Setiawan as-Sasaki

Home » MUHASABAH DIRI

Category Archives: MUHASABAH DIRI

Bagaimanakah Ikhlas Itu?


Sumber: logos.textgiraffe.com

Sumber: logos.textgiraffe.com

Tiap kita mengagungkan kebaikan sendiri, jadilah ia kian tak bernilai di sisi Allah.
Tanamlah sebagian biji kebaikan di bawah permukaan,
sebab jika menggeletak dan tampak; ia sulit tumbuh sempurna.

{Salim A. Fillah, Menyimak Kicau Merajut Makna}
***

‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” {H.r. Al-Bukhari dan Muslim}

Sejenak, mari kita renungi hadits ini dalam-dalam.

Semua amal perbuatan tergantung niatnya. Adakah kita memperhatikan hal ini dalam setiap amal yang telah kita jalani? Atau, sudahkah kita memahami makna hadits ini? Jawaban dari pertanyaan ini ada pada diri kita masing-masing. Ah, jangan-jangan kita hanya sekedar pernah mendengar saja tentang hadits ini, lalu kita abaikan begitu saja. Tanpa berusaha untuk memahami dan mengamalkannya. Astaghfirullaahal ‘adzhim.

“Hadits ini setengah dari ajaran Islam,” kata Imam Abu Dawud rahimahullaah, “Karena agama bertumpu pada dua hal: Sisi lahiriyah (amal perbuatan) dan sisi batiniyah (niat).” Inilah salah satu pendapat yang dipakai oleh Syaikh Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dan Dr. Muhyiddin Mistu ketika menjelaskan pentingnya hadits ini dalam Al-Wafii, Fii Syarhil Arba’in an-Nawawiyyah.

Seperti apa dan bagaimanakah sebenarnya niat itu? Berikut jawabannya dari Imam Al-Ghazali dan Yahya ibn Abu Katsir.

“Niat itu hanyalah spontanitas hati,” tutur Imam Al-Ghazali rahimahullaah, “yang berjalan melalui jalan-jalan yang dibukakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niat tidak masuk dalam wilayah ikhtiar manusia. Mungkin saja dia hadir mudah dalam waktu tertentu tapi bisa mudah pula berubah. Niat yang ikhlas umumnya akan mudah muncul bila hati seseorang memang cenderung kepada agama, bukan kepada dunia.”

Selanjutnya, “Pelajarilah niat!” kata Yahya ibn Abu Katsir rahimahullaah, “Sesungguhnya niat itu lebih dapat menyampaikan kepada tujuan daripada amal.”

Masih ingat dengan kisah Imam Malik? Suatu ketika, Imam Malik ibn Anas rahimahullaah ditanya tentang alasannya menulis kitab Al-Muwattha’-nya yang menyejarah. “Untuk apa engkau menuliskan kitab ini?” Tanya seseorang kepada Imam Malik. Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya sesuatu yang dikerjakan untuk Allah itu akan abadi.” Dan benar, kitab ini pun menjadi sumber rujukan yang sangat berharga bagi para ulama’ setelahnya. Bahkan, Imam asy-Syafi’i rahimahullaah pun menghafal kitab ini di usianya yang belia; sepuluh tahun.

Setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Ah, saya jadi teringat dengan kisah Ustadz Salim A. Fillah. Ya, tentang buku-bukunya. Dan, tentang nikahnya di usia muda; umur 20 tahun.

Tentang buku-bukunya, sekilas beliau bercerita di awal buku keempatnya, Bahagianya Merayakan Cinta. Selain itu, beliau juga bercerita tentang buku-bukunya ketika di wawancarai oleh wartawan Majalah Suara Hidayatullah (selengkapnya, lihat di Majalah Suara Hidayatullah Edisi Februari 2013). Apa kata beliau tentang buku-bukunya? “Menulis itu tidak terlepas dari umur. Jadi, ketika saya menulis buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, saat itu memang kondisi saya mendambakan keindahan pernikahan secara islami. Lalu, ketika saya menulis Agar Bidadari Cemburu Padamu, karena memang saya mendambakan seorang istri yang shalehah sebagai pendamping hidup saya kelak. Dan, ketika menyusun arah perbaikan diri bersama istri, saya menulis GueNeverDie.” Begitu katanya. Dan kini, kita pun tahu, pernikahan yang islami dan Bidadari shalehah yang di dambakannya telah terkabulkan. Sebagaimana yang telah diniatkannya semenjak awal.

Tentang kisah nikahnya, beliau pernah menyelipkannya dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang. Tapi, tanpa menyebut nama beliau sendiri. Dan, kisah ini tertulis dalam beberapa kalimat saja, di bagian-bagian akhir buku. Uniknya, beliau telah meniatkan (menargetkan) dirinya semenjak SMA untuk menikah ketika kuliah; tepatnya saat semester empat; ketika umur beliau genap 20 tahun. Dan benar saja, yang diniatkan ini pun terkabul.

Barangsiapa berhijrah karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullaah ketika mensyarah hadits ini mengatakan, “Yakni, ia mendapatkan apa yang diniatkannya, dan mendapatkan pahala dari Allah.”

“Adapun yang dimaksud dengan hijrah dalam hadits ini,” kata Syaikh Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dan Dr. Muhyiddin Mistu, “adalah perpindahan dari kota Makkah dan kota-kota lain ke kota Madinah, sebelum fathu Makkah (penaklukan kota Makkah).” Lalu, lanjut beliau menjelaskan, “Kata hijrah juga dipergunakan untuk hal-hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju. Untuk redaksi kalimat akhir hadits ini, tentu kita semua tidak menginginkannya. Sebab, jika dunia yang menjadi landasan kita untuk beramal, betapa ruginya diri kita. Barakah hidup tidak kita peroleh. RidhaNya, apalagi.

Nah, bagaimana dengan kisah Salim A. Fillah diatas? Karena Allah dan RasulNya atau karena dunia beliau mendasarkan niatnya? Jawabannya: Tentu, karena Allah dan RasulNya. Kenapa? Karena beliau menulis buku, niatnya adalah untuk memperbaiki dan membaikkan diri. Kemudian nikahnya dalam usia muda, adalah untuk menjalankan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan, demi menjaga kesucian dirinya. Wallaahu a’lam bish-shawab.

***

Pada bagian penjelasan tentang fiqhul hadits (kandungan hadits) ini, Syaikh Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dan Dr. Muhyiddin Mistu menulis, “Semua perbuatan baik dan bermanfaat, jika diiringi niat yang ikhlas dan hanya mencari keridhaan Allah, maka perbuatan tersebut adalah ibadah.”

Jadi, dari hadits ini juga, kita diharapakan agar selalu ikhlas dalam beramal. Seperti ungkapan Imam Fudhail ibn ‘Iyadh rahimahullaah, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah bila Allah menyelamatkan Anda dari keduanya.”

Ah, betapa mudahnya kata ikhlas diucapkan. Tapi sungguh, sangat sulit direalisasikan dalam medan amal. Karena ikhlas, adalah kunci diterima dan dilipatgandakannya nilai dari sebuah amal. Sejenak, mari kita hayati pemaknaan-pemaknaan kata ikhlas dari para mukmin sejati. Mulai dari generasi shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga generasi kita saat ini. Semoga, dengan kita mengetahui bagimana pemaknaan-pemaknaan tentang ikhlas itu. Kita menjadi semakin mudah untuk memahaminya. Dan, hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla kita memohon hidayah, agar diberi pemahaman yang benar.

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti do’a yang sering dipanjatkan oleh ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, “Ya Allah, jadikanlah semua amal-amalku adalah keshalihan, dan jadikanlah ia hanya untukMu semata, dan jangan sampai amal itu sedikitpun untuk seseorang.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Al-Khansa’ radhiyallaahu ‘anha ketika anak-anaknya syahid di medan peperangan, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan syahid. Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-anakku di surga nanti.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Imam Hasan al-Bashri rahimahullaah, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti saat ia menginginkan sesuatu. Jika sesuatu itu diinginkan karena Allah, ia lanjutkan untuk melakukannya. Tapi bila sesuatu itu bukan karena Allah maka ia menundanya.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ‘Ali ibn Husain rahimahullaah (cucu ‘Ali ibn Abi Thalib), yang lebih dikenal dengan nama Zainul Abidin (hiasan para ahli ibadah), yang keluar malam-malam di bawah kegelepan langit Madinah dengan memikul sekarung tepung di punggungnya. Lalu, beliau berkeliling ke rumah para faqir miskin yang tak suka menadahkan tangannya, tanpa diketahui oleh mereka. Dan kelak, ketika beliau wafat, ada bekas hitam di punggungnya; yaitu bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah. Akhirnya, para fakir miskin pun tahu, tentang sesosok rahasia yang selalu membawa sekarung tepung tersebut.

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti kisah yang diriwayatkan oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah dalam kitabnya, Siyar A’laam an-Nubalaa’. “Daud ibn Abi Hind,” kata beliau mengisahkan, “berpuasa sunnah selama empat puluh tahun tanpa diketahui keluarganya. Ia biasa membawa makanan di pagi hari, tapi di tengah jalan saat siang, makanan itu ia berikan kepada faqir miskin.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Junaid rahimahullaah, “Keikhlasan itu adalah rahasia anatara Allah dan seorang hamba. Tidak diketahui oleh malaikat sehingga tidak bisa ditulis, tidak diketahui oleh syaitan sehingga tidak bisa dirusak oleh syaitan. Juga tidak bisa dikenali hawa nafsu sehingga tidak bisa disimpangkan oleh nafsu.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah ketika berada dipenjara Damaskus, “Apa yang mereka lakukan padaku?” katanya, “Jiwaku merdeka dalam Genggaman Allah. Jika aku dipenjara, jadilah ia rehat. Jika dibuang jadilah ia tamasya. Jika dibunuh, apalagi yang lebih kurindukan selain menemui Allah dengan tercatat sebagai syuhada?”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah dalam Madarijus Saalikin, “Barangsiapa yang bersaksi atas keikhlasan dirinya, maka keikhlasannya itu memerlukan keikhlasan. Indikator kekurangan orang yang ikhlas dalam keikhlasannya, sejauh mana ia merasakan dirinya ikhlas, berarti dialah seorang yang ikhlas, dan benar-benar ikhlas.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu ketika Imam Al-Bukhari rahimahullaah menuntut ilmu dari 1.080 guru. Kemudian, saat beliau menulis kitab Shahih Bukhari selama enam belas tahun dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Kini, berkat jerih payahnya itu, kitab haditsnya pun menjadi yang paling tsiqat dari Kutub as-Sittah.

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Asy-Syahid Hasan al-Banna rahimahullaah. “Ikhlas,” kata beliau, “adalah bila seorang pejuang muslim yang mengorientasikan perkataannya, amalnya, dan jihadnya semua untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Serta, mengharap ridhaNya dan kebaikan pahalanya. Tanpa melihat pada perolehan harta, manfaat, penampilan, kedudukan, julukan, kemajuan atau kemunduran. Agar ia menjadi seorang yang ikhlas, menjadi bala tentara fikrah (ideologi) dan aqidah (keyakinan), bukan bala tentara keinginan atau manfaat.”

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu ketika Lathifah Husain ash-Shuli (istri Hasan al-Banna) meminta suaminya untuk membawa sebagian besar perabotan rumah mereka (karpet, gorden, meja-meja, dan yang lainnya) untuk dipakai di sekretariat pusat Al-Ikhwan al-Muslimun yang baru saja dibangun. Sekretariatnya adalah sebuah kantor sewaan di kota Kairo. Padahal, perabot tersebut sangat dibutuhkan oleh keluarga Hasan al-Banna sendiri.

Bagaimanakah ikhlas itu? Ikhlas yaitu seperti ungkapan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim dalam bukunya, Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Apa kata beliau? “Sebiji kurma,” katanya, “yang kita sedekahkan dengan hati penuh keikhlasan, nilainya lebih besar daripada setumpuk uang yang kita keluarkan demi mengharap tepuk tangan.”

Atau, “Mungkin ikhlas itu permata. Berkilau karena tiada henti diasah dengan amal bermakna, walau kadang ada rasa tersiksa. Mungkin ikhlas itu emas. Murninya karena dilelehkan panas; dibakar agar kerak dan noda terlepas, hingga kilaunya jelas. Mungkin ikhlas itu mutiara. Terbentuk karena ada yang luka. Jauh di kedalaman samudra. Perlu keberanian untuk meraihnya.” Begitu perumpamaan Ustadz Salim A. Fillah tentang ikhlas, yang tercatat dalam buku Menyimak Kicau Merajut Makna.

***

“Jika ada yang sungguh-sungguh engkau gelisahkan,” kata Ustadz Mohammad Fauzil Adhim menasihatkan, “mengapa masih sibuk mencari ide tulisan?” Karenanya, saya tulis catatan singkat ini sekedar sebagai sebuah renungan dan nasihat bagi diri saya pribadi. Sungguh, saya sangat resah dan gelisah atas amal-amal yang telah saya jalani. Adakah ia bersesuaian dengan sunnah Nabi? Beramal hanya untuk mengharapkan ridhaNya semata, ataukah ridha manusia. Dan semoga, catatan yang sederhana ini dilimpahi barakah. Agar yang menulis, tak terputus dari dzarrah kebaikan yang berantai-rantai. Dari Anda, yang berkenan membaca catatan ini. Allahumma aamiin.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Jum’at, 25 Muharram 1435 H/ 29 November 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 15.00
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU
***
Sumber Inspirasi:

  1. Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dan Dr. Muhyiddin Mistu. 2005 (Cet. 2). Al-Wafi, Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Al-Wafii, Fii Syarhil Arba’in An-Nawawiyyah)
  2. Imam an-Nawawi, Ibnu Daqiq al-‘Id, Abdurrahman as-Sa’di dan Muhammad al-‘Utsaimin. 2012 (Cet. 7). Syarah Arba’in an-Nawawi. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ad-Durrah as-Salafiyyah Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah, Pentakhrij: Sayyid ibn Ibrahim al-Huwaithi)
  3. Dr. Ahmad Farid. 2013 (Cet. 27). Tazkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salafush Shalih. Solo: Pustaka Arafah (Judul asli: Tazkiah an-Nafs wa Tarbiyatuhaa Kamaa Yuqarrirruhu ‘Ulamaa as-Salaf)
  4. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. 2012 (Cet. 13). Mereka Adalah Para Tabi’in. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayati at-Tabi’in)
  5. Muhammad Lili Nur Aulia. 2011 (Cet. 2). Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas JalanMu. Jakarta: Tarbawi Press
  6. Muhammad Lili Nur Aulia. 2010 (Cet. 5). Cinta di Rumah Hasan al-Banna. Jakarta: Pustaka Da’watuna
  7. Syaikh Muhammad Sa’id Mursi. 2012 (Cet. 8). Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
  8. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 11). Baarakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta. Yogyakarta: Pro-U Media
  9. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 1). Menyimak Kicau Merajut Makna. Yogyakarta: Pro-U Media
  10. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 5). Dalam Dekapan Ukhuwah. Yogyakarta: Pro-U Media
  11. Mohammad Fauzil Adhim. 2012 (Cet. 2). Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta: Pro-U Media
Advertisements

Cerita Masa SMA, Lanjut Kuliah atau Tidak


Saya teringat ketika masa-masa SMA. Ya, tentang sebuah harapan yang menjadi mimpi dan cita-cita. Waktu itu tepatnya saya kelas XII. Hari-hari kami dipenuhi dengan belajar, belajar dan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Di waktu-waktu luang seperti jam istirahat kami pun tak jarang menyempatkan diri untuk bercerita tentang mimpi dan cita-cita setelah lulus ujian nanti. Apakah lanjut ke jenjang berikutnya yaitu kuliah? Langsung bekerja? Menikah? Atau jadi pengangguran dulu.

Pada suatu kesempatan saya ditanya oleh teman-teman. Den setelah lulus ujian mau melanjutkan kemana? UNRAM atau kampus-kampus di Pulau Jawa. Saya pun menjawab tidak tahu apakah bisa melanjutkan sampai ke jenjang kuliah atau tidak. Kalau ada biaya,  saya sih cukup UNRAM saja biar kalau mau pulang kampung mudah. Kemudian mereka pun melanjutkan pertanyaannya. Mau ngambil jurusan apa? Apa saja yang penting bisa kuliah, ungkap saya. Karena kondisi finansial saat itu memang tidak memungkinkan untuk bisa melanjutkan ke jenjang kuliah.

-Baca selengkapnya->

Bahasa Iman


Sumber: Awan's Collections

Sumber: Awan’s Collections

Teruntuk senyum yang selalu menyambut. Teruntuk salam yang mengakrabkan. Teruntuk perbincangan hangat yang selalu terselip tentang dakwah. Teruntuk senda gurau yang kadang memberi semangat dan inspirasi. Teruntuk nasihat-nasihat yang membaikkan diri. Teruntuk kritik dan saran yang membangun. Dan teruntuk kebersamaan dalam meniti jalan-jalan kebaikan. Maha besar Allah dengan segala kehendakNya.

Ya. Seperti itulah bahasa iman dari saudara kita kalau boleh saya ungkapkan. Sungguh indah, mempesona, bercahaya dan membahana. Mengalir penuh inspirasi dan keteladanan.

Syukur seharusnya senantiasa hamba tunjukkan dan layangkan untukMu. Sang Maha segalanya. Tapi kenapa kadang diri ini malas, tidak bersemangat, diam dalam ketidakberdayaan dan ketidaktahuan. Padahal begitu banyak nikmat yang senantiasa kau berikan pada setiap hamba-hambaMu. Nikmat waktu, kesehatan, kesempatan dan begitu banyak lagi nikmat yang lainnya. Apakah karena diri ini terlalu banyak dosa? Sehingga untuk bersyukur dan bersabar dalam setiap menjalani agenda-agenda dakwah menjadi terasa berat. Dan bahkan hal-hal yang ringan menjadi terasa sulit dijalankan. Kurang bersemangat dan lebih banyak mengeluh. Astaghfirullah hal ‘Adzhim.

Ya Allah ampunilah segala dosa hambaMu ini. Sungguh hamba takut jika masa muda yang sedang hamba jalani lebih banyak teralokasikan pada hal-hal yang negatif, bukan positif.

Ya Allah wanita adalah godaan terbesar bagi seorang lelaki. Maka kuatkanlah diri ini agar selalu terjaga dari hal-hal yang tidak disyari’atkan yang datang dari seorang wanita.

Ya Allah hamba juga ingin bermanfaat bagi banyak orang di jalan dakwah ini.

Ya Allah berikanlah barakah terhadap segala aktifitas yang hamba jalani -dalam hal-hal kebaikan- sehingga semuanya bisa terasa menyenangkan dan membahagiakan.

Ya Allah segala puji hanya untukMu. Hamba bahagia menjadi bagian dari mereka. Disaat lemah mereka selalu menguatkan dengan nasihat-nasihat. Saat salah mereka membetulkan dengan bahasa yang indah. Saat banyak masalah mereka selalu terdepan dalam memberikan solusi. Dan begitu banyak lagi aliran-aliran energi kebaikan yang mereka selalu pancarkan.

Ya Allah perkenankanlah hamba untuk selalu istiqamah dalam meniti jalanMu. Bersama mereka; saudara seiman yang selalu bersemangat dalam kebaikan-kebaikan. Tentu dengan selalu ditemani rasa syukur, sabar dan iman yang bercahaya.

Teruntuk direnungi
Rabu, 20 Februari 2013 Qabla Dzhuhur
di Masjid Baabul Hikmah Universitas Mataram
–R. Setiawan–