Setiawan as-Sasaki

Home » MUTIARA KATA ISLAMI

Category Archives: MUTIARA KATA ISLAMI

Sayyid Quthb (1906-1966)


Hakikat iman tidak dapat sempurna di dalam suatu jamaah sehingga mereka menghadapi ujian dan cobaan, dan masing-masing personalianya mengetahui hakikat kemampuan dan tujuannya. Kemudian mengetahui “batu-batu bata” yang menjadi unsur bangunannya, sejauh mana masing-masing “batu” itu memikul tanggung jawab, kemudian sejauh mana pula “batu-batu” itu topang-menopang pada saat menghadapi lawan.

Jiwa manusia tidaklah sempurna di dalam kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama ia dapat tumbuh dan berkembang hingga mencapai puncak kesempurnaan yang ditakdirkan untuknya di muka bumi ini.

Kesatuan, saling keterikatan, dan saling berhubungan yang banyak terjadi dalam kaitannya dengan kesalahan yang berdampak pada kemenangan dan kekalahan, maka Allah menetapkan bahwa kekalahan itu berhubungan dengan setan yang mengeksploitasi kelemahan orang-orang yang berpaling disebabkan oleh tindakan mereka.

Sumber:
Sayyid Quthb, 2001, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan Al-Qur’an Jilid 4, Jakarta: Gema Insani Press
Judul Asli: Fi Zhilalil Qur’an
Penerjemah: As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil & Drs. Muchotob Hamzah
Cetakan ke-1, Maret 2001; Cetakan ke-2, November 2001

Mohammad Fauzil Adhim


Sumber: Facebook (Mohammad Fauzil Adhim)

Sumber: Facebook (Mohammad Fauzil Adhim)

Berawal dari jiwa yang lemah atau karena mata yang telah digelapkan oleh dunia, kita bisa kehilangan ‘izzah (kehormatan diri). Bila kehormatan diri sudah tidak ada lagi, maka kita pun akan kehilangan ‘iffah. Kita tidak mampu menjaga diri kita sehingga bangunan kebajikan yang kita bangun menjadi rapuh dan mudah runtuh.

Sepanjang sejarah peradaban, kebesaran selalu dibangun oleh jiwa yang kokoh, pemikiran yang matang, mental yang dapat diandalkan dan hati yang teguh. Perubahan-perubahan besar selalu berangkat dari jiwa. Bukan harta dan kekuasaan. Jika jiwa kita berubah, maka akan berubah cara kita memaknai apa-apa yang ada di sekeliling kita. Selanjutnya, berubah pula sikap kita, penerimaan kita dan perilaku kita.

Banyak pelajaran hadir di hadapan kita, tetapi lebih banyak yang hikmahnya hanya yang kita rasakan saat bercanda. Kita tak menemukan pelajaran apa-apa, karena amat sedikit yang kita renungkan. Padahal, betapa banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil kalau nurani kita masih bersih; atau kalau kita mau berhenti sejenak untuk merenung.

Alangkah banyak nikmat yang kita rasakan, tetapi alangkah sedikit yang kita syukuri. Alangkah banyak anugerah yang kita nikmati, tetapi alngkah seringnya kita lambat menyadari. Kita ingin mensyukuri dan mempergunakannya untuk kebajikan di jalan Allah, hanya ketika nikmat itu sudah tidak ada lagi bersama kita.

Alangkah banyak nikmat yang tak sanggup kita syukuri. Bahkan menyadari pun tidak. Allah memberi kita tanpa menghitung-hitung, sementara untuk memujiNya sekali lagi, kita sudah sibuk menghitung pahala atas amal-amal kita yang tak seberapa. Padahal, di sisi Allah nikmat yang lebih besar. Jauh lebih besar.

Sumber:
Mohammad Fauzil Adhim, 2012, Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan, Yogyakarta: Pro-U Media
Cetakan ke-1, 2012; Cetakan ke-2, November 2012

Dwi Budiyanto


Sumber: Facebook (Dwi Budiyanto)

Sumber: Facebook (Dwi Budiyanto)

Kalau kita memikirkan kebahagiaan, kita akan bahagia. Kalau kita berpikiran sedih, kita akan menjadi sedih. Kalau kita berpikiran bisa, insyaAllah kita akan bisa. Jika kita berpikiran gagal, maka bisa jadi kita akan benar-benar gagal. Kalau kita berpikiran bahwa kita bodoh dan tidak bisa menguasai pelajaran, maka ia akan menggiring kita menjadi benar-benar bodoh. Begitu seterusnya. Sekali lagi pikiran kita menentukan tindakan Anda

Pikiran kita bisa menjadi sumber nutrisi yang diperlukan oleh diri kita, tetapi juga bisa menjadi racun yang mematikan diri kita. Dengan kata lain, kawan dan musuh terbesar kita adalah pikiran kita. Sungguh, kita banyak menemukan bahwa kesenangan dan kesulitan hidup lebih banyak dikondisikan oleh pikiran kita daripada kenyataan objektif hidup kita. Kadang kala bukan masalah yang membuat kita menjadi berat, tetapi sikap kita dalam menanggapi masalahlah yang menjadikan kita berat.

Kemauan dan tekad merupakan modal untuk melahirkan tindakan. Jika pikiran merupakan akar yang membentuk karakter, maka kemauan dan tekad merupakan jembatan yang menghubungkan antara pikiran dengan tindakan.

Perasaan cinta adalah komponen yang dihasilkan oleh dimensi emosi kita. Mencintai apa yang kita lakukan akan mendahsyatkan kemampuan kita.

Satu satuan waktu bagi setiap Muslim harus berbanding lurus dengan (minimal) satu unit amal.

Keyakinan bahwa diri kita bisa melakukan sesuatu, semestinya lahir dari keimanan dan bukan muncul dari kesombongan diri.

Sumber:
Dwi Budiyanto, 2012, Prophetic Learning, Yogyakarta: Pro-U Media
Cetakan ke-3, April 2012

Hasan al Banna (1906-1949)


eplume.files.wordpress.com

eplume.files.wordpress.com

Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam adalah negara dan tanah air; pemerintahan dan umat; moral dan kekuatan; kasih sayang dan keadilan; wawasan dan undang-undang; ilmu pengetahuan dan hukum; materi dan kekayaan alam; penghasilan dan kekayaan; jihad dan dakwah; atau pasukan dan pemikiran.

————————————————————————————————-

Al-Qur’anul Karim adala Kitab komprehensif; Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun didalamnya dasar-dasar keyakinan, prinsip-prinsip kemaslahatan sosial, kaidah-kaidah global tentang aturan keduniaan, beberapa perintah, dan berbagai larangan.

Dakwah-dakwah agama bertumpu pada keimanan sebelum harta, dan bertumpu pada aqidah sebelum kekayaan yang fana. Karena itu, jika telah tersedia mukmin yang benar, maka akan tersedia bersamanya seluruh sarana menuju sukses.

Ada makna lain dalam afiliasi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan ditemukan oleh orang yang melakukannya. Yaitu curahan iman yang meluap dan keyakinan akan keberhasilan yang selalu meyelimuti hatimu, hingga engkau tidak takut kepada semua manusia dan tidak gentar pada seluruh alam, meski mereka semua berdiri tegak di hadapanmu untuk mengganggu aqidah dan menodai ideologimu.

Kekuatan spiritual yaitu akhlak yang luhur, jiwa yang mulia, keyakinan dan pengenalan pada hak-haknya, tekad yang kuat, pengorbanan dalam menunaikan kewajiban, dan kesetiaan yang mendasari kepercayaan dan persatuan. Dan, dari kepercayaan dan kesatuan itulah lahirnya kekuatan.

Sesungguhnya, apabila umat terbuai kenikmatan, terlena oleh kemewahan, tenggelam dalam kemilau harta benda, tertipu oleh pesona bunga-bunga dunia, dan melupakan kesiapan menghadapi berbagai kesulitan, melawan berbagai bencana, dan berjihad di jalan kebenaran, maka katakanlah “Salam kematian,” pada kehormatan dan cita-citanya.

Orang berakal adalah orang yang mau merenungkan suatu masalah sebelum terjadinya dan menyiapkan bekal untuk menghadapinya.

Kami adalah politikus dalam arti kami peduli terhadap umat didorong keyakinan bahwa kekuatan eksekutif adalah bagian dari ajaran dan hukum Islam, bahwa kebebasan berpolitik dan jati diri bangsa adalah bagian dari rukun dan kewajiban Islam.

Umat ini sangat membutuhkan pembanguan jiwa, pengokohan akhlak, dan pembetukan kader-kadernya pada mentalitas kesatria yang benar, sehingga dapat tegar menghadapi berbagai tantangan dan mampu mengatasi berbagai kesulitan yang menghadang.

Sesungguhnya, kader adalah rahasia kehidupan umat dan motor penggerak kebangkitannya. Sejarah seluruh umat adalah sejarah para kadernya yang cerdik, memiliki kekuatan jiwa, dan kebulatan tekad. Kuat atau lemahnya umat diukur dengan tingkat kesuburannya melahirkan kader-kader yang memenuhi syarat kesatria yang benar. Saya yakin bahwa satu orang kader dapat membangun umat jika sifat kesatrianya benar. Juga mampu menghancurkan umat jika sifat kesatrianya di arahkan pada aspek penghancuran, bukan pembangunan.

Kunci keberhasilan dalam setiap kebangkitan adalah tersedianya manhaj tertentu dan orang-orang yang bekerja sejalan dengan manhaj itu, tanpa bosan, tanpa kendur, tanpa jenuh, dan tanpa merasa berjasa.

Sumber:
Hasan al Banna, 2006, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al-Banna Jilid 2, Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat
Judul Asli: Majmu’atur Rasail
Penerjemah: Khozin Abu Faqih, Lc. & Burhan, M.A.

Dr. ‘Aidh al Qarni


garutnews.com

garutnews.com

Apa yang membuat Anda benar, maka tak akan membuat Anda salah. Sebaliknya, apa yang membuat Anda salah, maka tidak akan membuat Anda benar.

Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka ini, selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan, dan kehinaan.

Sumber:
Dr. ‘Aidh al Qarni, 2012, La Tahzan; Jangan Bersedih!, Jakarta: Qisthi Press
Cetakan ke-54, Agustus 2012

Salim A. Fillah


www.facebook.com

Sumber: Facebook (Salim A. Fillah)

Alangkah syahdu menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktu untuk jadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari; melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia.

Alangkah damai menjadi bebijian; bersembunyi di kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri; bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi.

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini kita terlalu akrab bagai awan dan hujan merasa menghias langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai.

Iman adalah mata yang terbuka mendahului datangnya cahaya tapi jika terlalu silau, pejamkan saja lalu rasakan hangatnya keajaiban.

Iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh. Dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun. Selalu tumbuh, dan menuntut akarnya menggali kian dalam. Juga merindukan cahaya mentari, embun, dan udara pagi.

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan, setiap orang adalah guru bagi kita. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.

Sebagaimana kemampuan memimpin kekuatan untuk menjalin hubungan adalah kecenderungan, sekaligus pembelajaran

Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak. Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu. Mungkin itu asap dari amal sholihmu yang hangus dibakar riya’.

Menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah. Terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri. Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita, tidakkah kita curiga bahwa diri kita inilah masalahnya?

Ada banyak hal yang tak pernah kita minta tapi Allah tiada alpa menyediakannya untuk kita seperti nafas sejuk, air segar, hangat mentari, dan kicau burung yang mendamai hati. Jika demikian, atas do’a-do’a yang kita panjatkan bersiaplah untuk diijabah lebih dari apa yang kita mohonkan.

Hidup tidak dihitung dari jumlah nafas yang kita hirup. Hidup, ternilai dari berapa kali nafas terhenti karena takjub dan anehnya. Keajaiban justru hanya memberi kejutan, pada mereka yang percaya.

Mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang akan menarik keluar yang terbaik dari mereka. Berbagi  senyum  kecil  dan pujian  sederhana mungkin  saja  mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa atau membuat sekeping hati kembali percaya bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik.

Jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan dibanding apa yang Allah tutupi dari kesejatian kita. Maka bukankah ia adalah sebait sanjungan?

Dalam dekapan ukhuwah kita tersambung bukan untuk saling terikat membebani melainkan untuk saling tersenyum memahami dan saling mengerti dengan kelembutan nurani.

Sebab pikiran punya jalan nalarnya masing-masing maka terkadang mereka bertemu atau berpapasan. Sesekali bersilangan, berhimpitan, bahkan bertabrakan. Syukurlah kita punya ruh-ruh, yang diakrabkan iman.

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti. Memaksakan kasut besar untuk tapak mungil akan merepotkan. Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi.

Kita semua, anak Adam, pernah melakukan kesalahan. Dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya. Di keping uang itu, satu sisi bertuliskan “akuilah kesalahanmu”. Sisi lain berukir kalimat, “maafkanlah saudaramu yang bersalah”.

Tak mudah untuk mengatakan hal yang benar di waktu yang tepat. Namun agaknya yang lebih sulit adalah, tidak menyampaikan hal yang salah ketika tiba saat yang paling menggoda untuk mengatakannya.

Tak pernah sama sekali, ada kekata dan perilaku orang yang bisa menjadi penentu kemuliaan dan kehinaan kita. Dan tak seorang pun bisa menyakiti, tanpa kita mengizininya. Maka bercahayalah dalam gelora untuk meraih semua pahala.

Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, maka berkilaulah!

Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai. Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil. Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping.

Sumber:
Salim A. Fillah, 2012, Dalam Dekapan Ukhuwah, Yogyakarta: Pro-U Media
Cetakan ke-5, Maret 2012

M. Anis Matta, Lc.


Sumber: Facebook

Sumber: Facebook (M Anis Matta Full)

Kata adalah sepotong hati. Kekuatan kata dibentuk oleh muatan pikiran yang dikandungnya serta kadar emosi yang menyertai, saat ia lepas dari mulut atau pesan. Pikiran-pikiran yang kuat tersusun secara sistematis dalam logika, terbangun dari kerangka referensi yang luas, solid, integral, dan terekam secara jelas sejelas matahari dalam benak. Kata yang meluncur dari kekuatan demikian, niscaya akan mempesona dan membekas dalam jiwa.

Keyakinan dan emosi yang menyertai kata sesungguhnya merupakan ruh yang memberikan kehidupan kepada kata itu. Maka ada kata yang lahir dan langsung mati, karena ia tidak mempunyai ruh, walaupun kata itu dibalut oleh ribuan hiasan. Ada pula kata yang tampak sederhana tapi lahir dengan membawa ruh kehidupan, maka ia menjelma dalam kenyataan dan menjadi abadi dalam sejarah.

Kata merupakan salah satu indikator yang paling akurat untuk mengukur kadar keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan seseorang di satu sisi dan di sisi yang lain, warna dan jenis kepribadiannya. Kata yang tertulis mungkin lebih banyak menunjukkan wawasan dan pengetahuan seseorang dibanding warna dan jenis kepribadiannya. Tetapi, kata yang terucap dapat menunjukkan wawasan dan pengetahuan serta kepribadian seseorang sekaligus.

Di tengah semua perkembangan psikologis, sosial, dan politik yang dialami dunia Islam, maka bibit yang telah ditebar di atas tanah yang subur suatu hari nanti akan menampakkan hasilnya. Karena sesungguhnya gagasan yang tertancap kuat dalam hati nurani manusia dan menjadi bagian organik dari dirinya tidak akan pernah lenyap tertelan kefanaan. Yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa gagasan itu menempuh jalan berliku di setiap sudut nurani, lalu tiba-tiba saja ia meluncur keluar dan menampakkan diri pada jenak-jenak historisnya, bahkan dengan wajah yang sama sekali baru.

Kita tidak bisa mengubah masyarakat secara sekaligus, tetapi bertahap. Dan tahapan pertama itu mengubah komponen kecil dari masyarakat itu, individu. Kalau individu tidak berubah, maka masyarakat tidak bisa berubah. Supaya proses perubahan individu cepat berpengaruh pada perubahan masyarakat, maka individu yang akan kita ubah itu adalah individu yang mempunyai dua kualitas. Yaitu kualitas yang siap berubah dan mampu mengubah.

Sumber:
M. Anis Matta, 2006, Menuju Cahaya: Recik-Recik Tarbiyah dan Dakwah, Jakarta: Fitrah Rabbani
Cetakan ke-1, Juli 2006

Ibnul Qayyim al Jauziyah (1292-1350)


Hati yang resah, gelisah, hati yang merasa sakit, hati yang tergores dan luka, hati yang marah, iri, dengki, lelah, lunglai seolah tanpa sinar dan energi, adalah hati yang sedang mengalami sesuatu. Hati memang bagai perahu. Bila perahu itu terlalu banyak muatan dan berlobang, akan tenggelamlah ia. Begitu pula hati manusia. Bila dimuati banyak dosa, noda, bercak, akan tenggelamlah dirinya sebagai manusia.

Sumber:
Ibnul Qayyim al Jauziyah, 2006, Terapi Penyakit Hati, Jakarta: Qisthi Press Judul Asli: Ad-Da’u wa ad-Dawa’
Penerjemah: Salim Bazemool
Cetakan ke-4, Desember 2006