Setiawan as-Sasaki

Home » SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI

Category Archives: SAATNYA MENJADI SEORANG MUSLIM SEJATI

Para Pecinta Sejati


Para Pecinta Sejati

Sumber: mobypicture.com

“Untuk memangkas sebatang kayu diperlukan kapak yang tajam. Untuk memangkas gejolak syahwat agar tidak liar, memangkas dosa-dosa pandangan tanpa harus membenci pandangan itu adalah dengan jalan agung, pernikahan.”

{Fadlan Al-Ikhwani, Aku Pingin Nikah}
***

Cinta adalah sesuatu yang rumit. Serumit makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dan terkadang pula sangat sederhana. Sesederhana orang-orang yang mampu menaklukkan dan menjadi tuannya cinta. Bukan malah diperbudak cinta. Dan pada rumit atau sederhananya, disitulah sebenarnya pesona cinta itu bersemayam, mengakar dan tumbuh menjadi pohon cinta. Karenanya, jika benih cinta yang tumbuh pada diri kita bersumber dan bermuara tersebab rasa cinta kita kepadaNya, maka bersyukurlah. Sebab, memang seperti itulah cinta yang agung dan mulia; yang dijalani oleh para pecinta sejati.

Cinta adalah sebuah keniscayaan yang Allah Ta’aala karuniakan kepada hamba-hambaNya. Karenanya, jika hati-hati kita didera dan dirundung oleh cinta, maka terimalah dan nikmati saja prosesnya. Biarkanlah ia mengalir dengan segala pesona dan keajaibannya. Namun, senantiasalah ingat, jadikan syari’at sebagai penuntunnya. Agar cinta yang bertumbuh diridhai olehNya. Dan sungguh, “Jika cinta dibangun dengan keselarasan dan keserasian,” ujar Ibnul Qayyim rahimahullaah dalam Raudhatul Muhibbiin-nya, “maka ia pasti akan menjadi kokoh dan kuat. Cinta yang kokoh kuat seperti itu tidak akan pernah dapat dihancurkan kecuali oleh sesuatu yang lebih kuat dari sebab kemunculannya.”

Para pecinta sejati selalu mempunyai cara terbaik untuk menuangkan rasa cintanya, ketika mereka dirundung oleh badai rindu dan ombak perasaan yang sangat dahsyat. Dan memang seperti itulah sikap para pecinta sejati. Mereka sadar dan sangat memahami, bahwa cinta yang mengalir dan bergejolak di dalam dadanya harus bermuara hanya pada satu tempat saja; yaitu muara kecintaan kepadaNya.

Sebab, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis qudsi; “Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, ‘KecintaanKu wajib untuk orang yang saling mencintai karena Aku, orang yang saling bersahabat karena Aku, orang yang saling mengunjungi karena Aku dan orang yang saling berkorban karena Aku’.” {H.r. Muslim [no. 2567] dari Mu’adz ibn Jabal}

Dan salah satu contoh sederhana nan nyata dari para pecinta sejati itu adalah, sosok Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah sebagaimana diabadikan oleh anaknya yang kelima -Irfan Hamka- dalam buku Ayah, Kisah Buya Hamka.

Berikut kisahnya:

“Dalam hal kuatnya Ayah membaca Al-Qur`an,” tutur Irfan Hamka dalam bukunya tersebut, “suatu kali pernah aku pertanyakan kepada Ayah.”

“Ayah,” katanya, “kuat sekali Ayah membaca Al-Qur`an?” Tanya Irfan Hamka dengan rasa penasaran kepada Ayahnya.

“Kau tahu, Irfan,” jawab Ayahnya dengan lembut dan penuh cinta, “Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung -bersyair-. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah.”

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” Tanya Irfan Hamka dengan penuh rasa penasaran.

Ayahnya pun menjawab, “Ayah takut,” katanya dengan penuh kelembutan, “kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu.”

“…Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya…” {Q.s. Al-Maa`idah [5]: 35}

“…Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” {Q.s. Ath-Thalaaq [65]: 2}

“Maka tiap orang cinta pada selain Allah,” demikian nasihat Prof. Dr. Buya Hamka dalam Akhlaqul Karimah, “tandanya dia sakit. Derajat sakitnya ialah sekedar cintanya itu pula, kecuali kalau cintanya kepada sesuatu itu untuk menolong menguatkan cintanya kepada Allah dan agamanya. Ketika itu dia tidak bernama sakit lagi.”

Oleh karena itu, “Kami memohon kepada Allah,” demikian tutur Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di ketika memanjatkan doanya dalam Bahjah Quluub Al-Abraar wa Qurrah ‘Uyuun Al-Akhyaar, “agar Dia melimpahkan cinta bagi kita terhadapNya, terhadap orang-orang yang dicintainya, dan pada perbuatan yang dapat mendekatkan diri kita kepadaNya. Sesungguhnya Allah Maha Baik lagi Maha Mulia. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita.”

Ya Tuhan,
Jika cinta adalah ketertawanan
Tawanlah aku dengan cinta kepadaMu
Agar tak ada lagi yang dapat menawanku

{Mohammad Fauzil Adhim, Mencapai Pernikahan Barakah}

***

Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni dalam kitabnya yang berjudul Rahmatan lil ‘Aalamiin mengisahkan:

Ketika Imam Malik membacakan kitab hadisnya, Al-Muwaththa`; tiba-tiba kalajengking menyengatnya sebanyak tiga belas kali. Tetapi ia tidak menghentikan pembicaraannya. Orang-orang kemudian berkata kepadanya, “Kami melihat wajahmu telah berubah.” Imam Malik menjawab, “Kalajengking menyengatku ketika aku sedang membaca hadis Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.” Mereka berkata, “Lalu kenapa engkau tidak menghentikan pembicaraan?” Ia menjawab, “Aneh sekali kalian ini! Bagaimana aku bisa menghentikan membaca hadis sang kekasih -Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam– hanya untuk menolong diriku sendiri -dari sengatan kalajengking-.”

Merenungi kisah singkat yang menakjubkan dari Imam Malik ini, saya jadi teringat dengan firmanNya yang agung dalam Surah Al-Ahzaab [33] ayat ke-6. Allah Ta’aala berfirman, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri…”

“Ayat ini,” demikian komentar Ibnul Qayyim dalam Risaalah Tabuukiyyah-nya, “menjadi sebuah dalil bahwa barang siapa kecintaannya terhadap Rasulullah tidak lebih utama daripada kecintaannya terhadap dirinya sendiri, maka dia tidak termasuk orang-orang yang beriman.”

***

Dalam kitabnya yang berjudul Taariikh Al-Khulafaa`, Imam Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullaah mengisahkan:

Furat ibn As-Saib berkata, “‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada istrinya Fathimah binti ‘Abdul Malik -dia memiliki perhiasan berupa mutiara yang sangat indah-, ‘Pilihlah olehmu, kau kembalikan harta perhiasan ini ke Baitul Mal atau aku kau izinkan meninggalkanmu untuk selamanya. Sebab, aku sangat benci, jika aku, kamu dan perhiasan ini (mutiara-mutiara) berada dalam satu rumah.’”

Istrinya menjawab, “Aku memilih kamu daripada mutiara ini, bahkan jika lebih dari itu pun aku tetap memilih kamu.”

Kemudian dia -‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz- memerintahkan salah seseorang untuk membawa perhiasan istrinya itu ke Baitul Mal.

Saat ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz meninggal dan Yazid ibn ‘Abdul Malik menggantikannya, dia berkata kepada Fathimah, “Jika kau mau, aku akan ambil perhiasan-perhiasanmu itu kembali.”

Fathimah berkata, “Tidak, tidak mungkin itu aku lakukan. Bagaimana mungkin aku menyatakan rela pada saat dia masih hidup namun aku menarik kerelaanku di saat dia sudah meninggal.”

Inilah teladan kita yang sangat memesona; ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz namanya. Dulu, sebelum diangkat menjadi khalifah, kehidupan beliau tidak pernah kekurangan; senantiasa dalam ketercukupan. Namun kini, ketika ia telah menjadi Amiirul Mu`miniin, harta itu ternyata sangat menggelisahkan bagi dirinya. Sebab, ia menyadari, bahwa hal inilah yang akan membuat hisabnya kelak di akhirat menjadi sangat berat. Oleh karena itulah, ia berusaha untuk merubah total gaya hidupnya; dari yang serba ketercukupan menjadi sangat sederhana. Inilah sebuah sikap dari seorang hamba yang disesaki rasa takut kepadaNya. Maka inilah takwa yang sesungguhnya, dari seorang hamba yang sangat merindukan rumah sejatinya di surga.

Berkenaan dengan kisah kesetiaan istrinya; yaitu Fathimah binti ‘Abdul Malik atas sikap yang diambilnya ketika menjadi khalifah, saya jadi teringat dengan kata-kata indah dari Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullaah yang beliau ungkapkan dalam bait-bait syairnya. Ungkapan indah ini dinukil oleh Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif dalam kitabnya, Al-Hubb fil Qur`aan.

Engkau durhakai Tuhan, padahal engkau menyatakan cinta kepadaNya
Ini demi hidupku, menurut logika, sungguh sangat tercela
Sekiranya cintamu benar, pasti engkau mematuhiNya,
Karena orang yang cinta
Patuh setia kepada yang dicintai

{Imam Ibnu Al-Mubarak}

***

Saudaraku, sudah kenalkah Anda dengan sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang bernama Ikrimah ibn Abu Jahal? Kemudian, tahukah Anda bagaimana sepak terjangnya ketika perang Yarmuk? Ah, tapi saya tidak ingin membahas hal ini sekarang. Sebab, ada hal lain yang lebih menakjubkan, yang harus kita seksamai dan renungkan bersama dari sosok kita ini. Apa itu?

Inilah dia, Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya rahimahullaah, yang mengisahkan kisah yang menakjubkan itu dalam kitabnya, Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah. Berikut ini adalah sepenggal kisahnya:

Perang Yarmuk sudah selesai dengan kemenangan besar di tangan kaum muslimin, di antara para syuhada perang ada tiga orang laki-laki yang tergolek tidak berdaya di bumi Yarmuk karena luka-luka mereka yang demikian parah, mereka adalah Al-Harits ibn Hisyam, Ayyasy ibn Abu Rabi`ah dan Ikrimah ibn Abu Jahal.

Ketika Al-Harits ibn Hisyam yang dalam keadaan luka parah meminta air untuk minum, orang pun datang membawakan air untuknya. Tetapi ketika ia hendak meminumnya tiba-tiba dia melihat Ikrimah -kemenakannya yang juga dalam keadaan luka parah menoleh kepadanya-. Kata Al-Harits, “Berikan air ini kepadanya.”

Tetapi ketika air itu dibawa kepada Ikrimah, dia melihat bahwa Ayyasy -yang berada di sampingnya- yang juga dalam keadaan luka parah lebih membutuhkan air itu daripada dirinya sendiri. Kata Ikrimah, “Berikan air ini kepadanya.”

Dan ketika air itu dibawa kepada Ayyasy ternyata dia telah wafat sebagai syahid. Lantas air itu dibawa kembali kepada Al-Harits namun ternyata dia sudah wafat juga sebagai syahid. Dan, ketika akhirnya air itu dibawa kepada Ikrimah, ternyata Ikrimah telah menyusul keduanya -Al-Harits dan Ayyasy- sebagai syahid. Allahu Akbar.

Semoga Allah meridhai mereka semuanya. Memberi mereka minum dari Haudh Al-Kautsar sehingga mereka tidak akan pernah merasakan haus selama-lamanya, menyiapkan surga Firdaus yang hijau di mana mereka berbahagia di dalamnya untuk selama-lamanya.

Inilah cinta, dengan segala makna yang dikandungnya. Yang mengejewantah menjadi itsar; yaitu sikap seseorang yang mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri. Sungguh, dari mereka bertiga kita belajar tentang makna itsar yang sesungguhnya.

Sungguh, betapa indah perumpamaan sang Nabi dalam salah satu sabdanya, “Kaum muslimin seperti satu orang. Jika salah satu matanya sakit, seluruhnya ikut sakit. Jika kepalanya sakit, seluruhnya ikut sakit.” {H.r. Muslim [no. 2587] dari An-Nu’man ibn Basyir} Dalam riwayat yang lain, beliau juga bersabda, “Seorang mukmin bagaikan sebuah bangunan yang sebagian mengokohkan sebagian yang lain.” Beliau kemudian merajutkan jari-jemarinya. {H.r. Al-Bukhari [no. 6026] dari Abu Musa Asy’ari}

***

Ustadz Muhammad ‘Abdul Halim Hamid dalam kitabnya yang berjudul Mi`ah Mauqif min Hayaati Al-Mursyidiin li Jamaa’ah Al-`Ikhwaan Al-Muslimiin mengisahkan:

Ustadz ‘Umar At-Tilmisani diundang menghadiri beberapa pertemuan di Iskandaria di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ikhwan mempersiapkan hidangan buka puasa demi menghormati ustadz Mursyid. Di dalam hidangan itu ada jus Mangga.

 Salah seorang ikhwan menyuguhkan segelas Mangga kepada Ustadz ‘Umar, tetapi beliau menolaknya. Sebagian ikhwan memerhatikan tanda-tanda perubahan di wajahnya, lalu mereka menanyakannya: “Apakah Anda alergi dengan Mangga?”

 Ustadz ‘Umar menjawab: “Tidak.”

Seusai buka puasa sebagian ikhwan ingin mengetahui rahasia penolakannya untuk meminum jus Mangga. Setelah didesak, Ustadz ‘Umar menjawab: “Saya biasa pulang dari kerja agak terlambat, dan saya dapati istri saya telah menanti saya. Biasanya, saya mempersiapkan dua gelas jus Mangga, lalu kami meminumnya bersama-sama. Setelah istriku meninggal, saya tidak kuasa meminum jus Mangga tanpa dia. Saya memohon kepada Allah, semoga Dia mempertemukan saya dengannya di surga dan meminum bersama-sama dari buah surga.”

Seperti sikap yang ditunjukkan oleh Syaikh ‘Umar At-Tilmisani rahimahullaah, inilah sebentuk potret kesetiaan dengan segala makna yang dikandungnya; yang terlahir dari fitrah manusiawi seseorang yang putih bersih. Dan memang seperti itulah cinta bekerja, ketika ianya bersemi di taman hati seorang hamba yang saleh.

Syarat cinta adalah selalu seiring dengan orang yang kau cintai
Mencintai apa yang dia cintai tanpa sedikit pun mengurangi

{Imam Ibnul Qayyim, An-Nuuniyyah}

***

“Imam Asy-Syafi’i,” tulis Ustadz Dr. ‘Abdul Aziz Asy-Syinawi dalam Al-Aimmah Al-Arba`ah Hayaatuhum Mawaqifuhum Araa’ahum Qaadhiyusy Syariiah Al-Imaam Asy-Syafi’i, “sangat bersemangat dalam mempelajari hadis dan memerhatikan para penyampai hadis (muhaddiits), lalu menghafal hadis-hadis tersebut dengan cara mendengar. Terkadang beliau menuliskannya di atas porselin dan terkadang di atas lembaran kulit.”

“Beliau juga,” lanjut beliau menjelaskan, “sering datang ke kantor-kantor pemerintah untuk mengumpulkan kertas-kertas setengah pakai. Beliau biasa menulis materi yang didengarnya di kertas setengah pakai itu.”

Maasyaa-Allaah, seperti itulah gambaran semangat nan gigih Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah dalam menuntut ilmu. Hasrat dan rasa cintanya kepada ilmu begitu lekat dan mengakar pada pribadinya. Maka rasa cintanya kepada ilmu pun bekerja, ketika ia telah tertanam, tumbuh dan mengakar kuat pada dirinya. Lalu, ia pun menjelma menjadi sebuah energi penggerak semangat yang tak terduga-duga; energi para pecinta sejati.

Seperti Imam Asy-Syafi’i, para pecinta sejati pun selalu yakin dengan kerja-kerja cinta yang mereka lakukan. Karena mereka memiliki iman yang sangat kokoh. Dan mereka juga menyadari dengan penuh kesadaran, bahwa tiada kebaikan yang telah ditanam atas dasar cinta kepadaNya yang akan menjadi sia-sia belaka. Sekecil apapun kebaikan itu. Yakinilah!

Dan, memang seperti itulah energi cinta bekerja. Ianya selalu menakjubkan.

Aku bersumpah:
Wahai diriku engkau harus terjun ke medan laga
Kau harus terjun ke medan laga atau kupaksa engkau menerjuninya
Manusia telah siaga dan berteriak kencang
Lalu kenapa kulihat kau tak suka surga
Sudah sekian lama engkau merasa tentram
Engkau hanyalah setetes air mani di himpitan daging

{‘Abdullah ibn Rawahah, sebelum syahid di medan Mut’ah, sebagaimana diabadikan oleh Ibnu Ishaq dalam Siirah-nya}

***

Para pecinta sejati sangat mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Karenanya, jika para pecinta sejati telah mampu untuk membina rumah tangga, maka mereka akan segera merealisasikannya dengan segera menikah. Agar mereka tidak terjerumus dalam kubangan dosa nafsu syahwat yang menggebu-gebu. Dan jika belum mampu untuk menikah, maka mereka pun akan bersabar untuk menjaga dirinya dengan puasa-puasa sunnah sebagai tamengnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berikut: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah (ba’ah), maka menikahlah! Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” {H.r. Al-Bukhari [no. 1905] dan Muslim [no. 1400] dari Ibnu Mas’ud}

Dan, apabila para pecinta sejati yang telah berkeluarga takjub kepada seorang wanita lain -yang bukan istrinya-, maka mereka akan senantiasa ingat dengan hadis ini: “Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Jika salah seorang dari kalian melihat seorang wanita, lalu wanita tersebut membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya. Sungguh, hal itu akan menolak gejolak yang terdapat dalam dirinya.” {H.r. Muslim [no. 1403] dari Jabir ibn ‘Abdillah}

Dan, memang seperti itulah para pecinta sejati mengelola dan mengendalikan rasa cintanya. Ia menuntun cinta yang membuncah di dadanya dengan syari’at sebagai pemandunya. Jalan cinta para pecinta sejati pun menjadi jernih, terang, dan mencahaya. Seperti bait syair berikut:

Alangkah seringnya,
Mentergesai kenikmatan itu
Membuat detik-detik di depan terasa hambar

Kelezatan itu akan hilang
Dari orang yang terpenuhi tuntutan syahwatnya yang haram
Yang tersisa hanyalah dosa dan hina

{Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan}

Maka disini, seorang muslim sejati mempunyai jalan cintanya sendiri. Dan, ia memilih jalan cintanya itu dengan penuh kesadaran dan iman yang kokoh. Ya, jalan cintanya adalah jalan cinta para pecinta sejati; seperti cintanya ketiga sahabat Nabi dalam perang Yarmuk kepada sesama saudaranya, Fathimah binti ‘Abdul Malik kepada suaminya, Imam Malik kepada sunnah NabiNya, Imam Asy-Syafi’i kepada ilmu, ‘Umar At-Tilmisani kepada istrinya dan seperti Buya Hamka ketika ia rindu dengan istrinya. Inilah cinta, yang bersumber dari mata air cinta yang satu, dan muaranya pun satu: yaitu rasa cinta kepadaNya dan RasulNya.

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Dr. ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syinawi. 2013 (Cet. 1). Biografi Imam Syafi’i; Kehidupan, Sikap dan Pendapatnya. Solo: Aqwam (Judul asli: Al-Aimmah Al-Arba`ah Hayaatuhum Mawaaqifuhum Araa’ahum Qaadhiyusy Syariiah Al-Imaam Asy-Syafi’i)
  2. Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya. 2014 (Cet. 10). Mereka Adalah Para Shahabat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah)
  3. Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif. 1992 (Cet. 1). Nilai Cinta dalam Al-Qur`an. Solo: CV. Pustaka Mantiq (Judul asli: Al-Hubb fil Qur`aan)
  4. Fadlan Al-Ikhwani. 2011 (Cet. 1). Aku Pingin Nikah. Yogyakarta: Pro-U Media
  5. Ibnu Ishaq. 2012 (Cet. 3). Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam. Jakarta: Akbar Media (Judul asli: Siirah An-Nabawiyyah, Disyarah dan Ditahqiq oleh: Ibnu Hisyam, Ditakhrij oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  6. Imam As-Suyuthi. 2013 (Cet. 10). Tarikh Khulafa`; Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Taariikh Al-Khulafaa`)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2002 (Cet. 2). Kembali Kepada Allah. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Zaad Al-Muhaajir Illa Rabbihi/ Risaalah Tabuukiyyah)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2010 (Cet. 1). Taman Orang Jatuh Cinta; Tamasya orang yang Terbakar Rindu. Bandung: Penerbit Jabal (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  9. Irfan Hamka. 2013 (Cet. 1). Ayah, Kisah Buya Hamka. Jakarta: Republika Penerbit
  10. Mahmud Al-Mishri. 2013 (Cet. 8). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 2. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  11. Mohammad Fauzil Adhim. 2012 (Cet. 28). Mencapai Pernikahan Barakah. Yogyakarta: Mitra Pustaka
  12. Muhammad ‘Abdul Halim Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Para Pemimpin Ikhwanul Muslimin. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Mi`ah Mauqif min Hayaati Al-Mursyidiin li Jamaa’ah Al-`Ikhwaan Al-Muslimiin)
  13. Prof. Dr. Buya Hamka. 1992. Akhlaqul Karimah. Jakarta: PT Pustaka Panjimas
  14. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 18). Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2004 (Cet. 1). Al-Qur`an Berjalan: Potret Keagungan Manusia Agung. Jakarta: SAHARA publishers (Judul asli: Rahmatan lil ‘Aalamiin)
  16. Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di. 2003 (Cet. 1). Ketenteraman Hati Orang-orang Shalih & Kesejukan Batin Orang-orang Pilihan. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Bahjah Quluub Al-Abraar wa Qurrah ‘Uyuun Al-Akhyar fii Syarh Jawami’ Al-Akhbar)
Advertisements

Ajaibnya Cinta


Sumber: vemale.com

Sumber: vemale.com

“Kecintaan kepada jihad benar-benar telah melekat pada diri dan hidupku, jiwa dan perasaanku, serta hati dan inderaku.”

{Syaikh Dr. ‘Abdullah ‘Azzam}
***

Cinta. Betapa ajaibnya kata ini. Cinta, ia mampu membuat orang penakut menjadi pemberani. Yang tak pandai berkata-kata seketika mampu menyastra bagaikan penyair ulung. Yang pemarah seketika menjadi pemaaf. Yang begitu kasar seketika menjadi lembut. Yang tak berani berkorban seketika menjadi berapi-api dalam melakukan pengorbanan teruntuk yang dicintainya. Dan, yang semangatnya loyo seketika mampu menjadi sangat bersemangat penuh gelora. Begitulah cinta bekerja. Energinya tak terlihat dengan kasat mata, namun kerja-kerjanya begitu terasa, dan energinya terkadang tak terduga-duga.

Dan nafas cintanya meniup kuncupku
Maka ia mekar jadi bunga

{Muhammad Iqbal, Payam-i-Mashriq}

Sejenak, mari kita seksamai dan renungkan hadis sahih berikut.

Dari ‘Aisyah  radhiyallaahu ‘anhaa bahwa Rasulullah  mengutus seorang sahabat  untuk memimpin sebuah pasukan jihad. Sahabat ini yang menjadi imam bagi pasukannya dalam shalat lima waktu berjamaah dan dia selalu menutup bacaannya -setelah membaca Al-Faatihah dan surat yang lain- dengan “Qul huwallaahu ahad” -surat Al-Ikhlaash-. Maka ketika mereka kembali dari medan jihad, mereka menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, maka beliau bersabda, “Tanyakan padanya apa sebabnya dia melakukan itu?” Lalu mereka bertanya kepadanya dan dia berkata, “Karena surat itu berisi tentang sifat Ar-Rahmaan Allah dan aku mencintai bacaan surat itu.” Setelah mendengar alasan tersebut Rasulullah bersabda, “Sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya. {H.r. Al-Bukhari [no. 6940] dan Muslim [no. 813]}

Ar-Rahmaan; Yang Maha Pengasih.

Ar-Rahmaan,” tutur Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin dalam Tafsiir Juz ‘Amma-nya, “yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.”

Ar-Rahmaan,” lanjut Ustadz Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan-nya, “Nama Allah yang indah ini menggambarkan keluasan kasih yang tiada pilih, kelapangan sayang yang tiada berbilang, kemerataan cinta yang tiada tara, berbilang kebaikan yang tak berhingga, dan berlimpah karunia yang takkan sanggup manusia menghitungnya.”

Begitulah, cinta pun begitu adanya. Ianya diliputi oleh rasa kasih yang membuncah-buncah di dada. Sebab, rasa kasih adalah biji cinta, jika kita ingin mengibaratkan cinta sebagai sebuah pohon rindang nan indah menjulang; yang senantiasa menebar manfaat lewat anyir dan manis buah-buahnya. Dan, karena rasa kasih inilah, cinta seorang Hayati berkecambah dan bertumbuh kepada Zaenuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah. Begitupun dengan cintanya Zainab kepada Hamid dalam roman Di Bawah Lindungan Ka`bah.

Dalam kitab Madaarijus Saalikiin-nya, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah mengungkapkan, “Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya maka dia pasti akan mencintaiNya.” Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah...” {Q.s. Muhammad [47]: 19}

Begitupun, ketika kita mencintai seseorang, siapapun itu. Kadar pengetahuan kita tentang sesuatu yang dicintai akan menentukan alur kerja-kerja mencintai kita. Karena dari hal itu, muncullah alasan dan visi yang kuat kenapa kita harus mencintai sesuatu itu.

“Sesungguhnya,” lanjut Ibnul Qayyim dalam Miftaah Daar As-Sa’aadah, “frekuensi kebahagiaan bersama yang dicintai tergantung pada kekuatan dan kelemahan cinta itu sendiri. Apabila kecintaan itu besar, maka kebahagiaan pun terasa besar pula. Sebagaimana kebahagiaan seseorang yang dilanda dahaga tatkala meminum air dingin dan tergantung rasa letihnya dalam mencari air itu, demikian pula dengan orang yang lapar. Jadi perasaan cinta itu sesuai dengan pengetahuannya tentang yang dicintai dengan segala keindahan lahir-batinnya.”

Yang pasti, semakin mendalam kita mengenal dan memahami sesuatu -orang-orang- yang kita cintai, maka semakin besarlah energi cinta yang akan kita butuhkan, berikan dan persembahkan kepada mereka. Karena energi cinta yang jernih dan agung, selalu butuh alasan dan visi yang jelas untuk menghadirkannya. Walaupun alasannya sangat sederhana. Dan para pecinta sejati, alasan kerja-kerja mencintainya selalu bermuara kepada rasa cinta yang satu; yaitu rasa cinta yang sangat mendalam kepadaNya.

Saat kujauh dari sang tercinta
Dan hati tak tergerak untuk bersua
Kupandangi pakaiannya kala saat rindu melanda
Kupandangi semua hadiah-hadiah darinya

Begitulah yang dilakukan Ya’qub Nabi pembawa petunjukNya
Kala sedih melanda, karena rindu Yusuf putra tercinta
Ia ciumi baju Yusuf yang ada di rumahnya
Seketika penglihatannya sembuh seperti sediakala

{Ibnu Hazm Al-Andalusi, Thauqul Hamaamah}

***

“Cinta pada sebuah misi,” tulis Ustadz Anis Matta dalam Serial Cinta-nya, “mendorong kita mencintai semua orang dan pekerjaan yang ada disepanjang jalan menuju misi itu. Semua orang. Semua pekerjaan. Disini cinta bekerja seperti mesin kendaraan. Tidak penting betul siapa penumpangnya, dan jalan mana yang harus dilalui.”

Karena cinta pada sebuah misi itulah, maka, Nu’man ibn Qauqal radhiyallaahu ‘anhu -sebelum syahid di medan Uhud- berkata, “Aku bersumpah kepadaMu duhai Rabbi! Tidak akan tenggelam itu matahari hingga kugapai hijaunya surga dengan pincangku ini.” Dan, misinya pun tercapai dengan sangat indah: mati syahid.

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” {Q.s. An-Nahl [16]: 97}

“…Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” {Q.s. At-Taubah [9]: 4}

Lalu, dari sikap yang dipilih Nu’man ibn Qauqal, dan dari kekata yang telah terucapkan lewat lisannya yang jujur, kita pun hanya bisa berkata lirih: “Jadikan cintaku padaMu Ya Allah, berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena aku tahu, mentaatiMu dalam hal yang tak kusukai adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala. Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku.” Begitulah kekata Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Jalan Cinta Para Pejuang.

Maka, biarkanlah kekuatan cintamu bekerja dalam setiap helaan nafas. Agar amal-amal yang engkau telah jalani mendapatkan keridhaan disisiNya. Dan saksikanlah, bahwa keajaiban cinta telah mulai menyeruak; menebar pesonanya.

Wahai kekasih
Aku bukanlah bahan baku pencetak bahagia
Aku hanya pelengkapnya
Yang kau butuhkan
Mungkin hanya takaran kecil
Sekecil ruang yang kau sediakan untukku

{Afifah Afra, dari syair beliau yang berjudul Sebuah Ruang Kecil untuk Hatiku}

***

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Nabi Yusuf ‘alayhis-salaam sebagaimana kisahnya yang terabadikan dalam Al-Qur`an. Kecintaannya kepada Allah Ta’aala membuatnya memilih penjara dibandingkan mengikuti bujuk rayu dan kemauan istri tuannya -beserta wanita-wanita yang bersekongkol dengannya-. “Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…’” {Q.s. Yuusuf [12]: 33}

“Manusia itu bersifat lemah,” tulis Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Munajjid ketika mengomentari ayat ke-33 dari Surah Yuusuf ini dalam Mi`ah Fa`idah min Surah Yuusuf, “dan Nabi Yusuf ‘alayhis-salaam menyadari hal itu, bahwa seorang manusia tanpa adanya bimbingan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menjadi lemah, karena untuk menghindarkan cobaan itu sangatlah sulit seandainya tidak ada pertolongan dari Allah.”

Maka, “Jika hati seseorang ikhlas dan dia pun mengikhlaskan amal perbuatannya karena Allah, niscaya cinta yang semu tidak akan bersarang dalam dirinya.” Begitu ungkap Ibnul Qayyim dalam Ad-Daa` wad Dawaa` ketika mengomentari ayat berikut ini, “…Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” {Q.s. Yuusuf [12]: 24}

“Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” {Q.s. An-Naazi’aat [79]: 40-41}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok dua gadis bersaudara -dalam kisah Nabi Musa ‘alayhis-salaam– yang sedang mengantri mengambil air dari sebuah sumur beserta hewan gembalaannya. Musa, yang saat itu lari dari negerinya karena dikejar oleh pengikut Fir’aun, -setelah berhari-hari melakukan perjalanan- akhirnya tiba di sebuah pinggiran kota. Di kota itu, ia melihat sekelompok orang yang sedang berkerumun dan berdesak-desakan untuk mengambil air dari sebuah sumur.

Nah, pada saat berdesak-desakan itulah, Musa melihat kedua gadis bersaudara tersebut tampak lemah dan tak berdaya untuk secepatnya mengambil air. Sehingga, mereka pun memisahkan diri -beserta hewan gembalaannya- dari laki-laki yang sudah berkerumun di sumber air itu. Melihat kondisi yang terjadi, Musa pun merasa kasihan dan menolong kedua gadis itu.

Akhirnya, berkat pertolongan Musa, kedua gadis itu dapat pulang lebih cepat. Setibanya di rumah, ayahnya terkejut. Tidak seperti biasanya mereka pulang secepat ini, pikir ayahnya. Dan, mereka pun menceritakan peristiwa yang dialaminya di tempat pengambilan air itu kepada ayahnya. Mendengar hal itu, ayahnya pun langsung menyuruh salah satu putrinya untuk mengundang Musa ke rumah. “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’…” {Q.s. Al-Qashash [28]: 25}

Dari peristiwa yang singkat inilah, benih-benih cinta itu tumbuh tersebab kebaikan yang tercermin pada diri Musa. Ya, salah seorang dari kedua gadis bersaudara itu tertarik dengan Musa. Dengan tutur bahasa dunia wanita, gadis yang jatuh cinta itu pun berkata dengan lembut kepada ayahnya, “…‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.’” {Q.s. Al-Qashash [28]: 26}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Siti Hajar; Ummu Isma’il. Dia sangat pasrah dengan takdir Allah, ketika ia ditinggalkan bersama puteranya, -yang masih disusuinya- oleh suami tercinta; Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam di lembah Bakkah; yang sunyi tak berpenghuni, lengang, tandus dan gersang. Bayangkan, betapa berat ujian yang dijalani oleh Hajar saat itu. Bagaimana tidak, ia sedang dalam kondisi lemah dan tak punya apa-apa.

Ketika Ibrahim hendak meninggalkan mereka pulang ke Palestina, Hajar pun menyusulnya seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi, (apakah) engkau (akan) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada sesuatu pun?” Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Maka Hajar bertanya kembali, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” “Ya,” jawab Ibrahim. Hajar pun berucap, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” {Kisah lengkap dari peristiwa ini diabadikan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu}

Ya, begitulah Hajar. Ketika ia sadar bahwa apa yang dilakukan oleh suaminya adalah berdasarkan wahyu dari Allah, maka ia pasrah menerima takdirNya. Inilah kepasrahan yang dilandasi karena rasa cinta yang mendalam kepadaNya. Dan Hajar yakin, Allah akan menjaga diri dan bayinya yang masih kecil, dengan Kasih SayangNya.

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu ketika ia berada di gua Tsur bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam saat mereka hijrah ke Madinah. Ketika orang-orang Quraisy hampir menemukan jejak mereka berdua di mulut gua itu, Ash-Shiddiq melihat kaki-kaki mereka bergerak di atas gua -tepatnya di atas kepala mereka-, sehingga kedua matanya meneteskan air mata.

Dalam situasi genting itu, Rasulullah menatapnya dengan pandangan cinta dan kasih sayang, beliau menenangkannya, namun Ash-Shiddiq berbisik, “Demi Allah, aku bukan menangisi diriku, akan tetapi aku khawatir sesuatu yang tidak baik menimpamu ya Rasulullah.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu sebagaimana terkisahkan dalam Shahiihul Bukhari [no. 6257]. Beliau berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau benar-benar lebih kucintai daripada segala sesuatu, kecuali diriku sendiri.” Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berseru, “Tidak demikian, hai ‘Umar, tetapi sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” ‘Umar segera berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berkata, “Sekarang baru benar, hai ‘Umar.”

Sungguh, betapa mengagumkan cinta ‘Umar kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Bagaimanakah dengan cinta kita kepada Rasulullah?

Sejenak, renungkanlah nasihat Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni berikut: “Orang yang mengaku mencintai Rasul,” demikian tulis beliau dalam kitab Rahmatan lil ‘Aalamiin-nya yang sangat indah, “tapi tidak mengikuti sunnahnya, maka orang itu adalah pembohong besar di dunia ini.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu ketika terjadinya masa paceklik -pada tahun 18 H- yang dinamakan tahun arang (‘Amur Ramadah) pada masa kekhalifahan ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu. Saat paceklik ini terjadi -selama sembilan bulan-, masyarakat kota Madinah pun merasakan kesulitan yang berkepanjangan. Sebab, kondisi yang cukup panjang ini mengakibatkan tanaman dan hewan-hewan ternak binasa.

Namun, pertolongan Allah Ta’aala pun segera datang. Ya, pertolongan itu adalah, datangnya kafilah dagang milik ‘Utsman dari Syam. Para pedagang di kota Madinah pun ikut menyambutnya. Kafilah ini terdiri dari seribu ekor unta dengan gandum di punggungnya, minyak dan kismis.

Tahukah Anda apa yang dilakukan ‘Utsman dengan kafilah dagangnya yang sangat banyak ini? Beliau berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku menyedekahkan muatan kafilah dagangku kepada orang-orang miskin dari kaum muslimin, aku tidak mencari dinar atau dirham dari siapa pun. Aku hanya mencari pahala dan ridha Allah.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Tsumamah ibn Utsal Al-Hanafi radhiyallaahu ‘anhu setelah ia mengikrarkan syahadatnya. Sungguh, betapa indah dan mesranya ungkapan beliau di hadapan sang Nabi, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paling aku cintai.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Sa’ad ibn Ar-Rabi` Al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu ketika ia dipersaudarakan dengan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu. Setelah beliau dipersaudarakan oleh Rasulullah, kepada ‘Abdurrahman beliau berkata dengan bahasa cinta, “Saudaraku, aku adalah orang yang paling kaya di Madinah, aku mempunyai dua kebun dan dua orang istri. Lihatlah manakah dari kedua kebunku itu yang kamu sukai tentu aku akan memberikannya kepadamu dan wanita mana dari kedua istriku itu yang kamu sukai tentu aku mentalaknya agar engkau bisa memperistrikannya.”

Dari sikap itsar yang ditunjukkan Sa’ad ibn Ar-Rabi` kepada ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, kita belajar bagaimana seharusnya memaknai ayat ini, “…Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” {Q.s. Al-Hasyr [59]: 9}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok istri Abu Sufyan, Hindun binti ‘Utbah radhiyallaahu ‘anhaa ketika beliau disentuh oleh cahaya hidayahNya. Bayangkanlah, selama lebih dari 20 tahun sebelumnya -semenjak Muhammad diutus menjadi Nabi dan Rasul- beliau sangat membenci Rasulullah dan seluruh pengikutnya. Terlebih lagi, setelah perang Badar usai. Sebab, dalam peristiwa ini, Hindun kehilangan ayah (‘Utbah ibn Rabi’ah), paman (Syaibah ibn Rabi’ah) dan saudara kandungnya (Al-Walid ibn ‘Utbah).

Tapi nanti kita akan tahu, ketika peristiwa Fathu Makkah yang menyejarah itu terjadi, Hindun pun mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi, hari ini, tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Abu Al-‘Ash ibn Ar-Rabi` radhiyallaahu ‘anhu -suami dari Zaenab binti Rasulillah shallallaahu ‘alayhi wa sallam– ketika ia masih dalam kondisi musyrik. Ketika perselisihan antara Rasulullah dengan orang-orang Quraisy semakin meruncing dan memanas, sebagian orang-orang Quraisy menemui Abu Al-‘Ash dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Al-‘Ash, talak istrimu -maksudnya Zaenab-, pulangkan dia kepada keluarganya, kami akan menikahkanmu dengan wanita Quraisy yang kamu suka dari para wanita yang cerdas dan mulia.”

Namun, tahukah Anda apa yang dikatakan Abu Al-‘Ash kepada mereka? Beliau berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan berpisah dari istriku. Aku tidak ingin menggantikannya sekalipun dengan seluruh wanita yang ada di dunia ini.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Zaid ibn Haritsah radhiyallaahu ‘anhu yang dengan ikhlas menikah dengan ibu angkat Rasulullah; Ummu Aiman radhiyallaahu ‘anhaa -nama aslinya, Barakah binti Tsa’labah-. Bayangkan saja, selisih umur antara Zaid yang menjadi anak angkat sang Nabi menikah dengan ibu angkatnya. Betapa jauhnya selisih umur itu. Jika saya boleh berpendapat, kalau bukan karena iman Zaid yang sangat kokoh menjulang kepada Allah dan RasulNya, maka pernikahan ini tidak akan bisa terjadi. Dan pada akhirnya, dari pernikahan ini, lahirlah sesosok pemuda tangguh nan pemberani -yang digelari dengan sebutan putra dari jantung hati Rasulullah (Ibnu Hibb Rasuulullaah)- yang menjadi panglima perang pada usia mudanya; yaitu diumurnya yang belum genap dua puluh tahun -antara 17 atau 18 tahun-. Siapakah dia? Ya, dialah Usamah ibn Zaid ibn Haritsah radhiyallaahu ‘anhu.

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Jabir ibn ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu yang dengan ikhlas menikah dengan seorang janda daripada memilih wanita yang masih gadis (perawan). Tentunya, dengan sebuah alasan agung nan mulia; yaitu beliau tidak ingin menikah dengan wanita yang sebaya dengan beberapa saudara perempuannya; karenanya ia memilih seorang janda agar ada yang membimbing dan memperbaiki mereka -hal ini dia lakukan, karena ayahnya telah wafat-. Dan alasan bijaknya ini pun dimaklumi oleh Rasulullah. {Kisah ini diabadikan oleh Imam Al-Bukhari [no. 6387] dan Muslim [no. 714] dalam Shahiih mereka masing-masing}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok wanita salehah yang penyabar nan dermawan; Asma` binti Abi Bakar radhiyallaahu ‘anhaa. Kakak Ummul Mukminin ‘Aisyah dari pihak ayah ini; yang digelari pemilik dua ikat pinggang (dzaatun nithaaqain), dengan ikhlas menikah dengan Az-Zubair ibn Al-‘Awwam radhiyallaahu ‘anhu; walaupun dia tidak mempunyai harta dan sahaya maupun lainnya, kecuali hanya seekor unta untuk mengangkut air dan seekor kuda. Dan kuda ini pun, beliau sendiri yang merawat dan mengurusnya -sebelum diurus oleh seorang pembantunya-. Selain itu, beliau juga sangat berbakti kepada suaminya yang pencemburu ini. {Kisah lengkap dari kondisi tentang Az-Zubair ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari [no. 3151] dan Muslim [no. 2182] dalam Shahiih mereka masing-masing}

Ah, betapa kita sangat mendambakan sosok wanita salehah seperti Asma` di zaman kita sekarang ini. Berkenaan dengan kisah beliau ini, teringatlah saya dengan sebuah hadis yang berderajat hasan berikut, yang mencerminkan sosok muslimah sejati. Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah wanita yang terbaik?” Beliau menjawab, “Yang membuat suaminya senang jika melihatnya, yang mentaati suaminya jika memerintahkannya, dan tidak menyelisihinya dalam perkara yang tidak disukainya, baik berkenaan dengan diri wanita itu sendiri maupun harta sang suami.” {H.r. An-Nasa`i [no. 3231], Ahmad [no. 7373], dan Al-Hakim [II/161]. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah [no. 1838]}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok gadis muda yang bernama Na`ilah binti Farafishah Al-Kalbiyyah. Di usianya yang genap 18 tahun, dia dinikahi ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu yang saat itu menjelang usia delapan puluhan. Namun, ketika ‘Utsman menanyainya, apakah ia tidak keberatan dengan kondisi ‘Utsman yang sudah tua bangka? Sambil tertunduk malu, Na`ilah menjawab, “Aku termasuk perempuan yang lebih suka memiliki suami yang lebih tua.” ‘Utsman pun menimpali, “Namun, aku telah jauh melampaui ketuaanku.” Dengan gairah para pecinta sejati, Na`ilah pun menjawab, “Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan itu jauh lebih aku sukai dari segala-galanya.”

Ketika akhirnya ‘Utsman wafat dalam kemuliaan, Mu’awiyah ibn Abu Sufyan mengirim utusan untuk meminang Na`ilah. Namun, bagaimanakah reaksi Na`ilah menanggapi pinangan tersebut? “Tidak mungkin,” katanya, “ada seorang manusia pun yang bisa menggantikan ‘Utsman di dalam hatiku.”

Romantis sekali bukan?

Dari Na`ilah kita belajar. Bagaimana seharusnya kita memaknai hadis sahih ini, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” {H.r. Al-Bukhari [no. 14, 15] dan Muslim [no. 44] dari Anas ibn Malik}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok wanita salehah nan agung; Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anhaa -nama aslinya, Syahlah binti Milhan ibn Khalid ibn Zaid ibn Haram- yang menerima pinangan Abu Thalhah -pemanah ulung kota Yatsrib- dengan mahar yang sangat sederhana; namun menyentak dan membahana. Ketika dipinang, ia mengatakan, “Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak, sayang engkau kafir dan aku seorang muslimah, aku tidak mungkin menikah denganmu.” Abu Thalhah menjawab, “Bukan itu maksudmu kan?” Ummu Sulaim berkata, “Lalu apa maksudku?” Abu Thalhah menjawab, “Emas dan perak, kamu memilih orang yang beremas dan berperak lebih dariku.” Ummu Sulaim berkata, “Aku tidak berharap emas dan perak, aku ingin Islam darimu. Jika kamu masuk Islam maka itulah maharku, aku tidak minta yang lain.” {Redaksi lengkap dari kisah ini diriwayatkan dari Anas ibn Malik oleh Imam An-Nasa`i dalam Sunan-nya [no. 3341], kitab An-Nikaah. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Sunan An-Nasa`i}

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Bilal ibn Rabbah radhiyallaahu ‘anhu yang dilucuti pakaiannya, kemudian diganti dengan baju besi, lalu disiksa sekejam-kejamnya dan dipaksa untuk mencela Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Bahkan, beliau juga dipaksa untuk memuji Laata dan ‘Uzzaa, namun beliau malah menyebut Allah dan RasulNya. Tak sampai disitu, punggung beliau pun dicambuk-cambuk seraya diletakkan batu besar di atas dadanya.

Ketika Umayyah ibn Khalaf dan para algojonya yang menyiksa dengan sangat tidak manusiawi merasa bosan dan kelelahan, ia pun diikat lehernya dengan tali yang sangat kuat. Kemudian diserahkan kepada orang-orang yang bodoh dan anak-anak, lalu ia pun diseret-seret di lembah-lembah Makkah. Bayangkan, betapa berat siksaannya? Namanya juga pemimpin kekafiran, wajarlah kalau sekejam itu.

Namun, di bawah terik mentari siang kota Makkah yang sangat menyengat dan di atas pasir yang sangat panas membakar kulit itu, Bilal -orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan budak- hanya berucap lirih, mesra dan bangga, “Ahad!…Ahad!…Ahad!”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Yasir ibn ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu beserta istri dan anaknya -Sumayyah binti Khayyath dan `Ammar ibn Yasir- yang disiksa oleh Bani Makhzum berhari-hari, dengan sekejam-kejamnya. Keluarga Bani Makhzum bersumpah untuk menyiksa kelurga Yasir dengan sekeras-kerasnya, sampai mereka mau kembali beribadah kepada berhala. Namun, cahaya keimanan mereka begitu terang-benderang, sehingga siksaan demi siksaan tak membuat mereka berpaling dari agama barunya; yaitu Islam.

Di hari berikutnya, ketika Sumayyah radhiyallaahu ‘anhaa disiksa oleh orang-orang Bani Makhzum, ia disaksikan oleh Abu Jahal ibn Hisyam. Lalu, Abu Jahal pun menghinanya dengan sejelek-jelek penghinaan. Namun, Sumayyah tidak mempedulikan hal tersebut sama sekali. Akhirnya, Abu Jahal mengambil sebuah tombak, lalu menusuk Sumayyah tepat di ulu hatinya. Sehingga, seketika itu juga, mata tombak itu pun keluar di punggungnya. Dan, Sumayyah pun menjadi wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Begitu pula dengan suaminya, yang lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya. Hanya `Ammar sendiri yang bertahan hidup dari siksaan yang kejam itu.

Dalam versi riwayat yang lain, Abu Jahal disebutkan menusuk Sumayyah dengan tombak pendek pada bagian kemaluannya. Pendapat ini menurut Mujahid, sebagaimana dimuat oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Al-Bidaayah wan Nihaayah-nya.

Namun, bagaimanapun kerasnya siksaan tersebut, cukuplah jaminan dari Rasulullah sebagai sebaik-baik balasannya. “Berbahagialah, wahai keluarga `Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” {H.r. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqaat. Syaikh Mushthafa Al-`Adawi berkata: ‘Riwayat ini sahih karena diperkuat oleh riwayat-riwayat pendukung (syawaahid)’}

Hadis yang semakna dengan riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya [no. 5646], namun hadis tersebut sanadnya terputus (munqathi`).

Dari siksaan keras yang dialami Bilal dan kelurga Yasir, kita belajar bagaimana seharusnya memaknai ayat ini, “…Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 146}

“Kita sama-sama mengetahui,” begitu pemaparan Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam Al-Jaami’ li Al-Fataawaa­-nya, “betapa lelahnya junjungan kita Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pada hari-hari pertama kehidupannya, dimana beliau tidak memiliki kekuatan dalam melindungi sahabat-sahabatnya, yang masuk dalam pangkuan Islam. Semoga saja hal itu merupakan simbol bahwa Allah menghendaki hanya orang-orang yang memiliki kekuatan cinta -yang tertuju hanya kepadaNya- yang pergi untuk menuju jalanNya.”

“Keteguhan orang-orang mukmin dalam mempertahankan akidahnya,” tutur Syaikh Dr. Mushthafa As-Siba’i dalam As-Siirah An-Nabawiyyah Duruus wa ‘Ibar, “setelah orang-orang jahat dan sesat mencoba menggoyahnya dengan berbagai bentuk siksaan dan intimidasi adalah bukti ketulusan imannya, dan keikhlasan dalam menganut akidahnya, serta keagungan diri dan jiwanya. Mereka menganggap semua penderitaan yang dialaminya itu sebagai bagian dari kesenangan hati dan ketenangan jiwa serta pikirannya. Di sisi lain, harapan untuk mendapat ridha Allah Subhaanahu wa Ta’aala jauh lebih agung daripada siksaan, penderitaan, dan intimidasi yang mendera tubuh kasar mereka.”

Oleh karena itulah, “Para juru dakwah Islam,” tulis Ustadz Prof. Dr. Fathi Yakan dalam Musykilaat Ad-Da’wah wad Daa’iyah, “harus membayar akidahnya dengan harga mahal. Dan mereka membayarkannya dengan kedermawanan, darah, dan pengorbanan sebagai syuhada.”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok wanita salehah yang menerima pinangan Rasulullah untuk Julaibib radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah Julaibib? Ya, inilah Julaibib. Lelaki yang fisiknya selalu dicela-cela, yang kondisinya sangat fakir, yang nasab keluarganya tak jelas, begitu pun dengan asal-usul sukunya.

Apakah yang terjadi saat proses peminangan itu? Tentu saja, kedua orangtua wanita itu keberatan -terkhusus ibunya-. Dan akhirnya, setelah bermusyawarah, penolakanlah yang terjadi dalam proses peminangan tersebut. Dan menurut saya, ini sangat manusiawi. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ya, si anak gadis itu pun mendengar apa yang dibincangkan oleh kedua orangtuanya berkenaan dengan pinangan Rasulullah. Dan, sesuatu yang sangat menakjubkan itu pun terjadi. Ketika si ayah hendak beranjak dari rumahnya untuk menolak pinangan itu, sang gadis itu mendadak berkata dengan sangat anggun dari balik kamarnya, “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?”, tanyanya menyentak. Lalu, sang ibu pun menjelaskan.

Dan, sang gadis pun lanjut berucap dengan imannya yang sangat kokoh menjulang, “Apakah kalian menolak perintah Rasulullah? Tidakkah kalian mendengar firman Allah, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” {Q.s. Al-Ahzaab [33]: 36} Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib radhiyallaahu ‘anhu!”

Ajaibnya cinta. Ya, itulah yang kita saksikan pada sosok Fathimah binti Qais radhiyallaahu ‘anhaa yang dilamar oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Abu Jahm dan Usamah ibn Zaid setelah ditalak tiga oleh suaminya. Berkenaan dengan lamaran itu, maka ia pun mengkonsultasikannya kepada Rasulullah. Dan pilihan beliau atas persoalan ini jatuh kepada Usamah ibn Zaid radhiyallaahu ‘anhu. Walaupun pilihan itu agak meragukan bagi Fathimah, bersebab fisik Usamah berkulit hitam dan berhidung pesek, namun ia taat saja pada perintah Rasulullah. Dan akhirnya, pernikahannya itu pun mendatangkan keberkahan sebagaimana ungkapannya, “Maka, aku pun menikah dengannya dan aku menjadi gembira.” {Kisah ini diabadikan oleh Imam Muslim [no. 1480] dalam Shahiih-nya}

Ah, di zaman kita sekarang ini, betapa langkanya wanita salehah seperti dalam kisah Julaibib dan Fathimah binti Qais. Darinya, kita belajar tentang makna “sami’na wa ‘atha’na; kami dengar dan kami taat” atas setiap perintah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Karena dalam setiap perintahnya pasti ada hikmah, pun pada apa-apa yang telah dilarangnya dengan tegas.

Cinta menurutku tak berwarna
Ia menjadi jingga sebagaimana engkau memaknainya
Ia pun menjadi kuning, biru dan merah
Sebagaimana engkau menginginkannya
Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
Tentang kejujuran dan keberanian
Tentang kemarahan dan kasih sayang
Cinta adalah lukisan yang unik dan tak terkatakan
Sebab ia menenggelamkan kita
Pada angan-angan dan mimpi yang abadi
Dan cintaku padamu
Adalah surga yang tak bisa kumasuki
Jika tanpamu

{Asma Nadia, Muhasabah Cinta Seorang Istri}

 ***

Tentang ajaibnya cinta, ada sebuah kisah nyata yang sangat indah dan mengharukan yang diterjemahkan dan dimuat oleh Ustadz Firanda Andirja dalam website-nya, firanda.com. Kisah tersebut berjudul Kisah Istri Sholehah. Kisah ini cukup panjang, namun, semoga ada pelajaran berharga yang bisa kita petik darinya. Allaahumma Aamiin.

Berikut ini kisahnya, dengan sedikit perubahan redaksi:

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata:

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya -di kota Riyadh- di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga, ia berangkat kerja selama seminggu -di tempat kerjanya- dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah tiga tahun, dan putriku telah berusia empat tahun, pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh, ia mengalami kecelakaan; mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit dalam keadaan koma. Setelah itu, para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 % organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami -Asmaa`- tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya.

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain, atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz Al-Qur`an hingga akhirnya iapun menghafal Al-Qur`an padahal umurnya kurang dari sepuluh tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa shalat pada waktunya, ia shalat di penghujung malam, padahal umurnya belum tujuh tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufik kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullaah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia merukyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.

Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku: “Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku.”

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita:

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqarah hingga selesai. Lalu, rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan shalat -sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu, sekali lagi, akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat shalatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rahmaan (Allah) terjaga? bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini?”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku -untuk berdoa-, dan aku memandangi ayahku -sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam doaku, “Yaa Rabbku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…, Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung)…, Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rahmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rahiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kami beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu…, Wahai Engkau yang telah menyembuhkan Nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan Nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru…, “Siapa engkau? Apa yang kau lakukan di sini?” Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu, aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillaah…(Takutlah engkau kepada Allah…), engkau tidak halal bagiku…!” Maka aku pun berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asma`.” Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi, merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata -dengan bahasa Arab yang tidak fasih-: “Subhaanallaahu….” Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha Suci Allah yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering….” Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, “Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang saleh, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan shalat duha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan shalat duha atau tidak?”

Sang istri berkata: “Maka suamiku Abu Asma` akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasanya aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu, setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillaah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha Suci Allah yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufik kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka, janganlah sekali-kali kalian meninggalkan doa…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qadaa` kecuali doa…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua…dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah-lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya-lah segala takdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai pelajaran (‘ibrah), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup.

***

Dalam kitab Ad-Daa` wad Dawaa`, Ibnul Qayyim mengungkapkan, “Ketahuilah bahwa cinta yang paling bermanfaat, paling wajib, paling tinggi, paling mulia, dan paling agung secara mutlak adalah mencintai Dzat yang hati itu memang dijadikan untuk mencintaiNya dan fitrah makhluk itu diciptakan untuk menyembahNya. Dengan cinta inilah langit dan bumi dapat tegak. Di atas cinta tersebut pula para makhluk diciptakan.”

“Kewajiban orang muslim,” demikian Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni dalam Ilaa Alladziina Asrafuu ‘Ala Anfusihim, “adalah mencintai orang saleh, dekat dengan mereka, dan tidak membenci mereka. Membenci mereka berarti mengundang malapetaka. Sebab, membenci mereka sama dengan membenci sunnah, mengingat sifat-sifat yang dimiliki orang saleh sejalan dengan sunnah. Akan tetapi, kalau membenci mereka karena perilaku yang tidak sesuai dengan Islam, seperti kasar, keras kepala, dan kejam, maka itu tidak mengapa dilakukan. Namun dengan catatan, yang dibenci adalah sifatnya, bukan orangnya.”

Maka, bagi seorang muslim sejati, keajaiban cinta yang mulia dan agung hanya akan bisa terwujud ketika rasa cinta itu bersumber dan bermuara hanya kepada satu tempat, yaitu muara ketaatan kepada perintah-perintah Allah Ta’aala dan utusanNya yang mulia; Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Sebagaimana firmanNya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu…’” {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 31}

Dan, bukan menggantungkan ketaatan -apalagi kebahagiaan- kepada orang yang kita cintai. Karena hal itu adalah cinta yang sangat rapuh; yang menyiksa dan menyayat-nyayat ketentraman jiwa. Cinta siapakah yang seperti ini? Ya, inilah cintanya Qais kepada Layla yang membuatnya menjadi gila (majnun), sebagaimana terkisah dalam roman Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi. Atau seperti cintanya Romeo kepada Juliet yang mati menenggak racun, sebagaimana yang ditulis oleh William Shakespeare dalam romannya, The Tragedy of Romeo and Juliet.

 Kenikmatan akan sirna setelah menikmati yang diharamkan
Menyisakan di kemudian hari cela dan kehinaan
Akibat perbuatan buruk akan selalu ada
Tiada artinya kenikmatan yang menggiring ke neraka

{Imam Ahmad ibn Hanbal, dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbiin}

———-
Catatan:

  1. Dalam beberapa artikel yang tersebar di internet banyak yang menyebut Ummu Sulaim dengan julukan Ar-Rumaisha` dan Al-Ghumaisha`. Manakah nama yang lebih benar dan tepat? Jawabannya: kedua-duanya sama kuat (rajih), demikian menurut penilaian Dr. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya dalam kitabnya yang sangat indah, Shuwaru min Hayaatish Shahaabiyyaat. Allaahu a’lam.
  2. Berkenaan dengan alasan Zaid ibn Haritsah menikahi Ummu Aiman -sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab biografi dan sejarah-, sudah masyhur bahwa alasannya adalah karena termotivasi hadis Rasululullah berikut: “Barang siapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga, maka hendaklah menikahi Ummu Aiman.” {H.r. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqaatul Kubraa [VIII/224] dan dalam Al-Ishaabah [VIII/213] karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dari jalan ‘Abdullah ibn Musa dari Fadhl ibn Marzuq, rijalnya tsiqah akan tetapi munqathi`} Nah, karena hadis ini sanad-nya terputus (munqathi`), yang menurut kesepakatan para ulama dihukumi sebagai hadis lemah (dha’iif); karena tidak diketahuinya keadaan rawi yang dibuang. Maka, hadis ini tidak saya jadikan hujjah dalam kisah Zaid di atas. Allaahu a’lam, saya hanya mengambil mana yang lebih kuat berdasarkan persangkaan baik saya; dan berdasarkan referensi yang sudah saya ketahui.

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. ‘Abdurrahman Ra`fat Basya. 2014 (Cet. 10). Mereka Adalah Para Shahabat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Shuwaru min Hayaati Ash-Shahaabah)
  3. Fathi Yakan. 2005 (Cet. 2). Problematik Dakwah dan Para Dai. Solo: Era Intermedia (Judul asli: Musykilaat Ad-Da’wah wa Ad-Daa’iyah)
  4. Imam Ibnu Katsir. 2013 (Cet. 6). Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I (Judul asli: Tafsiir Al-Qur`aan Al-‘Azhiim, Ditahqiq dan Diringkas oleh: ‘Abdullah ibn Muhammad Alu Syaikh dengan judul, Lubaabut Tafsiir min Ibni Katsir)
  5. Imam Ibnu Katsir. 2011 (Cet. 8). Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul yang Agung. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Al-Bidaayah wan Nihaayah, Diringkas dan disusun ulang oleh: Muhammad ibn Shamil As-Sulami dengan judul, Tartiib wa Tahdziib Kitaab Al-Bidaayah wan Nihaayah)
  6. Imam Ibnu Hazm al-Andalusi. 2009 (Cet. 1). Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta. Bandung: Mizan (Judul asli: Thauqul Hamaamah fi Ilfah wal Ullaaf, Ditahqiq oleh: Al-Thahir Ahmad Makki)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 3). Ad-Daa` wad Dawaa`: Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Ad-Daa` wad Dawaa`, Ditahqiq oleh: Syaikh ‘Ali ibn Hasan Al-Halabi)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2004 (Cet. 1). Kunci Kebahagiaan. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana (Judul asli: Miftaah Daar As-Sa’aadah, Ditahqiq oleh: Abu Hafsh Sayyid ibn Ibrahim ibn Shadiq ‘Imran)
  9. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 1). Raudhatul Muhibbiin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jakarta: Qisthi Press (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  10. Mahmud Al-Mishri. 2012 (Cet. 10). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 1. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  11. Mahmud Al-Mishri. 2013 (Cet. 8). 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasululullah Jilid 2. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat (Judul asli: Shahaabiyyaat Haul Ar-Rasuul Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam)
  12. Prof. Dr. Buya Hamka. Di Bawah Lindungan Ka`bah. File Format PDF (Jumlah halaman: 30)
  13. Salim A. Fillah. 2014 (Cet. 1). Lapis-Lapis Keberkahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  14. Salim A. Fillah. 2011 (Cet. 6). Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2004 (Cet. 1). Al-Qur`an Berjalan: Potret Keagungan Manusia Agung. Jakarta: SAHARA publishers (Judul asli: Rahmatan lil ‘Aalamiin)
  16. Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni. 2010 (Cet. 12). Yakinlah, Dosa Pasti Diampuni!: Sepuluh Amalan Pelebur Dosa. Jakarta: Qisthi Press (Judul asli: Ilaa Alladziina Asrafuu ‘Alaa Anfusihim)
  17. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Munajjid. 2008 (Cet. 1). 100 Keajaiban Surat Yusuf. Jakarta: Trans Taqwa (Judul asli: Mi`ah Fa`idah min Surah Yuusuf)
  18. Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi. 2001 (Cet. 1). 442 Persoalan Umat Bersama Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi. Jakarta: Cendikia Sentra Muslim (Judul asli: Al-Jaami’ li Al-Fataawaa, Ditahqiq oleh: Muhammad Hasan Muhammad)
  19. firanda.com Dari tulisan Ustadz Firanda Andirja, MA yang berjudul “Kisah Istri Sholehah” Dipublikasikan pada hari Rabu, 25 September 2013.
  20. afifahafra.net Dari tulisan Mbak Afifah Afra yang berjudul Sebuah Ruang Kecil untuk Hatiku

Saat Cinta Menyapamu


Sumber: pakarcinta.com

Sumber: pakarcinta.com

“Tak ada sesuatu pun yang lebih aku takutkan daripada wanita.”

{Sa’id ibn Al-Musayyib}
***

Adalah sebuah anugerah terindah ketika kita disapa oleh sentuhan lembut cinta. Karena ia adalah fitrah setiap anak Adam. Maka, jawablah sentuhan lembutnya itu dengan mesra sebagaimana yang dituntunkan syari’atNya. Tak ada yang salah. Namun, kita harus senantiasa berwaspada, jangan sampai cinta yang memperbudak kita. Karena, ketika hal itu yang terjadi, maka terkotorilah kejernihan cinta itu sendiri.

Saat cinta menyapamu, maka kendalikanlah kekuatannya. Karena, sejauh mana kita mampu mengendalikannya, sejauh itu pula kejernihan cinta akan terjaga. Jadi, “Kekuatan cinta,” tulis Ustadz Fadlan Al-Ikhwani dalam buku Aku Pingin Nikah, “terutama di usia muda ibarat panas matahari yang membakar di tengah hari. Pancaran sinarnya kuat. Daya teriknya juga maksimal sehingga kalau sampai tidak diarahkan bisa membawa kerusakan.”

Masih dalam buku yang sama. “Saat virus cinta melanda,” lanjut beliau menjelaskan, “saat gejolak jiwa mendera, bila tidak kita isi dengan aktivitas kebaikan, aktivitas kejelekan yang akan kita lakukan.” Maka, saat cinta menyapamu, janganlah sampai cintamu kepadaNya tergeser oleh cinta kepada makhlukNya. Sebab, hati dan jiwamu akan menjadi melankolik dan rapuh; tak tentu arah.

Jika Anda belum yakin dengan hal itu, maka biarkanlah Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah dalam Raudhatul Muhibbiin-nya menjawab. Apa kata beliau? “Setiap kenikmatan,” katanya, “yang mendatangkan penderitaan atau menghalangi kenikmatan yang lebih sempurna di akhirat, bukanlah kenikmatan yang hakiki. Meskipun kenikmatan tersebut dapat membuai jiwa. Apalah artinya kenikmatan suatu makanan yang membuai lidah, tetapi di dalamnya terdapat racun yang akan menghancurkan ususnya lalu membinasakannya? Demikianlah gambaran kenikmatan yang direguk orang-orang kafir dan fasik di muka bumi yang pada hakikatnya berseberangan dengan kebenaran.”

Oleh karena itu, “Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah maka dia telah menyempurnakan imannya.” {H.r. Abu Dawud dalam Sunan-nya [no. 4681], Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir [no. 7613, 7737] dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [XIII/54] dari Abu Umamah. Dihasankan oleh Syaikh ‘Ali ibn Hasan Al-Halabi dalam Takhriij Ad-Daa` wad Dawaa`}

Sebab, “Barang siapa menuruti cinta dan benci,” ujar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan dalam Al-`Amru bil Ma’ruuf wan Nahyu ‘Anil Munkar, “tanpa petunjuk dari Allah dan RasulNya maka ia tergolong orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Bahkan pada akhirnya ia bisa menuhankan hawa nafsunya.”

“Sesungguhnya,” demikian kata Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Al-Mahabbah wa Asy-Syauq, “orang yang mencintai selain Allah, tanpa dihubungkan kepadaNya sama sekali, maka kecintaan itu hanya terjadi lantaran kebodohan dan kekurangannya mengenal Allah secara dekat. Mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam juga sangat terpuji. Sebab kecintaan itu sebenarnya merupakan bukti kecintaan kepada Allah.”

Dan, begitulah adanya cinta. Ia adalah kenikmatan yang tak terkira batasnya, saat ianya menyapa relung hati kita yang terdalam, dengan sentuhan lembut cinta. Hanya kepada Allah Ta’aala kita memohon pertolongan, semoga Dia memampukan kita untuk mengendalikan kekuatan dahsyatnya.

***

Karenanya, saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

Bahwa, “Kesetiaan sejati bukanlah padamu, bukanlah pada manusia. Tapi kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan syari’at-syari’atNya.” Begitu kekata Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Fokuskan cintamu pada Allah, kau pasti akan cinta juga pada manusia. Kalau kau fokus cinta pada manusia, belum tentu cinta Allah.” Demikian nasihat indah dari Ustadz Habiburrahman El Shirazy dalam salah satu tweet-nya. “Sebab,” lanjut beliau dalam prolog novel Bumi Cinta-nya yang sangat memesona, “banyak orang yang di dunia ini saling mencintai, mengasihi, dan berkasih-kasihan, kelak di akhirat mereka justru saling bermusuhan. Kecuali orang yang membangun cintanya atas landasan takwa karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala.”

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Takkan pernah seseorang merasa sejatinya cinta, sebelum Allah ia cintai melebihi apapun di dunia.” Demikian ungkapan Ustadz Felix Y. Siauw dalam salah satu tweet-nya. Dan juga, seperti yang beliau katakan dalam buku Udah Putusin Aja!, “Jika cinta bergantung pada paras, waktu akan memutuskan cinta seiring bertambahnya usia.”

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Semua cinta yang membimbing seseorang kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, itulah cinta yang sebenarnya. Semua cinta yang mengantarkan seseorang untuk menaati Allah, itulah cinta yang hakiki. Karena, cinta adalah kesucian, pengorbanan, keteguhan dalam memegang janji, dan keikhlasan dalam melaksanakan perintahNya.” Demikian pemaparan Ustadz Armen Halim Naro rahimahullaah dalam buku Buhul Cinta-nya.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

Ya Allah, jika aku jatuh cinta…cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu…agar bertambah kekuatanku untuk mencintaimu…” Begitu salah satu bait syair Asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullaah ketika ia jatuh cinta.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Ingatlah kaum hawa, sekali engkau berani memberikan tanganmu, jangan salahkan jika mulut, tubuh serta kehormatanmu pun akan disentuh oleh lelaki yang belum tentu menikahimu.” Demikian wanti-wanti Kang Setia Furqon Kholid kepada para muslimah dalam bukunya, Jangan Jatuh Cinta! Tapi Bangun Cinta.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.” Begitu ungkap Prof. Dr. Buya Hamka rahimahullaah dalam romannya yang bertajuk Di Bawah Lindungan Ka`bah.

Saat cinta menyapamu, maka katakanlah pada hati dan jiwamu:

“Jalan hidup kita biasanya tidak liniear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks dimana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Disitu konsistensi diuji. Disitu juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejewantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.” Demikian tulis Ustadz Anis Matta dalam Serial Cinta-nya.

***

Saat cinta menyapamu, ingatlah! Jadikan syari’atNya sebagai penuntunmu. Agar cintamu bersemi indah, dan dilimpahi semerbak keberkahanNya. Sehingga, cintamu pun berpondasikan cahaya iman, yang kekal sampai di SurgaNya. Sebagaimana firmanNya, “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam Surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” {Q.s. Ath-Thuur [52]: 21}

Dan ingatlah hadis ini selalu; dalam ingatan dan hati sanubarimu, bahwa, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka, hendaklah kamu pilih wanita yang taat beragama -baik keislamannya-, niscaya kamu akan beruntung.” {H.r. Al-Bukhari [no. 5090] dan Muslim [no. 1466] dari Abu Hurairah}

Terkait penjelasan hadis ini, maka ungkapan berikut adalah salah satu tafsirnya kata Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang. “Dahulu,” ungkap Mubarak ketika ditanyai oleh sang majikannya terkait ihwal putrinya yang dilamar banyak pemuda, “orang jahiliah menikahkan puterinya atas dasar keturunan. Orang Yahudi menikahkan atas dasar harta. Dan orang Nasrani menikahkan atas dasar eloknya paras. Sudah selayaknya seorang mukmin hanya menikahkan atas dasar agama.” Mubarak disini adalah, ayah dari Imam ‘Abdullah ibn Al-Mubarak rahimahullaah.

Karenanya, dalam buku Kupilih Engkau karena Allah, Jauhar Al-Zanki pun bersyair:

Cinta selalu punya alasan
Cinta karena harta awal kesengsaraan
Cinta karena keturunan bakal kehinaan
Cinta karena rupa bibit kecelakaan
Cinta karena agama modal keselamatan
Cintai kekasih dengan keimanan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan
Semoga tercurah ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan dalam kehidupan

***

Sebagai seorang muslim sejati, saat cinta menyapamu, maka tuntunlah hati dan jiwamu untuk mencintai segala sesuatunya secara wajar. Karena, inilah yang disebut dengan cinta yang fitrah. Dan pastikan juga, bahwa cintamu hanya tertuntun oleh lentera syari’at-syari’atNya yang mulia nan bercahaya.

 

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki
Dari kumpulan catatan pribadi yang yang bertajuk Membangun Cinta dengan Keajaibannya dalam draft “Saatnya Menjadi Seorang Muslim Sejati”

***
Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. Armen Halim Naro. 2014 (Cet. 1). Buhul Cinta. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
  3. Fadlan Al-Ikhwani. 2011 (Cet. 1). Aku Pingin Nikah. Yogyakarta: Pro-U Media
  4. Felix Y. Siauw. 2014 (Cet. 18). Udah Putusin Aja!. Bandung: Mizania
  5. Habiburrahman El Shirazy. 2013 (Cet. 1, Edisi Revisi). Bumi Cinta. Semarang: Pondok Pesantren Basmala
  6. Imam Abu Hamid Al-Ghazali. 1995 (Cet. 1). Rindu & Cinta Kepada Allah. Jakarta: Pustaka Panjimas (Judul asli: Al-Mahabbah wa Asy-Syauq)
  7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 3). Ad-Daa` wad Dawaa`: Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Ad-Daa` wad Dawaa`, Ditahqiq oleh: Syaikh ‘Ali ibn Hasan Al-Halabi)
  8. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011 (Cet. 1). Raudhatul Muhibbiin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jakarta: Qisthi Press (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  9. Jauhar Al-Zanki. 2013 (Cet. 1). Kupilih Engkau karena Allah. Yogyakarta: Pro-U Media
  10. Dr. Buya Hamka. Di Bawah Lindungan Ka`bah. File Format PDF (Jumlah halaman: 30)
  11. Salim A. Fillah. 2011 (Cet. 6). Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
  12. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 2002 (Cet. 1). Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Al-`Amru bil Ma’ruuf wan Nahyu ‘Anil Munkar)

Parade Para Penuntut Ilmu


Sumber: ippm-baiturrohim.blogspot.com

Sumber: ippm-baiturrohim.blogspot.com

Parade Para Penuntut Ilmu

“Ilmu yang paling mulia dan harus dimiliki oleh setiap orang adalah pengetahuan tentang Allah dan yang terkait denganNya, serta ilmu tentang kebutuhan kita kepadaNya.”

{Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Fawaa`id}

***

Karena ilmu, agama ini dipelajari. Karena ilmu, agama ini diamalkan. Karena ilmu, amal-amal yang kelihatannya sederhana menjadi istimewa disisiNya. Karena ilmu, orang-orang rela berkorban harta dan rasa lelah untuk meraihnya. Ilmu mampu menuntun kita untuk beramal sebagaimana seharusnya. Dan karenanya, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” {H.r. Ibnu Majah [no. 224] dari Anas ibn Malik. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Al-Jaami’ [no. 3913]}

Mengomentari hadis ini, Ustadz ‘Ali Muhammad Khalil Ash-Shafthi dalam Iltizam menyatakan, “Karena itu, orang muslim wajib membekali akalnya dengan ilmu secara permanen dan tidak berhenti selagi hidup.”

Selain hadis riwayat Ibnu Majah ini, alasan kuat -dan yang paling utama- kenapa kita harus menuntut ilmu adalah firmanNya yang tegas dalam Al-Qur`an, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” {Q.s. An-Nahl [16]: 78} “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” {Q.s. Al-Israa` [17]: 36}

Berkenaan dengan kedua ayat ini, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Taisiir Al-Fiqh Al-Muslim Al-Mu’aashir fii Dhau`i Al-Qur`aan wa As-Sunnah menjelaskan, “Pendengaran, penglihatan, hati atau akal fikiran, inilah ketiga instrumen utama dalam belajar.”

Dalam kitabnya yang bertajuk Luftatul Kabid ila Nashihatil Walad, Imam Ibnul Jauzi rahimahullaah menasihatkan, “Jauhilah olehmu konsentrasi beribadah namun tanpa didasari pedoman ilmu, sebab banyak sekali orang-orang zuhud dan sufi telah tersesat dari jalan petunjuk karena beramal tanpa dasar ilmu.”

“Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu,” ujar ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz rahimahullaah, “maka unsur merusaknya lebih banyak daripada maslahatnya.” Oleh karena itu, “Carilah ilmu secara serius sehingga tidak merusak ibadah, dan tekunilah ibadah secara optimal, ia tidak rusak dengan dasar ilmu, sesungguhnya siapapun yang beramal tanpa dasar ilmu, ia lebih banyak merusak daripada memberi kebaikan.” Begitu ungkap Hasan Al-Bashri rahimahullaah.

***

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Sa’id ibn Al-Musayyib pun pernah bercerita tentang dirinya, “Sungguh, aku pernah berjalan beberapa malam dan berhari-hari untuk mencari satu hadis.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Yahya ibn Sa’id pun pernah berkisah tentang dirinya, “Aku biasa keluar rumah untuk mencari hadis di pagi buta, lalu aku belum kembali lagi kecuali setelah gelap gulita.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka, ketika sang ahli tafsir dari kalangan tabi’in; Masruq ibn Al-Ajda` rahimahullaah pergi ke Bashrah untuk mengetahui tafsir satu ayat, lalu disampaikan padanya, “Orang yang mengetahui tafsirnya telah pergi ke Syam.” Maka, Masruq segera berkemas dan berangkat menuju Syam sampai ia mengetahui tafsirnya.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam ‘Abdullah ibn Al-Mubarak ketika ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, “Sampai kapan engkau mencari ilmu?” Ia pun menjawab, “Sampai mati, karena barangkali ada satu kata yang nanti bermanfaat bagiku, namun belum aku tulis.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Asy-Syafi’i ketika ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, “Seberapa besar keinginanmu pada ilmu?” Ia pun menjawab, “Aku mendengar huruf yang belum pernah aku dengar, lalu organ-organ tubuhku ingin sekiranya mereka memiliki pendengaran agar bisa menikmati suara huruf itu sebagaimana telinga-telinga menikmatinya.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Ahmad pun pernah menyatakan, “Kebutuhan manusia pada ilmu lebih besar dibanding kebutuhan mereka pada makan dan minum. Sebab, makanan dan minuman dibutuhkan satu atau dua kali dalam sehari, sementara ilmu dibutuhkan sebanyak tarikan nafas.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka sang ahli hadis Baha`uddin Al-Qasim -anak Imam Ibnu Asakir- pun bersaksi tentang sosok ayahnya, “Selama empat puluh tahun Ibnu Asakir tidak pernah menyibukkan diri kecuali dengan tasmi’ (mengulang-ngulang hafalannya), mengumpulkan -yakni, menulis dan menyusun ilmu- sampai pada waktu pergi buang hajat dan jalan-jalan.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Al-Bukhari dengan ikhlas melakukan perjalanan ke berbagai negeri hanya untuk mencari hadis, lalu menghafal dan mencatatnya.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam An-Nawawi pernah menghadiri dua belas majelis ilmu dalam sehari.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam Ibnul Qayyim ikhlas masuk penjara untuk belajar secara langsung kepada gurunya; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Imam As-Suyuthi, dalam kitabnya yang berjudul Al-`Amru bi Ittiba` wa An-Nahyu ‘Anil Ibtida` pernah menulis, “Mempelajari ilmu itu adalah wajib, sedangkan sikap menjauhi ilmu serta ulama dapat mempertebal dominasi kebodohan.”

Karena menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, maka Syaikh Al-Albani ikhlas untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan Azh-Zhahiriyyah dari pagi hingga malam hanya untuk membaca buku, lalu menelaah, meneliti dan berkomentar -bahkan menganalisis- atas buku yang ditelaah dan ditelitinya.

Dalam rombongan parade para penuntut ilmu, merekalah beberapa nama ulama yang sangat besar kontribusinya bagi umat Islam. Sebab, mereka menyadari, betapa indahnya janji Rasulullah bagi kaum muslimin yang ikhlas berlelah-lelah untuk menuntut ilmu. Sabdanya, “Barang siapa meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” {H.r. Muslim [no. 2699] dari Abu Hurairah} dan “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu, sebagai bukti keridhaan mereka atas apa yang mereka -para penuntut ilmu- kerjakan.” {H.r. Ahmad, Ashhabus Sunan, dan Ibnu Hibban, dalam Shahiih Jaami’ Ash-Shaghir [no. 6297]}

Semoga kita bisa meneladani semangat ikhlas mereka dalam menuntut ilmu. Allaahumma Aamiin.

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan -dengan santai-,” kata Yahya ibn Abi Katsir rahimahullaah sebagaimana termuat dalam mukadimah Shahiih Muslim. Kenapa? Ya, tentu saja. Karena ilmu adalah penerang bagi hati dan penghapus rasa bingung, serta kebodohan yang mengakar-ngakar di setiap sudut memori otak kita. Dan karenanya, kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh perenungan dan pemaknaan. Jadi, butuh pengorbanan yang ikhlas untuk mendapatkannya. Karena ia adalah sesuatu yang sangat berharga.

Ilmu itu bagaikan lautan yang melimpah airnya
Orang yang mengarunginya tak akan pernah mencapai ujungnya
Namun ada kemudahan untuk mencapai pokok-pokoknya
Maka prioritaskan merengkuhnya pasti engkau mendapatkan jalan
Kuasailah kaidah-kaidah dan prinsip-prinsipnya
Sebab siapa yang tak menguasainya ia tak akan meraih ilmu

{Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin}

Cobalah bayangkan, bagaimana jadinya jika Nabi Adam ‘alayhis-salaam tidak diajarkan nama-nama yang ada di bumi oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala ketika beliau diturunkan dari surga? Bayangkan pula, bagaimana Nabi Idris ‘alayhis-salaam menjadi orang pertama yang menulis dengan pena, dan manusia pertama yang menjahit baju, lalu memakainya. Bukankah itu artinya beliau telah dianugerahi ilmu? Dan bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menerima wahyu pertamanya tentang perintah untuk membaca? Ini artinya, ilmu adalah sebuah fondasi bagi segala sesuatu yang akan kita lakukan.

Ingat! Ilmu itu harus didapatkan dengan berlelah-lelah terdahulu, bukan bersantai-santai ria. Sebab, keberkahan ilmu itu, sejatinya termuat pada usaha-usaha kita untuk berlelah-lelah dalam memperolehnya. Dalam waktu yang cukup lama, tergantung kemampuan masing-masing orang dalam kecepatan proses belajarnya. Dan kadar ilmu yang kita peroleh tergantung pada sejauh mana usaha dan kesungguhnan kita untuk mendapatkannya.

Lalu, bagaimanakah dengan kondisi orang yang malas menuntut ilmu -khususnya ilmu syari’at-? Mungkin, ungkapan Imam Ibnul Mubarak rahimahullaah berikut sangat pantas ditujukan kepada mereka, “Aku heran dengan orang yang tidak menuntut ilmu, bagaimana ia mengaku mulia!” Atau juga seperti ungkapan Abu Ad-Darda` radhiyallaahu ‘anhu, “Orang yang berilmu dan yang menuntut ilmu adalah dua orang yang bersekutu dalam kebaikan, sedangkan selain mereka adalah bodoh dan tidak ada kebaikan pada mereka.”

***

“Syari’at Islam,” tulis Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina, “adalah syari’at umum, kekal dan komprehensif. Umum dalam tempat, kekal dalam waktu, serta komprehensif meliputi segala hal yang bisa memberikan kemaslahatan dan kebahagiaan manusia.”

Dalam kitabnya ini, beliau juga mengatakan, “Kita harus mengambil yang lama demi membangun yang baru. Karena, satu generasi dengan yang lainnya saling menyempurnakan sehingga umat Islam saling berkesinambungan. Satu generasi saling mengambil satu dengan yang lain. Sebaik-baik generasi terkini adalah yang mengambil manfaat dari generasi dahulu.”

Ya, syari’at Islam adalah sesuatu yang kekal dan komprehensif. Kekal, karena ia akan mengabadi sampai hari kiamat kelak. Dan komprehensif, karena ia membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia, tanpa terluput satu pun.

Bersebab hal inilah, Islam menjadi agama yang sempurna. Diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya lewat para pewaris NabiNya; yaitu para ulama. Selain Islam, maka ia adalah agama yang tidak diridhai disisiNya. Karena kesempurnaan ini pula, kita sangat menghajatkan ilmu yang mendalam -atau minimal mencukupi- untuk memahaminya. Dengan begitu, kita akan mampu mengamalkan Islam ini dengan segala pesona-pesonanya yang beriringan dengan fitrah penciptaan manusia secara menyeluruh.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” {Q.s. Al-Mujaadilah [58]: 11} FirmanNya ini menegaskan, bahwa orang-orang yang beriman dan dikarunia ilmu akan diangkat derajatnya. Ah, semoga saja kita termasuk orang-orang yang di beri ilmu itu. Aamiin.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah dalam Siyar A’laam An-Nubalaa` menerangkan, “Barang siapa mencari ilmu untuk diamalkan maka hatinya akan merendah karena ilmu dan ia menangisi dirinya sendiri. Adapun orang yang menuntut ilmu untuk menjadi guru dan fatwa serta untuk berbangga dan pamer niscaya ia akan menjadi dungu, takabur, meremehkan manusia dan dibinasakan oleh sikap bangga terhadap diri sendiri (‘ujub) serta dibenci oleh jiwanya. Sungguh, telah beruntunglah orang-orang yang mensucikannya dan telah merugi orang-orang yang mengotorinya. Yakni mengotorinya dengan perbuatan dosa dan maksiat.”

Berkenaan dengan ungkapan Imam Adz-Dzahabi ini, bagaimanakah dengan kondisi kita dalam menuntut ilmu hari ini, terkhususnya ilmu syari’at? Ah, semoga saja kita dijauhkan dari berlelah-lelah menuntut ilmu tapi tidak mengamalkannya. Atau yang lebih parahnya lagi, kita mengamalkan ilmu tersebut, tetapi dalam hal keburukan yang terkadang tidak kita sadari. Apalagi menuntut ilmu hanya untuk meraih gelar, dan hanya berbangga-bangga dengannya. Sungguh, betapa meruginya diri kita jika hal demikian yang terjadi.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah dalam Al-Fawaa`id-nya menjelaskan, “Ilmu adalah memindahkan gambar sesuatu yang diketahui dari luar dan menetapkannya di dalam jiwa. Sedangkan amal adalah memindahkan pengetahuan dari jiwa dan menetapkannya di luar. Jika apa yang ditetapkan di dalam jiwa itu sesuai dengan kenyataan, maka itulah yang disebut dengan ilmu yang benar. Kebanyakan pengetahuan yang ditetapkan dalam jiwa tidak memiliki wujud yang hakiki, dan orang yang menetapkan itu menganggap apa yang ada pada dirinya itu sebagai ilmu, padahal tidak memiliki hakikat. Kebanyakan ilmu manusia seperti itu.”

Sebaik-baik ilmu ialah yang mampu mengantarkan kita untuk meraih hidayahNya. Kenapa? Karena ilmu itu akan merubah kita menjadi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang paling mulia disisiNya. Dengannya, dunia yang fana ini, beserta surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya itu akan kita raih. Jika kita benar-benar mau berfikir, merenungkan dan menjalankan syari’at yang dibawa oleh RasulNya. Adapun ilmu yang kebanyakan hanya terasa manfaatnya di dunia saja, maka itu adalah kefanaan. Yang oleh Ibnul Qayyim disebut tidak memiliki hakikat. “…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” {Q.s. Al-Hujuraat [49]: 13}

***

‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Kemuliaan dunia itu diperoleh dengan harta, sedangkan kemuliaan akhirat diperoleh dengan amal saleh.” Dan amal saleh tidak dapat kita lakukan, kecuali kita memiliki ilmu tentangnya. Setelah ilmu, kita juga harus ikhlas dalam beramal. Lalu, agar amal saleh kita diterima disisiNya, maka ianya harus berkesesuaian dengan yang dituntunkan oleh As-Sunnah Ash-Shahiihah.

‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu menjelaskan, “Pahala pencarian seorang pencari ilmu adalah surga dan balasan pencarian seorang pemburu maksiat adalah neraka.” Maka, jika kita bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, ingatlah petuah bijak ini. Semoga kita dapat bersemangat kembali.

Yahya ibn Mu’adz Ar-Razi rahimahullaah mengutarakan, “Ilmu itu adalah petunjuk amal. Pemahaman adalah wadah ilmu. Akal itu pemandu kebaikan. Hawa nafsu itu wahana dosa. Harta kekayaan itu pakaian orang takabur. Dunia adalah pasar akhirat.”

Wahb ibn Munabbih rahimahullaah memaparkan, “Ilmu itu adalah sahabat orang yang beriman, kemurahan hati adalah penolongnya, akal adalah petunjuknya, amal perbuatan adalah penjaganya, kesabaran adalah panglima perangnya, keramahan adalah bapaknya, dan kelembutan adalah saudaranya.”

Imam Malik ibn Anas rahimahullaah mengungkapkan, “Mencari ilmu adalah keindahan yang sangat indah, tapi lihatlah apa yang mengharuskan engkau, mulai pagi sampai sore maka tetapilah hal itu.”

Dalam bukunya yang sangat indah nan memesona; Lapis-Lapis Keberkahan, Ustadz Salim A. Fillah bertutur, “Ilmu adalah pengikat kebajikan. Di mana ilmu hadir, segala hal menjelma menjadi berkah yang mengalir. Ketika ilmu hadir, maka hati berjuang meraih takwa. Ruh, pikiran, dan seluruh anggota badan dikerahkan untuk merajutnya dari benang-benang kesalehan. Ketika ilmu hadir, maka harta merunduk padanya, bekerja dalam bimbingannya, menghasilkan manfaat dan faedah yang tumpah ruah ke berbagai arah.”

Dalam bukunya yang berjudul Integrasi Politik dan Dakwah, Ustadz Anis Matta mengungkapkan, “Jangan karena kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek.” Oleh karena itu, mari sadari diri, bahwa kita diciptakan memang dalam keadaan bodoh sebagaimana firmanNya yang terabadikan dalam Al-Qur`an surah Al-Ahzaab [33] ayat ke-72. Karenanya, kita sangat menghajatkan untuk senantiasa terus belajar, belajar dan belajar.

 ***

Maka sebagai seorang muslim sejati, dalam rombongan parade para penuntut ilmu, teruslah untuk bersemangat dalam menuntut ilmu hingga ruh kita terlepas dari jasad. Sebab, “Adalah generasi salaf sepakat,” ujar Imam An-Nawawi rahimahullaah, “bahwa sibuk mencari ilmu lebih baik daripada sibuk mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, baik shalat, puasa, bertasbih dan ibadah-ibadah fisik lainnya.”

***
Ditulis oleh: Setiawan As-Sasaki

***
Sumber Inspirasi:

  1. ‘Ali Muhammad Khalil Ash-Shafthi. 2002 (Cet. 1). Iltizam: Tegar Dalam Beriman. Jakarta: Darul Falah (Judul asli: Iltizam)
  2. Anis Matta. 2008 (Cet. 3). Integrasi Politik dan Dakwah. Jakarta: Sekretariat Jenderal Bidang Arsip dan Sejarah DPP PKS bekerjasama dengan Arah Press
  3. Imam Ibnu Al-Jauzi. 2002 (Cet. 1). Kepada Putra-Putriku: Renungan Pesan Menjalani Kehidupan Penuh Arti. Yogyakarta: ABSOLUT (Judul asli: Luftatul Kabid ila Nashihatil Walad, Ditahqiq oleh: Ustadz ‘Abdul Harits Asyraf ibn ‘Abdul Maqsud Ibnu ‘Abdurrahim)
  4. Imam As-Suyuthi. 2002 (Cet. 1). Ikuti Sunnah Tinggalkan Bid’ah. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: Al-`Amru bi Ittiba` wa An-Nahyu ‘Anil Ibtida`)
  5. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2006 (Cet. 4). Al-Fawa`id, Menuju Pribadi Takwa. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Al-Fawaa`id)
  6. Salim A. Fillah. 2014 (Cet. 1). Lapis-Lapis Keberkahan. Yogyakarta: Pro-U Media
  7. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2001 (Cet. 1). Fikih Taysir: Metode Praktis Mempelajari Fikih. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Taisiir Al-Fiqh Al-Muslim Al-Mu’aashir fii Dhau`i Al-Qur`aan wa As-Sunnah)
  8. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2009 (Cet. 1). Faktor-Faktor Pengubah Fatwa. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina)
  9. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Munajjid dan Dr. Ubaid ibn Salim Al-Amri. 2013 (Cet. 1). Tips Belajar Agama di Waktu Sibuk. Solo: Kiswah Media (Judul asli: Thalabul ‘Ilmi fii Zamaanil Insyighalat)
  10. Yazid ibn Abdul Qadir Jawas. 2011 (Cet. 4). Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Bogor: Pustaka At-Taqwa

Perbedaan Pendapat


Sumber: pustakaalatsar.files.wordpress.com

Sumber: pustakaalatsar.files.wordpress.com

“Apabila terjadi perbedaan pendapat dari para ahli tafsir dan pensyarah hadis maka amalkan apa yang menurutmu adalah benar di antara perkataan mereka yang berselisih.”

{Syaikh Muhammad Rasyid Ridha}
***

Perbedaan pendapat itu pasti terjadi. Karena ia adalah sebuah keniscayaan. Namun, di tengah perbedaan itu, tetaplah saling menghargai dan menghormati. Bukan sebaliknya, saling menyalahkan. Bahkan yang lebih parah lagi, cela-mencela. Karena hal itu adalah seburuk-buruk perangai akhlak seorang muslim kepada sesama saudaranya. Sebagaimana hadis sahih berikut: “Mencela seorang muslim adalah (perbuatan) fasik.” {H.r. Al-Bukhari [no. 48] dan Muslim [no. 64] dari ‘Abdullah ibn Mas’ud} dan “Sesungguhnya riba yang paling parah adalah memperpanjang pembicaraan dalam mencela kehormatan seorang muslim tanpa kebenaran.” {H.r. Abu Dawud [no. 4876] dari Sa’id ibn Zaid. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah [no. 3950]}

Dalam kitabnya yang bertajuk Ash-Shahwah Al-Islaamiyyah bainal Ikhtilaafil Masyruu` wat Tafarruqil Madzmuum, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, “Sangat disesalkan, pada hari ini kita menyaksikan di antara para da’i dan aktivis Islam ada yang suka mencela dan mencaci maki setiap orang yang tidak sependapat dengannya dengan menuduh kurang komitmen kepada Islam, mengikuti hawa nafsu, bid’ah, menyimpang, munafik, bahkan kafir.”

“Kebanyakan mereka,” lanjut beliau, “tidak puas dengan mengeluarkan vonis terhadap hal-hal yang bersifat lahiriah. Mereka bahkan menuduh niat dan hal-hal batin yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah. Seolah-olah mereka telah membedah dada para hamba Allah dan mengetahui segala rahasianya.” Na’udzubillaah min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari sikap seperti ini.

Padahal, dengan tegas Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullaah berkata, “Aku tidak mencela atau menyanggah ulama yang mengatakan suatu pendapat, selama ia dibangun di atas dalil, sekalipun aku tidak sependapat dengannya.” Selain itu, beliau juga berkata, “Tidak sepatutnya bagi seorang ulama (faqih) memaksa orang lain untuk mengikuti pendapat mazhabnya.” Begitulah ungkapan beliau tentang perbedaan pendapat. Tentunya, dalam masalah cabang-cabang agama (furu’), bukan pokoknya (ushuul). Semoga ada hikmah yang bisa kita petik.

Bahkan, generasi tabi’in sekelas ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz rahimahullaah pun berkata, “Aku tidak suka jika para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam tidak berbeda pendapat, karena seandainya hanya ada satu pendapat saja tentu masyarakat berada dalam kesempitan. Mereka adalah para imam panutan. Jika seseorang mengambil pendapat salah seorang dari mereka, maka itu adalah sunnah.”

Ingat! Perbedaan pendapat itu sangat luas cakupannya. Namun, secara garis besar ia terbagi menjadi dua bagian. Ada perbedaan yang diperbolehkan, yaitu dalam masalah-masalah cabang (furu’iyah). Dan ada yang dilarang, yaitu dalam masalah-masalah prinsip (ushuul). Nah, dalam wilayah perbedaan yang diperbolehkan ini berlaku hadis berikut: “Apabila seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila dia berijtihad dan ijtihadnya salah atau keliru maka dia mendapatkan satu pahala.” {H.r. Al-Bukhari [no. 7342], Muslim [no. 1716], Abu Dawud [no. 3574], Ibnu Majah [no. 2314], Al-Baihaqi [X/118-119], dan Ahmad [IV/198, 204] dari ‘Amr ibn Al-‘Ash}

Berkenaan dengan hasil ijtihad seorang ulama mujtahid, ada sebuah ungkapan bijak dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah yang termaktub dalam kitabnya, Raf’ul Malaam ‘Anil A`immatil A’laam. “Allah,” kata beliau, “memberi pahala seorang mujtahid atas ijtihad-nya, dan seorang ulama atas keilmuannya. Yaitu pahala yang tak dapat disetarai oleh orang yang bodoh, namun keduanya sama-sama mendapat ampunan, meski berbeda pahalanya.”

Oh ya, terkait dengan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah dan bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tersebut secara arif dan bijak, silahkan Anda baca buku karya Al-Ustadz ‘Abdullah ibn Qasim Al-Wasyli yang berjudul An-Nahjul Mubin li Syarhi Al-Ushuul Al-‘Isyrin -edisi terjemahan: Syarah Ushul ‘Isyrin; Menyelami Samudra 20 Prinsip Hasan Al-Banna, diterbitkan oleh PT Era Adicitra Intermedia-. Menurut saya, buku tersebut sangat bagus. Dan, bahasanya juga cukup sederhana. Selengkapnya, silahkan Anda baca sendiri buku itu.

Perbedaan-perbedaan dalam masalah furu’iyah sangat banyak jumlahnya. Bahkan, tak terhitung. Dan, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi dari dulu hingga kini; dari zaman ulama-ulama terdahulu (salaf) hingga belakangan (khalaf). Hal ini tercermin dari ungkapan salah seorang tabi’ut tabi’in; Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullaah. Beliau mengungkapkan, “Apabila kamu mendapati seseorang mengamalkan suatu amalan khilafiah, sementara pendapat yang kamu yakini berbeda dengan apa yang diamalkannya, maka janganlah kamu melarangnya.” Selain itu, Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah juga menyatakan, “Para ulama senantiasa saling berselisih satu dengan yang lain, yang ini membalas yang itu, namun kita tidak termasuk orang yang mencela seorang ulama berdasarkan hawa nafsu dan kebodohan.”

Karenanya, Syaikh Mushthafa Az-Zarqa` rahimahullaah dalam Al-Madkhal Al-Fiqhi Al-‘Am mengutarakan, “Bisa jadi perubahan waktu yang menjadi faktor perubahan hukum fikih dan ijtihad berasal dari kerusakan akhlak, hilangnya sifat wara`, dan kelemahan hati. Para ulama menyebut hal tersebut dengan kerusakan masa. Bisa juga berasal dari kemunculan sistem, sarana hukum infrastruktur, sistem administrasi, serta sarana ekonomi yang baru, dan lain sebagainya.”

Perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyah, bukanlah suatu aib atau hal yang tercela. Hal ini sesuai dengan ungkapan Syaikh Dr. Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz dalam kitabnya, Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushuul. Beliau menyatakan, “Perbedaan pendapat itu bukan aib. Aib itu ada pada fanatisme kelompok terhadap suatu pendapat dengan mengesampingkan pendapat lain.” Perbedaan seperti ini, insyaa-Allaah tidak membahayakan, “Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan hikmahNya menetapkan agar cabang-cabang agama ini bisa dipahami dengan berbagai pandangan dan pemahaman. Para peneliti berkesimpulan bahwa pandangan-pandangan itu biasanya tidak mungkin disatukan. Nash-nash yang bersifat dugaan (zhanni) itu sangat mungkin untuk melahirkan perbedaan, akan tetapi dalam cabang dan bukan dalam pokok, dalam hal yang parsial bukan yang bersifat global. Karena itu, perbedaan seperti ini tidaklah membahayakan.” Begitu ungkap Imam Asy-Syatibhi rahimahullaah dalam Al-I’tishaam-nya.

Adapun dalam Syarh Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaah mengutarakan, “Perbedaan pendapat dalam masalah cabang agama (furu’) ini tidak tercela jika ia berawal dari niat yang baik dan ijtihad, bukan dari hawa nafsu dan fanatisme, karena hal ini terjadi pada zaman Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya.”

“Sesungguhnya,” tulis Ustadz Dr. Shalah Shawi dalam Ats-Tsawabit wal Mutaghayirat, “pilihan-pilahan furu’iyah ini, apa pun hasil yang dilahirkan dari diskusi seputarnya, apakah kesepakatan atau perbedaan, ia tidak meretakkan bangunan, tidak membelah persatuan, tidak bersempit dada terhadap orang yang berbeda pendapat, dan tidak mencelanya dengan mendiamkan atau sejenisnya. Melainkan, barang siapa mengamalkan pilihannya dalam masalah itu, tidak boleh diingkari dan tidak boleh pula diputuskan hubungan. Demikian juga, barang siapa mengamalkan pilihan lain dalam masalah itu, ia tidak boleh diingkari dan tidak boleh didiamkan, selama sikapnya itu muncul dari ijtihad atau taqlid yang diizinkan.”

Bahkan, perbedaan pendapat itu adalah sunnatullaah. “Sesungguhnya,” tutur Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fii Wadaa`il A’laam, “di antara para ulama yang saya sangat senang untuk tidak berbeda pendapat dengannya adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz ibn Baaz rahimahullaah. Namun sunnatullaah telah menetapkan para ulama untuk tidak bersepakat pada satu pendapat saja pada setiap masalah yang ada. Dahulu para sahabat biasa saling berbeda pendapat, dahulu perbedaan pendapat di antara para imam merupakan hal yang biasa. Namun, perbedaan yang terjadi tersebut tidak menimbulkan masalah di antara mereka. Benar, mereka saling berbeda pendapat, namun hati mereka tetap satu.”

Namun, satu hal yang perlu kita ketahui, perbedaan pendapat bukanlah rahmatNya. Adapun redaksi hadis berikut: (1) “Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat.” (2) “Perbedaan pendapat para sahabatku bagi kalian adalah rahmat.” (3) “Para sahabatku bagaikan bintang-bintang, dengan siapa pun kalian ikuti, niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” Kesemuanya adalah hadis yang tidak sahih. Bahkan, hadis yang pertama ini adalah sebuah hadis bathil. Dan, pembahasan terkait hadis ini sudah dijelaskan secara tuntas oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah dalam kitab hadisnya yang sangat memukau, Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah wa Al-Maudhu’ah.

‘Alaa kulli hal, semoga Allah Azza wa Jalla memampukan kita untuk memahami, lalu membedakan benang tipis, antara ‘sunnatullaah’ dan ‘rahmatNya.’ Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***

Para mufassir telah meriwayatkan berkenaan dengan ayat, “…tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu…” {Q.s. Huud [11]: 118-119}

Berkenaan dengan ayat tersebut, Imam Hasan Al-Bashri rahimahullaah berkata, “Adapun orang-orang yang memperoleh rahmat Allah, mereka tidak berselisih dengan perselisihan yang membahayakan mereka.” Mengomentari hal ini, Al-Ustadz ‘Abdullah ibn Qasim Al-Wasyli mengatakan, “Maksudnya bahwa perbedaan itu terjadi dalam masalah-masalah ijtihad yang tidak ada nash tentangnya. Berkenaan dengan itu, mereka dapat dimaklumi dan tetap memperoleh ampunan.”

Karenanya, di kalangan ulama-ulama mujtahid, banyak faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat itu terjadi. Salah satunya adalah, perubahan ilmu pengetahuan. Dan hal ini adalah sesuatu yang lumrah. Oleh karena itu, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina berkata, “Di antara perubahan ilmu pengetahuan syar’i adalah, seorang ahli fikih atau mufti membangun hukum-hukum atau fatwa-fatwanya berdasarkan hadis tertentu. Namun, ia kemudian tahu bahwa hadis tersebut dhai’f, lalu akhirnya ia mengubah fatwanya.”

“Banyak buku,” lanjut Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab ini, “yang telah di-tahqiiq oleh para ulama dengan usaha keras. Mereka mensahihkan hadis-hadis yang sebelumnya di anggap dha’if dan mendha’ifkan hadis-hadis yang di anggap sahih. Seluruh hal tersebut memberikan saham dalam mengubah ilmu pengetahuan syar’i yang dimiliki oleh seorang mufti.” Dan, hal inilah yang dialami oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah dalam menetapkan derajat sanad hadis yang berkenaan dengan ‘Hukum Azan di Telinga Bayi.’ Pada awalnya, dalam Al-Irwaa`ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaaris Sabiil beliau mengatakan bahwa hadis tentang azan di telinga bayi adalah hadis hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapatnya ini menjadi hadis dha’if sebagaimana tercatat dalam Silsilah Adh-Dha’iifah [no. 321].

Masih dalam pemaparan kitab yang sama, yaitu Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina. Ketika pergi ke Mesir, Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah membuat mazhab baru yang berisi hukum-hukum baru yang berbeda dengan pemikiran sebelumnya. Sebagian orang beranggapan bahwa perubahan tersebut di sebabkan oleh faktor lingkungan. Namun, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata, “Pada hakikatnya, ia bukan perubahan lingkungan saja. Di Mesir, Asy-Syafi’i mendengar hal yang tidak pernah ia dengar sebelumnya dan melihat hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.” Sehingga, pada zaman sekarang kita berkata, “Asy-Syafi’i, berpendapat pada mazhab lama (al-qadim), Asy-Syafi’i berpendapat pada mazhab baru (al-jadid)”.

Begitupun yang terjadi pada Imam Abu Hanifah rahimahullaah. Murid-murid beliau; seperti Abu Yusuf, Muhammad, dan Zafar yang hidup setelah Abu Hanifah mengubah banyak hukum. Mereka berbeda dengan guru mereka dalam sepertiga mazhab atau lebih. Perubahan tersebut bisa disebabkan oleh perbedaan waktu dan ilmu pengetahuan.

***

Salah satu asas mendasar syari’at Islam adalah kemudahan. Tapi, bukan memudah-mudahkan. Karena, dalam kemudahan itu bersemayam sikap yang tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas, namun juga tidak menyepelekan. Berbeda dengan memudah-mudahkan, padanya bersemayam sikap menyepelekan. Hal ini sesuai dengan firmanNya dan hadis sahih berikut: “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” {Q.s. Al-Baqarah [2]: 185} dan “Mudahkanlah dan janganlah kalian menyulitkan.” {H.r. Al-Bukhari [no. 3038] dan Muslim [no. 1733] dari Abu Musa Al-Asy’ari}

Nah, semoga kandungan makna dari ayat dan hadis ini mampu membuat kita lebih bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama terhadap suatu masalah yang sama. Padahal, mereka sama-sama faqih dalam masalah tersebut. Tapi, ingatlah! Bahwa niat dan semangat kita dalam mengambil setiap pendapat ulama itu, bukan karena perasaan dan nafsu semata. Namun, hal tersebut semata-mata kita sandarkan pada Al-Qur`an dan As-Sunnah yang sahih. Sebagaimana firmanNya: “…jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” {Q.s. An-Nisaa` [4]: 59}

Dalam perbedaan-perbedaan furu’iyah itu, berlapang dadalah. Agar ikatan ukhuwah yang sebelumnya terjalin mesra dan indah diantara saudara kita, tidak menjadi rusak bahkan terputus karenanya. Dan, hal inilah yang telah diteladankan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullaah kepada kita lewat ucapannya yang sangat jelas; yang mencerminkan keluasan ilmunya. “Khilaf dalam masalah fikih cabang (furu’),” ungkap beliau, “hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak menyebabkan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.”

Akhirnya, saya berharap, semoga tulisan yang sederhana ini bisa menjadi nasihat untuk kita semua. Dan, biarlah untaian nasihat dari Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah; yang sangat indah dan bermanfaat berikut menjadi penutup tulisan ini. “Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan,” tutur beliau dengan sangat lembut, “setiap orang adalah guru bagi kita. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.” Terlebih lagi kepada sesama muslim.

Oleh karena itu, ketika suatu saat nanti kondisi menggiring kita untuk memasuki belantara perbedaan pendapat, semoga Allah Ta’aala memampukan kita untuk menyikapinya dengan tutur yang lemah lembut dan sikap yang arif nan bijaksana. Karena di jalan dakwah, kita adalah ruh-ruh yang disatukan iman. Maka, sebagai seorang muslim sejati, berkilaulah dalam perbedaan-perbedaan yang diperbolehkan itu!

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***
Oleh: Setiawan As-Sasaki
Rabu, 29 Jumadil Akhir 1435 H/ 30 April 2014
Tulisan ini terselesaikan sebelum azan Zuhur berkumandang
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU

***
Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Abu Ubaidah Masyhur ibn Hasan Alu Salman. 2005 (Cet. 1). Buku-Buku yang oleh Para Ulama Dilarang untuk Dibaca Jilid 1. Jakarta: Darul Qolam (Judul asli: Kutub Hadzara Minhal ‘Ulama`)
  2. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2013 (Cet. 2). Kriteria Busana Muslimah: Mencakup Bentuk, Ukuran Mode, Corak dan Warna Sesuai Standar Syar’i. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah fil Kitaabi was Sunnah)
  3. Mizan Qudsiyah, Lc. 2013 (Cet. 1). Kaidah-Kaidah Penting Mengamalkan Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
  4. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2005 (Cet. 1). Selamat Jalan Pejuang. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Fii Wadaa`il A’laam)
  5. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2009 (Cet. 1). Faktor-Faktor Pengubah Fatwa. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Mujibat Tagashyyur Al-Fatwa fii ‘Ashrina)
  6. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2007 (Cet. 15). Fiqh Perbedaan Pendapat Antar Sesama Muslim. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Ash-Shahwah Al-Islaamiyyah bainal Ikhtilaafil Masyruu` wat-Tafarruqil Madzmuum)
  7. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin. 2012 (Cet. 2). Syarah Lum’atul I’tiqad: Penjelasan Tuntas Pokok-Pokok Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang Banyak Umat Islam Tergelincir di Dalamnya. Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Syarhu Lum’ah Al-I’tiqad, Al-Hadi Ila Sabil Ar-Rasyad)
  8. Syaikh Abu Malik Kamal ibn As-Sayyid Salim. 2009 (Cet. 1). Pengantar Ilmu Fikih (Sejarah dan Fase Pertumbuhan Ilmu Fikih). Jakarta: Darus Sunnah (Diringkas dari: Shahiih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzhabi Al-Aimmah)
  9. Abdullah ibn Qasim Al-Wasyli. 2012 (Cet. 4). Syarah Ushul ‘Isyrin; Menyelami Samudra 20 Prinsip Hasan Al-Banna. Solo: PT Era Adicitra Intermedia (Judul asli: An-Nahjul Mubin li Syarhi Al-Ushuul Al-‘Isyrin)
  10. Dr. Shalah Shawi. 2002 (Cet. 1). Prinsip-Prinsip Gerakan Islam yang Mutlak dan Relatif. Solo: Era Intermedia (Judul asli: Ats-Tsawabit wal Mutaghayirat)
  11. Syaikh Abu Abdurrahman Ridha. 2013 (Cet. 1). Akhlak Ulama Salaf dalam Bergaul. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Adaabus Salaf fii At-Ta’amul ma’a An-Nas)
  12. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Tanpa Tahun. Membela Kehormatan Ulama. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Raf’ul Malaam ‘Anil A`immatil A’laam, Ditahqiq oleh: Ustadz Zuhair Asy-Syawisy)
  13. Syaikh Dr. Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz. 2010 (Cet. 6). Fiqih Dakwah. Solo: Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Ad-Da’wah, Qawa’id wa Ushuul)
  14. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 5). Dalam Dekapan Ukhuwah. Yogyakarta: Pro-U Media
  15. muslimah.or.id Dari tulisan Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad yang berjudul Haruskah Taqlid? (Bagian 2) Dipublikasikan pada hari Rabu, 05 Oktober 2011.

Bibit-Bibit Fanatisme Gerakan


Sumber: majlisrakyat.blogspot.com

Sumber: majlisrakyat.blogspot.com

“Perbedaan yang dapat dihitung takkan membatalkan kesamaan yang tak terbilang. Perbedaan cabang takkan menafikan kesatuan pada akar dan batang.”

{Salim A. Fillah}
***  

Dalam bukunya yang berjudul Al-Istii’aab fii Hayaatid Da’wah wad Daa’iyah, Ustadz Prof. Dr. Fathi Yakan mengungkapkan, “Pada hari ini Islam mendapat ujian dengan adanya para da’i yang mengajak masyarakat untuk bergabung ke dalam berbagai pergerakannya, padahal seharusnya ia mengajak kepada Islam. Ia menjelaskan kelebihan-kelebihan pergerakannya, padahal seharusnya menjelaskan kelebihan-kelebihan Islam. Inilah yang kemudian menyebabkan keterikatan seseorang hanya karena kelompok dan bukan keterikatan yang didasari oleh akidah, bahkan kadang malah keterikatan terhadap individu.”

Saya sangat sepakat dengan ungkapan Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya tersebut. Dan sepertinya, kondisi inilah yang sedang melanda berbagai pergerakan dakwah Islam yang ada di negeri kita tercinta ini -bahkan di dunia-. Maka tidak mengherankan kemudian, antara aktivis dakwah yang satu dengan yang lainnya sering sekali terjadi perselisihan dan benturan-benturan pandangan. Padahal, masalah yang diperselisihkan adalah masalah-masalah furu’iyah yang masih terbuka ruang ijtihad atasnya. Anehnya lagi, yang sering menyulut perselisihan ini biasanya adalah kader-kader baru dari masing-masing pergerakan. Yang biasanya, pemahamannya masih rendah. Bukan hanya pemahamannya tentang kesempurnaan Islam itu sendiri, tapi juga pemahamannya tentang gerakan tempatnya berkontribusi untuk dakwah ini.

Pada akhirnya, antara aktivis dakwah yang satu dengan yang lainya sering terjadi fitnah. Cela-mencela seperti sebuah kebiasaan. Debat-debat kusir pun merajalela. Khususnya di dunia maya -contohnya, ketika pemilihan anggota legislatif April 2014 yang telah lewat-. Akhirnya, ruh ukhuwah antar sesama muslim pun semakin buram dan memudar. Dan terkadang, amalan yang menurut gerakan dakwah yang satu adalah prioritas dikerjakan dalam kondisi dan situasi tertentu, menjadi tidak prioritas bagi gerakan dakwah yang lainnya. Padahal, amalan tersebut memang benar-benar prioritas menurut tuntunan syari’at. Kenapa hal ini bisa terjadi? Kemungkinan terbesarnya adalah, karena para aktivis dakwah tersebut telah mulai terjangkiti oleh bibit-bibit fanatisme gerakan. Bukan kebenaran Islam yang didakwahkan, tetapi kebenaran menurut gerakannya yang lebih diutamakan. Na’udzubillaah min dzalik.

Apa itu fanatisme? “Fanatisme (ta’ashshub) secara bahasa berasal dari kata ashabiyah. Makna ta’ashshaba ialah mengikat ikat kepala.” Demikian menurut Al-Jauhari dalam Ash-Shihah.

Adapun secara istilah, fanatisme adalah menjadikan apa yang datang dari orang tertentu, baik berupa pendapat atau ijtihad, yang kemudian dia jadikan hujjah atas semua orang. Demikian menurut Imam Asy-Syaukani dalam Adaab Ath-Thalab wa Muntaha Al-Adaab.

Terkadang, saya hanya bisa diam terpaku dan merenung sejenak melihat fenomena seperti ini. Dalam perenungan itu, saya meyakinkan kepada diri saya sendiri, semoga diri ini tidak termasuk kedalam kelompok aktivis-aktivis yang terjangkiti oleh bibit-bibit fanatisme gerakan. Karena hal ini, sadar atau tidak sadar, dapat mengurangi nilai barakah atas kerja-kerja dakwah yang telah kita ikhtiarkan. Sebesar apapun ikhtiar kita tersebut. Maka dari itu, mari niatkan kerja-kerja dakwah kita demi kejayaan Islam. Bukan demi kejayaan gerakan dakwah tempat kita beranaung.

Setiap gerakan selalu menyerukan, bahwa kerja-kerja dakwah yang dilakukan ikhlas karena Allah Ta’aala semata, demi kejayaan Islam. Tapi yang terjadi dilapangan terkadang sebaliknya. Hal ini terjadi karena pemahaman seseorang tentang dakwah berbeda-beda. Ada yang berusaha memahaminya secara komprehensif, dan ada juga yang memahaminya secara parsial. Terlepas dari gerakan manapun orang tersebut berkontribusi demi dakwah yang penuh barakah ini. Ingat! Berdakwahlah karena Islam, bukan gerakan. Karena gerakan hanyalah sarana. Jadi, kurang bijak rasanya jika hal tersebut terlalu dipermasalahkan.

Ada sebuah ungkapan menarik yang tercatat dalam buku Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf karya Ustadz ‘Abdul ‘Aziz ibn Nashir dan Baha’uddin ibn Fatih ‘Aqil. Berikut ungkapannya: “Aku senang,” kata Hatim Al-Asham rahimahullaah, “bila orang yang mendebat diriku ternyata dia yang benar. Sebaliknya aku bersedih kalau orang yang mendebat diriku ternyata salah.”

Atas segala perbedaan yang ada, tentang bagaimana seharusnya metode dakwah yang paling ideal -tentunya yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan As-Sunnah-, semoga ungkapan Hatim Al-Asham rahimahullaah tersebut bisa menjadi sebuah nasihat berharga bagi kita para aktivis dakwah. Jika ternyata metode dakwah gerakan yang satu lebih maksimal dan benar caranya dalam mensyi’arkan cahaya Islam. Maka, mari akui metode dakwah saudara kita itu sebagai sebuah anugerah Allah Ta’aala dengan tidak mengungkit-ngungkit celanya. Atas hal tersebut, sepatutnyalah kita bersyukur. Jika memang benar kita berdakwah demi kejayaan Islam semata. Adapun kesalahan-kesalahan yang terjadi dan sulit untuk dihindari oleh sebuah gerakan, maka hal itu tidak lantas mengurangi kemuliaan misi dakwah yang diusungnya. Ingat! Tugas sejati kita sesama saudara seiman adalah, senantiasa saling nasihat-menasihati jika terjadi kekeliruan.

Hal ini senada dengan ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam Majmuu’ Al-Fataawaa-nya. Beliau menjelaskan, “Tidak diragukan lagi bahwa kesalahan dalam perkara yang rumit dimaafkan bagi umat ini, meskipun kesalahan tersebut terkait dengan perkara-perkara ilmiah -akidah-. Jika tidak demikian, maka binasalah mayoritas orang-orang mulia dari umat ini. Jika Allah memaafkan orang yang tidak tahu tentang haramnya khamar karena tumbuh di daerah -yang penuh kebodohan-, sementara ia sendiri tidak menuntut ilmu, maka orang mulia yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sesuai dengan apa yang ia dapati di zamannya dan daerahnya, jika tujuannya adalah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam  semampunya, maka ia lebih berhak untuk Allah terima kebaikan-kebaikannya dan Allah memberi ganjaran atas kesungguhannya sekaligus tidak menghukumnya, sebagai realisasi firmanNya: ‘Yaa Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’ {Q.s. Al-Baqarah [2]: 286}

Berkaitan dengan masalah-masalah furu’iyah yang menjadi perselisihan di kalangan para ulama. Yang secara umum, menjadi sumber perselisihan diantara para aktivis-aktivis gerakan. Maka perlu kiranya kita memerhatikan sebuah pernyataan tegas dari Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya yang berjudul Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim.

“Sesuatu tidak haram,” tulis beliau dalam kitab tersebut, “kecuali terdapat nash yang benar dan jelas dari Al-Qur`an atau sunnah Rasul atau ijma` ulama yang kuat dan meyakinkan. Apabila tidak ada nash atau ijma`, atau terdapat nash yang jelas (sharih) namun tidak sahih, atau terdapat nash yang sahih tapi tidak sharih dalam mengharamkan sesuatu maka tidak berpengaruh apa-apa dalam kehalalannya dan masuk dalam wilayah ampunan yang luas.”

Adapun Syaikh Dr. Muhammad Al-Ghazali rahimahullaah dalam kitabnya yang berjudul Kaifa Nata’amal ma’al Qur`aanil Kariim mengatakan, “Perbedaan dalam masalah fiqhiyah, selamanya tidak boleh seorang pun menganggapnya sebagai perbedaan dan perpecahan agama, tetapi hal itu merupakan usaha-usaha ijtihad dalam rangka memahami nash. Allah Subhanaahu wa Ta’aala berfirman, Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat, pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), ‘Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’ .’ {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 105-106}

“Sebenarnya,” lanjut beliau, “pada saat para imam kita berbeda pendapat, tidak ada di antara mereka yang mengklaim dirinya telah mencapai kebenaran yang memang dikehendaki Allah Subhanaahu wa Ta’aala, tetapi justru masing-masing mengatakan, ‘Pendapat saya benar tetapi kemungkinan mengandung kesalahan, dan pendapat orang lain salah, tetapi kemungkinan juga mengandung kebenaran.’ Adanya perbedaan pendapat tidak berarti harus saling membenci, bahkan mereka tetap merendah (tawadhu’) dan menganggap bahwa usaha gigih mereka seluruhnya demi mencari ridha Allah Subhanaahu wa Ta’aala.”

Ungkapan yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Al-Ghazali ini -yang saya tandai dengan huruf bercetak miring- adalah salah satu ungkapan emas dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah.

Adapun menurut Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya yang berjudul As-Sunan Al-Ilahiyyah fii Al-Umam wa Al-Jamaa’ah wa Al-Afrad fii Syariah Al-Islaamiyyah, beliau berkata, “Perselisihan para ulama dalam bidang ijtihad tidak termasuk perselisihan yang tercela yang mengakibatkan hancurnya umat, tetapi perselisihan yang dibolehkan dan tidak tercela. Sesungguhnya perselisihan yang dicela adalah perselisihan yang mengakibatkan seseorang mengikuti (taqlid) kepada satu mazhab atas dasar fanatik (ta’ashshub) dan memusuhi orang yang mengikuti mazhab lain.”

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***

Bibit-bibit fanatisme gerakan itu adalah sebuah penyakit yang banyak menjangkiti umat Islam di zaman ini. Ia adalah salah satu penghalang bagi kita untuk mempelajari Islam ini secara menyeluruh (kaaffah). Dan, ia juga adalah perusak ukhuwah di antara sesama saudara muslim. Bahkan, senyum-memahami, tegur-sapa, dan nasihat-menasihati menjadi terasa hambar karenanya. Bagaimana bisa kita memiliki akhlak yang mencahaya kalau seperti itu? Maka, bagi seorang muslim sejati, bibit-bibit fanatisme gerakan adalah, sesuatu yang harus senantiasa dihindari semampu kita; atau bahkan dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Saya berharap, semoga tulisan yang singkat dan sederhana ini bermanfaat bagi diri saya pribadi. Dan bagi Anda yang berkenan membacanya. Adapun, jika terdapat kekeliriuan dalam tulisan ini, maka itu murni dari lemah dan kurangnya ilmu saya, terkait apa yang telah saya tulis. Namun, jika ada setitik kebenaran dalam tulisan ini, walaupun kebenaran tersebut masih redup-redup. Maka yakinilah, bahwa hal tersebut datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla, yang pantas kita terima dengan hati yang ikhlas.

***
Oleh: Setiawan As-Sasaki
Tulisan singkat dari hamba Allah yang masih rapuh imannya,
dan yang masih dijaga aib-aibnya
Selasa, 23 Jumadil Awwal 1435 H/ 25 Maret 2014
JP Institute, Gomong Square, Mataram

***
Sumber Inspirasi:

  1. Prof. Dr. ‘Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2006 (Cet. 1). Fikih Kemenangan dan Kejayaan; Meretas Jalan Kebangkitan Umat Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Fiqh An-Nashr wa At-Tamkiin fii Al-Qur`aan Al-Kariim)
  2. Prof. Dr. Fathi Yakan. 2010 (Cet. 6). Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah. Jakarta: Robbani Press (Judul asli: Al-Istii’aab fii Hayaatid Da’wah wad Daa’iyah)
  3. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 2013 (Cet. 2). Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim. Solo: PT Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim Alladzi Nunsyiduhu)
  4. Abdul ‘Aziz ibn Nashir Al-Jalil dan Baha’uddin ibn Fatih Aqil. 2013 (Cet. 1). Kita dan Akhlak Salaf, Potret Keseharian Generasi Teladan. Solo: Aqwam (Judul asli: Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf)
  5. Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. 2004 (Cet. 1). Sunnatullah Dalam Berbagai Aspek Kehidupan. Jakarta: Pustaka Azzam (Judul asli: As-Sunan Al-Ilahiyyah fii Al-Umam wa Al-Jamaa’ah wal Al-Afrad fii Syariah Al-Islaamiyyah)
  6. Syaikh Muhammad Al-Ghazali. 1996 (Cet. 1). Berdialog dengan Al-Qur`an; Memahami Pesan Kitab Suci dalam Kehidupan Masa Kini. Bandung: Mizan (Judul asli: Kaifa Nata’amal ma’al Qur`aanil Kariim)
  7. firanda.com (website pribadi dari Ustadz Firanda Andirja, MA). Dari tulisan beliau yang berjudul “Muwaazanah… Suatu yang Merupakan Keharusan…? Iya, dalam Menghukumi Seseorang Bukan dalam Mentahdzir.” Dipublikasikan pada hari Minggu, 05 Desember 2010.

Karena Apakah Kita Mencintai?


Sumber: sangwidy.files.wordpress.com

Sumber: sangwidy.files.wordpress.com

“Cinta yang bertitik tolak dari apa yang dicintai Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam itulah bentuk cinta yang terpuji dan akan mendatangkan pahala.”

{Ibnul Qayyim, Raudhatul Muhibbiin}
***  

Cinta adalah keterpesonaan yang menawan. Bagi para pecinta, keterpesonaan itu bisa berlangsung dalam jangka waktu yang singkat maupun lama. Hal ini tergantung kepada pemicu keterpesonaan tersebut. Jika keterpesonaan itu muncul karena tampilan fisik semata; tampan atau cantik, maka bisa dipastikan cinta seperti ini akan bertahan dalam waktu yang singkat. Tapi, jika keterpesonaan itu muncul karena kepribadian yang baik dari orang yang dicintai, maka bisa dipastikan cinta seperti ini akan bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Cinta yang terbit tersebab pesona fisik akan membuat pecintanya menjadi lemah dan rapuh, saat cintanya tertolak atau tak berketerimaan. Kenapa? Karena yang berperan besar dalam cinta ini adalah nafsu syahwat semata. Dan inilah yang terjadi pada anak pertama Nabi Adam alayhis-salaam; Qabil. Ketika Adam menyampaikan wahyu dari Allah Ta’aala untuk menikahkan Qabil dengan saudara perempuan -kembarannya- Habil dan saudara perempuannya Qabil yang lebih cantik dengan Habil, maka Qabil pun protes atas keputusan ayahnya itu. Ia tidak rela menikah dengan kembarannya Habil yang tak secantik adik kembarannya. Dan karena hal ini pula, ia menjadi orang pertama yang berbuat kezaliman dan kejahatan di muka bumi. Ya, Habil dibunuh oleh kakaknya sendiri, yang diperbudak oleh hawa nafsunya.

Sedangkan cinta yang bertumbuh tersebab pesona kepribadian akan membuat pecintanya menjadi lebih baik, karena dalam cinta itu termuat energi yang dahsyat; yaitu energi cinta yang berasal dari pancaran cahaya akhlak baik seseorang; yang mencerminkan kualitas keberagamaannya. Dan cinta yang seperti inilah yang bertumbuh dan bersemi indah pada sosok wanita teragung sejagat raya; Khadijah binti Khuwailid radhiyallaahu ‘anhaa kepada Muhammad ibn ‘Abdullah ibn ‘Abdul Muththalib; Nabi dan Rasul akhir zaman, shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Atau kalau dalam tokoh fiksi, inilah cintanya Aisha, Nurul dan Maria kepada Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; kemudian cintanya Dr. Anastasia Palazzo kepada Muhammad Ayyas dalam Bumi Cinta; kemudian cintanya Mbak Khadija kepada Abdurrachman Ghozali dalam Dan Bidadari pun Mencintaimu karya Ali Imron El Shirazy; kemudian cintanya Maryam dan Bahiroh kepada Abdurrachman Ghozali dalam Merenda Pelangi Cinta.

Dan sungguh, “…Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” {Q.s. Aali ‘Imraan [3]: 148}

Pertanyaannya sekarang, karena apakah kita mencintai?

Sejenak, mari kita merenunginya. Lalu, biarkanlah sejarah dari para pecinta sejati; yaitu kisah cinta para Nabi dan Rasul, generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang membimbing dan mengajarkan kita tentang bagaimana seharusnya kita memaknai kata cinta. Karena, ketika kita mampu memaknai kata cinta dengan benar, maka pertanyaan: “Karena apakah kita mencintai?,” bukan lagi menjadi hal yang terlalu penting untuk dijawab.

Ya, lewat kacamata sejarah. Dan sumber utama yang paling terpercaya dalam mempelajari sejarah adalah teks-teks; kumpulan tulisan yang kemudian terbukukan. Jadi, ketika kita ingin mempelajari dan memaknai cinta lewat sejarah, maka membacalah!

Tentang cinta, maka terdapat begitu banyak literatur yang membahasnya -baik Islam maupun non Islam-. Apatah itu berjenis tulisan biasa, syair-syair, prosa, cerpen dan roman atau novel. Diantaranya adalah, Thauqul Hamaamah fii Ilfah wal Ullaaf karya Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (384-456 H); Al-Mahabbah wa Asy-Syauq karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H); Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhat Al-Musytaaqiin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (691-751 H); Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi (1140-1208 M); The Tragedy of Romeo and Juliet karya William Shakespeare (1564-1616 M); Al-Majdulin karya Mushthafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1924 M) -di sadur dari Sous les Tilleus karya Alphonse Karr-; The Broken Wings karya Kahlil Gibran (1883-1931 M); The Art of Loving karya Erich Fromm (1900-1980 M); Risaalah Ilaa Al-Mutahaabbain min Asy-Syabaab karya Dr. Nazhmi Khalil Abu Al-‘Atha; Mamo Zein Qishshatu Hubbin Nabaa fil Ardh wa Antsaa fis Sama karya Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi & Najib Kailani; Al-Hubb fil Qur`aan karya Dr. Mahmud ibn Asy-Syarif; Fii Zhilaalil Mahabbah karya ‘Abdul Hadi Hasan Wahbi; dan Kaifa Nuhibullaha wa Nasytaaqu Ilaihi karya Syaikh Dr. Majdi Al-Hilali. Inilah beberapa judul literatur yang membahas tentang tema cinta, yang ditulis oleh beberapa ulama besar Islam dan tokoh-tokoh pemikir barat.

Adapun dari para penulis Tanah Air kita, berikut adalah beberapa buku yang membahas tentang tema cinta. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (1889-1968 M); Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka`bah karya Prof. Dr. Buya Hamka (1908-1981 M); Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta dan Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; Keajaiban Cinta dan Prahara Cinta karya Abu Umar Basyier; Serial Cinta karya Anis Matta; Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah; Apa Kabar Cinta? karya Izzatul Jannah; Sepotong Hati yang Baru, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Sunset Bersama Rosie, Berjuta Rasanya dan Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah karya Tere Liye; Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia; Cinta Ilalang karya Afifah Afra; Birunya Langit Cinta karya Azzura Dayana; Kitab Cinta & Patah Hati dan Lafaz Cinta: Serpih-serpih Cinta Makkah-Groningen karya Sinta Yudisia; Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam; Bait-Bait Cinta karya Geidurrahman El-Mishry; Catatan Sejarah Cinta karya Fikri Habibullah Muharram; dan masih banyak lagi literatur-literatur yang lainnya.

Menurut saya, buku yang cukup komprehensif dan sangat sederhana dalam pemaknaan cinta adalah buku Serial Cinta karya Ustadz Muhammad Anis Matta, Lc. Ditulis dalam bentuk esai singkat bernuansa sastra yang terangkum menjadi 73 judul. Dalam buku ini, cinta dibagi menjadi tiga lapisan; cinta misi, cinta jiwa dan cinta maslahat. Menurut penulisnya ketika membedah buku ini, beliau mengatakan, “Akar dari semua cinta itu, jika kita ingin menggubahnya menjadi energi adalah cinta misi. Jika kita mencintai segala sesuatu dari akarnya, yaitu karena cinta kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, maka cinta kita kepada manusia akan berkembang menjadi pemberian. Proses memberi, karena akarnya adalah cinta misi. Begitu juga, ketika dia turun kepada cinta maslahat. Cuma kalau dia di cinta jiwa, itu ada bedanya, sebab disitu ada unsur fisik yang berbaur. Kalau dalam cinta misi, itu tidak ada fisiknya. Itu murni spiritual. Kalau dalam cinta jiwa, ada emosi dan juga ada raganya.”

“Karena itu,” lanjut beliau, “syahwat dalam cinta jiwa itu ada. Dalam cinta misi itu, cuma ada ruh. Tapi dalam cinta jiwa, ada emosi dan ada syahwat. Dan itu harus disatukan. Sebab, tidak ada cinta jiwa kalau tidak ada syahwatnya. Tetapi syahwat yang murni tanpa cinta jiwa itu, juga tidak akan berkembang menjadi hubungan jangka panjang yang bagus. Tetapi di dalam cinta maslahat, ada akal sehat. Karena kita mencintai, adalah maslahat bagi kita semua untuk mempertahankan kehidupan.”

Terkait dengan buku tersebut, saya sendiri sering membacanya berulang-ulang. Kenapa? Karena buku tersebut sangat luas referensinya. Sehingga pemaknaannya tentang cinta menjadi sangat mendalam.

Alhamdulillaah ‘alaa kulli hal, terjawab sudah pertanyaan: “Karena apakah kita mencintai?” Sebagaimana Ustadz Anis Matta memposisikan cinta misi sebagai cinta yang paling tinggi, yaitu kecintaan yang tumbuh dan berkembang karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala, semoga kita pun mempunyai pemaknaan yang demikian. Sehingga, saat cinta menyapa relung hati kita yang terdalam, ianya tak membuat kita menjadi gila, rapuh dan lemah saat menghadapinya. Karena kita menyadari, bahwa cinta yang tumbuh kepada selainNya haruslah sewajarnya saja. Sebab kalau tidak demikian, cinta akan menjadi sebuah penyakit, bukan energi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” {H.r. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya [no. 1997] dari Abu Hurairah. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Al-Jaami’ [no. 178]}

Sungguh, cinta yang totalitas hanya patut kita persembahkan untuk Allah Ta’aala dan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam saja. Adapun ketika kita berusaha mencintai makhlukNya secara totalitas, itupun kita lakukan sebagai wujud pengejawantahan cinta kita kepadaNya. Dan, “…sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” {Q.s. Al-‘Ankabuut [29]: 69}

Akhirnya, semoga kita bisa merasakan manis dan murninya cinta kepada Allah Ta’aala, sebagaimana ungkapan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu yang dinukil oleh Muhammad Al-Hajjar dalam kitabnya, Al-Hubb Al-Khaalid. Beliau berkata, “Orang yang sudah merasakan murninya cinta kepada Allah Ta’aala, maka perasaan itu akan membuatnya sibuk dari mencintai dunia, dan mengasingkannya dari manusia.”

Atau seperti ungkapan indah berikut: “Tidak ada derajat cinta karena Allah,” demikian ungkapan Syaikh ‘Abbas As-Sisiy dalam Ath-Thariiq ilal Quluub-nya, “yang lebih agung daripada cinta yang dapat memunculkan keagungan dakwah, membangun kerangkanya, dan menegakkan daulah Islam di dunia.”

cinta adalah rasa
yang kuucap
dalam setiap desah
dan cuaca
t
ak sampai-sampai getarnya padamu

{Helvy Tiana Rosa, Sajak Februari dalam buku ‘Mata Ketiga Cinta}

Saya berharap, semoga tulisan yang sangat sederhana dan singkat ini mampu mendatangkan barakahNya. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin 

———-
Catatan: Berkenaan dengan kitab Raudhatul Muhibbiin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, ada sebuah ungkapan yang oleh beberapa penulis muslim dinisbatkan kepada beliau -Ibnul Qayyim-, padahal bukan. Kekeliruan ini terjadi, -dugaan kuat saya- karena mereka tidak menukilnya dari kitab aslinya. Ungkapan itu -selengkapnya- adalah, Al-Mada`ini berkata, “Suatu ketika, seorang lelaki mencela temannya yang sedang jatuh cinta. Orang yang dicela itu pun kemudian berkata, ‘Jika memang seseorang yang jatuh cinta dapat memilih, tentulah ia tidak akan memilih untuk jatuh cinta.’” Nah, bagaimana bisa, ungkapan yang saya bold ini -yang tidak jelas siapa yang mengungkapkannya- dinisbatkan pada Ibnul Qayyim? Walaupun memang benar ungkapan ini dimuat dalam kitab tersebut –Raudhatul Muhibbiin-. Cermatilah! Allaahu a’lam.

***
Oleh: Setiawan As-Sasaki
Tulisan ini terselesaikan ba’da Jumat
Jumat, 12 Jumadil Awwal 1435 H/ 14 Maret 2014
Bertempat di JP Institute, Gomong Square, Mataram

***
Sumber Inspirasi:

  1. Anis Matta. 2012 (Cet. 5). Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press
  2. Anis Matta, Lc./ Dari bedah buku karyanya yang berjudul Serial Cinta. (Format: MP3).
  3. Helvy Tiana Rosa. 2012 (Cet. 2). Mata Ketiga Cinta; Sekeranjang Puisi Pilihan Tentang Cinta. Depok: AsmaNadia Publishing House
  4. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2010 (Cet. 1). Taman Orang Jatuh Cinta; Tamasya orang yang Terbakar Rindu. Bandung: Penerbit Jabal (Judul asli: Raudhatul Muhibbiin wan Nuzhatul Musytaaqiin)
  5. Muhammad Al-Hajjar. 2003 (Cet. 1). Negeri Para Pencinta; Konsep Cinta Abadi dalam Tasawuf. Bandung: Pustaka Hidayah (Judul asli: Al-Hubb Al-Khaalid)
  6. Syaikh ‘Abbas As-Sisiy. 2009 (Cet. 9). Bagaimana Menyentuh Hati; Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah. Solo: Era Intermedia (Judul asli: Ath-Thariiq ilal Quluub)

Jilbab dan Hijab Seorang Muslimah


Sumber: sagita.student.umm.ac.id

Sumber: sagita.student.umm.ac.id

‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ada yang masuk ke rumah istri-istrimu, laki-laki baik dan juga laki-laki jahat, sekiranya engkau memerintahkan mereka mengenakan hijab. Lalu Allah menurunkan ayat hijab.”

{Muttafaq ‘alaih, dari Anas ibn Malik}
***

Pernah seorang kawan bertanya kepada saya, yang inti dari pertanyaannya itu adalah terkait hukum cadar bagi seorang muslimah. Apakah wajib atau sunnah? Lalu, tentang muslimah yang berjilbab syar’i namun tidak bercadar. Diantara keduanya, manakah yang lebih baik?

Lalu, bagaimanakah sebenarnya busana muslimah yang disyari’atkan oleh Islam? Saya pun menjawab, kedua-duanya baik, tergantung kemantapan hati masing-masing.

Alhamdulillaah, setelah membaca buku karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah yang bertajuk Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah fil Kitaabi was Sunnah dan Hijaabul Mar`ah wa Libasuha fii Ash-Shalaah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah, saya pun menemukan jawaban atas pertanyaan seorang kawan tersebut. Secara lebih ilmiah, tentunya.

***

Baiklah, mengawali tulisan ini saya ingin menghadirkan pendapat para ulama berkenaan dengan pengertian jilbab dan hijab. Karena, antara jilbab dan hijab sejatinya berbeda menurut para ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah membedakan antara pengertian jilbab dengan hijab sesuai ayatnya. Ayat jilbab -kata beliau- adalah:

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” {Q.s. Al-Ahzaab [33]: 59}

Sedangkan ayat hijab adalah:

“…Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…” {Q.s. Al-Ahzaab [33]: 53}

“Ayat jilbab,” lanjut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ Al-Fataawaa-nya, “berlaku ketika seorang wanita keluar dari tempat tinggalnya. Sedangkan ayat hijab, berlaku ketika seorang wanita melakukan pembicaraan dengan laki-laki di tempat tinggalnya.”

Mengomentari kedua ayat yang membedakan antara jilbab dan hijab yang dipaparkan oleh Syaikhul Islam, Syaikh Al-Albani dalam Ar-Radd Al-Mufhim -kitab ini, aslinya merupakan mukadimah cetakan terbaru dari kitab Jilbaabul Mar`ah– menyatakan, “Kedua ayat ini tidak menunjukkan wajibnya menutup wajah dan telapak tangan.”

Syaikh Al-Albani dalam Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah ketika menjelaskan definisi jilbab, beliau menukil definisi yang telah disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullaah dalam kitab Fat-hul Baari. “Jilbab,” tulis beliau, “adalah kain (pakaian) yang dikenakan wanita untuk melapisi baju bagian dalamnya. Biasanya, jilbab dikenakan kaum wanita ketika mereka keluar dari rumah.” Dan definisi inilah yang paling sahih menurut Syaikh Al-Albani. Selain itu, definisi ini juga ditetapkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullaah dalam Tafsiir-nya, dengan redaksi, “Jilbab adalah kain yang digunakan wanita untuk menutupi pakaian sehari-harinya dan khimar (kerudung)-nya.” Adapun definisi yang diutarakan oleh Imam Ibnu Hazm, Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir rahimahullaah, saya tidak memaparkannya disini. Karena toh, definisi jilbab yang termuat dalam Fat-hul Baari sudah disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Jadi, saya rasa itu sudah cukup untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang definisi jilbab.

Sedangkan hijab menurut beliau, adalah lebih umum daripada makna jilbab. Artinya: setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab adalah jilbab; sebagaimana yang tampak jelas.

Wajah dan Telapak Tangan Wanita Bukanlah Aurat

Dalam bukunya Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah, Syaikh Al-Albani rahimahullaah telah memaparkan dalil-dalil dan atsar-atsar sahih berkenaan tentang “Wajah dan Telapak Tangan Wanita Bukanlah Aurat”, beserta bantahan terhadap klaim yang menyatakan bahwa seluruh dalil ini berlaku sebelum turunnya perintah jilbab. Jadi dalam tulisan ini saya tidak akan memaparkannya lagi. Tapi, cukuplah beberapa pernyataan para ulama -yang beliau nukil- dan pernyataan beliau sendiri dalam mukadimah buku ini yang akan saya paparkan.

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, yang dikenal sebagai Penafsir Al-Qur`an (Tarjumaanul Qur`aan) berkata, “Wanita mendekatkan jilbabnya kepada wajahnya, bukan menutupinya.”

Abul Walid Al-Baji rahimahullaah (w. 474 H) berkata, “Tidak ada sesuatu yang boleh tampak dari wanita, kecuali lingkaran wajahnya.”

Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Sebab, kondisi yang ada menuntut dibukanya wajah untuk keperluan jual beli, serta kedua telapak tangan untuk mengambil dan memberi.” Pernyataan ini adalah komentar beliau ketika menanggapi ucapan Ibnu Hubairah Al-Hanbali rahimahullaah dalam kitabnya; Al-Ifshah, yang menyatakan bahwa tiga imam mazhab berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat. “Pendapat ini,” lanjut Ibnu Hubairah, “merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.”

Ibnu Muflih rahimahullaah dalam kitabnya; Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah berkata, “Bolehkah kita melarang wanita-wanita yang bukan mahram membuka (memperlihatkan) wajah mereka di jalanan? Jawaban atas pertanyaan ini merujuk kepada pertanyaan: Apakah wanita yang wajib menutupi wajahnya, ataukah kaum pria yang wajib memalingkan pandangan mereka dari melihat wajah wanita?”

Imam An-Nawawi rahimahullaah berkata, “Menutup wajah hanyalah sunnah yang dianjurkan baginya. Sementara itu, laki-laki wajib menundukkan pandangan dari melihat wajah wanita dalam segala kondisi, kecuali karena suatu alasan yang dibolehkan syari’at.”

Syaikh Al-Albani berkata, “Seorang wanita berhak membuka wajahnya, sekalipun ia cantik. Membuka wajah adalah haknya; ia boleh melakukannya dan tidak ada seorang pun yang berhak melarangnya dengan alasan khawatir terkena fitnah karena kecantikannya.” Pernyataan ini adalah tafsir beliau atas hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, tatkala Rasulullah melihat Al-Fadhl ibn ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu memandang kearah wanita Khats’amiyah yang cantik jelita dan wanita itu juga memandang ke arahnya, sementara wanita itu tidak dalam keadaan berihram, maka beliau hanya memalingkan wajah Al-Fadhl dari wanita tersebut.

Adapun Syaikh Hamud ibn ‘Abdullah At-Tuwaijiri rahimahullaah dalam bukunya, Ash-Shaarimul Masyhur mengklaim adanya ijma` ulama bahwa wajah wanita adalah aurat. Mengomentari hal ini, Syaikh Al-Albani mengatakan, “Klaim Syaikh At-Tuwaijiri ini tidak benar, bahkan tidak ada ulama yang pernah mengatakan demikian. Buku-buku dalam mazhab Al-Hanbali yang ia pelajari -di samping buku-buku lain- sudah cukup menunjukkan kekeliruannya.”

Bantahan beliau selanjutnya yaitu berkenaan dengan pendapat Syaikh ‘Abdul Qadir As-Sindi -mengikuti jejak Syaikh At-Tuwaijiri dan yang lainnya- yang berani menyatakan bahwa sanad hadis, “Apakah kamu berdua buta?” adalah sahih. Padahal, hadis ini dha’if menurut para peneliti hadis dari kalangan penghafal hadis (huffazh), seperti Imam Ahmad, Al-Baihaqi dan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullaah. Dan, terkait sanad hadis ini, Syaikh Al-Albani pun telah menjelaskannya dalam kitab beliau, Al-Irwaa`ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaaris Sabiil [VI/210].

Selain kedua bantahan diatas, dalam bukunya ini, beliau juga membantah kitab Al-Hijaab karya Syaikh Abul A’la Al-Maududi rahimahullaah -beliau juga berpendapat, bahwa memakai cadar itu wajib- yang pendapatnya sedikit mengalami kekeliruan menurut beliau (Syaikh Al-Albani). Wallaahu a’lam bish-shawaab.

***

Adapun Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaah dalam kitabnya yang bertajuk Risaalatul Hijaab berpendapat, bahwa hukum cadar adalah wajib. Dalam kitabnya ini, beliau memaparkan dalil-dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah dan Qiyas. Selain itu, beliau juga memaparkan dalil-dalil orang yang membolehkan membuka wajah beserta bantahan terhadap dalil-dalil pembolehan tersebut.

Alhasil, setelah saya membaca tulisan beliau ini, kemudian membandingkannya dengan tulisan Syaikh Al-Albani dalam Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah, maka saya menemukan bahwa dalam kitab ini terdapat banyak kekurangan.

Pertama, penjelasan beliau sangat singat untuk masing-masing dalil. Berbeda dengan Syaikh Al-Albani, referensinya ketika menafsirkan suatu ayat, hadis dan atsar sangat luas.

Kedua, atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, “Allah memerintahkan istri-istri orang mukmin; apabila mereka keluar dari rumahnya karena suatu keperluan, agar mereka menutup wajah mulai dari atas kepala dengan jilbab dan hanya menampakkan mata saja.” Ternyata atsar ini tidak sahih menurut Syaikh Al-Albani dalam Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah dan Ar-Radd Al-Mufhim.

Bagaimana komentar beliau terkait atsar tersebut? “Atsar ini,” tulis beliau, “tidak sahih dari Ibnu ‘Abbas, karena Ath-Thabari meriwayatkannya melalui jalur ‘Ali dari Ibnu ‘Abbas. ‘Ali yang dimaksud di sini adalah Ibnu Abi Thalhah, sebagaimana Ibnu Katsir juga meriwayatkan secara mu’allaq darinya. Di samping ‘Ali banyak dikomentari oleh sebagian imam (ahli hadis), ia juga tidak mendengar langsung dari Ibnu ‘Abbas, bahkan ia tidak pernah berjumpa dengannya. Ada ulama yang mengatakan bahwa di antara ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas terdapat Mujahid (dalam sanadnya). Walaupun kita menganggap penyambungan sanad melalui Mujahid ini benar adanya, sehingga sanad hadis ini menjadi bersambung (muttashil), namun di dalam sanad tersebut terdapat perawi bernama Abu Shalih. Nama aslinya adalah ‘Abdullah ibn Shalih, dan ia memiliki kelemahan (dalam periwayatan hadis). Bahkan, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebuah atsar yang bertentangan dengan makna yang terkandung dalam atsar ini, tetapi sanadnya juga dha’if.”

Pensyari’atan Menutup Wajah

Adapun berkenaan dengan masalah pensyari’atan menutup wajah ini, Syaikh Al-Albani memaparkannya dengan singkat. Kenapa? Karena memang dalil-dalil -hadis dan atsar- pensyari’atannya tidak sebanyak dalil-dalil yang menyatakan bahwa “Wajah dan Telapak Tangan Wanita Bukanlah Aurat.”

Ketika menutup pembahasannya yang singkat terkait pensyari’atan ini, Syaikh Al-Albani menyimpulkan, “Menutup wajah bagi wanita dengan cadar atau penutup wajah lainnya yang sering kita lihat sekarang, yang biasanya dikenakan oleh wanita yang memelihara kehormatan dirinya, merupakan perbuatan yang disyari’atkan dan sikap yang terpuji, meskipun hal itu tidak diwajibkan baginya. Dengan kata lain, siapa yang mengenakannya berarti telah berbuat baik, sedangkan tidak ada dosa bagi wanita yang tidak mengenakannya.”

Dan perlu kiranya kepada para muslimah, entah yang bercadar atau tidak untuk merenungkan sebuah kaidah fikih Islam berikut: “Mencegah kerusakan itu lebih di dahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” Kaidah ini saya kutip dari mukadimah yang ditulis oleh Syaikh Al-Albani atas kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang bertajuk, Hijaabul Mar`ah wa Libasuha fii Ash-Shalaah. Dan perlu diketahui, bahwa kaidah ini juga termuat dalam kitab karya Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang bertajuk, Fii Fiqhil Aulawiyyaati. Terkait kaidah ini, beliau mengatakan, “Jika suatu perkara manfaatnya lebih besar, maka perkara itu dianjurkan dan disyari’atkan, sedangkan kerusakan kecil yang ditimbulkannya dapat dihilangkan.”

Syarat-Syarat Jilbab

Adapun syarat-syarat jilbab berikut ini, sepenuhnya saya kutip dari Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah karya Syaikh Al-Albani. Agar pengkutipannya menjadi lebih singkat, maka saya tidak mencantumkan dalil-dalil pendukungnya, dari syarat-syarat jilbab tersebut. Demi menyingkat tulisan ini.

Berikut adalah syarat-syarat tersebut:

  1. Menutupi seluruh badan selain bagian yang dikecualikan.
  2. Tidak dijadikan perhiasan.
  3. Jilbab itu harus tebal, tidak tipis.
  4. Jilbab harus longgar, tidak ketat.
  5. Tidak dibubuhi parfum atau minyak wangi.
  6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
  7. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
  8. Tidak berupa pakaian syuhrah (mencolok).

***

Berkenaan dengan masalah ini, yaitu hukum cadar bagi seorang muslimah; apakah wajib atau sunnah? Maka, -saya sependapat- hal ini sesuai dengan pernyataan tegas Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya, Hadyul Islaam Fataawi Mu’ashirah. Beliau menyatakan, “Masalah ini masih diperselisihkan oleh para ulama, baik dari kalangan ahli fikih, ahli tafsir, maupun ahli hadis, sejak zaman dahulu hingga sekarang.” Bahkan, Syaikh Al-Albani sendiri menulis kitab khusus berkenaan dengan hukum cadar ini. Apakah hukumnya wajib atau sunnah? Kitab itu beliau tulis setelah Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah diterbitkan; dengan judul Ar-Radd Al-Mufhim.

Dan tentu saja, dalam kitab Ar-Radd Al-Mufhim ini, Syaikh Al-Albani menghukumi cadar itu bukanlah sebuah kewajiban, tetapi sebuah keutamaan. Nah, masalahnya sekarang adalah masing-masing negeri Islam itu bebeda-beda kondisinya? Dan kita juga sudah memahami, bahwa Islam itu adalah agama yang fleksibel pada hal-hal yang memang bukan perkara prinsip dan tetap.

Sebagai informasi tambahan, ulama kontemporer lain yang juga mewajibkan cadar adalah Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Alu Asy-Syaikh, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Bazz -sebagaimana termuat dalam kitab Al-Fataawaa Al-Jaami’ah lil Mar`ah Al-Muslimah yang disusun oleh Ustadz Amin ibn Yahya Al-Wazan-. Kemudian Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi rahimahullaah dalam risalahnya; Ilaa Kulli Fataatin Tu’minu Billaahi dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam kitabnya; Al-Hijaab.

Namun, betapapun Syaikh Al-Albani tidak mewajibkan cadar, istri-istri beliau tetap memakai cadar. Karena hal ini adalah sebuah keutamaan menurut beliau -sebagaimana yang telah saya sebutkan-. Selebihnya, untuk keterangan lebih jelas dan lengkapnya, silahkan Anda baca sendiri kitab (buku) karya beliau tersebut. Baca juga Hadyul Islaam Fataawi Mu’ashirah -edisi Indonesia: Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2 terbitan Gema Insani Press-. Atau, kalau Anda malas membaca, silahkan langsung saja download -di website-nya radio rodja- dan dengarkan ceramahnya Ustadz Firanda Andirja, MA terkait tentang cadar ketika beliau membedah bukunya yang berjudul Ajaran Madzhab Imam Asy-Syafi’i yang Ditinggalkan. Dan tentunya, masih banyak lagi ceramah-ceramah yang lainnya berkenaan dengan masalah cadar.

***

“Seorang wanita,” kata Dr. ‘Abdullah ibn Wakil Asy-Syaikh dalam Almaratu wa Kaidul A’daai, “memiliki kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki dalam menjaga fitrahnya. Seorang pria harus memelihara karakternya sebagai laki-laki dengan tidak memakai perhiasan emas atau kain sutra. Begitu juga dengan kaum wanita yang menjaga fitrahnya dengan tidak bercampur baur dengan laki-laki atau memikat laki-laki dengan dandanan seronok.”

Katakata, “tidak bercampur baur dengan laki-laki” ini ada pengecualian. Diperbolehkan bercampur baur jika, “Tujuannya adalah kerja sama dalam mencapai tujuan yang mulia. Seperti dalam majelis ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, atau proyek kebajikan, atau jihad yang diharuskan dan sebagainya yang menuntut potensi yang prima dari dua jenis manusia serta kerja sama antara keduanya di dalam merencanakan, mengarahkan dan melaksanakan.” Ungkapan ini adalah pernyataan Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya, Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim Alladzi Nunsyiduhu.

Dan sekali lagi, hanya menegaskan kembali bahwa, “Adapun wanita yang berhijab,” kata Syaikh ‘Abdul Hamid Al-Bilali dalam Ila Ukhti Ghair Al-Muhajjabah, “maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita tersebut selain matanya saja.”

Lalu, renungkanlah dalam-dalam ungkapan dari Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Bahagianya Merayakan Cinta berikut. “Bagaimanapun juga,” tulis beliau, “wanita bukan makhluk dalam pingitan. Risalah ini turun untuk meluruskan dua kutub kekejian menyikapi wanita. Menampilkan wanita sebagi sosok yang bisa dinikmati oleh pandangan syahwati para lelaki dimanapun dan kapanpun adalah kezaliman terhadap mereka. Sebagaimana menelikung mereka di sudut ruangan yang sempit, tidak mengizinkannya keluar dan berpartisipasi dalam kehidupan publik sedikitpun, itu juga kezaliman pada sisi lain.”

Dan akhirnya, sebagaimana pesan Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menutup kitab kecilnya, Muslimatul Ghad, “Mudah-mudahan Allah memberikan ketegasan,” pesan beliau, “dalam ucap dan sikap serta pemahaman agama yang mendalam sehingga para muslimah kembali kepada hakikat yang sesungguhnya, kembali kepada kepribadian Islami, serta kembali menjadi muslimah seperti yang telah diteladankan oleh muslimah-muslimah zaman Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang salehah dan menebarkan kebaikan ke segenap penjuru dunia dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta’aala.”

 ***

Teriring shalawat kepada sang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sang penutup risalah kenabian. Saya berharap, semoga tulisan ini bisa menjadi seteguk ilmu bagi saya pribadi. Dan bagi Anda, yang berkenan membaca tulisan sederhana ini.

Dan nasihatilah saya, jika dalam tulisan ini ada kekhilafan yang tak saya sadari. Wallaahu a’lam bish-shawaab.

———-
Catatan: Untuk menajamkan dan menambah pemahaman kita berkenaan dengan masalah cadar bagi seorang muslimah, menurut saya ada dua buku yang sangat baik berkenaan dengan masalah ini. Kenapa? Sebab, kedua buku ini sangat objektif, ilmiah, cakupan pembahasannya komprehensif, dan tentunya disertai oleh dalil-dalil yang sangat kokoh. Dan semoga saja, Anda berkesempatan untuk membaca dan menelaah kedua buku yang sangat bermanfaat ini nantinya. Buku yang saya maksud adalah: 1) Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah dan Ar-Radd Al-Mufhim -yang awalnya merupakan mukadimah cetakan terbaru dari buku Jilbaabul Mar`ah– karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani 2) Tahriirul Mar`ah fii ‘Ashrir Risaalah -edisi terjemahannya berjudul Kebebasan Wanita Jilid 4, yang diterbitkan oleh Gema Insani Press Jakarta- karya Syaikh ‘Abdul Halim Abu Syuqqah.

***
Oleh: Setiawan as-Sasaki
Minggu, 24 Shafar 1435 H / 27 Desember 2013
Tulisan ini terselesaikan menjelang waktu Ashar
Di rumah tercinta, Tanjung, KLU
***

Sumber Inspirasi:

  1. Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah. 2012 (Cet. 38). Fiqih Wanita Edisi Lengkap. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar (Judul asli: Al-Jaami’ fii Fiqhi An-Nisaa`)
  2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 2013 (Cet. 6). Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah dalam Shalat. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Hijaabul Mar`ah  wa Libasuha fii Ash-Shalaah, Ditahqiq dan ditakhrij oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2013 (Cet. 2). Kriteria Busana Muslimah: Mencakup Bentuk, Ukuran Mode, Corak dan Warna Sesuai Standar Syar’i. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Judul asli: Jilbaabul Mar`ah Al-Muslimah fil Kitaabi was Sunnah)
  4. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 2002 (Cet. 1). Ar-Radd Al-Mufhim: Hukum Cadar. Yogyakarta: Media Hidayah (Judul asli: Ar-Radd Al-Mufhim)
  5. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin. 2013 (Cet. 10). Hukum Cadar. Solo: At-Tibyan (Judul asli: Risaalatul Hijaab)
  6. Syaikh ‘Abdul Hamid Al-Bilali. 2013 (Cet. 16). Saudariku Apa yang Menghalangimu Berhijab? Jakarta: Darul Haq (Judul asli: Ila Ukhti Ghair Al-Muhajjabah, Ma Al-Mani` Min Al-Hijaab?)
  7. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. 2001 (Cet. 8). Muslimah, Harapan dan Tantangan. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Muslimatul Ghad)
  8. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. 2002 (Cet. 6). Fikih Prioritas, Urutan Amal yang Terpenting dari yang Penting. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Fii Fiqhil Aulawiyyaati, Diraasah Jadiidah fii Dhau`il Qur`aani was Sunnati)
  9. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. 2013 (Cet. 2). Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim. Solo: PT Era Adicitra Intermedia (Judul asli: Malamih Al-Mujtama` Al-Muslim Alladzi Nunsyiduhu)
  10. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. 1999 (Cet. 3). Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Hadyul Islaam Fataawi Mu’ashirah)
  11. Dr. ‘Abdullah ibn Wakil Asy-Syaikh. 2003 (Cet. 7). Salah Paham Tentang Wanita. Jakarta: Gema Insani Press (Judul asli: Almaratu wa Kaidul A’daai)
  12. Salim A. Fillah. 2012 (Cet. 11). Baarakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta. Yogyakarta: Pro-U Media