Setiawan as-Sasaki

Home » RENUNGAN RAMADHAN

Category Archives: RENUNGAN RAMADHAN

Ramadhan Bulan Al-Qur’an


Sumber: victaryzacatartika.blogspot.com

Sumber: victaryzacatartika.blogspot.com

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)…”

 {Q.s. Al-Baqarah [2]: 185}

Marhaban yaa Ramadhan. Bulan penuh kemuliaan. Bulan yang selalu dirindukan. Yang padanya diturunkan pedoman hidup terbaik sepanjang zaman; Al-Qur’anul Karim. Kebenarannya mutlak dan senantiasa relevan dengan warna-warni kehidupan manusia sampai hari kiamat kelak.

Pada setiap momen bulan Ramadhan, tak heran lantunan-lantunan ayat suci Al-Qur’an begitu menggema di setiap penjuru dengan antusiasme yang mendalam dari para pembacanya. Kenapa seperti itu? Karena mereka menyadari keutamaan-keutamaan membacanya. Terlebih dalam suasana Ramadhan, tiap-tiap amalan berlipat-lipat ganjarannya.

Untuk kita semua para mahasiswa di kampus Ramadhan. Semoga bisa menjadi lulusan-lulusan terbaik di bulan tarbiyah ini. Tentu dengan mempersembahkan amalan-amalan terbaik pula. Bagaimana caranya? Ya, pelajari ilmunya; bisa dengan membaca buku, lewat internet atau mengikuti kajian-kajian seputar puasa Ramadhan.

Dan salah satu pintu untuk meraih amalan-amalan terbaik di bulan Ramadhan adalah dengan memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Karena ianya adalah sumber inspirasi kehidupan. Yang padanya termuat dan terangkai kisah-kisah menakjubkan. Sehingga dengan kita menyaksamainya dengan sepenuh hati, lalu memaknai hikmah yang terkadung di dalamnya, maka insyaAllah hidup kita akan selalu terhubung dengan langit; tercerahkan dan terwarnai oleh nilai-nilai Rabbani.

Sejenak, mari kita hela nafas ini. Lalu dengan sepenuh syukur ucapkan alhamdulillah, atas nikmat umur yang dianugerahkan Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita, sehingga bisa bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Dan izinkan penulis mengajak para pembaca semua untuk merenungi sabda-sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang diriwayatkan oleh dua ahli hadits yang terpercaya; Imam al-Bukhari rahimahullah dan Imam Muslim rahimahullah,

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” {H.r. al-Bukhari dari ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu}

“Bacalah oleh kalian Al-Qur’an. Karena ia (Al-Qur’an) akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” {H.r. Muslim dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu}

Dari kedua hadits shahih tersebut kita pun mengetahui dan menyadari, betapa besar ganjaran orang-orang yang selalu membaca, mentadabburi dan mengamalkan nilai-nilai Qur’ani dalam rutinitas kehidupan sehari-harinya di dunia yang fana ini. Dan untuk kita semua semoga bisa tetap istiqamah untuk menjalankannya. Amin yaa Rabbal ‘alamin.

Perumpamaan Seorang Mukmin dan Munafiq

Al-Qur’anul karim, membaca dan mengamalkan nilai-nilai Rabbani yang terkandung di dalamnya adalah sebuah kebahagiaan dunia-akhirat. Dan rajinnya seorang mukmin membaca Al-Qur’an akan menjadi pembeda antara mukmin yang satu dengan lainnya. Dan begitu pula perumpamaan bagi seorang yang munafiq. Lalu mari kita simak dan merenungi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

“Perumpamaan seorang mukmin yang rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti buah al-Atrujah (Lemon): aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Tamr (Kurma): tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti Raihanah: aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Handzhalah: tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” {H.r. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu}

Al-Qur’an adalah Sihir Rabbani

Dengan membacanya, jiwa dan hati kita akan menjadi tenang. Semangat dalam berkebaikan pun melesat dengan cepat. Dan semoga kita semua menyadari hal ini, bahwa Al-Qur’an adalah sihir Rabbani. Sehingga ketika ketenangan diri mengalami guncangan-guncangan akibat maksiat yang kita lakukan, baik tersadari maupun tidak, semoga Al-Qur’an adalah obat pertama yang kita cari untuk meredakan ketidaktenangan tersebut.

Dan sungguh di bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini. Semoga kita bisa menjadi orang yang tersihir secara total oleh nilai-nilai Qur’ani, yang kita lantunkan sendiri dan perdengarkan dari orang lain. Seperti ketika sekumpulan jin yang diperdengarkan bacaan Al-Qur’an, lalu mereka beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yang dimana kemudian peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Jinn,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),’ lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an), (yang) memberi petunjuk pada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami’.” {Q.s. Al-Jinn [72]: 1-2}

“Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Maka barangsiapa beriman kepada Tuhan, maka tidak perlu ia takut rugi atau berdosa.” {Q.s. Al-Jinn [72]: 13}

Mengajarkan Al-Qur’an, Hak Orang Tua atas Anaknya

Suatu ketika datanglah seorang laki-laki kepada Amirul Mukminin ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu untuk mengadukan perihal anaknya yang durhaka padanya. ‘Umar meminta agar anaknya datang ke hadapannya, dan anak itu bertanya, “Apa hak orang tua atas anaknya?” ‘Umar menjawab, “Hak orang tua atas anaknya ada tiga hal. Memberikan nama yang baik, memilihkan ibu yang baik, dan mengajarkan Al-Qur’an.” Amirul mukiminin lalu berkata, “Pulanglah ke rumahmu, ayahmu sudah durhaka kepadamu sebelum engkau durhaka kepadanya.”

Petikan kisah ini saya kutip dari bukunya Ustadz Muhammad Lili Nur Aulia yang berjudul “Kubisikkan Untukmu; Renungan Mutiara Hati di Bulan Suci.” Semoga dari kisah ini ada hikmah yang bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua, di bulan yang penuh kebarakahan ini. Khususnya bagi para orangtua, agar lebih memerhatikan lagi hak anaknya akan nilai-nilai Qur’ani atas konsumsi fisik, pikiran dan ruhani mereka. Seperti ungkapan seorang ulama Al-Qur’an asal Mesir,

“Hubungan kita dengan Al-Qur’an, baik dalam kaitan mempelajari isinya, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana kita membutuhkan makan dan minum. ‘Orang tua, sebaiknya memperhatikan Al-Qur’an dan mengajarkannya untuk anak-anaknya seperti memberikan makanan dan minuman kepada mereka. Karena fondasi pendidikan adalah memperhatikan konsumsi fisik, pikiran dan ruhani mereka. Sehingga mereka menjadi manusia yang lurus’.” {Syaikh Muhammad ar-Rawi}

Al-Qur’an, Ruh Generasi Terbaik

Generasi terbaik adalah generasi para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Pada masa merekalah nilai-nilai Qur’ani itu terealisasikan dengan sempurna, penuh penghayatan dan mendarah daging. Sehingga tinta sejarah Islam mencatat lika-liku hidup mereka penuh dengan ‘ibrah, yang wewangi pesonanya seperti semerbak di taman-taman bunga.

Dari para generasi terbaik umat ini, kita belajar. Tentang memakna kehidupan, agar hidup menjadi lebih hidup, dengan senantiasa mengamalkan nilai-nilai Qur’ani. Sehingga kita pun senantiasa terhubung dengan langit atas segala lakon hidup yang kita jalani. Lalu, jadilah kita para generasi rabbani di zaman keterasingan ini.

Dari para generasi terbaik umat ini, sekali lagi kita belajar. Tentang memakna Ramadhan, agar Ramadhan bukan hanya bulan menahan rasa lapar dan haus, tapi ia juga adalah bulan Al-Qur’an. Dan semoga memang demikian adanya dengan kita meluangkan waktu lebih untuk membaca dan mengkhatamkannya. Seperti Imam ats-Tsauri rahimahullah yang meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an di bulan yang penuh ampunan ini.

Pada bulan Ramadhan, ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an setiap harinya. Sedangkan Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali. Bagaimana dengan kita? Sudah berapa kali khatamkah?

Sekian ulasan singkat saya tentang pemaknaan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Semoga ada kebermanfaatan untuk kita semua. Sepenuh syukur, semoga ulasan yang sederhana ini bisa menjadi seteguk hikmah bagi si penulis dan Anda para pembaca tulisan ini.

Khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan berkali-kali, ah betapa indahnya. Mari berdoa bersama, semoga Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan kita semua.

***

Sepenuh syukur, terharap bisa menjadi seteguk inspirasi
Tertulis di awal Ramadhan 1434 H
Asrama Mahasiswa Universitas Mataram

Advertisements