Setiawan as-Sasaki

Home » PUISI

Category Archives: PUISI

Betapa Tak Berdayanya Diri Kita TanpaNya


Betapa Tak Berdayanya Diri Kita TanpaNyaBetapa sejuknya penglihatan kita, jika mata ini senantiasa terhindar dari pandangan-pandangan yang mengundang nafsu syahwat.
Betapa jernihnya pendengaran kita, jika telinga ini senantiasa terhindar dari mendengar perkataan-perkataan yang tidak mengandung manfaat.
Betapa bugarnya tubuh kita, jika badan ini senantiasa terhindar dari mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung syubhat.

Betapa cerah dan menawannya wajah kita, jika shalat sunnah Tahajjud senantiasa kita rutinkan di waktu sepertiga malam terakhir yang sunyi.
Betapa mudah dan melimpahnya rezeki kita, jika shalat sunnah Dhuha senantiasa kita rutinkan di sela-sela aktivitas kita mengawali hari.
Betapa kuatnya jalinan ukhuwah kita, jika senyum dan sapa, serta sikap saling nasihat-menasihati dalam kebaikan mampu kita terapkan di tiap bilangan hari yang terlewati.

Betapa mententramkannya jiwa dan hati kita, jika dzikir kepadaNya senantiasa kita rutinkan dalam situasi dan kondisi apapun.
Betapa bahagia dan menyenangkannya perasaan kita, jika jiwa dan hati ini senantiasa tulus dan ikhlas dalam memberi, menolong, dan meringankan beban sesama, dimanapun.

Betapa memesonanya kepribadian kita, jika lisan ini selalu basah dengan lantunan-lantunan lafazh istighfar kepadaNya.
Betapa cemerlangnya ide-ide dan gagasan-gagasan kita, jika otak ini selalu diimbangi dan dihiasi oleh ilmu-ilmu kita tentangNya.
Betapa menakjubkannya sosok seorang muslim, jika ianya senantiasa menerapakan nilai-nilai Qur’ani dalam setiap jejak-jejak kehidupannya.

Karenanya, sungguh, betapa tak berdayanya diri kita tanpaNya

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Sebuah puisi renungan, dari hamba Allah yang masih rapuh imannya,
dan yang masih dijaga aib-aibnya
Minggu, 5 Jumadil Akhir 1435 H/ 06 April 2014
JP Institute, Gomong Square, Mataram

Advertisements

Perahu Kertas di Lautan Biru


Perahu DaunTersebab cinta, terciptalah alam semesta ini
Tersebab cinta, tertakdirlah manusia sebagai khalifah di muka bumi
Cinta adalah sebuah keajaiban yang tak terbantahkan
Ia ada dan terlahir sebagai sebuah fitrah penciptaan

Kini, rasa itu mulai tumbuh dan berkembang di taman jiwa
Keresahaan pun menghampiri seiring tumbuh dan berkembangnya
Akhirnya, si pecinta itu pun memutuskan untuk mencari cinta sejatinya

Tak terasa, waktu pun berjalan dengan begitu cepatnya
Beriramakan gejolak-gejolak yang selalu mendatangkan tanya
Dalam tanya itu, terhampar pilihan-pilihan
Antara perasaan dan logika, antara kesejatian dan kepalsuan

Dalam perjalanan selanjutnya, si pecinta sudah semakin dewasa
Ia merasa, sudah saatnya rasa itu terlabuhkan kepada seseorang
Dan mulai pada tahap inilah, terkisah sebuah kisah cinta
Tentang sebuah perahu kertas di lautan biru yang terbentang

Di awal kisah ini, ia berpasrah cinta menghampirinya
Menerimanya dengan sepenuh hati, dan menjalani setiap prosesnya
Walaupun sapaan cinta begitu sering menyentuh hatinya
Namun sejatinya, ia sedang terjatuh pada jurang cinta yang fana
Sebab, cintanya tak berakar pada kecintaannya kepada Allah Ta’ala
Cintanya hanya cinta jiwa, perpaduan emosi dan raga
Sehingga, cintanya terkelabui oleh nafsu syahwat semata
Lalu, kemanakah cinta ini akan bermuara?

Kisah cinta ini pun menjadi tak jelas arah dan tujuannya
Bagai sebuah perahu yang berlayar, namun tak pernah menambatkan jangkarnya
Karena mungkin, perahunya memang tak mempunyai jangkarnya
Karena ia adalah sebuah perahu kertas di tengah lautan biru
Maka selamanya, ia terombang-ambing di bawah kanvas langit biru
Dalam terjangan dahsyat ombak perasaan dan rindu
Akhirnya, jiwa si pecinta pun menjadi sangat rapuh

Namun, ia tak mau menyerah dengan kondisi yang dijalaninya
Lalu, bagaimanakah akhir kisah cintanya?
Wallaahu a’lam bish-shawab

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Tulisan ini terselesaikan ba’da Shubuh
Jum’at, 19 Jumadil Awwal 1435 H/ 21 Maret 2014
Bertempat di rumah tercinta, Tanjung, KLU

#Tulisan ini terinspirasi dari kisah cinta seorang sahabat

Pesan penulis teruntuk para pecinta sejati:

“Saat ruh cinta menyapa relung hatimu yang terdalam, dengan sentuhan lembut cinta. Maka izinkanlah. Maka terimalah. Maka jalani dan nikmatilah prosesnya. Karena ia adalah anugerah terindah dari Allah sebagai sebuah fitrah penciptaan. Namun, kita harus senantiasa ingat, karena apakah kita mencintai? Jika cinta kita bersumber dan bermuara karena Allah Ta’ala semata, maka sucilah jalan cinta kita. Baik yang telah usai, sedang kita jalani, dan yang akan kita arungi dengan perahu perasaan dalam dahsyatnya ombak rindu.”

Betapa Berat Terasa


Sumber: pakarcinta.com

Sumber: pakarcinta.com

Betapa berat terasa
Ketika hati dirundung rindu bersebab cinta
Namun yang dirindu tak kunjung menyapa
Ah, rasanya begitu menyesakkan dada

Apakah ini yang disebut dengan tragedi cinta?
Yang selalu dialami oleh para pecinta
Ah, biarkan saja rasa ini berkecamuk di alam jiwa
Yang jelas, rasa ini adalah anugerah terindah dariNya

Betapa berat terasa
Saat-saat cinta begitu menyesakkan dada
Saat-saat seperti inilah seharusnya
Kita mampu menata ulang makna cinta yang sebenarnya
Karena sejatinya, ia hanyalah sebuah kata benda
Wakil dari segala rasa yang berkecamuk di alam jiwa

Betapa berat terasa
Saat cinta menyapamu
Namun kehadirannya begitu hampa
Karena yang dicinta tak memahami perasaanmu

Betapa berat terasa
Ketika hati ini mendamba
Namun yang didamba
Tak menunjukkan rasa apa-apa

Betapa berat terasa
Bagi para pecinta
Ketika cinta hanya dimaknai sebagai sebuah rasa
Bukan sebagai sebuah energi yang menggelora
Yang memberi ruh kehidupan bagi sang pecinta

Cinta, ketika dimaknai hanya sebagai sebuah rasa
Maka ia akan menjadi sebuah penyakit di alam pikir dan jiwa
Saat cinta sebagai rasa tak bisa terkelola dengan baik oleh sang pecinta
Karena cinta dalam makna ini biasanya terlahir dari nafsu syahwat semata

Namun…

Cinta, ketika dimaknai sebagai sebuah energi
Maka segala kerjanya menjadi penuh arti
Sebab, efek utama dari kerja mencintai adalah memberi
Ya, memberi segala sesuatu yang  dimiliki
Memberi rasa dan perhatian, serta senantiasa menginspirasi

Dan saat kita mampu memaknai cinta sebagai sebuah energi
Maka cinta akan berakhir indah, bagaikan musim semi
Atau seperti indahnya langit biru yang terhisasi pelangi
Setelah hujan turun mengguyur bumi

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Jum’at, 20 Rabiul Akhir 1435 H/ 21 Februari 2014
Tulisan ini terselesaikan di Yayasan Peduli Anak, Lingsar
Saat sinar mentari pagi masih terasa sejuk dan menghangatkan

Pembelajaran Tentang Keteguhan Iman


Sumber: kisahmuslim.com

Sumber: kisahmuslim.com

Seperti Nuh yang dicemooh oleh kaumnya dengan sangat
Ketika membuat perahunya di pinggiran kota yang lengah
Seperti Ibrahim yang dibakar dengan api berkobar menjilat-jilat
Tersebab ucapannya, “Tuhanku adalah Allah”

Maka, Allah mengabadikan kisah ini dalam Al-Qur’an
Bagi orang-orang yang merenunginya dengan penuh kesadaran
Bahwa, dari kisah Nuh dan Ibrahim, ada pelajaran tentang kesabaran
Juga tentang keteguhan iman

Seperti Ismail yang ridha disembelih ayahnya
Seperti Yusuf yang dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya
Seperti Musa dan Harun yang mendakwahi Fir’aun durjana
Seperti Ayyub yang diuji dengan wabah penyakitnya
Dan, seperti Yunus yang ditelan ikan, lalu menyadari kesalahannya

Semua kisah ini adalah pembelajaran tentang keteguhan iman
Teruntuk Nabi terakhir dan seluruh pengikutnya, hingga akhir zaman
Dibingkai dalam kisah kesungguhan dalam berdakwah, dengan penuh kesabaran
Lalu, dengan kisah-kisah ujian yang menakjubkan, untuk mengingatkan
Maka, mari merenunginya dengan sepenuh keimanan

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Kamis, 05 Desember 2013
Ba’da Shubuh, di rumah tercinta

Hidup Ini Begitu Singkat


www.vemale.comSungguh, hidup kita di dunia ini begitu singkat
Sesingkat terbitnya mentari di ufuk timur, lalu tenggelam lagi di ufuk barat
Alangkah meruginya seorang insan, yang melupakan hakikat ini
Dan, lebih merugi lagi yang sekedar mengetahui, tapi tak memahami

Teringatlah saya dengan ungkapan ‘Umar ibn Abdul ‘Aziz
“Perbaikilah akhiratmu, kelak duniamu akan baik
Perbaikilah batinmu, kelak lahirmu akan baik”
Ah, betapa singkat dan indahnya pesan dalam ungkapan ini
Adakah kita termasuk dalam pesan ini?
Ya, sebagai seseorang yang merealisasikannya dengan sepenuh hati

Ah, semoga saja

Hidup ini begitu singkat
Dan, kematian adalah sebaik-baik pengingat

Kematian adalah terminal pemisah kita dengan dunia
Kedatanangannya pasti dan tak terduga-duga
Sebab ia adalah rahasia Allah ‘Azza wa Jalla
Tugas kita hanyalah mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya
Untuk menjalani masa penantian, sebelum menuju akhiratNya

Hidup ini begitu singkat
Karenanya, beramallah dengan seikhlas-ikhlas niat
Untuk  kehidupan yang abadi di akhirat
Sejenak, mari merenunginya, agar kita senantiasa teringat

Antara urusan akhirat atau dunia
Yang manakah yang lebih menyibukkan kita?
Antara niat yang bersih atau amal yang kelihatan
Yang manakah yang lebih kita dahulukan?
Atau, ingatkah kita dengan kematian?

Ah, jangan-jangan kita seperti ungkapan Asy-Syafi’i
“Dia yang melupakan akhirat dan kematian
Berada dalam ketenangan yang membahayakan”

Ah, semoga saja tidak demikian

Karena hidup ini begitu singkat
Mari kita isi hari-hari kita, dengan amal-amal penuh manfaat
Teruntuk meraih ridhaNya, dunia-akhirat

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Jum’at, 04 Muharram 1435 H/ 08 November 2013
Ba’da shubuh, di rumah tercinta

Atas Nama Iman dan Ukhuwah


www.manhal.pmram.orgAtas nama iman dan ukhuwah
Maka, hadirlah kita disini
Dalam rindu yang membuncah di hati

Atas nama iman dan ukhuwah
Semua cerita terjalin dan terkisah indah
Sedari awal jumpa, hingga saat-saat berpisah
Ya, semuanya bermula di jalan dakwah
Kita bertemu karena rasa cinta yang sama
Pun dengan berpisahnya
Rasa cinta itu, begitu agung dan mulia
Karena ianya bersumber dan bermuara
Dari, dan menuju Yang Maha Pencipta
Allah ‘Azza wa Jalla

Atas nama iman dan ukhuwah
Dan berawal di jalan dakwah
Hidayah itu pun menyapa hati-hati kita
Yang pada awalnya tandus, gersang dan hampa
Dan kini, jadilah ia bagai lentera-lentera
Ya, lentera iman dalam gulitanya dunia yang fana
Sebagai cahaya penerang dan petunjuk yang nyata
Bagi tiap hamba yang terlena gemerlap dunia
Dan jauh, dari mengingat-ngingat akhiratnya

Atas nama iman dan ukhuwah
Maka, di jalan dakwah
Bermesralah kita, dalam eratnya jalinan ukhuwah
Karenanya, dengan sepenuh keimanan, bersyukurlah

Atas nama iman dan ukhuwah
Maka, di jalan dakwah
Semua asa dan gagasan yang ada pada tiap diri kita
Terpikir dan terlahir, lalu menjadi amal nyata
Semuanya, hanyalah untuk mengharap ridhaNya semata
Agar hidup kita yang singkat ini berkelimpahan berkahNya

Atas nama iman dan ukhuwah
Maka, di jalan dakwah
Semuanya menjadi terasa indah

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Sabtu, 14 Dzulhijjah 1434 H/ 19 Oktober 2013
Ba’da Ashar, di Aula LDK Baabul Hikmah UNRAM

***
Puisi ini dibacakan oleh anak alumni; Nurani Syahidah dan Ar-Ruhaniyatul Aliyah
saat Silaturrahim Akbar Alumni kader LDK BHi UNRAM 2013, tepatnya Minggu, 20 Oktober yang telah lewat.

Jalinan Ukhuwah Kita


Jalinan Ukhuwah KitaDalam lingkaran iman kita bersua
Tuk berbincang mesra tentang keagunganNya
Dan, tentang Rasulullah sang pembawa risalahNya
Lalu, tentang seluruh manusia yang melanjutkan amanahnya

Saat itu, ukhuwah pun hadir membersamai kita
Setelah sebelumnya, kita berta’aruf mesra
Karenanya, terjalinlah ta-alluf; kesatuan hati diantara kita
Darinya, lahirlah tafahum; sikap saling memahami
Ia pun berlanjut menjadi tanashuh; saling menasihati

Kini, dalam jalinan ukhuwah kita
Berkuncuplah rasa cinta antar sesama saudara
Yang pesonanya bening mencahaya, bagai lentera
Tuk menerangi gelapnya dunia fana
Dengan segala warna-warni permasalahan dan pesonanya
Yang bertebaran dimana-mana
Yang sejatinya, hanya ujian semata
Tuk menguji keimanan tiap hamba
Sejauh mana rasa cintanya
Terhadap Rabb yang menciptakanNya

Kini, dalam jalinan ukhuwah kita
Bermekaranlah kuncup cinta
Dari tanashuh menjadi ta’awun; saling tolong-menolong
Hadirnya menandakan, bahwa ukhuwah kita
Telah bertumbuh, berkembang dan semakin mendewasa
Dan, sikap saling tolong-menolong itu adalah buahnya
Lalu takaful; rasa senasib, membuatnya menjadi manis terasa
Maka, indah dan berjayalah pohon ukhuwah kita
Di kebun iman, bernaungkan cahaya ridhaNya

Kini, dalam jalinan ukhuwah kita
Terasa ringanlah semua permasalahan yang ada
Ya, itu semua berkat pohon ukhuwah kita
Maka, bersyukurlah dengan sepenuh keimanan kepadaNya

Kini, dalam jalinan ukhuwah kita
Pohon ukhuwah itu, akan menyejarah, mulia dan istimewa
Jika pada akhirnya, i’tsar; mendahulukan saudara
Menghunjam dalam-dalam, lalu bersemayam dalam hati dan jiwa
Bagai akar pohon yang semakin bertumbuh dewasa

Maka, akhir jalinan ukhuwah kita
Akan menghadirkan semerbak surga sebelum surga

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Senin, 07 Oktober 2013

Di Jalan CintaNya Kita Terhubung


Sumber: janganmalesfiles.wordpress.com

Sumber: janganmalesfiles.wordpress.com

Jalan cinta ini begitu panjang
Dipenuhi onak dan duri, berjejer-jejer menghalang
Tapi dengan hadirnya, keteguhan iman diuji
Dan pada akhirnya, keteguhan iman pun terbukti
Maka Allah pun memberkahi dan meridhai
Keberadaan dan perjuangan kita di jalan ini

Jalan para Nabi kita adalah jalan cinta
Ungkap Jalaluddin Rumi dalam bait sya’irnya
Sya’ir pun berlanjut, kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita

Karenanya, di jalan cintaNya kita terhubung
Dengan mereka; para anbiya’; bintang-bintang bergemilang
Di langit sejarah Islam yang tinggi menjulang

Disini, di jalan cintaNya kita terhubung
Maka duhai Rabbi
Ingatkan kami; para manusia yang lemah ini
Tentang hakikat di ciptakannya kami di dunia ini
Dari kisahnya Adam-Hawa yang mengawali
Pahit getir dan fananya dunia ini

Disini, di jalan cintaNya kita terhubung
Maka duhai Rabbi
Ingatkan kami tentang kesungguhan Nuh dalam berdakwah
Lalu, ajarkan kami adab berhujjah dari Ibrahim si khalil ullah
Lalu, tentang kokohnya iman si kecil Ismail yang berpasrah

Disini, di jalan cintaNya kita terhubung
Maka duhai Rabbi
Ingatkan kami tentang pentingnya solusi atas permasalahan yang ada
Dari kisahnya Ishaq dengan kedua putranya
Yaitu Ya’kub dan Ishu, yang selalu berselisih diantara keduanya
Lalu, ajarkan kami tentang rasa takut terhadap maksiat dan dosa
Dari kisahnya Yusuf yang digoda Zulaikha

Disini, di jalan cintaNya kita terhubung
Maka duhai Rabbi
Ingatkan kami tentang kesabaran yang mencahaya
Dari Ayyub yang ditimpa musibah nan begitu lama
Lalu, tentang kegigihan Musa mendakwahi si Fir’aun durjana
Lalu, tentang Sulaiman yang kayanya tak membuat terlena

Disini, di jalan cintaNya kita terhubung
Maka duhai Rabbi
Ingatkan kami tentang Yunus yang Engkau ijabah doanya
Agar kami bisa memahami hakikat pentingnya berdoa
Ketika musibah datang menyapa
Lalu, tentang kekuatan hati menghadapi fitnah dan cercaan
Dari kisahnya Maryam; ibunya Isa yang terkucilkan
Lalu, tentang semua peri kehidupan
Dari sesosok manusia nan agung termuliakan
Muhammad; sang Nabi dan Rasul penutup zaman

Maka, tersebab karuniaNya, berbahagialah kita
Dengan sepenuh harap dan rasa syukur kepadaNya
Atas anugerah terbesar setelah iman kita
Yaitu, berada di jalan cintaNya

***

Rabu, 5 Zulqa’dah 1434 H / 11 September 2013
Tulisan ini terselesaikan pukul 03:24 dini hari
Bertempat di Rusunawa UNRAM

Ruh-Ruh yang Disatukan Iman


Sumber: ardianfajar.files.wordpress.com

Sumber: ardianfajar.files.wordpress.com

Raut mukanya teduh dan menentramkan
Bersambut sesungging senyuman
Lalu, saling mendoakan dengan salam keselamatan
Lalu, tangan-tangan telah bersepakat ‘tuk berjabatan
Lalu, pipi bersambut pipi; penuh kehangatan
Dan kadang, pelukan bersambut pelukan
Ya, begitulah memang adanya di tiap perjumpaan

Ah, begitu indahnya persaudaraan karena iman
Ruh-ruh kita seperti seiya-sekata telah berkesepakatan

Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman
Begitu penggalan bunyi Qur’an surat Al-Anfaal ayat 63 terfirman
FirmanNya pun berlanjut, bahkan perbendaharaan bumi keseluruhan
Tak ‘kan mampu mengikat dan menghimpun hati-hati yang terpisahkan
Tapi Allah-lah yang menyatupadukan mereka hingga demikian

Sungguh memesonanya ruh-ruh yang disatukan iman
Maka, tak heran ketika cinta Salman al-Farisi tak berketerimaan
Ia begitu tenang; seperti tak ada kejadian dan permasalahan
Ketika melihat Abu ad-Darda’ disambut sang pujaan

Sungguh memesonanya ruh-ruh yang disatukan iman
Jika bertemu, melihat wajahnya saja sungguh menentramkan
Begitulah ungkap Ibnul Qayyim dengan penuh ketertakjuban
Saat jumpa guru tercintanya; Ibnu Taimiyyah yang mengesankan

Sungguh memesonanya ruh-ruh yang disatukan iman
Antara Ibnu ‘Abbas dengan Zaid ibn Tsabit; menyoal warisan
Dalam pendapatnya ada perbedaan, tapi tak jadi perselisihan

Sungguh memesonanya ruh-ruh yang disatukan iman
Ketika hujjah bertemu hujjah; pikiran dan pandangan
Walaupun berselisih dan jauhnya perbedaan
Tapi, tak menjadi perusak tali persaudaraan
Demikian, Malik ibn Anas dan Abu Hanifah terkisahkan

Sungguh memesonanya ruh-ruh yang disatukan iman
Maka, berkilaulah ungkapan sang Nabi yang tersabdakan
Ruh-ruh itu bagai pasukan yang dibariskan
Jika mereka saling mengenal maka ada kesepakatan
Jika mereka saling merasa asing, maka perselisihan
Begitu ungkap Imam al-Bukhari yang meriwayatkan

Maka dalam sejiwanya ruh-ruh yang disatukan iman
Hati-hati kita bermesra; bergandeng-gandengan
Walaupun sebelumnya belum ada kesepakatan
Dan semoga dengan sepenuh keimanan
Kita bisa saling menjaga dalam berketaatan
Doakan saja, ikhwah sekalian
Ya, kan?

Makanya, amin-kan…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Jum’at, 23 Agustus 2013
Tulisan ini terselesaikan di waktu sepertiga malam akhir
Saat-saat dimana mustajabnya doa ‘tuk terkabulkan
Bertempat di Asrama Mahasiswa UNRAM

Kisah Cinta Kita


Sumber: yusufaljogjawi.files.wordpress.com

Sumber: yusufaljogjawi.files.wordpress.com

Untukmu yang berada nan jauh disana
Kautahu, aku selalu memikirkanmu dengan segenap rasa
Dan, aku berharap engkau pun demikian juga
Karena aku merasa kita telah sejiwa sejak awal jumpa

Kini, kautahu? Aku teringat ketika awal jumpa itu
Sungguh, sedikit pun aku tak tertarik padamu
Parasmu juga, biasa-biasa saja menurutku
Dan umurmu juga, sedikit lebih tua dariku
Walaupun cuma beberapa bulan sih dariku
Intinya, tak ada yang istimewa padamu
Selain tarbiyahmu yang lebih dulu

Tapi, setelah lama aku mengenalmu
Dengan sifat malumu itu
Aku merasa engkau ada rasa padaku
Tapi, entahlah itu kan cuma bisik hatiku

Kautahu? Kata Ustadz Mohammad Fauzil Adhim
Hati-hati bawa hati
Karena geraknya tampak sekali

Maka, aku merasa gerak hatimu tampak sekali
Walaupun engkau tak mengungkapkannya
Dan, dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari
Diamnya perempuan adalah tanda setujunya

Ketika ia dimintai persetujuan saat dipinang
Dan dari hadits ini aku menyimpulkan
Dengan iman yang penuh kefakiran
Aku merasa, dalam diammu selama ini
Engkau benar-benar punya rasa padaku
Ah, entahlah aku tak mau tahu lebih jauh lagi
Karena itu sangat membingungkanku

Kini, bagiku, engkau begitu memesona dengan sifat malumu
Yang tak semua wanita memiliki hal itu
Dan, semakin engkau meningkatkan rasa malumu
Aku semakin punya rasa tertarik padamu
Diammu juga, kautahu? Hal tersebut sangat menarik hatiku
Karena itu tandanya, imanmu suci; bersih dari kotornya nafsu

Semoga rahasia cinta kita, yang berawal dari fitrahmu
Kepada diriku ini, yang merupakan lawan jenismu
Di jaga kesuciannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dan aku tahu, engkau orangnya tak banyak berharap
Dan, lebih suka kejutan. Ya, kan?
Jawab dalam hati saja ya?

Aku berharap, engkau tetap seperti itu
Sampai tiba waktunya, aku siap ‘tuk meminangmu
Karena kini, bekalku hanya baru satu; ilmu
Sementara, bekal orang menikah itu
Ada tiga; finansial, psikis dan ilmu

Ah, beginikah yang namanya rasa jatuh cinta?
Aku pun kebingungan dengannya
Karenanya, aku mencoba ‘tuk menyelaminya
Di lautan makna yang maha kaya
Pada sumbernya yang suci, jernih dan mencahaya
Lewat “Raudhatul Muhibbin” karya Imam Ibnul Qayyim
Lewat “Thauqul Hamamah” karya Imam Ibnu Hazm al-Andalusi
Lewat “Serial Cinta” karya Ust. M. Anis Matta
Lewat “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Ust. Salim A. Fillah
Lewat “Ayat-Ayat Cinta” karya Ust. Habiburrahman El-Shirazy
Lewat “Saat Cinta Belum Datang pada Waktunya” karya Ari Pusparini
Lewat “Engkaulah Kekasihku” karya Ust. Fadlan al-Ikhwani
Lewat “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” karya Ust. Moh. Fauzil Adhim

Ah, sesak, sesak, sesaknya dada ini

Ah, mungkinkan nanti, kisah cinta kita seperti ‘Ali dan Fathimah az-Zahra
Yang suci dan mengharukan dalam sejarah, yang ianya begitu haru membahana
Hal itu, mungkin-mungkin saja jika kita memang ditakdirkan untuk bersama

Tapi jika kita tak ditakdirkan untuk bersama
Maka aku akan berdoa untukmu dengan setulus cinta
Sebagaimana ketika Salman al-Farisi mengikhlaskan pujaan hatinya
Kepada Abu ad-Darda; sang saudara tercinta

Ya, aku harap, engkau juga mendoakanku
Untuk melupakan dan mengikhlaskanmu
Kelak, ketika melihatmu bersanding dengan pangeran lain
Dan engkau pun demikian, kumohon juga begitu
Jika nantinya aku bersanding dengan bidadari lain

Karena memang di jalan cinta para pejuang ini
Kita saling mencintai karenaNya
Seperti sebuah nasihat dari Ustadz Fadlan al-Ikhwani
Motivasi menikah itu; “bukan dengan siapa”, “tapi karena apa”
Nafsu semata kah? Atau karena ingin menjaga kesucian diri?
Ya, kan?
Jangan senyum-senyum sendiri ya?

Kautahu? Kini aku mengagumimu
Seperti kisah cintanya
Abdurrahman ibn Abu Bakr ash-Shiddiq kepada Atikah
Aku tak tertarik karena parasmu, tapi keshalihanmulah
Yang membuatku tertarik padamu

Untukmu yang tercinta
Aku ucapkan, jazaakumullah bi ahsanil jazaa’
Karena keshalihanmu, telah menginspirasiku
Semenjak awal kita jumpa dulu
Apakah kau menyadarinya?
Ah, tapi lebih baik kau tak menyadarinya…

***

Oleh: Setiawan as-Sasaki
Senin, 12 Agustus 2013
Di sepertiga malam terakhir; saat-saat doa kita sangat mustajab
Di rumah tercintaku, Tanjung, KLU