun hijriah bagi umat Islam. Suatu ketika Abu Musa al Asyari sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah ‘Umar bin al Khaththab Radhiyallaahu ‘Anhu menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Karena hal tersebut, khalifah ‘Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka; Utsman bin Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiyallaahu ‘Anhu. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Sang Nabi menjadi Rasul. Dan yang diterima; usul dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah dari Makkah ke Yatstrib -Madinah-. Maka semuanya setuju dengan usulan Ali dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah -pada tahun 638 M (17 H)-. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Itulah bukti awal peradaban sejarah Islam yang ditorehkan oleh Khalifah ‘Umar, beliau ingin sekali bahwa umat Islam harus maju dengan mempunyai kalender -penanggalan- tersendiri. Lalu bagaimana seharusnya umat Islam saat ini menyikapi datangnya tahun baru hijriah? Apakah seperti memperingati datangnya tahun baru masehi? Ataukah datangnya kita sikapi biasa-biasa saja -acuh tak acuh-. Bagi saya pribadi datangnya tahun ini merupakan hal yang patut kita syukuri. Karena syarat makna dan penuh hikmah untuk sebuah perubahan.

Kaitannya dengan muhasabah diri tentu merupakan sebuah keharusan. Bukankah kita sering mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Kenapa tidak momentum tahun baru hijriah kita gunakan sebagai titik tolak perubahan bagi diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan sekitar. Terlepas dari skenario rencana pembunuhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, hikmah dari hijrahnya nabi dari Makkah ke Madinah adalah bukan hanya sekedar menyelamatkan diri dari fitnah dan penyiksaan semata. Tapi dampak setelah beliau berhijrah adalah pengikutnya semakin bertambah dan tampaklah cikal bakal akan berkembangnya sebuah peradaban Islam dengan dibangunnya masjid pertama, Masjid Quba. Begitu pun dengan kita saat ini seharusnya mempunyai visi dan misi perubahan yang jelas dalam setiap kedatangannya. Terlebih kita sebagai Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang notabenenya bergelut di bidang pelayanan keummatan, tentu muhasabah diri itu sangat diperlukan untuk menilai sejauh mana kinerja kita selama ini dan salah satu momentumnya adalah pergantian tahun hijriah ini.

Pengertian muhasabah ialah melihat keadaan modal, keadaan keuntungan dan kerugian, agar dapat mengenal pasti sebarang penambahan dan pengurangan. Modalnya dalam konteks agama ialah perkara yang difardhukan, keuntungan ialah perkara sunat dan kerugiannya pula ialah maksiat.

-Ibnu Qudamah-

Muhasabah Pertama, Sebuah Inspirasi

Sesiapa yang tidak memuhasabah dirinya di dunia, maka dia berada di dalam kelalaian.

-Ibnul Qayyim al Jauziyah-

Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam adalah inspirasi. Kedatangannya di Madinah merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Sambutan yang disuguhkan begitu meriah dengan alunan rebana dan syahdunya lantunan Tahmid dan Taqdis (penyucian).

Dan terlihat antusiasme yang begitu tinggi dari penduduk Madinah. Semuanya berebut ingin sang Nabi berkenan singgah di rumah salah satu dari mereka, karena merupakan sebuah kehormatan dan kebagaiaan tersendiri tentunya.

Karena tentangmu Ya Rasulullah, ialah sebaik-baik kisah, seindah-indah cermin, semulia-mulia jalan, semurni-murni teladan.

Karena pada dirimu Ya Rasulullah; sebening-bening hati, sejernih-jernih jiwa, sedalam-dalam ilmu, setepat-tepat fahaman.

Karena dalam tindakmu Ya Rasulullah; seikhlas-ikhlas niat, seihsan-ihsan amal, seteguh-teguh prinsip, sejelas-jelas ikutan.

Karena di tiap langkahmu Ya Rasulullah; seagung agung akhlaq, seluhur-luhur budi, segenap-genap syukur, seutuh-utuh sabar.

Karena pada senarai hela nafasmu Ya Rasulullah; ada sederu-deru dzikir, sesyahdu-syahdu khusyu’, setunduk-tunduk tawadhu’.

Karena ucapanmu Ya Rasulullah; sefasih-fasih kata, sedalam-dalam makna, sekokoh-kokoh hujjah, setampak-tampak pembuktian.

Karena pribadimulah Ya Rasulullah; semesra-mesra suami, segagah-gagah ayah, semantap-mantap kakek, seakrab-akrab sahabat.

Karena engkaulah Ya Rasulullah; setaat-taat hamba, serajin-rajin guru, seberani-berani panglima, sepuncak-puncak pemimpin.

-Salim A. Fillah, Karenamu Ya Rasulullah

Hijrahnya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam ke Madinah, Ia adalah inspirasi. Kita…? Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menjadikan momentum hijrah sebagai sebuah inspirasi? Bisakah? Menurut saya ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan inspirasi ketika datangnya tahun hijriah dalam konteks muhasabah diri: 1) Berbuat kekhilafan adalah fitrah manusia. Tidak bisa dihilangkan tapi bisa dikurangi/minimalisir. Oleh karena itu mari kita hijrahkan diri ini dari banyak melakukan kekhilafan di tahun sebelumnya menjadi lebih banyak melakukan kebaikan di tahun berikutnya. 2) Jangan meremehkan amalan-amalan kecil seperti sholat sunnah, puasa sunnah, tilawah, infaq dan shadaqah. Karena bisa jadi itulah amalan yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak. Oleh karena itu hijrahkan hati ini dengan berbuat “sedikit-dikit lama-lama jadi terbiasa.” InsyaAllah amalan kecil ketika kita istiqamah menjalankannya maka amalan tersebut akan menjadi luar biasa. 3) Jin dan manusia diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla hanya untuk beribadah kepadaNya. Berarti segala sesuatu yang kita lakukan -apapun itu- harus diniatkan semata-mata ibadah kepadaNya. Oleh karena itu mari kita hijrahkan niat ikhlas ini hanya kepadaNya.

Muhasabah Kedua, Semangat Perjuangan

Muhasabah ialah membedakan antara apa yang diperolehinya dan apa yang perlu ditanggungnya. Setelah mengetahui yang demikian, maka dia hendaklah membawa apa yang diperolehinya dan melunaskan apa yang ditanggungnya. Dia seolah-olah seorang musafir yang tidak akan kembali.

-Ibnul Qayyim al Jauziyah-

Bagi aktivis dakwah semangat perjuangan dalam menapaki lika-liku, onak dan duri serta segala romantika di jalanNya haruslah stabil dan konsisten. Agar hati ini selalu istiqamah meniti jalanNya. Karena akan sangat berpengaruh terhadap hasil-hasil kerja dakwah yang dilakukan. Tanpa semangat perjuangan agenda dakwah yang kita laksanakan akan kurang berkesan dan terlihat biasa-biasa saja.

Abu Bakar ash-Shiddiq ketika menemani perjalanan hijrah Rasulullah ke Madinah begitu banyak hal yang harus ia lakukan dan korbankan. Mulai dari menggendong Rasulullah karena kedua kaki beliau lecet -tanpa alas- setelah sampi bukit Tsur, sebuah bukit yang tinggi, jalannya terjal, sulit didaki dan banyak bebatuan. Pun ketika tiba di pintu Gua Tsur, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, engkau jangan masuk dulu sebelum aku masuk; jika ada sesuatu di dalamnya, maka biarlah hanya aku yang mengalaminya. Kemudian ia masuk untuk menyapunya. Dan didapatinya di sisi gua tersebut ada beberapa lubang, maka diapun menyobek kainnya dan menyumbatnya tetapi masih tinggal dua lubang lagi, lantas ditutupnya dengan kedua kakinya. Kemudian dia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, “Masuklah.” Rasulullah pun masuk dan merebahkan kepalanya di pangkuannya lalu tertidur. Sementara kaki Abu Bakar yang dipergunakan untuk menyumbat lubang disengat (binatang berbisa) namun dia tidak bergeming sedikit pun karena khawatir membangunkan Rasulullah.” Kemudian setelah tiga malam di gua Tsur -karena dirasa aman- mereka pun meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan. Jarak Madinah yang masih jauh membuat mereka harus banyak istirahat. Dan ketika Rasulullah istirahat -tidur- karena kecapean, beliau Abu Bakar rela tidak tidur demi mengawasi kondisi sekeliling Rasulullah.

Ya itulah pengorbanan. Ia butuh kerja nyata dan ikhlas, sekecil apapun. Dan hal tersebut tidak akan bisa ada tanpa diawali dengan sebuah semangat perjuangan. Semangat yang didasari iman karena Allah ‘Azza wa Jalla.

Hitunglah diri kamu sebelum kamu dihitung dan perhatikan amalan shaleh yang kamu simpan untuk dirimu pada hari yang dijanjikan dan ketika kamu dihadapkan di hadapan Tuhan kamu.

 -Ibnu Katshir, Tafsir Q.s. Al-Hasyr [59]: 18

Oleh: R. Setiawan
Lomba Mengarang Memperingati Tahun Baru Islam 1434 H yang diadakan oleh Bidang Sosmas PK KAMMI UNRAM dengan tema “Hijrah Sebagai Momentum Muhasabah Diri”

 

Kolom Pendapat Anda…